
Mereka melepas ikatan tali di kaki Reca, dan ngebawa Reca ke mobil yang udah disiapin. Karena Reca mengatakan mungkin mamanya tau soal barang antik itu, mereka berniat membawa Reca ke rumahnya buat menemukan barang yang dimaksud. Tapi sebelum berdiri untuk jalan ke mobil, Reca berhasil mengambil potongan pecahan kaca yang sempat terlubur pasir. Tidak sengaja tangan Reca merasakannya saat bergerak mundur, waktu para pria bertopeng menanyainya.
“ Kalian mau kemana?” Pria bertopeng lain datang dan nampak terkejut ngeliat mereka yang ,au pergi. Reca menyadari bahwa mereka akan saling ngobrol jadi Reca memanfaatkan waktu ini untuk melepas ikatan tangannya. Menggesekkan kaca itu ke tali yang mengikatnya.
“ Ke rumah dia.”
“ Buat apa?”
“ Anak ini bilang ibunya tau sesuatu tentang yang kita cari.”
“ Dan kalian percaya?” Kelompok pria bertopeng itu terdiam.
“ Cepat bereskan dia, jangan lakukan yang tidak perlu.”
“ Kau yakin anak ini tidak berguna?”
“ Iya kita menangkapnya bukan karena ayahnya. Seperti yang kalian dengar, bos ingin hal lain darinya. Lakukan sesuai perintah.”
Reca tetap dibawa ke mobil tapi tujuannya udah berubah kayanya, dikawal oleh dua orang disisi kanan kirinya lalu satu orang pengemudi. Reca ngeliat sekeliling, dan dia ngerasa daerah yang sangat asing. Dia ga pernah kesini sebelumnya. Entah dimana ini tapi sangat sepi dan nyaris tidak ada orang. Banyak bangunan tua yang sudah
ditinggalkan, terbengkalai. Meski sangat takut Reca sebisa mungkin fokus mengingat apa aja yang dia bisa ingat, sayangnya mulai hujan deras ditambah hari yang beranjak malam sehingga beberapa objek tidak terlihat dengan jelas. Sampai akhirnya mereka sampai, lagi-lagi sebuah gudang tua yang terbengkalai dan kumuh.
Saat turun dari mobil Reca memanfaatkan kelengahan orang disebelah kanannya begitu yang sebelah kiri darinya turun duluan buat buka pintu gudang, dia menusukkan kaca yang sejak tadi di pegangnya. Tangannya juga udah lepas, sehingga Reca memasangkan safty belt ke penjahat it agar memberinya waktu melarikan diri. Semmentara si pengemudi juga akan turun dulu dari mobil untuk menangkap Reca. Untuknya Reca bisa keluar mobil lebih dulu dan berlalri sekencang yang dia bisa, tapi sipengemudi berhasil menarik tasnya.
“ HP nya? HP nya?” Ucap Reca dalam hati yang langsung hawatir saat tasnya nyaris direbut karena di tas itu ada handphone yang berisi pesan dari papa, ga boleh sampe hilang.
__ADS_1
Untungnya saat tas Reca ditarik dan dia nyaris tersungkur tangannya memegang menapak pada sebuah kayu. Reca memanfaatkannya untuk memukul sipenculik itu agar melepaskan tanganya dari tas Reca. Cuaca yang sedang hujan deras ngebuat si penculik yang memakai topeng tampak kesulitan melihat karena air pasti masuk ke dalam celah topeng dan pasti sangat mengganngu. Sementara para penculik itu tidak bisa melepas topeng mereka agar wajahnya tidak terlihat.
Melihat si penculik yang hilang keseimbangan Reca kembali berlari ditengah hujan menyusuri apa saja yang bisa membuatnya terlihat sama. Apakah itu semak atau sesekali bersembunyi dibalik bangunan tua seraya mengumpulkan napasnya. Setelah beberapa kali Reca berhasil menghindari ketiga penculik bertopeng yang mengejarnya, Reca menemukan jalan tanah yang terlihat jejak ban mobil. Reca bersembunyi, dia menyadari jejak mobil itu punya para penculik. Dan emang, ga lama mobil itu muncul, Reca yang tadinya ingin lari malah terpeleset. Terperosok ke tepi bukit dan berguling hingga ke kaki bukit. Ketika penculik itu segera menyususri bukit untuk mengejar Reca, yang terlihat mulai berusaha bangkit meski kakinya penuh luka.
“ Mau lari kemana hah?”
“ Lepas.” Teriak Reca. Tangan kiri Reca diterkam oleh salah satu penculik, sedang dua lainnya masih berusaha menuruni bukit. Terjadi pergulatan saat Reca berusaha melepaskan diri.
“ Berhenti, atau kau mati.” Mereka bertiga mulai mengeluarkan senjata api. Reca sudah tidak bisa berpikir lagi, dia takut.
“ Ya Tuhan tolong aku.” Reca berdoa dalam hati, dengan sisa tenaganya yang sudah terkuras Reca terus meronta hingga akhirnya kakinya dan si penculik sama-sama terpeleset karena bidang tanah yang miring. Reca
sempat mendolak si penculik sebelum dia jatuh ke tanah. Sipenculik yang Reca dorong tertolak ke belakang yang kebetulan terdapat dahan pohon yang runcing, tubuh tinggi besar si penculik gagal menjaga keseimbangan sehingga punggungnya tertancap di dahan runcing itu. Sementara pistolnya yang sejak tadi dalam keadaan siap menembak secara brutal melepaskan tembakan beruntun.
Tembakan itu justru melesat ke tubuh temanya yang sudah berada di depan Reca yang segera menutup telinganya dan menunduk. Karena terkena tembakkan dia juga tidak sengaja menembak temanya yang satu lagi, darah pun
tersembur menerpa baju dan wajah Reca. Gadis yang mulai kelelahan itu hanya bisa terpaku gemetar seraya terduduk lemas. Dia baru saja terbebas dari penculikan tapi sekarang malah melihat tiga mayat di depannya tewas secara tragis.
Meski rasanya mau pingsan, lelah berusaha melarikan diri ditambah belum makan sejak tadi pagi. Reca hampir tidak punya tenaga, tapi dia harus memberanikan diri melewati tiga mayat itu.
Reca pun mendaki di bawah hujan yang masih mengguyur tanpa ampun. Mobil penjahat tadi ternyata masih disana, Reca mengintip kaca dan menemukan kunci mobilnya lalu segera masuk dan mengendarai mobil itu.
“ Ah… Syukurlah…:” Setelah merasa cukup jauh, Reca berhenti untuk memeriksa handphonenya. Dia sangat lega karena gawai masih dalam kondisi baik trus batrai juga masih separuh.
Reca segera membuka G**gl* map buat menemukan jalan pulang. Tapi sebelum sampe rumah\, Reca meninggalkan mobil itu di tempat sepi. Lalu berjalan kaki di tengah hujan hingga tiba di rumah.
__ADS_1
" Re? Kamu dari mana? Kata eyang kamu ga pernah ada sana, mama sampe hawatir." Ah
ya, rencananya sepulang sekolah Re bilang mau ketemuan sama eyang di cafe deket sekolah.
“ Syukurlah Eyang ga perlu ngeliat dia di culik tadi.” Batin Reca
" Re? Kok kamu kotor banget kaya gini sayang?" Noda darah udah mulai berubah kecoklatan, mama ga ngeh klo itu darah.
" Re.." saat mama mendekatinya Re justru mundur.
" Ceritanya besok aja ya ma, Re capek. Mama makan duluan aja, Re udah makan tadi." Dusta. Reca lansung masuk kamar dan langsung mengunci pintu.
" Kamu baik-baik aja kan Re? Kapan aja klo kamu mau cerita mama ada diluar ya sayang."
Malam itu sebenarnya Reca ga baik-baik aja, dia masih gemetaran dan takut. Tapi sejak malam itu juga Reca berpikir keras hingga membuat kesimpulan bahwa papa meninggal bukan karena kasus perampokan. Ada sesuatu dibalik kematian papa, dan sesuatu itu sedang dicari oleh seseorang yang entah siapa. Selain itu papa kayanya menyadari bahwa ini akan terjadi sehingga dia terus mengirimnya pesan
berjangka waktu.
“ Ahh...” Reca mendesah dan memeluk kedua lututnya. Entah harus dimulai dari mana? Mampukah dia mengungkap misteri ini? Dengan tubuh lemahnya, dengan semua keterbatasannya?
“ Papa percaya kamu anak yang pintar dan bisa diandalkan...” Re teringat kata-kata itu. Yah, papa percaya sama Re. Maka Re harus menjaga kepercayaan itu. Re harus bangkit, Re harus kuat.
__ADS_1