
" Hei... sayang." Mika yang baru aja bangun tidur menurunin tangga lalu menuju dapur, dia memeluk Reca dari belakang yang sedang meneguk secangkir coklat hangat. Kemudian mengecup pipi Reca yang membelakanginya, sesekali memeluk sambil berayun-ayun ga ketinggalan muka senyum-senyum seolah kangen berat padahal pisah bentaran doang itupun pas tidur.
" Kamu mau sarapan? Aku udah masakin tuh. Makan yuk." Mika langsung melepas pelukannya dan ngeliat kesekitar. Dia baru sadar kalo rumah udah rapi banget plus kesan bersih karena emang baru aja dibersihin. Ya... biasanya juga ga kotor banget sih tapi tetap aja kan keliatan beda gitu sesuatu yang baru aja dibersihin tuh... nuansanya beda kan wak.
Jadi subuh-subuh tuh Reca udah bangun trus bersihin rumah dimulai dari lantai sampe furniture nya, udah gitu doi olahraga bentar trus mandi baru setelah itu masakin sarapan. Mata Mika mengerjap takjub, ga kebayang ceweknya tuh rajin banget hari tapi bikin Mika khawatir soalnya Reca hari itu kaya Reca yang pernah diceritain sama tante Frianka, dimana Reca yang terguncang dalam kesedihan trus tiba-tiba terlihat baik-baik aja dengan menyibukkan dirinya secara gila-gilaan. Kaya barusan ini, dia beberes rumah trus olahraga trus masak seperti ga terjadi apa-apa.
" Hari ini ada suting? Mau aku temenin." Mika yang denger Reca ngomong barusan langsung tersedak hampir muncrat gituh, padahal baru aja nyuap mah.
" Se... se, serius Re kamu mau nemenin aku suting?" Reca menoleh sambil mengangguk yakin.
" Emm... ga suting sih hari ini tapi ada catwalk, Indonesia fashion week."
" Okeh, jam berapa?"
" Sekitar jam sebelasan entar." Mika masih ga yakin plus cemas juga. Apa Reca bener ga apa-apa neh padahal kemaren kan dia sedih banget dan nangisnya aja sampe sesegukan. Trus muka dingin ini... ah entahlah... mungkin ini jauh lebih. Mika tinggal nyeimbangin aja klo emang Reca lebih suka pura-pura baik kaya gini. Gampang juga buat Mika untuk menghibur kekasihnya, meski ini sebenernya ga begitu baik tapi positifnya Mika tau Reca kuat dan akan bisa ngelewati semua ini. Reca hanya perlu bantuan Mika untuk keluar dari kegelapan ini bersama-sama.
Selesai sarapan Mika langsung menuju lokasi peragaan busana, seperti yang udah dibilang tadi Reca nemenin ke tempat berlangsungnya acara. Hari itu penampilan Reca sederhana banget dengan sneakers nya, mengenakan jeans yang digulung di bawah lutut dipaduin kaos lengan panjang berwarna Terakota yang longgar trus memakai topi berwarna hitam biar mukanya ga begitu keliatan. Rambutnya dibiarin tergerai gitu aja, sekali lagi itu buat nutupin biar mukanya ga begitu terlihat jelas. Bagian depan topi juga dibiarkan sedikit kebawah untuk menyempurnakan semua usahanya.
" Ouhhh tampan akhirnya Dateng juga... ayok, ayok cakep ganti baju kitaaahh..." Seorang dsigner kondang bernama Aleta memgampiri Mika, perancang busana yang seorang pria gemulai itu begitu tergila-gila sama Mika karena semua baju buatan selalu terlihat sempurna dibadan aktor cakep itu. Dan emang sih selalu terjual habis ga lama setelah pemeran berlangsung, hanya aja Aleta selalu mengeluh untuk gaun yang dia ciptakan. Menurutnya belum ada seorang model profesional sekalipun yang memenuhi ekspektasi nya saat membawakan gaun buatannya.
" Uuuhhh.... emang tangan aku tuh ya selalu bisa tau ukuran kamu ganteng... tuh kan pas banget."
" Thanks Aleta, lo yang terbaik." Mika tersenyum.
__ADS_1
" Model cewenya mana semua aduuhhhh... ihh kok ga ada yang cantik ih aaa..." Gilak itu semua makhluk cantik loh njirrrr.
" Mereka semua model papan atas loh Ta.. udah ternama semua... cantik kok. Lo nya ja Ta, ga ngerti gue maunya yang kaya mana perasaan tuh model-model udah kaya bidadari semua." Salah seorang asistennya menggerutu, karena emang udah yang top nya inih mana bayarannya pada mahal, bisa bisanya dibilang ga ada yang cantik. Ga katarak tuh mata?
" Eh sayang mana manager kamu yang cantik itu sih?" Aleta mendekati Mika yang lagi dirias.
" Esa? Diakan udah lama ga sama aku lagi Ta."
" Haiii..." Eh si Esa yang dibilangin malah nongol, cukup ngagetin sih ngapain juga ne cewe Dateng ke sini. Secara udah bukan managernya Mika lagi, udah gitu darimana juga dia tau Mika ada disini?
Ngeliat kehadiran Esa, Reca langsung sembunyi dibelakang salah satu staf agar Esa tidak melihatnya. Reca menatap Esa dari balik celah yang ada antara para staf acara yang lagi berdiri, masih seger banget ingatan Reca beberapa waktu lalu saat dirinya hampir dibunuh di rumah sakit ketika dirawat pasca luka tembakan. Dimulai dari tinggi badan, perawakannya hingga bahasa tubuh orang yang ingin membunuhnya malam itu terlihat sangat mirip dengan Esa. Ditambah saat Reca berhasil menarik topi lawannya malam itu, Reca ngeliat rambut yang sama dan garis wajah yang sangat mirip dengan Esa yang intinya 90% itu udah pasti Esa ya kan. Tapi Reca belum ngasih tau Mika soal itu, Reca ga ingin Esa menyadari bahwa Reca sudah tau orang seperti apa dia sebenarnya. Selain itu Reca belum tau apakah Esa menyerang nya semata-mata karena rasa cemburunya untuk Mika atau dia ada kaitannya dengan singa merah. Meski sebenarnya pernyataan kedua jauh lebih masuk akal karena kemampuan bertarung Esa yang kemarin itu sangat menunjukkan dia profesional.
" Hai cantik... ih gemez deh... pakai bajuku ya manis kali ini aja." Aleta memohon dengan sangat untuk gaun spesial nan mewah buat yang dia buat dan belum ditentukan model mana yang akan memakainya.
" Ayolah cantik hanya kali ini aja." Esa ngeliat ke arah Mika yang artinya dia minta pendapat Mika, haruskah dia mencobanya?
" Cobalah Sa, itung-itung bantuin Aleta yang baik banget sama kita selama ini kan?"
" Mika bener Sa, anggaplah lo sebagai tamu kehormatan acara ini. Hmmm?"
" Okey, only one."
" Aaaaa.... it's enough sweetie." Aleta nampak girang banget.
__ADS_1
" Ayok cepet-cepet, cepet dandani Esa ya. Dia bakalan pake gaun spesial gue." Para staf pun sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Seperti yang kita tau acara fashion week udah pasti model bejibun trus perancang busananya juga ga cuma satu, tempat makeup nya aja rame kaya pasar.
" Oh my God!" Aleta ternganga parah ngeliat kecantikan Esa yang luar biasa itu.
" Perfect... Ouuuhhh." Bahkan Aleta sampe berkaca-kaca menahan haru, akhirnya Esa bersedia juga memakai gaunnya dan itu menambah nilai sempurnanya.
Dan sesuai dengan semua orang duga, Esa tampil anggun di Catwalk dan semua orang mengagumi kecantikan yang emang mematikan itu. Cantik sumpah ga ada obat, banyak mulut ternganga dan mata yang ga kedip ngeliatin Esa hingga catwalk nya berakhir.
" Mampus gue... gaunnya sisa satu dan modelnya yang harusnya make masih.... " Belum kelar meragain busana dari perancang lain lantaran konsepnya dirubah dari rencana awal. Asisten Aleta itupun langsung terserang panik.
" Bisa-bisa Aleta ngamuk lagi kayak kemaren, ouh tidak mampus gueeee."
Mika masih jalan di catwalk, Reca memperhatikan dari layar yang ada di back stage. Dia juga liat gimana semua orang selalu terpana dengan Mika disetiap baju yang dikenakannya.
" Eh Lo liat cewe itu? model bukan sih?" Asisten Aleta tadi menunjuk ke arah Reca yang masih fokus sama monitor.
" Ga deh kayanya... gue baru liat. Mukanya asing, staf kali." Salah satu makeup artist menjawab pertanyaan tadi.
" Tapi emm.... mukanya oke, bolehlaaahhh... body nyaaa... trus tingginya ga terlalu tinggi sekitar seratus enam puluan, tapi mendekati 170. Klo ditambah heels makaaa..."
" Eh Lo...sinih."
" Huh?" Seseorang menarik tangan Reca dengan cepat. Reca yang ga siap karena tadi lagi ngeliatin penampilan Mika terikut gitu aja tanpa sempat mengucapkan satu kata pun.
__ADS_1
*****