
“ Saat
saya memeriksanya rumah itu sudah sangat berantakan pak, tapi tidak
ada benda yang hilang.” Seorang pria muda yang bekerja sebagai
sekretaris Jen Kusniar sedang melaporkan hasil penyelidikannya pada
sang majikan, rumah yang sedang mereka bicarakan adalah rumah Reca.
“ Kau
yakin tidak ada yang terlewat?”
“ Selama
lebih dari delapan tahun saya mengawasi rumah itu hingga sangat hapal
barang-barang di dalamnya pak, bahkan untuk memastikannya saya
menyusun ulang semua barang itu sesuai tempatnya untuk melihat apakah
ada yang hilang dari sana tapi ternyata tidak ada pak.”
“ Yakin
udah semua barang?”
“ Iya
pak, emm… tapi ada satu kotak mainan disana yang juga isinya ikut
berantakan. Saya sebelumnya tidak memeriksa dengan benar kotak itu
karena berisi mainan masa kecil. Tapi setelah saya kumpulkan isinya
kedalam kotaknya kembali, ternyata mengisi hingga kotaknya penuh pak.
Jadi sepertinya tidak ada juga yang hilang dari sana.”
“ Kotak
mainan?” Jen Kusniar tidak begitu setuju dengan keyakinan bawahannya itu, tapi
itu terlalu ambigu tapi pasti ada sesuatu didalamnya yang terlewat
oleh pengawasannya. Faktanya jika memang sesuatu itu ada dalam kotak
mainan itu maka yang datang ke rumah itu tau sesuatu.
Jadi
gini loh wak kita, klo ga ikut diberantakin tuh kotak mainan orang
akan curiga kenapa cuman itu yang ga berantakan yang lain iya. Klo
ikut diberantakin, orang bakalan mikir juga kenapa nyari sesuatu
sampe ke kotak mainan berarti intinya ada something kan? Nah itu yang
dipikirin Jen Kusniar sekarang wak.
“ Selidiki
terus dan cari orangnya, kita harus tau apa yang diambilnya dari
rumah itu dan kenapa baru sekarang.”
“ Siap
pak.”
*****
Reca
menatap nomor yang baru dipecahkannya dengan tangan yang sudah
bersiap menekan semua nomor itu di ponsel pribadinya. Dia ngerasa klo
ini nomor telpon dan udah sanagt yakin sebenarnya, tapi ragu untuk
melakukan panggilan karena takut akan hasil akhirnya. Gimana klo
ternyata bukan nomor telpon, gimana klo ternyata nomor ini udah ga
aktif, atau klo aktif sekalipun tapi udah beralih ke orang lain yang
ga ada kaitannya sama sekali karena biasanya nomor yang udah terlalu
lama ga dipakai trus mati akibat masa tenggang akan digunakan
kembali nomor tersebut oleh perusahaan selulernya pada kartu perdana
dan kalau pun masih orang yang sama dengan yang papa maksud apakah
orang itu benar-benar akan membantu Reca?
“ Re.
Re.” Mika mengetuk pintu berulang sambil teriak ngebuat Reca
tersentak dari lamunannya.
“ Apa?”
Ucap Reca sambil buka pintu kamar nya trus ngeliatin tampang polos
banget yang beneran pengen tau kenapa cogan alias cowo ganteng
didepannya ini gedor-gedor, Mika sampe terpesona sesaat.
__ADS_1
“ Ponsel
kamu bunyi Re dari tadi.” Bahkan saat Mika ngomong ponsel itu
masih berdering.
“ Heh?”
Reca ngeliat layar ponselnya
ada panggilan masuk dari Kendra, Mika juga liat itu dan hatinya pun
terasa tersayat-sayat.
Bukankah
Reca udah lama banget menghilang trus dari mana Kendra bisa
membuanyai nomor telponnya yang Mika aja baru memilikinya setelah
delapan tahun pencarian? Mika langsung tertunduk menahan rasa perih
tapi dia ga bisa jauh dari wajah ini meski terus menyakitinya.
“ Mik.”
Diluar dugaan Reca menekan tombol kunci pada android nya lalu
mengabaikan panggilan itu, bahkan meraih lengan Mika dan menggenggam
jemarinya.
“ Ada
sesuatu yang ingin gue ceritain ke elo, tentang beberapa petunjuk
baru yang gue temuin.”
“ Oh
jadi karena itukah dia menangis kemarin? Dan sekarang meruntuhkan
keangkuhannya trus meminta bantuan, pasti sulit banget buat Reca
sampe buat dia kaya gini.” Batin Mika lalu memeluk Reca erat.
“ Makasih
Re karena udah mau ngebaginya sama aku.” Reca
mengangguk lemah tapi ngegemesin.
“ Kita
bicariin di ruang kerja aku yuk.” Ruang rahasia lebih tepatnya.
TEK!
Suara pintu utama dibuka, Mika dan Reca otomatis menoleh padahal baru
dan langsung aja ngebuka pinntu tanpa mencet bel lebih dulu.
“ Lo
ga pernah ganti password nya?” Tanya Reca pelan. Aneh gitu ngeliat
Esa yang udah lama bersemayam diluar negeri bisa tau pass masuknya.
Daebak lah.
Mika
langsung tertunduk karena salah tingkah, dia begitu ceroboh hingga
ngelupain hal penting. Esa punya akses buat masuk kapan aja bahkan
jika dia ga dirumah sekalipun, itu bahayakan mengingat apa yang ada
di kamar Reca dan ruangan rahasia yang bisa aja sewaktu-waktu
ditemukan sama Esa. Bukan
hanya itu aja, Esa bisa aja secara sengaja ataupun tidak ngebawa
orang lain masuk kesini dan mungkin malah scara tidak langsung
membocorkan passwordnya. Kikuk
banget ketauan teledor depan Reca, setelah dengan sangat percaya diri
ngerasa bisa ngelindungi Reca dari bahaya.
Reca
segera melepas genggamannya dilanjutin seperti
biasa pake muka esnya ngeliatin orang lain yang kali ini Esa, datang
dengan senyum kerinduannya.
“ Ka
anterin aku yuk.” Jalan-jalan kemana gitukan secara munpung disini,
ga perasaan banget orang yang dateng dari luar negeri masih aja
dicuekn.
“ Emangnya
mau ke mana sih?” Mika
__ADS_1
“ Gimana
klo nonton, ato jalan kema gituh. Bette sendirian di hotel Ka, jalan
yuk.” Esa merengek manja nyaris bergantung dilengan Mika.
Reca
menatap mata Mika berharap sahabatnya itu menolak ajakan Esa apapun
caranya, karena ada hal penting yang mau Reca sampein dan ga bisa
ditunda. Mika membalas tatapan itu, meski kepala Reca terlihat
hampir tidak bergerak tapi Mika bisa melihat klo sebenarnya Reca
menggeleng hanya aja ga ingin Esa sadar penolakan itu. Lagi-lagi Mika
disuruh milih antara Esa atau Reca, keadaan selalu menjebaknya pada
situasi serba salah ini karena sejujurnya
Mika baru aja seneng liat Reca yang udah mau terbuka untuk beberapa
hal tapi justru Esa datang di waktu yang tidak tepat. Untuk
mengabaikan Esa pun Mika ga bisa, gadis itu udah terlalu sering dia
lukai yang pastinya sesering itu juga Mika udah membuatnya menangis.
Nah hari ini Esa baru dateng dari luar negeri ga mungkin lagi-lagi
diabaikan kan? Tapi Reca juga udah mengabaikan telpon dari seorang
Kendra untuk ngomong sama Mika.
“ Sa..
gimana kalau besok?” Mika ngeliat ke Reca karena sebenarnya kalimat
itu ditujukan untuknya, Mika mau mastikan apakah besok dia bis apergi
bareng Esa jadi hari ini biar nyisihin waktu untuk Reca setidaknya
haru ini aja. Ataupun sebaliknya, Reca masih menggeleng pelan.
Pancaran matanya mengatakan bahwa Reca akan menyita waktu Mika lebih
lama bahkan setelah hari ini.
“ Kenapa,
kamu sibuk ya. Bukannya jadwal kamu kosong sampe beberapa bulan
kedepan?” Reca sedikit terkejut tapi menahannya, bagaimana orang
yang berada di Amerika bisa sangat tau jadwalnya Mika sementara dia
udah mantan Manager gituh.
“ Kok
kamu tau Sa?”
“ Kamu
lupa ya klo Manager kamu yang sekarang itu temen aku?”
“ Trus
lo tanyain gitu jadwalnya Mika hari ini sampe beberapa bulan kedepan?
Jadi lo tuh dateng kesini karena tau jadwal Mika kosong atau mau
memastikan apakah benar jadwal Mika kosong.” Batin Reca ngedumel
sendiri, karena disini sangat aneh menurutnya.
“ Trus
apa tadi, manager Mika yang sekarang adalah temannya Esa? Sekedar
memastikan Mika dapet yang terbaik sebagai mantan manager atau ingin
meninggalkan mata yang tetap bisa ngawasin Mika meskipun dia udah
ga ada.” Sakit ga sih? Segitu cintanya?
“ Jadi
bisa kan kita pergi?”
“ Sa
aku..” Mika belum selesai
bicara tapi Reca langsung tertundung kemudian memalingkan mukanya
karena detik itu juga hati Reca patah, jadi Reca memutuskan untuk
pergi mengatasi masalahnya sendiri. Untuk pertama kalinya Reca ingin
bersandar tapi sepertinya Mika tidak bisa melepaskan wanita cantik
seperti Esa, mungkin Mika sedah lelah menunggu atau pesona Esa telah
menutupi kejadirannya… entahlah. Harusnya Reca tidak pernah
berharap pada siapapun, harusnya dia bisa konsisten seperti saat
pertama kali dia datang bahwa sendiri itu lebih baik.
__ADS_1