
Reca
kembali ke kamar, masih teringat sama tante Melan alias mamanya Mika
yang bicara dengan percaya diri bahwa dia mengenal Reca. Klo diliat
dari wajahnya emang sepertinya
tante Melan ga berbohong, tapi gimana bisa coba? Reca ga pernah
sekalipun ketemu sama tante Melan, Mika
juga ga pernah ngenalin mamanya ke temen-temenya dulu wajtu SMA pokok
intinya tuh ga pernah tau sama sekali gituh. Tapi beliau bisa
mengenalinya ya?
Mungkinkah
sejak waktu itu? Reca mengingat kembali hari pertama dia menerima
rapot dari SMA Bhakti, saat itu tante Melan datang langsung ruangan
wali kelas. Reca saat itu sempat berpapasan dan tante Melan
menatapnya cukup lama lalu tersenyum ramah. Bukankah itu sikap yang
wajar, dan lagian saat itu mereka tidak berkenalan jadi tetap aja
masih aneh.
“ Vale
Hotel, President
Suite 920.” Bahkan yang lebih aneh lagi tante Melan membisikkan
kalimat itu sebelum dia pergi. Apakah dia ingin Reca menemuinya? Tapi
kenapa?
“ Re? Re?”
Mika mengamati wajah Reca yang terpaku dengan kening yang berkerut
tajam, keliatan banget kalo dia sedang berpikir keras. Segitu
seriusnya sampe ga dengerin Mika manggil-manggil dari tadi.
“ Re
kamu lagi mikirin apa?”
“ Ha?
Oh..” Menggeleng pelan buat ngasih tau klo itu bukanlah hal
penting, tapi kemudia Reca jadi ngeliat kado yang dikasih tante Melan
tadi buat Mika.
“ Itu
apa?”
“ Oh
ini, mama ngasih kado dari papa buat aku tapi udah telat banget
sebenarnya.” Mika mengambil kotak kado itu lalu ngebuka tutup
atasnya, sekali lagi dia tersenyum pahit setelah liat isinya yang
ternyata buku dongeng anak-anak.
“ Hmmm…
bukankah harusnya dia ngasih ini saat aku masih taman kanak-kanak
atau sejenisnya?” Reca
melihat buku-buku itu dan segera matanya membesar, buru-buru
memeriksa isi tasnya sandangnya dan ternyata benar itu buku yang
sama.
“ Buku
dongeng?” Reca bergumam sendiri tanpa sadar.
“ Ini
beberapa buku karangan papa sewaktu masih hidup Re, waktu kecil dulu
suka banget sama dongeng yang papa buat dan selalu ngebacanya
berulang kali bareng papa. Kebiasaan itu berhenti saat lulus dari
sekolah dasar, karena aku beranjak remaja dan mulia teralih dari buku
dongeng ke buku komik atau… game.”
“ Kapan
papa lo meninggal…?” Bertanya tapi seperti ingin memastikan.
“ Waktu
aku baru aja masuk kelas VIII semester pertama Re. Papa kena serangan
jantung, meninggal saat beliau tertidur. Sejak itu...”
“ Udah
gede beratikan lo saat itu, tapi kenapa hadiah ultah lo buku
__ADS_1
dongeng?”
“ Ahh…
dari dulu mama gila kerja Re. Dia
ga pernah punya waktu bahkan datang mengucapkan ulang tahun anaknya
setelah lewat beberapa bulan dari tangggal seharusnya. Dan hadoah ini
mungkin ga sekarang ingin papa ngasihnya tapi...”
“ Ya
intinya pas sebelum beliau meninggalkan? Saat itu lo udah SMP, trus
kenapa masih ngasih buku dongeng?” Mika ga ngerti apa yang
sebenarnya sangat aneh sola itu buat Reca, karena buat Mika mungkin
papa hanya ingin memberikan kenangan buat anaknya kalo mereka pernah
menghabiskan waktu bersama membaca dongeng karangan beliau. Mama aja
yang keterlaluan
telatnya.
“ Serius
banget sih Re mikirinnya, ini cuma mama aja yang mungkin lupa.”
“ Lupa?
Setelah lebih dari lima
belas tahun yang lalu? Emangnya di ultah sebelum-sebelumnya mama ga pernah
ngasih kado apapun apa itu dari bokap lo ato nyokap lo?” Mika mulai ingat, iya juga sih
klo pun lupa mungkin ditahun-tahun awal kematian papa ga
juga kan ampe lima belas tahun baru dikasih.
“ Kenapa
Re? Apa ada sesuatu yang aku harus tau?” Ah ya… kemaren Reca mau
cerita sesuatu tapi sempat tertunda karena Esa trus mereka bertengkar
juga.
“ Apa
ini yang kemaren mau ceritain ke aku tapi belum jadi Re?” Reca
berpikir sebentar, apakah dia akan membagi semua petunjuk ini sama
Mika. Reca seperti ga punya pilihan lain karena pikirannya yang buntu
ternyat aMIka terkiat dengan misteri itu, lagian dia butuh latar
belakang tante Melna dan hanya Mika lah satu-satunya orang yang tau
banget soal itu.
“ Re
aku minta maaf soal yangkemaren, kalau sempat ngalangin kamu buat
cerita. Aku ga bermaksud untuk...”
“ Jadi
Muliapati itu bokap lo Mik?”
“ Hemm?
Iya itu nama penanya.” Reca cuma angguk-angguk paham aja tapi muka
masih nampak bengong. Alias masih bingung.
“ Lo
udah baca semua cerita dibuku itu?”
“ Waktu
kecil seingatnya sih iya, kenapa Re?”
“ Lo
masih ingat sama ceritanya?”
“ Hmm,
gue ingat semua Re.”
“ Apa
itu cuman sekedar dongeng atau ada pesan yang mungkin bokap lo ingin
samapikan?”
“ Hmmm…
ga sih setau gue, kecuali dongeng yang ini.” Mika memperlihatkan
buku dongeng Sang
Pengelana di Negeri tanpa Malam. Buku itu lagi, pikir Reca.
“ Emang
kenapa sama dongeng itu?”
“ Dongeng
__ADS_1
ini papa buat khusus untuk aku Re karena waktu kecil aku punya teman
kecil yang sangat berarti banget waktu itu buat aku. Tapi kami
terpisah dan ga tau harus nyari kemana, biar aku ga sedih papa buatin
cerita ini dan meyakinkan aku klo suatu saat aku pasti bisa ketemu
lagi dengan teman kecil aku. Yeye, namanya Yeye.”
“ Yeye?”
“ Em…
seengggaknya itulah yang aku ingat Re.”
Semenjak
Mika bercerita tentang buku dongeng itu Reca jadi kepikiran soal
buku dongengnya hingga terus menatap halaman-halaman penuh warna itu sambil
berbaring dikamarnya, dia
masih yakin ada sesuatu dengan buku dongeng ini hanya aja Reca belum
tau. Tidak mungkin artinya hanya sesederhana itu, dongeng
itu dibuat hanya untuk meredam tangis Mika agar tidak sedih kehilangan sahabat masa kecilnya, tapi kenapa
dongeng ini terkait dengan papanya dan kenapa dengan….
Gambar dibuku dongeng ini?
Reca
langsung terduduk dan membawa buku
dongeng itu ke meja kerjanya lalu menyalakan lampu baca agar terlihat
lebih jelas. Saat dilihat dengan seksama pada gambar ilustrasi
dongeng ini terdapat satu huruf yang tersembunyi disetiap halamannya,
contohnya seperti dongeng Sang Pengelana di Negeri tanpa malam.
Seperti huruf M uang tersembunyi di kaki rumput
yang tampak tidak begitu penting, atau juga dengan huruf A yang
terlihat seperti nomor rumah yang dipasang dipagar padahal tema
dongeng ini adalah cerita kerajaan yang ga mungkin memiliki nomor
pada pagar rumahnya. Karena tema kerajaan cenderung mengangkat latar
kerjaan pada zaman sebelum modern. Jadi gambar pagar ini sangat
ganjil bukan?
Reca
mulai kembali dari halaman awal sesuai kode buku nya yaitu satu, dua
dan tiga. Memeriksa setiap
detil gambar satu-persatu dan Reca mengumpulkan huruf yang
bersembunyi, adrenalinnya semakin terpacu saat ingat bahwa Muliapati
adalah penulis dongeng yang membuat sendiri ilustrasi dongengnya. Itu
berarti huruf-huruf ini adalah pesan yang ingin di sampaikan sang
penulis.
Di
buku Sang Pengelana di Negeri tanpa Malam (1),
terdapat huruf
D
A R M A W A N G S A B E R S A M A
Di
buku Pelukis
yang Putus Asa (2)….
B
R A N U S A N J A Y A M E N J A G A
Dan
buku Pengorbanan Matahari untuk Bulan (3)
W
I N T E R G L O W
Jika
digabungkan dari urutan bukunya
D
A R M A W A N G S A B E R S A M A B R A N U S A N J A Y A M E N J A G
A W I N T E R G L O W
“ Darmawangsa
bersama Brabu Sanjaya menjaga Winter… Glow?”
__ADS_1