WINTER GLOW

WINTER GLOW
Cinta Pertama Mika


__ADS_3

Dua puluh tahun yang lalu…


Saat musim dingin di Finlandia…


Seorang gadis kecil berusia empat tahun memeluk boneka teddy bear kesayangannya, mata besarnya nan cantik sesekali mengerjap indah sangat meluluhkan hati siapa aja yang melihatnya. Senyum manisnya selalu menghiasi kemana saja kakinya melangkah menambah manis wajah imutnya dengan rambut yang panjang.


“ Yeye mau main salju pa”


Gadis kecil itu belum bisa mengucapkan namanya dengan benar hingga membuat panggilan sendiri untuk namanya.


“ Boleh Rere sayang, tapi hati-hati ya.” Begitulah nama panggilannya adalah Rere, tapi lidah celatnya hanya bisa mengucapkan Yeye


“ Aaaaaaaaa.. mamaaaa..” Rere kecil terjatuh dan langsung menangis. Tak jauh dari tempat gadis itu ada seorang anak laki-laki seusia dengannya datang menghampiri ingin membantu.


" Oh hati-hati sayang" Ibu nya berlari dari kejauhan hendak menolong.


" Oh jangan menangis." Ibu si laki-laki yang lebih dekat dengan tempat kejadian tersenyum, terutama saat melihat putranya yang baru berusia empat tahun itu berusaha membantu dengan kepolosannya.


" Cup, cup, cup. jangan nangis. Ini coklat mau?" Si ibu tersenyum. Bijak sekali putraku, pikirnya. Dia bahkan membantu si gadis kecil yang sama umur denganya itu, untuk berdiri dan membersihkan mantelnya yang terkena salju.


“ Udah ya jangan nangis.” Anak laki-laki yang manis tersenyum dengan tulus diwajahnya yang menawan membuat reda tangisnya gadis kecil disampingnya, bahkan dia mampu membalas dengan senyum juga. Jemari kecil mereka bertemu seolah sedang memulai takdir.


“ Aku Mika, kamu siapa namanya.” Dengan suara dan logat yang khas balita.


“ Yeye.”


" Oh terimakasih, eh..thank you, thank you."


" Orang Indonesia juga ya.."


" Oh iyaaaa... kebetulan ya... terimakasih putra ibu baik sekali, pintar ya. Saya Frianka." Mengulurkan tangan untuk berkenalan.


“ Oh saya Melan. Senang bisa ketemu orang Indonesia juga disini.”


“ Ah iya saya juga senang sekali.”


" Hahaha Iya... terimakasih aunty. Tinggal dulu ya.. kami mau balik neh ke hotel lagi... ayo sayang"

__ADS_1


" Oh yaaa....terimakasih banyak ya. Sepertinya kita berada dihotel yang sama"


" Atau mau ikut dengan kita, kita bisa wisata bareng."


" Oh...sayang sekali...liburan ini bersama tim kantor...maaf.."


" Oh ya ga apa-apa kok..." Bersamaan saat si ibu sibuk beramah tamah.


" Jangan sedih lagi ya." Si kecil yang tampan mengusap air mata si putri kecil, yang masih terlihat sedih, bahkan masih tampak bulir air mata nya. Si cantik mungil itu pun mengangguk lucu.


Entah bagaimana keakraban itu terjalin begitu saja, keduanya sesekali tertawa bersama dengan bahasa balita yang hanya dipahami oleh mereka. kedua balita itu malah terlihat bergandengan tangan, bermain bersama. Imutnyaaa...


" Sekali lagi terimakasih ya..Ayo sayang.." Kedua ibu menarik lembut tangan anak mereka, sibalita pun melepas tangan sahabat barunya itu dengan berat seraya saling melepaskan pandangan perpisahan diakhiri senyum kecil.


Dengan sebuah takdir, Tuhan kembali mempertemukan kedua balita itu secara ajaib. Terlalu banyak kebetulan jika dibilang sebuah ketidaksengajaan. Mereka bertemu kali ini, sebuah toko mainan.


“ Eh hi... Mbak Melan? Saya Frianka yang tempo hari ketemu di taman hotel, ingat?”


“ Oh iya... Mika kecil kami tidak berhenti bercerita betapa menyenangkannya bermian bersama Yeye.”


“ Yeye juga nama yang menggemaskan, saya suka Yeye.”


“ Hahahhaha... oh beli mainan juga ya mbak?”


“ Iya besok mau balik ke Indonesia Mika minta beli mainan, jadi saya pikir sekalianlah beli oleh-oleh buat keluarga di Indonesia.”


“ Waduh silahkan klo gituh mbak, terusin belanjanya. Saya juga mau liat-liat juga bareng Yeye.”


“ Ah itu mereka udah ketemu aja.” Melan dan Frianka saling berpandangan lalu tersenyum bersama melihat Yeye alias Rere alias Reca saat masih balita memilih mainan bersama dengan Mika. Bahkan keduanya dengan kompak memilih mainan yang sama, surprise Eeg.


" Besok kita ketemu lagi ya." Si gadis kecil berambut ikal itu mengangguk diajak ketemuan lagi sama Mika kecil. Kedua balita itu tampak serius dan begitu yakin akan bertemu lagi padahal mereka hanyalah dua balita yang pergi bersama orang tuanya, yang hanya ikut kemana para orang tua pergi tanpa bisa meminta mereka ingin kemana. Tapi seperti sebuah keajaiban yang mengabulkan keinginan tulus kedua balita ini, sekali lagi mereka dipertemukan di toko mainan yang sama karena Melan tidak sengaja meninggalkan dompetnya sehingga di telpon kembali oleh petugas toko tersebut untuk mengambil barang pribadinya itu. Sementara Frianka harus kembali ke toko tersebut karena sepupu Reca juga menginginkan mainan yang sama.


" Hai. Ini... mau?" Mika memberikan seluruh Ice Cream yang ada di tangannya untuk Reca yang langsung tersenyum bahagia, dia juga tanpa ragu menggandeng tangan Mika dan mengayun-ayunkannya dengan manja. Tapi senyum itu segera surut ketika kedua orang tua mereka harus meninggalkan toko ke arah yang berbeda.


" Mama jangan..." Kedua balita itu berusaha mempertahankan tangan sahabatnya tapi tetap saja tenaga kecil itu tidak berdaya.


" Ayo sayang kita harus cepat pulang." Mereka saling melihat hingga benar-benar terpisah, bulu mata keduanya tampak mulai basah karena menangis. Entah kapan mereka bisa bertemu lagi.

__ADS_1


" Jangan mama tunggu.."


" Aaaa..." Reca kecil sesekali berbalik berusaha melihat wajah temannya meski sesekali keteteran mengikuti langkah kaki si ibu.


Siapa yang menduga tangis mereka tak juga reda hingga di kamar hotel masing-masing, membuat kedua orang tua mereka bingung terlebih badan mereka sekarang terasa hangat seperti akan terserang demam. Padahal tiket pesat kedua keluarga ini sudah dipesan dengan jadwal keberangatan yang hampir sama tapi beda maskapai.


Akhirnya Melan bergerak lebih dulu mendatangi resepsionis hotel untuk bertemu dengan Frianka di lobi hotel, karena resepsionis tidak akan memberikan nomor kamar pelanggan pada orang asing. Frianka langsung bergegas menemui Melan dan saling bertukar nomor kamar, selanjutnya Mika serta kedua orang tuanya berkunjung ke kamar Reca kecil yang langsung bahagia melihat temannya itu.


“ Maaf sekali mbak Melan, sampe ngerepotin kaya gini.”


“ Ga apa-apa kok, Mika nya juga kaya gituh tuh....”


“ Oiya kenalin ini suami saya Branu Sanjaya.” Melihat suami yang sedikit bingung dengan pertemuan dadakan ini pun membuat Frianka memperkenalkan suaminya agar bisa lebih mengakrabkan diri.


“ Saya Darmawangsa. Tadi istri saya udah cerita soal anak-anak... hahahha... luar biasa kok bisa ya.”


“ Ayo kita cerita di ruang tengah aja pak Darma, biarkan para istri sama anak-anak.”


“ Hahahaha... iya iya mari.”


Anehnya begitu ketemu demam keduanya turun dan kembali ceria. Melan yang saat itu tidak percaya jika tidak melihat dengan matanya sendiri pun tersentuh begitu dalam.


“ Pesawat mbak jam berapa besok?”


“ Jam sembilan pagi, lega Mika udah turun demamnya. Saya pikir harus cancel pesawat besok, syukurlah.”


“ Iya syukurlah...”


Mungkin raga mereka kecil tapi hati mereka yang tulus seakan menggerakkan takdir.


" Mama... besok klo jalan-jalan kita kesini lagi ya?" Mika tiba-tiba datang trus menarik-narik ujung baju ibunya. Melan menatap ke arah Frianka meminta pendapat, dia tidak ingin menjawab sebel mengetahui reaksi Frianka. Luar biasa Frianka tersenyum lalu berjongkok didekat Mika.


" Iya sayang... kita akan jumpa lagi disini dilain waktu ya." Mika yang senang langsung menghampiri Reca kecil dan menceritakan apa yang dia dengar dengan semangat.


" Frianka saya... ehmmm.... saya tidak ingin berbohong sama Mika jika itu hal sulit maka harusnya..." Melan menggelengkan kepalanya, seraya menatap sedih ke arah Frianka.


*****

__ADS_1


__ADS_2