WINTER GLOW

WINTER GLOW
Melepaskan Tangan yang Meraih


__ADS_3

“ Saat


saya memeriksanya rumah itu sudah sangat berantakan pak, tapi tidak


ada benda yang hilang.” Seorang pria muda yang bekerja sebagai


sekretaris Jen Kusniar sedang melaporkan hasil penyelidikannya pada


sang majikan, rumah yang sedang mereka bicarakan adalah rumah Reca.


“ Kau


yakin tidak ada yang terlewat?”


“ Selama


lebih dari delapan tahun saya mengawasi rumah itu hingga sangat hapal


barang-barang di dalamnya pak, bahkan untuk memastikannya saya


menyusun ulang semua barang itu sesuai tempatnya untuk melihat apakah


ada yang hilang dari sana tapi ternyata tidak ada pak.”


“ Yakin


udah semua barang?”


“ Iya


pak, emm… tapi ada satu kotak mainan disana yang juga isinya ikut


berantakan. Saya sebelumnya tidak memeriksa dengan benar kotak itu


karena berisi mainan masa kecil. Tapi setelah saya kumpulkan isinya


kedalam kotaknya kembali, ternyata mengisi hingga kotaknya penuh pak.


Jadi sepertinya tidak ada juga yang hilang dari sana.”


“ Kotak


mainan?” Jen Kusniar tidak begitu setuju dengan keyakinan bawahannya itu, tapi


itu terlalu ambigu tapi pasti ada sesuatu didalamnya yang terlewat


oleh pengawasannya. Faktanya jika memang sesuatu itu ada dalam kotak


mainan itu maka yang datang ke rumah itu tau sesuatu.


Jadi


gini loh wak kita, klo ga ikut diberantakin tuh kotak mainan orang


akan curiga kenapa cuman itu yang ga berantakan yang lain iya. Klo


ikut diberantakin, orang bakalan mikir juga kenapa nyari sesuatu


sampe ke kotak mainan berarti intinya ada something kan? Nah itu yang


dipikirin Jen Kusniar sekarang wak.


“ Selidiki


terus dan cari orangnya, kita harus tau apa yang diambilnya dari


rumah itu dan kenapa baru sekarang.”


“ Siap


pak.”


*****


Reca


menatap nomor yang baru dipecahkannya dengan tangan yang sudah


bersiap menekan semua nomor itu di ponsel pribadinya. Dia ngerasa klo


ini nomor telpon dan udah sanagt yakin sebenarnya, tapi ragu untuk


melakukan panggilan karena takut akan hasil akhirnya. Gimana klo


ternyata bukan nomor telpon, gimana klo ternyata nomor ini udah ga


aktif, atau klo aktif sekalipun tapi udah beralih ke orang lain yang


ga ada kaitannya sama sekali karena biasanya nomor yang udah terlalu


lama ga dipakai trus mati akibat masa tenggang akan digunakan


kembali nomor tersebut oleh perusahaan selulernya pada kartu perdana


dan kalau pun masih orang yang sama dengan yang papa maksud apakah


orang itu benar-benar akan membantu Reca?


“ Re.


Re.” Mika mengetuk pintu berulang sambil teriak ngebuat Reca


tersentak dari lamunannya.


“ Apa?”


Ucap Reca sambil buka pintu kamar nya trus ngeliatin tampang polos


banget yang beneran pengen tau kenapa cogan alias cowo ganteng


didepannya ini gedor-gedor, Mika sampe terpesona sesaat.

__ADS_1


“ Ponsel


kamu bunyi Re dari tadi.” Bahkan saat Mika ngomong ponsel itu


masih berdering.


“ Heh?”


Reca ngeliat layar ponselnya


ada panggilan masuk dari Kendra, Mika juga liat itu dan hatinya pun


terasa tersayat-sayat.


Bukankah


Reca udah lama banget menghilang trus dari mana Kendra bisa


membuanyai nomor telponnya yang Mika aja baru memilikinya setelah


delapan tahun pencarian? Mika langsung tertunduk menahan rasa perih


tapi dia ga bisa jauh dari wajah ini meski terus menyakitinya.


“ Mik.”


Diluar dugaan Reca menekan tombol kunci pada android nya lalu


mengabaikan panggilan itu, bahkan meraih lengan Mika dan menggenggam


jemarinya.


“ Ada


sesuatu yang ingin gue ceritain ke elo, tentang beberapa petunjuk


baru yang gue temuin.”


“ Oh


jadi karena itukah dia menangis kemarin? Dan sekarang meruntuhkan


keangkuhannya trus meminta bantuan, pasti sulit banget buat Reca


sampe buat dia kaya gini.” Batin Mika lalu memeluk Reca erat.


“ Makasih


Re karena udah mau ngebaginya sama aku.” Reca


mengangguk lemah tapi ngegemesin.


“ Kita


bicariin di ruang kerja aku yuk.” Ruang rahasia lebih tepatnya.


TEK!


Suara pintu utama dibuka, Mika dan Reca otomatis menoleh padahal baru


dan langsung aja ngebuka pinntu tanpa mencet bel lebih dulu.


“ Lo


ga pernah ganti password nya?” Tanya Reca pelan. Aneh gitu ngeliat


Esa yang udah lama bersemayam diluar negeri bisa tau pass masuknya.


Daebak lah.


Mika


langsung tertunduk karena salah tingkah, dia begitu ceroboh hingga


ngelupain hal penting. Esa punya akses buat masuk kapan aja bahkan


jika dia ga dirumah sekalipun, itu bahayakan mengingat apa yang ada


di kamar Reca dan ruangan rahasia yang bisa aja sewaktu-waktu


ditemukan sama Esa. Bukan


hanya itu aja, Esa bisa aja secara sengaja ataupun tidak ngebawa


orang lain masuk kesini dan mungkin malah scara tidak langsung


membocorkan passwordnya. Kikuk


banget ketauan teledor depan Reca, setelah dengan sangat percaya diri


ngerasa bisa ngelindungi Reca dari bahaya.


Reca


segera melepas genggamannya dilanjutin seperti


biasa pake muka esnya ngeliatin orang lain yang kali ini Esa, datang


dengan senyum kerinduannya.


“ Ka


anterin aku yuk.” Jalan-jalan kemana gitukan secara munpung disini,


ga perasaan banget orang yang dateng dari luar negeri masih aja


dicuekn.


“ Emangnya


mau ke mana sih?” Mika

__ADS_1


“ Gimana


klo nonton, ato jalan kema gituh. Bette sendirian di hotel Ka, jalan


yuk.” Esa merengek manja nyaris bergantung dilengan Mika.


Reca


menatap mata Mika berharap sahabatnya itu menolak ajakan Esa apapun


caranya, karena ada hal penting yang mau Reca sampein dan ga bisa


ditunda. Mika membalas tatapan itu, meski kepala Reca terlihat


hampir tidak bergerak tapi Mika bisa melihat klo sebenarnya Reca


menggeleng hanya aja ga ingin Esa sadar penolakan itu. Lagi-lagi Mika


disuruh milih antara Esa atau Reca, keadaan selalu menjebaknya pada


situasi serba salah ini karena sejujurnya


Mika baru aja seneng liat Reca yang udah mau terbuka untuk beberapa


hal tapi justru Esa datang di waktu yang tidak tepat. Untuk


mengabaikan Esa pun Mika ga bisa, gadis itu udah terlalu sering dia


lukai yang pastinya sesering itu juga Mika udah membuatnya menangis.


Nah hari ini Esa baru dateng dari luar negeri ga mungkin lagi-lagi


diabaikan kan? Tapi Reca juga udah mengabaikan telpon dari seorang


Kendra untuk ngomong sama Mika.


“ Sa..


gimana kalau besok?” Mika ngeliat ke Reca karena sebenarnya kalimat


itu ditujukan untuknya, Mika mau mastikan apakah besok dia bis apergi


bareng Esa jadi hari ini biar nyisihin waktu untuk Reca setidaknya


haru ini aja. Ataupun sebaliknya, Reca masih menggeleng pelan.


Pancaran matanya mengatakan bahwa Reca akan menyita waktu Mika lebih


lama bahkan setelah hari ini.


“ Kenapa,


kamu sibuk ya. Bukannya jadwal kamu kosong sampe beberapa bulan


kedepan?” Reca sedikit terkejut tapi menahannya, bagaimana orang


yang berada di Amerika bisa sangat tau jadwalnya Mika sementara dia


udah mantan Manager gituh.


“ Kok


kamu tau Sa?”


“ Kamu


lupa ya klo Manager kamu yang sekarang itu temen aku?”


“ Trus


lo tanyain gitu jadwalnya Mika hari ini sampe beberapa bulan kedepan?


Jadi lo tuh dateng kesini karena tau jadwal Mika kosong atau mau


memastikan apakah benar jadwal Mika kosong.” Batin Reca ngedumel


sendiri, karena disini sangat aneh menurutnya.


“ Trus


apa tadi, manager Mika yang sekarang adalah temannya Esa? Sekedar


memastikan Mika dapet yang terbaik sebagai mantan manager atau ingin


meninggalkan mata yang tetap bisa ngawasin Mika meskipun dia udah


ga ada.” Sakit ga sih? Segitu cintanya?


“ Jadi


bisa kan kita pergi?”


“ Sa


aku..” Mika belum selesai


bicara tapi Reca langsung tertundung kemudian memalingkan mukanya


karena detik itu juga hati Reca patah, jadi Reca memutuskan untuk


pergi mengatasi masalahnya sendiri. Untuk pertama kalinya Reca ingin


bersandar tapi sepertinya Mika tidak bisa melepaskan wanita cantik


seperti Esa, mungkin Mika sedah lelah menunggu atau pesona Esa telah


menutupi kejadirannya… entahlah. Harusnya Reca tidak pernah


berharap pada siapapun, harusnya dia bisa konsisten seperti saat


pertama kali dia datang bahwa sendiri itu lebih baik.

__ADS_1


 


 


__ADS_2