WINTER GLOW

WINTER GLOW
Kau Tidak Pernah Melihat


__ADS_3

“ Kamu keterlaluan Re.” Dengan kasar Mika menarik tangan Reca begitu tiba di rumah, begitu juga Reca yang sama kasarnya saat melepaskan tangannya. Sebelumnya untung aja Mika berhasil meyakinkan Esa klo dia capek banget ga bisa nganterin Esa pulang, jadi minta tolong ke Evan buat nganterin sebagai gantinya Reca ikut pulang sama Mika. Agak aneh sih buat Evan tapi ga tega juga memperpanjang obrolan karena Evan tau Esa akan semakin terluka. Untuk mata lelaki, tatapan Mika sama dengan cara Evan ngeliat Reca. So Evan tau banget perasaan apa yang tersimpan di dalam tatapan Mika itu, apalagi? Cinta lah.


“ Re.”


“ Lepas.”


“ Kamu ngelakuin ini karena aku ga angkat telpon kamu tadi siang?” Ah ya, saat nonton sama Esa tadi Mika ngeliat layar ponselnya yang sempat beberapa kali ada panggilan masuk dari nomor Reca tapi ga sempet dijawab panggilannya udah berakhir. Sebenarnya emang cuma miscall aja kaya nya.


“ RE!!!” Kali ini Mika ngebentak dengan sangat keras seraya mencengkeram kedua bahu Reca.


“ APA?” Ngejawab pake teriak juga.


“ Bisa kamu jelasin ini?” Mengacu pada keluar bareng laki-laki kaya Evan sendirian trus pakaiannya nguji iman banget, udah gitu keruangan tertutup yang ga ada orang lain coba.


“ Fashion.”


“ What?”


“ What?”


“ Ya gue mau jalan sama gebetan gue ya wajar kan klo gue dandan.” Muka sinis ga ada obat.


“ RE..” Mika menahan amarahnya dengan memejamkan mata sebentar lalu menghembuskan nafas sebelum dirinya makin kalap.


“ Apa yang harus aku lakukan ke kamu Re biar kamu ngerti gimana khawatirnya aku ngeliat kamu berpakaian kaya gini dan….”

__ADS_1


“ Gue ga minta lo khawatir, salah gue dimana?”


“ Salah kamu dimana Re? Salah kamu udah dateng ke hidup aku dan nyurik hati aku, klo kamu ga mau aku khawatir harusnya kamu ga dateng dari dulu. Harusnya kamu ga perlu ngeliatin muka kamu dihari pertama kamu masuk SMA Bhakti. Yang ngebuat aku jadi peduli sama kamu, mikirin kamu.”


“ Peduli? Lo dimana saat gue sedih kehilangan bokap gue sekali pun lo ga pernah dateng.”


“ Bukannya kamu yang pergi dari aku dan anak-anak Re? Kamu yang ngilang ada kabar.”


“ Kenapa lo ga pernah dateng ke rumah gue? Kenapa lo ga jemput gue kaya dulu seperti biasanya. Saat gue ga pengen dijemput sama lo, lo selalu dateng jemput gue. Kenapa saat itu lo ga dateng?” Buat Re, klo aja Mika dateng maksa jemput kaya biasanya dihari itu maka Reca ga akan diculik orang tiga orang yang ga dikenalnya dan mengalami hal yang meninggalkan trauma hingga sekarang.


“ Aku kira kamu butuh waktu buat sendiri dan saat aku dateng ke rumah kamu, rumah itu dah kosong Re dan nomor handphone kamu juga ga bisa dihubungi.”


“ Dimana lo saat kemaren gue butuh lo? Waktu gue minta waktu lo bentar aja, lo lebih milih pergi bareng Esa.” Klo lo ga pergi bareng Esa maka gue ga akan berpenampilan kaya gini buat ketemu Evan, batin Reca.


“ Ya udah, toh gue ga maksa lo buat mengabaikan dia. Jadi masalah lo apa?” Suara Reca kembali meninggi, karena menurutnya amarah Mika ga masuk akal.


“ Aku ga suka liat kamu kaya tadi buat cowo lain, ga.. lebih tepatnya aku ga rela Re. Ga rela klo kamu cantik diliatin cowo lain, kamu menghabiskan waktu sama cowo lain. Aku ga rela.” Mika udah mulai ngebentak berapi-api sampe wajah merah padam disertai urat leher yang menonjol keluar.


“ Ya masalahnya apa klo gue buat itu, gue bukan pacar lo, gue bukan Esa kenapa lo harus marah.”


“ KARENA GUA CINTA SAMA LO RE.” Reca terdiam, keduanya jadi ngos-ngosan setelah adu mulut dengan suara power full.


“ Kamu tau itu, kamu tau perasaan aku Re. Tapi kenapa kamu selalu aja nanya seolah kamu ga tau apa-apa, seolah kamu ga liat kepedulian aku. Seolah perasaan aku ga pernah ada.” Mika berucap pelan, menurunkan intonasinya karena emang nelangsa banget.


“ Karena lo ga pernah bilang.” Maksud Reca, Mika ga pernah bener-bener ngungkapin perasaanya ke dia. Sementara Reca ga punya waktu buat menerka-nerka.

__ADS_1


Meniggalkan Mika yang terdiam di ruang tengah, Reca masuk ke kamarnya di lantai dua lalu mengunci pintunya tanda dia ga ingin diganggu siapapun. Seolah semua lelahnya akan hilang dengan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, Reca memejamkan matanya sebentar lalu membukanya untuk menatap langit-langit kamarnya. Dia sedang menerawang mengingat kejadian tadi pagi sebelum pergi bersama Evan, Reca sempat memberanikan diri menelpon nomor misterius yang ditinggalkan papa. Saat itu Reca ngerasa begitu putus asa karena ga punya petunjuk lain. Ga pernah terpikir sama sekali akan melihat sebuah nama yang familiar di ponselnya saat menekan semua nomor itu, Reca masih ga percaya. Hingga sempat mengulang nomor itu sebanyak dua kali dan selalu mematikannya kembali ke petunjuk yang ditinggalkan apakah udah sama persis, dan ternyata itu memang nomor yang sama. Trus saat menekan tombol memanggil Reca ngeliat dilayar ponsel miliknya…


...MIKA...


...010-87925011 ...


...Calling…...


Hati Reca ingin membantah pebuh kenyataan yang dilihatnya hari ini dan sejuta tanya langsung berkembang dikepalanya tanpa kendali. Kenapa Mika pemilik nomor itu? Apa papa mengenal Mika sangat lama, sebelum Reca pindah sekolah. Bagimana bisa? Lalu Mika sebagai apa di sini, Sang pengelana kah atau si pangeran kecil? Itu baru beberapa pertanyaan jika Mika benar-benar orang yang dimaksud papa.


Reca tidak bisa mengesampingkan kemungkinan klo bisa aja nomor itu re-aktif atau diaktifkan kembali setelah lama tidak digunakan, kemungkin bahwa Mika adalah pemilik barunya. Maka Reca harus menguji hal itu, masalahnya bagaimana dia membuktikannya. Menceritakan dongeng Sang pengelana di negeri tanpa malam? Apakah itu masuk akal, ga bakalan ditertawain atau justru dianggap aneh?


Dan sekarang dia malah bertengkar dengan Mika, menambah deretan panjang keruwetan ini. Begitu kusutnya pikiran Reca sampe dia ga ngeh kalo Mika baru aja ngungkapin perasaannya. Kasian lo ganteng.


Tunggu Dongengnya….


Reca tersentak hingga membuatnya langsung terduduk, bolamatanya bergerak acak seolah sedang men-searching sesuatu dalam kepalanya. Kenapa dia baru sadar papa bukanlah seorang penulis tapi cerota dalam dongeng itu sangat familiar seperti Dejavu, tidak bukan itu. Terasa seperti Dejavu bukan karena dia pernah mengalaminya… tapi Reca pernah dengar dongeng ini sebelumnya atau membacanya. Yahh… terlebih lagi dongeng itu berbentuk e-book kan alias electronic book, dan papah ga mungkin punya banyak waktu untuk ngebuat sendiri buku digital itu dengan gambar menggemaskan yang full colour disertai cerita yang begitu menyentuh. Bahkan jika dia mengupah orang lain sekalipun, minimal papa harus buat ceritanya yang begitu sesuai dengan clue yang dia tinggalkan. Atau sebenarnya dongeng itu sudah ada sebelumnya dan papa menggunakan sebagai petunjuk. Iya kemungkinan ini lebih masuk akal.


Reca segera membuka laptopnya dan kembali membuka email papa, kemudian mendownload e-book dongengnya lalu membacanya ulang. Kali ini Reca memasang kedua matanya untuk melihat secara teliti. Ternyata dongeng itu benar bukan papa yang mengarangnya, tetapi seseorang bernama Muliapati.


Udah ga pake lama Reca langsung mencari nama itu di mesin pencarian, beneran ada.


Muliapati seorang penulis dongeng anak-anak yang terkenal pada zamannya namun tidak diketahui siapakah pendongeng ini sebenarnya. Dia tidak pernah memperlihatkan wajahnya, nama Muliapati juga merupakan nama pena bukan nama asli sang penulis. Karya terakhirnya sebelum mengumumkan Hiatus dari dunia dongeng adalah Sang Pengelana di Negeri tanpa Malam. Sebulan setelah dongeng ini rilis, Muliapati mengumumkan pengunduran dirinya sebagai penulis dongeng di akun media sosialnya yang telah terverifikasi, Muliapati_WG. Dijelaskan juga dalam akunya tersebut bahwa beliau mempersembahkan dongeng ini untuk sahabatnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2