
“ Mereka makan lalu pergi nona. Hanya itu.”
“ Kau mengikutinya mereka kemana?”
“ Tidak Nona, ayah anda meminta anda untuk segera pulang. Ada rapat penting yang harus anda hadiri besok, jadi saya diminta memastikan anda istarahat dengan baik malam ini. Dan tidak mengerjakan hal yang tidak perlu.”
Sarah terdiam, ayahnya itu selalu saja mengatur hidupnya. Dan entah bagaimana beliau selalu tau apa yang dikerjakan putrinya diluar. Tidak perduli berapa kali Sarah mengganti Bodygardnya, memilih orang kepecayaannya. Ayahnya akan selalu tau.
“ Oke kita pulang aja.” karena emang ga ada gunanya juga kan dia ngebantah. Bikin capek aja tapi kalah akhirnya.
“ Dari mana kamu Sar?” Tanya Jabat Sentosa saat putrinya Sarah tiba di rumah.
“ Bukankah papa tau? Kenapa papa tanya ke Sarah?” Sarah melempar tasnya ke Sofa trus langsung membanting dirinya di sofa yang sama.
“ Sarah.” Jabat Sentosa duduk di sebelah putrinya.
“ Papa tidak ingin mengekangmu, tapi papa cuma ingin membuatmu disiplin agar nanti kamu bisa membuat apapun yang kamu suka sesuai keinginanmu dimapun dan terhadap siapapun.” Pria paruh baya itu menyeruput tehnya lalu duduk dengan santai. Sarah langsung duduk dengan benar, karena dia tau ayahnya sedang bicara serius. Dan yang barusan beliau katakan itu sebenarnya punya maksud yang sangat dalam.
“ Besok kamu jangan terlambat karena papa akan perkenalkan kamu dengan beberapa orang penting.”
“ Iy apa, Sarah istirahat dulu ya pa?”
“ Apa dia anak perempuan yang dulu?” Sarah yang akan melangkah ke kamarnya langsung terpaku, tanganya kembali gemetar.
“ Jangan dipikirkan, jangan biarkan dia menggangu langkahmu ke depan. Papa akan pastikan itu.”
“ Iya pa.” Sarah langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
“ TOLONG GUE SARAH, TOLONG GUE SARAH”
Sarah kembali teringat suara minta tolong itu. Dia buru-buru menejamkan matanya. Tidak, dia harus melawan ingatan itu. Papa benar, dia harus siap untuk rencana yang lebih besar. Dia tidak boleh terganggu dengan hal remeh seperti Reca. Tidak akan, dia tidak layak membuat Sarah seperti ini.
*****
Reca kembali memeriksa rumahnya, kali ini dia keluar melihat situasi. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan. Masih dengan kebisuannya dia memeriksa semuanya sekali lagi, dan matanya melihat sesuatu. Laptop miliknya yang terletak diatas meja belajar terlihat terpasang kabel charge, Reca sengaja meletakan laptop diatas meja dengan batrai yang low dan meletakkan charge yang sudah terpasang dicolokan yang diletakkan disebelahnya. Reca melakukan itu untuk mengetahui jika ada yang menggunakan gawai itu akan otomatis memasangkan charger ke laptop untuk ngisi daya dan akan lupa mencabutnya setelah digunakan. Di laptop miliknya Reca juga udah mengatur rekam layar otomatis saat orang lain menggunakannya, dan tersimpan di folder khusus juga. Hanya Reca yang tau letaknya dan bagaimana membukanya. Tidak folder yangmereka copy atau data apapun. Ya karena emang ga ada apa.
Tapi kan, klo mereka mencari sesuatu harusnya ada barang-barang yang berantakan atau letaknya bergeser dari semula. Ini enggak loh wak, rapi gitu hampir ga keliatan klo ada yang masuk rumah ini terlebih beberapa barang yang emang sengaja dibiarin berdebu terlihat klo debunya ga kegeser sama sekali. Alami aja gituh, tapi ga mungkin klo dai menggeledah seisi rumah ini. Reca mulai mengerti sesuatu, bahwa yang dihadapinya jauh lebih profesional. Hanya saja pertanyaannya sekarang apa yang sebenarnya mereka cari dirumahnya, apa yang membuat mereka membunuh ayahnya delapan tahun lalu.
“ Kenapa Re? Apa ada yang hilang?”
“ Ga ada yang hilang tapi ada yang masuk rumah ini.”
“ Ya iyalah, orang pintunya ga kekunci gituh.”
Dugaan Reca bener sih, seseorang emang datang sebelum mereka sampai. Perawakannya seperti laki-laki, masih muda bertubuh atletis. Memakai pakaian serba hitam dan memakai sarung tangan. Setiap benda yang dia periksa selalu dikembalikan sesuai tempatnya satu persatu. Untuk perabot atau barang yang berdebu dia mengelap benda itu hingga bersih lalu meniupkan debu yang sudah disiapkan di atas kertas. Debu yang ditiup akan jatuh secara alami dibenda tersebut.
Mika mulai nyadar dengan hal yang Reca bicarakan, dan mulai ngeh klo kaya nya Reca berusaha ngebongkar kematian ayahnya tapi belum mendapatkan informasi yang cukup untuk penyelidikan ini.
“ Re, aku janji akan bantu kamu buat ngungkap semua misteri ini. Tapi bisakah kamu cerita ke aku apa yang sebenarnya terjadi? Percaya sama aku Re, klo kita kerjakan bersama akan lebih mudah. Please.” Reca berpikir sebentar.
“ Ga Mik, lo artis. Kehadiran lo terlalu mencolok dimana aja. Lagian gue ga bisa jamin keselamatan lo. Dan gue ga mau direpotin (jagain lo).”
“ Klo gue yang jagain lo balik gimana?” Tiba-tiba Mika ngedeketin mukanya sedeket itu tanpa aba-aba. Ngebuat Reca ngedadak gugup, bukan deg-degan ato falling in love. Reca tau banget, klo Mika udah bertekad tuh anak dengan mudah menguasai apa aja soalnya emang dari orok dah pinter banget. Reca ga berani nge-iyain tapi juga ga berani buat nolak. Mika itu ga akan perduli, semakin dipaksa menjauh dia akan semakin kuat mendekat.
“ Jadi bisakan Re ceritain ke aku?” Semakin ga berotak, nambah deket aja mukanya. Ga tau dia udah salting banget si kawan heee. Ngeliatinnya pake cara kaya gitu lagi ih. Paham kan wak kaya mana? Kaya gitulah pokoknya.
__ADS_1
“ Hmmmm.” Reca mengigit sudut bibirnya.
Eh tunggu, aroma ini? Mata Reca membesar meski Mika tidak menyadarinya. Ada bau samar yang terasa tidak asing tapi bukanlah aroma yang sering Reca temui, hirup sih sebenernya. Dimana itu… ah sebuah ingatan melintas dalam pikiran Reca.
Delapan tahun lalu…
Ruangan gelap, dia merasa takut sambil meremas gaunnya. Seseorang datang dengan wangi parfum yang entah mengapa membuat Reca tenang, nyaman. Lalu pria misterius menciumnya… ah bau parfum ini sama sangat sama atau memang inilah aroma parfum itu. Tapi kenapa Mika memakainya, sebelumnya tidak pernah Reca mencium aroma ini saat bersama Sahabatnya itu. Bahkan waktu SMA dulu setiap saat dia selalu bersama cowo ganteng ini tapi ga pernah juga kaya gini aroma parfumnya.
Mika kah orangnya? Yang mencuri ciuman pertamanya delapan tahun lalu? Benarkah sahabatnya ini? Tidak mungkin.
“ Ga harus sekarang Re klo kamu belum siap, aku akan tunggu. Tapi please jangan menghilang dari aku lagi.” Mika berdiri tegak dari yang tadi agak membungkuk.
“ Mik…”
Reca menarik kemeja Mika bagian depan atas dekat kerah. Sehingga wajah mereka berdua kembali dekat. Reca terdiam sejenak sambil mengamati wajah itu, dia masih ga percaya Mika kah orangnya, atau ingatannya yang salah.
CUP!
Mata Mika membelalak, Reca menariknya sekali lagi hingga kedua bibir mereka saling beradu. Dan oh apa ini, gilak Reca benar-benar menciumnya bahkan mengulum bibirnya dengan lembut. Udah fatal, jantung Mika mau copot dibuatnya. Berdebar kencang banget. Klo dibawa ke rumah sakit pasti dokter bilang Takikardi atau detak jantung lebih dari 100 kali permenit. Masuk ICCU langsung iyah.
“ Re apa yang udah lo lakuin ke gue?.” Batin Mika menjerit, tangannya mulai memeluk Reca untuk lebih dekat. Udah lama banget dia sangat rindu, dan perasaannya yang ga pernah dia ngerti buat Reca seolah hari ini terjawab. Dia bukan hanya berdebar, tapi sangat menginginkan makhluk cantik ini dan bakalan ga rela klo dia diambil orang lain. Apa ini Tuhan? Lo jatuh cinta Bro.
*****
__ADS_1