
Kembali di delapan tahun lalu
Pagi yang sedikit berembun, namun bias cahaya matahari tampak menembus sela-sela awan. Hari itu Mika seperti biasa bergerak malas untuk menghadapi harinya yang membosankan. Ibu tunggalnya yang sibuk, berjuang sendiri membesarkannya hingga tanpa sadar membesarkan Mika dengan kesepian. Mika sedih tapi dia tidak bisa marah pada ibunya, karena beliau melakukan itu untuk memastikan kebutuhan Mika terpenuhi. Karena ayahnya yang telah meninggal dunia membuat ibunya harus menjadi tulang punggung yang seharian bekerja hingga tak punya waktu untuknya, dan Mika tidak layak untuk mengeluh tentang itu. Bagaimanapun ibunya adalah wanita kuat yang hebat. Namun Mika juga tidak bisa menghindari rasa kesepian yang semakin menariknya, membuatnya terbiasa dengan ketidakpedulian, tanpa empati dan selalu merasa bahwa dirinya yang paling haus dan layak melepaskan dahaganya terhadap siapa saja.
Mempunyai tampang yang sumpah ganteng banget, dengan materi yang ngebuat Mika tajir melintir. Berdampak pada wanita mana aja, mereka mengejarnya, memujanya tanpa henti dan sangat menginginkannya. Mika mulai bosan, terlalu mudah buatnya membuat wanita menerima cintanya tanpa tau apakah mereka tulus atau bahkan Mika sendiri. Silih berganti wanita mendekatinya, mulia dari yang cantik banget sampe cewe dengan body goals yang perfect banget. Mika muak, bagaimanapun pendapat mereka tapi tidak ada yang membuatnya tertarik.
Hingga suatu pagi yang tidak biasa, Mika berniat bolos sekolah alias cabut. Dia memulainya dengan meninggalkan halaman sekolah saat jam istarahat.
“ Lo ikut ga?” Mika nanya ke Raka yang tampak khawatir.
“ Sorry bro, gue ga setajir lo. Klo gue ga bener-bener sekolah kasian nyokap gue. Lagian gue ga sepinter lo yang meski sering cabut tapi bisa ngisi soal ujian sambil merem.” Mika tersenyum, tulus. Raka emang polos banget.
“ Ok gue cabut ya?”
“ Hati-hati lo. Ntar klo sekolah udah kelar gue ke rumah lo ya.”
“ Ok.” Mika memasang helm nya dan segera menstater motor sport gede miliknya.
Ga lama dari meninggalkan sekolah, bahkan hanya beberapa meter dari gerbang sekolah Mika menghentikan motornya. Soalnya ada anak kecil yang nyelonong gitu ngebuat doi kaget, untung pas ga kenceng jadi ga
sempet nabrak. Saat ini anak berlalu begitu aja tanpa ngerasa berdosa, mata Mika menangkap sesuatu. Seorang gadis baru aja turun dari sebuah mobil abu tua, sambil tersenyum dia menatap takjup SMA bakti sambil membenahi tas sekolahnya. Kakinya melangkah riang dengan mata berbinar yang seolah sedang memberitahu Mika bahwa dunia miliknya sangatlah indah.
Hei gadis periang itu mendekat, wajah terlihat semakin jelas mengarah ke arah Mika yang masih terpaku diatas motornya. Dia melambai ke ayah yang nganterin, kayanya pamit gitu lalu ngebiri isyarat agar tidak khawatir. Gadis itu meyakinkan ayahnya bahwa dia akan baik-baik aja, salah satunya karena ketemu Mika di depan pagar sekolah maka dia akan segera dapat pertolongan untuk hari pertamanya di sekolah.
“ Maaf boleh nanyak?” Suara yang enak banget didengar, tapi khas seolah hanya dia yang memiliki suara semerdu itu. Jantung Mika langsung… Deg! Di tempat. Trus irama debaran itu menetap untuk beberapa saat.
__ADS_1
“ Hmmmm?” Sebenarnya bukan nyautin pertanyaannya, tapi mata terkejut lalu menatap takjup pada sepasang mata yang begitu jernih. Tidak pernah Mika melihat bola mata seindah itu menurutnya. Bagian putih yang begitu jernih putih bersih dengan bola mata berwarna hitam pekat. Bulu mata panjang yang tidak begitu lentik tapi menawan, alisanya seperti barisan yang dibentuk tapi itu sangat alami. Mata itu tampak kemerlap terutama saat terbuka sepenuhnya. Dan hei bibir mungil itu begitu seksi dan ngegemesin.
“ Ini beneran SMA Baktikan?” Mika mengangguk tanpa suara.
“ Emm, makasih ya.” Dia pergi, Mika merasa ga boleh kaya gini. Dia matiin motornya lalu ngebuka helmnya, maka terlihatlah dengan jelas wajah menawannya itu.
“ Lo, anak baru ya?” Tanya Mika buat nyegah si cewe pergi.
“ He eh.” Ngangguk dan… ya ampun senyum pulak. Manis lagih.
Si cewe ga lama memutar badannya dan kembali berjalan meninggalkan Mika yang secara aneh ngerasa ga pengen ngelajutin niatnya buat cabut sekolah. Dia cuma matung sambil ngeliatin cewe tadi yang tersenyum ke siapa aja yang ditemuinya.
“ Kita kedatangan Murid baru ya?” Saat lagi ngenalin murid baru, Mika perlahan berjalan masuk kelas. Matanya terus fokus ngeliatin anak baru, anak yang sama yang ditemuinya di depan gerbang sekolah. Nyampe dia duduk pun matanya masih fokus.
“ Hi semua, Aku Reca. Salam kenal ya.”
dengan senyap saat ngeliat Reca bertingkah lucu. Mika pernah ngeliatin muka Reca sepanjang pelajaran berlangsung. Dan herannya setiap kena tegur sama guru trus ditanyain soal, Mika bisa jawab. Lebih heranya lagi ga ada satupun teman sekelas Mika yang sadar kebiasan barunya Mika ini beserta perubahan yang ditimbulkan, kaya nempel ke Reca dimana aja. Ga bisa jauh dari tuh anak meski bentaran doang.
Entah karena ngerasa di tolak secara tidak langsung, atau ngerasa diabaikan. Entahlah tapi rasa itu terus berkembang bebas tanpa izin dari si pemilik hati.
Kalian tau kan Cinta itu adalah ciptaan Tuhan yang ga sopan n ga punya hati nurani. Datang tiba-tiba ga pake permisi trus ngilangnya juga dadakan. Tumbuh subur meski ga dipupuk ato lo siram, udah itu ga bisa diatur pulak. Bisa buat lo bucin sampe hampir gilak, ada yang udah gilak malahan. Serem kan wak, hmmm. Tiba lo ga pengen dia justru bertambah diluar kendali, eh tibanya lu ngarep… mati dia.
“ Widiiihhh, body nya tuhh.. ed dahhh.” Raka jelalatan ngeliatin cewe tinggi dengan body gitar sepanyol.
“ Iya kan genks, ga kaya Reca tuh.” Bayu
__ADS_1
“ la emang gue kenapa?”
“ Gendut lo.” Raka
“ Iyahhh… lu nya aja yang katarak. Tolong sikit\, bedain yang namanya gendut sema semok. Lu tau semok? Semok itu seksi montok. Latar belakang (bok*ng) mendukung\, masa depan (dad*) cerah.” Reca\, sekita mati kecatik-an kurasa. Tapi emang body tuh cakep sih. Cakep sih Emang
“ Huahahahahha… gilak lo Re. Sakit.” Desy dan yang lain tertawa. Bahkan Mika terkejeh tanpa suara sambil megangin perutnya.
“ Mampos, mampos.” Bayu yang kehabisan kata-kata. Emang Re ga ada lawan, ga
punya image, urat malu udah putus.
Lalu tiba-tiba, Reca terlihat begitu anggun di malam pensi. Dan bibir itu semakin terlihat menawan, Mika tidak bisa menahan dirinya. Dia begitu hilang kendali hingga membuat keputusan tanpa berpikir panjang. Mika menarik Reca keruangan gelap dengan bias cahaya lampu luar yang cukup buat ngeliat jarak dekat, memaksa gadis itu merapat ke dinding. Mika sempat memandangi wajah itu sebentar untuk meyakinkan perasaannya, tapi malah jantungnya
sendiri yang berdebar hebar. Karena sumpah demi apa, mata ini makin cantik dilihat sedekat ini bahkan
dalam gelap. Apalagi bias lampu membuat mata itu jadi terlihat close up.
“ Re! Lo kok cantik banget sih.” Hati Mika perih karena, mata indah ini tidak pernah menatapnya. Untuk satu kali pun, satu kali aja Reca tidak pernah mengarahkan pandangan padanya. Hatinya sakit karena Reca tersenyum untuk orang lain, merasa bahagia bersama orang lain. Dan sekarang lihatlah bagaimana ketakutannya iya saat Mika akan mencium bibirnya.
“ Hmmm” Mika tersenyum, wajah yang ketakutan itu terlihat sangat imut, ngebuat dia semakin ingin menciumnya. Dan malam itu keduanya sama-sama berdebar secara bersamaan dalam ciuman pertama yang penuh misteri. Bukan buat lo aja Re, tapi buat Mika ini juga ciuman pertamanya.
*****
__ADS_1