
Mata Mika berkaca-kaca, terlebih melihat tante Frianka yang seolah
pertahanannya luluh lantak karena selama ini dia tidak tau ingin
membagi ceritanya dengan siapa. Seperti pesan yang Reca tinggalkan
untuk tidak percaya pada siapapun, Frianka membungkam mulutnya dan
menyimpan dukanya sendiri. Tapi terhadap Mika Frianka seolah bertemu
tempat mencurahkan segalanya.
“ Sejak saat itu
Reca ga pernah kembali ataupun memberi kabar Mika. Tante ga tau harus
cari dia kemana.”
Dengan kedua
tangannya Mika mengusap wajahnya, air mata itu sudah tidak bisa
ditahannya lagi jadi di amembiarkannya mengalir tapi segera
mengusapnya. Seperti roda yang diputar mundur, ingatan Mika satu
persatu bermunculan keluar mengingatkannya sesuatu. Wajah yang nampak
sama tapi penampilannya berbeda, semua bekas luka, sering dikejar
orang tidak dikenal dan sikap cuek itu adalah hal terakhir yang
meyakinkan Mika. Tidak ada yang sangat tidak acuh terhadapnya selain
Reca, hanya Reca satu-satunya manusia yang sanggup menolak
mentah-mentah pesona Mika. Berarti pemeran pengganti yang selama ini
dikenalnya sebagai Caca adalah Reca.
But wait, meskipun
semua teori itu benar Mika ga bisa cerita ke tante Frianka. Reca
jelas-jelas ninggalin ibunya agar beliau aman entah dari apapun itu,
jadi Mika belum bisa cerita soal pertemuannya dengan Reca. Nanti dulu
deh.
“ Tante baik-baik
aja?”
“ Ah... maaf ya
Mika... tante sangat emosional.”
“ Ga apa kok
tante, Mika juga sama emosionalnya.” Mika tersenyum hangat, itu
sangat membantu.
“ Jadi kenapa
tante tiba-tiba kesini?” Tanya Mika lagi saat mama Reca itu udah
lebih tenang.
“ Iya tante hanya
ingin bernostalgia aja, banyak kenangan dengan papa Reca disini.
Sambil berharap entah bagaimana bisa bertemu Reca.”
Mika langsung
ngerasa cemas yang aneh, meski dia tidak tau apa itu, tapi sebaiknya
dia dan Frianka tidak lama-lama di rumah ini.
“ Tante...
bukankah tante cerita klo Reca ga mau tante tinggal di rumah ini.
Jadi mungkin sebaiknya tante balik ke rumah eyang tante.”
“ Kamu tau sesuatu
Mika?” Mika menggeleng
“ Ga tante. Justru
karena kita ga tau apa yang kta hadapi baiknya hati-taikan tante.”
Sepeninggalan Mika,
Frianka berpikir keras mencoba untuk meyakinkan dirinya meskipun dia
tidak tau apa yang sedang Reca lakukan tapi jika anaknya memintanya
untuk sembunyi pasti ada alasannya.
__ADS_1
Dengan segera
Frianka mengemas pakaiannya, menutup kemali perabot dengan kain putih
seperti saat dia belum kembali ke rumah ini. Gelas yang tadi dipakai
untuk menyuguhkan teh saat Mika datang segera dicuci dan dikeringkan.
Frianka mendinginkan teko pemanas air agar terasa lagi panasnya, dan
mengemasi kembali belanja yang baru dibelinya. Frianka membersihkan
semua jejak yang akan membuat bukti bahwa seseorang telah datang ke
tempat ini lalu pergi dengan tergesa-gesa. Siapapun tidak ada yang
boleh tau dirinya datang ketempat ini.
Sementara itu Mika
yang udah sampe rumah, duduk terdiam didepan laptopnya di ruang
kerja. Kedua tangannya saling bertumpu di depan dagu, tampak wajahnya
sedang memikirkan sesuatu. Mika ingat malam terakhir sebelum Reca
menghilang, ayahnya tiba-tiba meninggal kemudian muncul berita di
televisi bahwa ayah Reca telah dibunuh. Mika pun mencari kembali
berita tentang kematian ayah Reca di internet, dari semua artikel
yang ada menyatakan bahwa ayah Reca dibunuh dengan senjata api
dibagian dada kirinya. Sampai saat ini tidak diketahui siapa
pembunuhnya, tapi dari hasil penelidikan polisi ditemukan peluru yang
tidak biasa di tubuh si mayat. Peluru itu berwarna emas, sangat kecil
dan terdapat ukiran di tubuh pelurunya. Peluru yang khusus itu
menandakan bahwa senjata api yang digunakan pelaku adalah tempahan
khusus yang tidak dijual dipasaran. Jadi dengan kata lain pemiliknya
adalah tersangka utamanya, tapi kenapa? Kenapa dia membunuh ayah
Reca?
mendekati anak Jen Kusniar. Apa Reca berpikir bahwa Jen Kusniar ada
kaitannya dengan kematian ayahnya. Dan hei tunggu, Reca selama ini
menghilang dari hidupnya lalu kenapa sekarang muncul dengan berani di
depan Mika dan bersikap bahwa dia tidak mengenal sahabat SMA nya itu.
Apa yang membuatnya kembali dan berkeliaran didekat Mika?
*****
PLAKK
Tamparan keras
mendarat di pipi Evan Jen, anak mentri itu sudah dimarahi oleh
ayahnya karena membawa orang lain ke rumah mereka tanpa sepengetahuan
dirinya.
“ Anak tidak
berguna. Sudah berapa kali papa ingatkan untuk tidak membawa orang
asing ke rumah ini. Papa tidak suka.”
“ Papa ngelarang
Evan sewa hotel, karena takut jadi skandal papa yang lagi
pencitraan..”
“ Diam.”
“ Jika tidak di
rumah ini dimana lagi Evan harus pergi menyimpan skandal ini?”
“ Diam.” Wajah
Jen Kusniar merah padam, suaranya besar disertai getar kemarahan yang
sedang meledak-ledak. Evan sendiri tidak pernah melihat papanya
seperti ini.
“ Sekali lagi kau
__ADS_1
melakukannya maka akan papa tarik semua fasilitasmu, jika perlu
mengeluarkanmu dari kartu keluarga dan hak waris.”
Jen Kusniar
meninggalkan putranya dengan wajah dingin tidak berperasaan, ia
bahkan tidak perduli apa anaknya tersinggung atau tidak. Dan juga
tdak menyesal telah menapar pipi anaknya hingga merah, seolah apapun
itu tidak berarti baginya selain citranya di mata masyarakat dan
ujung-ujungnya semua ini soal uang. Evan sendiri udah biasa banget
diginiin, perasaannya juga ikut membantu seiring terbiasa. Lagian
buat Evan omongan papanya hanya sebuah ocehan yang cuma masuk telinga
kiri trus mental hilang ketiup angin belum nyampe lagi ke telinga
kanan. Wkwkwkwkwk.
“ Dimana lo?”
Evan menelpon seseorang, untuk memperbaiki moodnya yang rusak banget.
“ Ok gue kesana
ya.” Evan tersenyum sebelum menutup telpon, duh manisnya.
Sebenarnya Evan cowo
yang cukup cakep dan ngangenin terlepas dari semua yang buruk
tentangnya. Itu kenapa banyak cewe yang klepek-klepek.
Evan udah nyampe aja
dibandara, kaya nya mau nemuin orang yang di telponnya tadi.Dari
kejauhan Evan sudah ngeliat sosok yang akan di temuinya, seorang
wanita cantik dengan wajah manyun seolah baru aja dapet musibah yang
ga tertolong. Evan terpaku karena memperhatikan muka bette cewe itu.
“ Heii.” Evan
mengacak lembut rambut cewe itu dengan keduatangannya seraya
tersenyum puas seolah dia bahagia atas kesedihan yangmenimpa gadis
itu. Yang ternyata tuh cewe ga laen ga bukan adalah Esa, Evan dan Esa
sepupuan.
“ Apaan sih lo?”
“ Jadi lo ga ikut
om ke amrik?”
“ Ehek... papa
marah banget ma gue.” Esa benaran nangis, nelangsa banget.
“ Emangnya kenapa
sih ga pergi aja, segitunya lo ga bisa pergi klo ga ngeliat muka gue
dulu.” Esa meninju perut Evan.
“ Aw..” Merintih
“ Apaasin sih Sa?
Hahahaha... Oke oke, apasih yang ngebuat lo ga bisa berangkat ha?”
Esa ga menjawabnya,
hatinya masih sakit banget karena sampe detik ini Mika ga bisa
dihubungi dan ga juga ngubungin balik.
“ Loh kok nagis
sih. Maaf-maaf klo gue kelewatan.” Evan memeluk Esa yang segera
menangis senyap dalam pelukan cowo tampan itu.
“ Esa?” Ngedadak
ada suara familiar yang membuat Esa segera menyudahi pelukannya, trus
langsung menoleh ke arah asal suara. Seketika mata cantiknya
membelalak, ngeliat Mika tetiba nongol entah sejak kapan dengan
tampang yang ga enak banget.
__ADS_1