
“ Hari ini akan jadi suting terkahir kita ya. Semoga film kita
sukses sesuai harapan. Terimakasih team dan kru untuk semua kerja
kerasnya terimaksih.” Sutradara menutup ucapan terimaksihnya
dilanjutkan feedback dari para kru yang juga sama berterimkasihnya.
Mika melihat wajah Reca yang masih membisu dan tenggelam dalam dunianya
tanpa bisa diselatakan. Esa mendapati wajah Mika yang fokus ngeliatin
Reca dan hatinya serasa terpukul keras. Menduga-duga apakah Mika
sudah tau yang sebenarnya bahwa wanita itu adalah Reca, tapi satu
sisi juga Esa sangat bingung karena Mika tampak begitu kalem. Karena
Mika yang dai kenal pasti akan segera bersikap agresif kepada gadis
itu jika dia tau yang sebenarnya. Ini terlalu tenang pikir Esa.
“ Jadi papa gimana?”
“ Ha? Ah...” Esa tersadar dari lamunannya saat Mika mengajaknya
bicara.
“ Iya papa ngasih pengertian tapi ga bisa lama, harus segera
berangkat.” Tertunduk lesu sedih, kecemasan itu mulia mengingatkan
lagi bagaimana jika Mika tanpa dirinya dan Reca mendekatinya.
“ Hmmm... jadi kapan?”
“ Sore ini.” Mika memeriksa jam tangannya, masih jam 10 pagi. Dia
masih punya banyak waktu.
“ Aku anterin ya... acara juga udah selesai kan? Kita pamit sama kru
dulu yuk.”
Sumpah Mika aneh banget, selain jadi baik banget dia juga sangat perhatian.
Ngajakin Esa ke Taman hiburan dan naikin beberapa wahana, ga lupa doi
pake topi dan masker biar ga dikenali penggemar. Keamana aja dia
gandeng tangan Esa kadang merangkul bahunya, buat jantung Esa
sesekali berdebar hampir diluar kendali.
“ Sa.” Menarik pelan pinggang Esa lalu menjadikan dirinya sebagai
perisai, karena ada pedagang keliling yang hampir menabrak klo aja
Mika telat nariknya. Aduh romantis banget sih ganteng, awas aja klo
ga tanggung jawab.
Saat di keramaian Mika super care, dia kadang bersihin baju Esa yang ga
sengaja kotor, ga malu bawain tasnya, sesekali membenahi rambutnya
yang berantakan ditiup angin, siaga jagain Esa ber ga ke senggol pria
lain, dah tuh doi malah rela ikutan antri buat beliin Esa minum atau
makanan. Kesemua itu ngebuat Esa ga bisa buat apa-apa selain menatap
wajah Mika dengan penuh rasa terpesona, kemudian menikmatin perasaan
itu diam-diam.
“ Eh itu Mika kan?”
“ Masak sih.” Mika mulai gelisah, sekelompok anak gadis baru aja
mengenalinya.
“ Eh iya. Iya itu Mika.”
__ADS_1
MIKAAAAAA
Mereka langsung teriak karena yakin banget itu Mika dari Gestur tubuhnya.
Orang cakep mah gituh ya, udah nyamar aja masih dikenali, klo ga
cakep depan mata aja pun ga keliatan. Mika langsung melakukan langkah
kaki seribu. Mika berlari trus secepat kilat nyamber tangan Esa buat
diajak lari bareng, eh bukan adegan Kuch Kuch Ho Ta Hai yaaa.
Hahaiiiiii...
Jadi ceritanya biar Esanya ga ketinggalan gitu loh pemirsah. Sampe deh
Mika nemuin tempat buat ngumpet di salah satu lorong sempit, kaya
rongga antara dinding satu dengan sebelahnya. Karena lorongnya yang
sempit Mika terpaksa harus mempet banget berdirinya sama Esa, mana
berhadapan lagih. Esa ngeliatin aja muka Mika yang celingukan terus
ngos-ngosan lantaran lega udah ga dikejar. Deket banget sampe Esa
bisa ngerasakan napasnya.
Ini masih tetap aneh, pikir Esa. Seharian ini Mika terlihat baik-baik
saja. Sama sekali ga ngebahas Reca, bahkan seolah kaya Reca ga pernah
ada. Terus semua sikap manis ini juga terasa kaya tulus banget,
karena Mika berinisiatif sendiri tanpa diminta.
“
Kamu kok liatin aku gt hmm?”
DEG!
Mika mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir saja beradu,
tepat di bawah alis. Esa meremas roknya, tapi kemudian matanya
menangkap keringat yang membasahi dahi Mika hingga rambut depan
telinga. Tangan Esa dengan perlahan mengeluarkan sapu tangan dari
tasnya dan menepuk pelan bagian yang berkeringat. Tapi Mika masih
ngeliatin dan ga bereaksi apapun, membiarkan Esa mengelap keringatnya
lalu tersenyum manis di jarak sedekat itu. Aduh kelakuannya
ganteng.....
“ Udah sini aja Mik, dari sini aku sendiri ajah.” Ucap Esa kemudian
saat keduanya udah di lobi bandara. Mika melepas maskernya, agar Esa
bisa melhat wajahnya untuk terakhir kali. Dia sadar kalo dari tadi
Esa terus ngeliatin, tapi ngiranya klo Esa begitu lantaran mau
berangkat ke Amrik. Bukan cakep, tapi ga pengen pisah dari lo.
“ Yakin neh ga mau aku anterin sampe dalem?” Esa buru-buru menggeleng
menahan haru. Dia ngerasa ga bakalan kuat klo terus sama Mika kaya
gini. Hatinya akan goyah, tapi mama juga kasihan disana yang udah
nungguin. Gimanapun Esa harus berangkat hari ini.
“ Jangan lupa kasih kabar, dan kabarin juga klo kamu balik kesini. Aku
bakal jemput.”
“ Ouyaa? Yakin? Kamu ga bakalan sibuk saat itu.” Keduanya tertawa
bersamaan, udara terasa aneh disuasana ini. Sudah sampe detik ini
__ADS_1
tapi hubungan ini masih belum jelas, Mika masih tarik ulur tapi
belakangan juga kerasa semakin dekat. Tidak pernah terasa sedekat ini
pikir Esa, benarkah cintanya masih belum bisa terbalas?
“ Ka aku, udah kasih semua jadwal kamu ke manager yang baru. Jadi
setelah ini... ya... kita ga bisa kerja bareng lagi.” Tapi apakah
kita juga ga bisa bersama lagi? Batin Esa sambil senyum, maksa
padahal mau nangis.
“ Iya makasih ya Sa, kamu udah urusin semuanya. Kamu hati-hati ya, jaga
kesehatan.” Esa ngangguk masih sambil nahan haru.
“ Aku berangkat dulu ya.”
“ Oke. Hati-hati.” Mika memeluk sebentar, lalu Esa mulai mundur
kebelakang. Tanganya udah bersiap megang handle koper.
Sambil berjalan mundur Esa membalas lambaian tangan Mika yang masih
mentapnya. Ketika jarak itu sudah cukup jauh tapi masih saling
melihat Esa menghentikan lagkahnya sambil terpaku. Mika mengangkat
alisnya buat mewakili pertanyaannya, kenapa Esa tiba-tiba berhenti.
Jarak sepuluh meter ini seolah menyadarkannya satu hal, bahwa dia
belum benar-benar berjuang untuk mendapatkan hati cowo ganteng itu.
Esa menyimpan perasaan ini tanpa satu kalipun mengutarakannya. Dia
belum pernah dengan jelas mengatakan bahwa dia mencintai Mika dan
bertanya apakah Mika bersedia jadi pacarnya. Harusnya dia mengatakan
perasaannya dari dulu, harusnya dia lebih berani untuk menjadi yang
pertama melangkah bukan menunggu. Merelakan mimpinya ditembak duluan
sama cowo idamannya. Esa harus melakukan sesuatu, terserah apa yang
akan terjadi setelahnya. Apakah dia memilikinya atau orang(Reca) itu
merampasnya, setidaknya untuk yang terakhir kali agar nanti tidak ada
penyesalan. Tidak ada kata andai saja waktu itu....
Esa melepas tuas handle koper miliknya, dimulai dengan melangkah pelan
lalu berlari dengan kecepatan yang meningkat perlahan dan bertahap.
Dan ketika sudah kencang lalu Esa berhenti tepat di depan Mika yang
masih menatapnya penuh tanya. Untuk berapa detik Esa menatap wajah
itu untuk mengumpulkan keberanian sambil mengatur napasnya yang habis
berlari. Lalu tiba-tiba kaki Esa menjinjit dibarengi kedua tanganya
yang menarik pipi Mika untuk menciumnya.
CLESS
Ada rasa hangat merambati perasaan Mika, Dan cowo ganteng itu terpejam
bersama si wanita menikmati ciuman itu. Detik itu juga orang-orang
yang sadar Mika sedang berciuman dengan seorang wanita mengunggah
potingan itu di internet. Dalam hitungan deting segera viral di media
sosial, dan Reca juga melihat postingan itu plus ngeh juga klo wanita
yang dicium Mika adalah Esa. Kedua matanya menatap lekap handphonenya
yang memperlihatkan bagaimana ciuman itu berlangsung.
__ADS_1
*****