WINTER GLOW

WINTER GLOW
Tulisan yang Bersembunyi di balik lukisan


__ADS_3

Reca


kembali ke kamar, masih teringat sama tante Melan alias mamanya Mika


yang bicara dengan percaya diri bahwa dia mengenal Reca. Klo diliat


dari wajahnya emang sepertinya


tante Melan ga berbohong, tapi gimana bisa coba? Reca ga pernah


sekalipun ketemu sama tante Melan, Mika


juga ga pernah ngenalin mamanya ke temen-temenya dulu wajtu SMA pokok


intinya tuh ga pernah tau sama sekali gituh. Tapi beliau bisa


mengenalinya ya?


Mungkinkah


sejak waktu itu? Reca mengingat kembali hari pertama dia menerima


rapot dari SMA Bhakti, saat itu tante Melan datang langsung ruangan


wali kelas. Reca saat itu sempat berpapasan dan tante Melan


menatapnya cukup lama lalu tersenyum ramah. Bukankah itu sikap yang


wajar, dan lagian saat itu mereka tidak berkenalan jadi tetap aja


masih aneh.


“ Vale


Hotel, President


Suite 920.” Bahkan yang lebih aneh lagi tante Melan membisikkan


kalimat itu sebelum dia pergi. Apakah dia ingin Reca menemuinya? Tapi


kenapa?


“ Re? Re?”


Mika mengamati wajah Reca yang terpaku dengan kening yang berkerut


tajam, keliatan banget kalo dia sedang berpikir keras. Segitu


seriusnya sampe ga dengerin Mika manggil-manggil dari tadi.


“ Re


kamu lagi mikirin apa?”


“ Ha?


Oh..” Menggeleng pelan buat ngasih tau klo itu bukanlah hal


penting, tapi kemudia Reca jadi ngeliat kado yang dikasih tante Melan


tadi buat Mika.


“ Itu


apa?”


“ Oh


ini, mama ngasih kado dari papa buat aku tapi udah telat banget


sebenarnya.” Mika mengambil kotak kado itu lalu ngebuka tutup


atasnya, sekali lagi dia tersenyum pahit setelah liat isinya yang


ternyata buku dongeng anak-anak.


“ Hmmm…


bukankah harusnya dia ngasih ini saat aku masih taman kanak-kanak


atau sejenisnya?” Reca


melihat buku-buku itu dan segera matanya membesar, buru-buru


memeriksa isi tasnya sandangnya dan ternyata benar itu buku yang


sama.


“ Buku


dongeng?” Reca bergumam sendiri tanpa sadar.


“ Ini


beberapa buku karangan papa sewaktu masih hidup Re, waktu kecil dulu


suka banget sama dongeng yang papa buat dan selalu ngebacanya


berulang kali bareng papa. Kebiasaan itu berhenti saat lulus dari


sekolah dasar, karena aku beranjak remaja dan mulia teralih dari buku


dongeng ke buku komik atau… game.”


“ Kapan


papa lo meninggal…?” Bertanya tapi seperti ingin memastikan.


“ Waktu


aku baru aja masuk kelas VIII semester pertama Re. Papa kena serangan


jantung, meninggal saat beliau tertidur. Sejak itu...”


“ Udah


gede beratikan lo saat itu, tapi kenapa hadiah ultah lo buku

__ADS_1


dongeng?”


“ Ahh…


dari dulu mama gila kerja Re. Dia


ga pernah punya waktu bahkan datang mengucapkan ulang tahun anaknya


setelah lewat beberapa bulan dari tangggal seharusnya. Dan hadoah ini


mungkin ga sekarang ingin papa ngasihnya tapi...”


“ Ya


intinya pas sebelum beliau meninggalkan? Saat itu lo udah SMP, trus


kenapa masih ngasih buku dongeng?” Mika ga ngerti apa yang


sebenarnya sangat aneh sola itu buat Reca, karena buat Mika mungkin


papa hanya ingin memberikan kenangan buat anaknya kalo mereka pernah


menghabiskan waktu bersama membaca dongeng karangan beliau. Mama aja


yang keterlaluan


telatnya.


“ Serius


banget sih Re mikirinnya, ini cuma mama aja yang mungkin lupa.”


“ Lupa?


Setelah lebih dari lima


belas tahun yang lalu? Emangnya di ultah sebelum-sebelumnya mama ga pernah


ngasih kado apapun apa itu dari bokap lo ato nyokap lo?” Mika mulai ingat, iya juga sih


klo pun lupa mungkin ditahun-tahun awal kematian papa ga


juga kan ampe lima belas tahun baru dikasih.


“ Kenapa


Re? Apa ada sesuatu yang aku harus tau?” Ah ya… kemaren Reca mau


cerita sesuatu tapi sempat tertunda karena Esa trus mereka bertengkar


juga.


“ Apa


ini yang kemaren mau ceritain ke aku tapi belum jadi Re?” Reca


berpikir sebentar, apakah dia akan membagi semua petunjuk ini sama


Mika. Reca seperti ga punya pilihan lain karena pikirannya yang buntu


ternyat aMIka terkiat dengan misteri itu, lagian dia butuh latar


belakang tante Melna dan hanya Mika lah satu-satunya orang yang tau


banget soal itu.


“ Re


aku minta maaf soal yangkemaren, kalau sempat ngalangin kamu buat


cerita. Aku ga bermaksud untuk...”


“ Jadi


Muliapati itu bokap lo Mik?”


“ Hemm?


Iya itu nama penanya.” Reca cuma angguk-angguk paham aja tapi muka


masih nampak bengong. Alias masih bingung.


“ Lo


udah baca semua cerita dibuku itu?”


“ Waktu


kecil seingatnya sih iya, kenapa Re?”


“ Lo


masih ingat sama ceritanya?”


“ Hmm,


gue ingat semua Re.”


“ Apa


itu cuman sekedar dongeng atau ada pesan yang mungkin bokap lo ingin


samapikan?”


“ Hmmm…


ga sih setau gue, kecuali dongeng yang ini.” Mika memperlihatkan


buku dongeng Sang


Pengelana di Negeri tanpa Malam. Buku itu lagi, pikir Reca.


“ Emang


kenapa sama dongeng itu?”


“ Dongeng

__ADS_1


ini papa buat khusus untuk aku Re karena waktu kecil aku punya teman


kecil yang sangat berarti banget waktu itu buat aku. Tapi kami


terpisah dan ga tau harus nyari kemana, biar aku ga sedih papa buatin


cerita ini dan meyakinkan aku klo suatu saat aku pasti bisa ketemu


lagi dengan teman kecil aku. Yeye, namanya Yeye.”


“ Yeye?”


“ Em…


seengggaknya itulah yang aku ingat Re.”


Semenjak


Mika bercerita tentang buku dongeng itu Reca jadi kepikiran soal


buku dongengnya hingga terus menatap halaman-halaman penuh warna itu sambil


berbaring dikamarnya, dia


masih yakin ada sesuatu dengan buku dongeng ini hanya aja Reca belum


tau. Tidak mungkin artinya hanya sesederhana itu, dongeng


itu dibuat hanya untuk meredam tangis Mika agar tidak sedih kehilangan sahabat masa kecilnya, tapi kenapa


dongeng ini terkait dengan papanya dan kenapa dengan….


Gambar dibuku dongeng ini?


Reca


langsung terduduk dan membawa buku


dongeng itu ke meja kerjanya lalu menyalakan lampu baca agar terlihat


lebih jelas. Saat dilihat dengan seksama pada gambar ilustrasi


dongeng ini terdapat satu huruf yang tersembunyi disetiap halamannya,


contohnya seperti dongeng Sang Pengelana di Negeri tanpa malam.


Seperti huruf M uang tersembunyi di kaki rumput


yang tampak tidak begitu penting, atau juga dengan huruf A yang


terlihat seperti nomor rumah yang dipasang dipagar padahal tema


dongeng ini adalah cerita kerajaan yang ga mungkin memiliki nomor


pada pagar rumahnya. Karena tema kerajaan cenderung mengangkat latar


kerjaan pada zaman sebelum modern. Jadi gambar pagar ini sangat


ganjil bukan?


Reca


mulai kembali dari halaman awal sesuai kode buku nya yaitu satu, dua


dan tiga. Memeriksa setiap


detil gambar satu-persatu dan Reca mengumpulkan huruf yang


bersembunyi, adrenalinnya semakin terpacu saat ingat bahwa Muliapati


adalah penulis dongeng yang membuat sendiri ilustrasi dongengnya. Itu


berarti huruf-huruf ini adalah pesan yang ingin di sampaikan sang


penulis.


Di


buku Sang Pengelana di Negeri tanpa Malam (1),


terdapat huruf


D


A R M A W A N G S A B E R S A M A


Di


buku Pelukis


yang Putus Asa (2)….


B


R A N U S A N J A Y A M E N J A G A


Dan


buku Pengorbanan Matahari untuk Bulan (3)


W


I N T E R G L O W


Jika


digabungkan dari urutan bukunya


D


A R M A W A N G S A B E R S A M A B R A N U S A N J A Y A M E N J A G


A W I N T E R G L O W


“ Darmawangsa


bersama Brabu Sanjaya menjaga Winter… Glow?”

__ADS_1


__ADS_2