WINTER GLOW

WINTER GLOW
Jadi yang Pertama Melangkah


__ADS_3

“ Hari ini akan jadi suting terkahir kita ya. Semoga film kita


sukses sesuai harapan. Terimakasih team dan kru untuk semua kerja


kerasnya terimaksih.” Sutradara menutup ucapan terimaksihnya


dilanjutkan feedback dari para kru yang juga sama berterimkasihnya.


Mika melihat wajah Reca yang masih membisu dan tenggelam dalam dunianya


tanpa bisa diselatakan. Esa mendapati wajah Mika yang fokus ngeliatin


Reca dan hatinya serasa terpukul keras. Menduga-duga apakah Mika


sudah tau yang sebenarnya bahwa wanita itu adalah Reca, tapi satu


sisi juga Esa sangat bingung karena Mika tampak begitu kalem. Karena


Mika yang dai kenal pasti akan segera bersikap agresif kepada gadis


itu jika dia tau yang sebenarnya. Ini terlalu tenang pikir Esa.


“ Jadi papa gimana?”


“ Ha? Ah...” Esa tersadar dari lamunannya saat Mika mengajaknya


bicara.


“ Iya papa ngasih pengertian tapi ga bisa lama, harus segera


berangkat.” Tertunduk lesu sedih, kecemasan itu mulia mengingatkan


lagi bagaimana jika Mika tanpa dirinya dan Reca mendekatinya.


“ Hmmm... jadi kapan?”


“ Sore ini.” Mika memeriksa jam tangannya, masih jam 10 pagi. Dia


masih punya banyak waktu.


“ Aku anterin ya... acara juga udah selesai kan? Kita pamit sama kru


dulu yuk.”


Sumpah Mika aneh banget, selain jadi baik banget dia juga sangat perhatian.


Ngajakin Esa ke Taman hiburan dan naikin beberapa wahana, ga lupa doi


pake topi dan masker biar ga dikenali penggemar. Keamana aja dia


gandeng tangan Esa kadang merangkul bahunya, buat jantung Esa


sesekali berdebar hampir diluar kendali.


“ Sa.” Menarik pelan pinggang Esa lalu menjadikan dirinya sebagai


perisai, karena ada pedagang keliling yang hampir menabrak klo aja


Mika telat nariknya. Aduh romantis banget sih ganteng, awas aja klo


ga tanggung jawab.


Saat di keramaian Mika super care, dia kadang bersihin baju Esa yang ga


sengaja kotor, ga malu bawain tasnya, sesekali membenahi rambutnya


yang berantakan ditiup angin, siaga jagain Esa ber ga ke senggol pria


lain, dah tuh doi malah rela ikutan antri buat beliin Esa minum atau


makanan. Kesemua itu ngebuat Esa ga bisa buat apa-apa selain menatap


wajah Mika dengan penuh rasa terpesona, kemudian menikmatin perasaan


itu diam-diam.


“ Eh itu Mika kan?”


“ Masak sih.” Mika mulai gelisah, sekelompok anak gadis baru aja


mengenalinya.


“ Eh iya. Iya itu Mika.”

__ADS_1


MIKAAAAAA


Mereka langsung teriak karena yakin banget itu Mika dari Gestur tubuhnya.


Orang cakep mah gituh ya, udah nyamar aja masih dikenali, klo ga


cakep depan mata aja pun ga keliatan. Mika langsung melakukan langkah


kaki seribu. Mika berlari trus secepat kilat nyamber tangan Esa buat


diajak lari bareng, eh bukan adegan Kuch Kuch Ho Ta Hai yaaa.


Hahaiiiiii...


Jadi ceritanya biar Esanya ga ketinggalan gitu loh pemirsah. Sampe deh


Mika nemuin tempat buat ngumpet di salah satu lorong sempit, kaya


rongga antara dinding satu dengan sebelahnya. Karena lorongnya yang


sempit Mika terpaksa harus mempet banget berdirinya sama Esa, mana


berhadapan lagih. Esa ngeliatin aja muka Mika yang celingukan terus


ngos-ngosan lantaran lega udah ga dikejar. Deket banget sampe Esa


bisa ngerasakan napasnya.


Ini masih tetap aneh, pikir Esa. Seharian ini Mika terlihat baik-baik


saja. Sama sekali ga ngebahas Reca, bahkan seolah kaya Reca ga pernah


ada. Terus semua sikap manis ini juga terasa kaya tulus banget,


karena Mika berinisiatif sendiri tanpa diminta.



Kamu kok liatin aku gt hmm?”


DEG!


Mika mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir saja beradu,


tepat di bawah alis. Esa meremas roknya, tapi kemudian matanya


menangkap keringat yang membasahi dahi Mika hingga rambut depan


telinga. Tangan Esa dengan perlahan mengeluarkan sapu tangan dari


tasnya dan menepuk pelan bagian yang berkeringat. Tapi Mika masih


ngeliatin dan ga bereaksi apapun, membiarkan Esa mengelap keringatnya


lalu tersenyum manis di jarak sedekat itu. Aduh kelakuannya


ganteng.....


“ Udah sini aja Mik, dari sini aku sendiri ajah.” Ucap Esa kemudian


saat keduanya udah di lobi bandara. Mika melepas maskernya, agar Esa


bisa melhat wajahnya untuk terakhir kali. Dia sadar kalo dari tadi


Esa terus ngeliatin, tapi ngiranya klo Esa begitu lantaran mau


berangkat ke Amrik. Bukan cakep, tapi ga pengen pisah dari lo.


“ Yakin neh ga mau aku anterin sampe dalem?” Esa buru-buru menggeleng


menahan haru. Dia ngerasa ga bakalan kuat klo terus sama Mika kaya


gini. Hatinya akan goyah, tapi mama juga kasihan disana yang udah


nungguin. Gimanapun Esa harus berangkat hari ini.


“ Jangan lupa kasih kabar, dan kabarin juga klo kamu balik kesini. Aku


bakal jemput.”


“ Ouyaa? Yakin? Kamu ga bakalan sibuk saat itu.” Keduanya tertawa


bersamaan, udara terasa aneh disuasana ini. Sudah sampe detik ini

__ADS_1


tapi hubungan ini masih belum jelas, Mika masih tarik ulur tapi


belakangan juga kerasa semakin dekat. Tidak pernah terasa sedekat ini


pikir Esa, benarkah cintanya masih belum bisa terbalas?


“ Ka aku, udah kasih semua jadwal kamu ke manager yang baru. Jadi


setelah ini... ya... kita ga bisa kerja bareng lagi.” Tapi apakah


kita juga ga bisa bersama lagi? Batin Esa sambil senyum, maksa


padahal mau nangis.


“ Iya makasih ya Sa, kamu udah urusin semuanya. Kamu hati-hati ya, jaga


kesehatan.” Esa ngangguk masih sambil nahan haru.


“ Aku berangkat dulu ya.”


“ Oke. Hati-hati.” Mika memeluk sebentar, lalu Esa mulai mundur


kebelakang. Tanganya udah bersiap megang handle koper.


Sambil berjalan mundur Esa membalas lambaian tangan Mika yang masih


mentapnya. Ketika jarak itu sudah cukup jauh tapi masih saling


melihat Esa menghentikan lagkahnya sambil terpaku. Mika mengangkat


alisnya buat mewakili pertanyaannya, kenapa Esa tiba-tiba berhenti.


Jarak sepuluh meter ini seolah menyadarkannya satu hal, bahwa dia


belum benar-benar berjuang untuk mendapatkan hati cowo ganteng itu.


Esa menyimpan perasaan ini tanpa satu kalipun mengutarakannya. Dia


belum pernah dengan jelas mengatakan bahwa dia mencintai Mika dan


bertanya apakah Mika bersedia jadi pacarnya. Harusnya dia mengatakan


perasaannya dari dulu, harusnya dia lebih berani untuk menjadi yang


pertama melangkah bukan menunggu. Merelakan mimpinya ditembak duluan


sama cowo idamannya. Esa harus melakukan sesuatu, terserah apa yang


akan terjadi setelahnya. Apakah dia memilikinya atau orang(Reca) itu


merampasnya, setidaknya untuk yang terakhir kali agar nanti tidak ada


penyesalan. Tidak ada kata andai saja waktu itu....


Esa melepas tuas handle koper miliknya, dimulai dengan melangkah pelan


lalu berlari dengan kecepatan yang meningkat perlahan dan bertahap.


Dan ketika sudah kencang lalu Esa berhenti tepat di depan Mika yang


masih menatapnya penuh tanya. Untuk berapa detik Esa menatap wajah


itu untuk mengumpulkan keberanian sambil mengatur napasnya yang habis


berlari. Lalu tiba-tiba kaki Esa menjinjit dibarengi kedua tanganya


yang menarik pipi Mika untuk menciumnya.


CLESS


Ada rasa hangat merambati perasaan Mika, Dan cowo ganteng itu terpejam


bersama si wanita menikmati ciuman itu. Detik itu juga orang-orang


yang sadar Mika sedang berciuman dengan seorang wanita mengunggah


potingan itu di internet. Dalam hitungan deting segera viral di media


sosial, dan Reca juga melihat postingan itu plus ngeh juga klo wanita


yang dicium Mika adalah Esa. Kedua matanya menatap lekap handphonenya


yang memperlihatkan bagaimana ciuman itu berlangsung.

__ADS_1


*****


__ADS_2