
" Mik! Mandi geh, habis tuh tidur biar Reca gue yang jagain. Gue udah kelar dinas neh, jadi lo bisa istrahat."
" Ga Rak, gue masih pengen jagain sampe dia bangun. Gue pengen ada disampingnya saat dia sadar." Mika mengeratkan genggamannya lalu mengecup tangan kekasihnya, Raka bisa liat wajah rindu berat yang masih sabar nungguin meski udah kelihatan lelah.
" Kerjaan lo gimana? Lo hari ini ga suting, ato pemotretan barang kali?"
" Ga Rak... udah gue reschadule." Ujar Mika pelan.
Sesaat Raka ngeliat ke wajah sahabatnya kemudian ngebatin. Secinta itukah lo sama Reca Mik? Beneran secinta itu? Secara muka nelangsa penuh gelisah trus sesekali ngelus rambut secewe berharap dia buka apa ato setidaknya mengangkat sedikit kelopak matanya.
TEK! Suara knop pintu yang dibuka ngebuat Mika dan Raka menoleh untuk ngeliat siapa yang datang.
" Hi!" Esa muncul dengan senyum manisnya, suasana langsung berubah canggung.
" Oh Sa... masuk Sa..." Mika mempersilahkan Esa duduk. Ruang perawatan mewah super luas dilengkapi mini kitchen, tempat tidur penunggu pasien, meja makan hingga sofa set yang didudukin sama Esa.
" Inih buat Reca." Esa menyerahkan bingkisan buah dan sebuket bunga cantik yang udah dilengkapi vas. Mika melihat ke arah bunga itu, mawar merah itu bunga kesukaan Esa sedangkan Reca lebih suka mawar putih.
" Makasih ya Sa, udah jengukin dan bawa ini segala."
" Hmmm... ga apa Ka. Aku khawatir aja, gimanapun Reca kan teman aku juga ka meski mungkin ga begitu dekat." Raka risih sendiri sama situasinya, Esa seolah kaya bayangan yang ga mau lepas dari Mika tapi kali ini situasinya kan beda.
" Mik gue... kebawah dulu ya... cari minum. Sa.." Berasalan biar bisa keluar dari ruangan, sumpek banget.
" Oh iya.." Esa membalas dengan senyum.
__ADS_1
" OK bro, jangan lama ya... soalnya.." Mika memberi isyarat melalui mata dan gerakan kepala, entah apa maksud sebenernya Raka ga tau pasti juga. Tapi hati Raka bilang klo barusan Mika bilang dia ga nyaman ditinggal berdua aja sama Esa. Jadi Raka pun ngebalas dengan anggukan yang artinya dia ga akan lama kok.
" Gimana keadaan Reca Ka?"
" Aku bersyukur banget Sa operasi nya berjalan lancar, tapi ga tau kenapa Reca belum sadar. padahal kata dokter semuanya bagus dan baik- baik aja. Tanda vitalnya normal dan... huuhhh perdarahannya juga udah dihentikan harusnya... dia udah buka mata." Mika tertunduk berusaha menyembunyikan wajah kalutnya.
Esa melihat wajah cemas itu dan otomatis buat hatinya perih. Gadis itu tersenyum sinis untuk dirinya sendiri, memergoki kebodohannya yang masih saja mendekat padahal hanya akan melihat pemandangan seperti ini atau sejenisnya lalu dia akan berakhir sakit sendiri. Apa coba yang dia lakukan disini? Apa coba?
" Oiya Sa kok tau Reca dirawat disini?" Padahal seingat Mika udah merogoh kocek cukup gede buat rumah sakit merahasiakan keberadaan Reca dan juga dirinya. Selain itu Mika juga sudah membereskan agar hal ini ga bocor ke media.
" Tau dari asisten kamu pas.... kita tuh... kita tuh yang kebetulan gitu ketemu di.. di mall pas belanja. Jadi aku tanyain kabar kamu dan dia cerita." Mika mengangguk paham.
" Hmmm."
" Dua hari ini aku samperin kamu ke rumah tapi kamu ga pernah ada, udah mulai balik suting yah?"
" Trus hari ini gimana... ga kerja?"
" Iyah... aku harus Sa.. kerja pun ga bakalan fokuslah klo Reca kaya gitu." Ada batu gede yang nyangkut di kerongkongan rasanya, pas denger Mika bilang gituh.
" Kamu nyariin aku kenapa Sa?"
" Oh iya itu.. aku tadinya mau ngasih tau kalo mungkin aku bakalan netap di Indonesia lagi dan ga bakal balik ke Amrik."
" Loh trus gimana sama Mama kamu Sa?" Bukankah itu alasan yang akhirnya memisahkan mereka, dan Reca kembali memutuskan perasaan mereka yang sudah hampir dekat saat itu.
__ADS_1
" Evan mengambil alih perusahaan papanya dan aku diminta om Jen bantuin Evan jalanin perusahaan. Dan syukurnya mama malah seneng aku berkecimpung di dunia bisnis, jadi... dia dukung aku buat netap disini Ka." Esa menatap Mika, terlambat kah? Pikirnya. Apakah Esa terlalu terlambat untuk menarik Mika kembali dari pesona seorang Reca, yang entah bagaimana bisa begitu mahir menaklukkan beberapa hati pria tampan berkelas. Yang Esa sendiri bahkan tidak mampu. Sebut saja Kendra, Evan dan... Mika. Padahal dia bukanlah gadis tercantik atau pemenang kontes kecantikan dunia, bukan juga wanita dengan catatan karir yang luar biasa. Baik wajahnya... kepintarannya biasa aja lalu kenapa.... ah tidak adakah yang lebih baik dari ini untuk diperebutkan?
" Selamat klo gitu Sa untuk pekerjaan barunya, aku yakin kamu bakal sukses seperti biasanya. Karena aku tau kamu sangat kompeten dalam hal apapun itu."
" Kecuali menaklukkan mu Ka." Ucap Esa dalam hati yang sekita teringat deretan lelaki yang ditolaknya demi keyakinan nya yang ga berdasar bahwa suatu saat Mika akan membuka hatinya.
Banyak pria mapan yang menawan dengan background keluarga dari orang-orang berpengaruh sampe CEO pewaris perusahaan raksasa, Esa menolaknya mentah-mentah dengan mudah tanpa rasa menyesal demi makhluk tampan yang tidak pernah menoleh ke arahnya sekalipun. Setimpal kah semua itu dengan ini? Sebuah hubungan yang tidak pernah jelas arahnya tapi selalu menarik ulur hatinya hingga jatuh bagun, setelah dia melayang tinggi tiba-tiba terhempas begitu saja ke bawah.
" Selain memberitahu itu aku juga pengen nanyain soal..." Esa menggigit sudut bibirnya kudian berdiri membelakangi Mika.
"Soal ciumanku di bandara... sebelum aku tebang ke Amerika... aku udah nyatain perasaan aku Mika. Gue nembak eloohhh.." Hanya bisa melanjutkan kalimat itu dalam hati, karena tidak mampu untuk mengucapkannya secara langsung.
" Soal apa Sa?" Esa tertunduk. Mika ikutan berdiri.
Mika menangkap sinyal itu... dia tau maksud Esa dan kali ini dia ingin berhenti memberi jawaban ambigu. Dia harus menegaskan sesuatu yang harusnya dilakukannya sejak dulu, yaitu mengatakan dengan jelas perasaannya yang sebenarnya.
" Soal hubungan kita... soal perasaan suka aku ke kamu. Dan aku mau kamu jadi pacar aku." Akhirnya... Esa juga ... mengucapkannya dengan besar. Benar-benar jelas tanpa ambigu.
" Sa.." Menarik napas dalam untuk membulatkan tekadnya lalu akhirnya Mika mengucapkannya secara jelas.
" Aku ga bisa kasih hati aku ke kamu Sa."
" Huuhhh?" Esa mendengar tapi ingin memastikan apa yang barusan didengarnya.
Mika ga tega ngeliat wajah Esa yang keliatan bingung, jadi doi menarik tangan Esa dan membawanya untuk keluar dari kamar ini bersama Mika. Esa hanya bisa pasrah mengikuti kemana Mika membawanya, hanya ada mereka berdua itu akan lebih baik.
__ADS_1
Begitu Mika serta Esa keluar dan pintu kamar tertutup perlahan, Reca membuka matanya perlahan lalu berkedip pelan sebanyak dua kali. Matanya tampak segar tidak seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang yang artinya Reca memang sudah lama sadar sebenarnya namun sengaja tidak membuka matanya. Sekarang pandangannya tampak menerawang memikirkan sesuatu tapi hanya sebentar kemudian dia kembali terpejam persis seperti pasien yang tidak sadarkan diri.
*****