WINTER GLOW

WINTER GLOW
Pintu Hati yang Diketuk


__ADS_3

Tangan yang mulai mengeriput dengan jemari yang


keibuan, dihiasi gelang mutiara berwarna putih dipergelangantangannya. Tangan


itu mengusap penuh kasih sebuah Snelli yang tergantung di sudut ruangan,


beberapa orang sering menyebut snelli dengan nama Jas dokter. Mata tua si ibu


tidak bisa menutupi betapa bangganya ia menjadi ibu seorang dokter, seolah


putranya telah memenuhi semua mimpinya.


“ Ken.” Wanita berusia 48 tahun itu memanggil putra


kesayangannya Kendra, dia tidak sabar untuk meminta putranya sarapan bersama.


“ Iya mah.” Saling membalas senyum.


“ Sarapannya udah siap sayang, yuk papa udah nunggu di


meja makan. Buruan ya.”


“ Iya mah.”


Kendra segera menarik kursi lalu duduk disebelah


papanya, yang merupakan mentri Perdagangan Sentia Mulyadi. Sebagai seorang mentri,


ayah Kendra itu di kenal sangat kritis dan selalu mengutamakan kesejahteraan


rakyat. Selain itu keluarganya yang haromonis serta memiliki putra seorang dokter


membuat pak mentri itu mencuri hati rakyat. Terlebih Kendra sering terlibat


acara bakti sosial yangdi siarkan di beberapa stasiun televisi. Dan yang


semakin membuat keluarga ini sempurna adalah hubungan yang terjalin sangat baik


antara anak dan ayah. Tidak seperti orangpenting kebanyakan yang sering tidak


punya waktu untuk Keluarganya.


“ Hmmm gimana kerja kamu di rumah sakit Ken?”


“ Baik pa.Ya gitu lah pa, kadang klo lagi rame


huuuhhhh…. Stress pokoknya pa.”


“ Kan papa udah bilang kamu pindah ke rumah sakit


Sentanum, papa bisa jadiin kamu direkturnya klo mau.” Sentanum adalah Rumah


sakit bergengsi milik pemerintah yang merupakan pusat rujukan rumah sakit lain.


Karena selain memiliki fasilitas terlengkap, banyak dokter spesialis ataupun


Konsultan terkenal secara bidang keahliannya bekerja di rumah sakit ini. Dan


lagi pula masyarakat percaya bahwa pelayanan rumah sakit ini adalah yang


terbaik diantara rumah sakit swasta termahal sekalipun.


“ Hahaha… papa bisa aja. Pengetahuan Kendra masih


kurang pa. Kendra masih harus banyak belajar.”


“ Belajar kan bisa sambil berjalan dengan karir kamu,


ga ngerasa tertantang Ken?”


“ Hahaha papa ini, bisa aja.” Kendra melihat jamnya


dan segera buru-buru menyelesaikan.


“ Pelan-pelan Ken makannnya ah, entar kesedak loh.”


Mama keliatan hawatir.


“ Kendra duluan ya pa ma, soalnya ada morning Report


pagi ini.” Dengan cepat mencium pipi oranguanya bergantian lalu menyambar


snelli di sandaran kursi.


 “ Ken, besok


acara kampanye papa kamu datang kan?” Kendra yang udah mau pergi langsung putar


badan.


“ Kendra usahain ya ma, klo UGD aman. Kendra akan izin


pulang cepat. Dagh maaa..”

__ADS_1


Kendra tidak menunda lagi, dan segera berlari ke


mobilnya. Jam ditangannya terus saja bilang klo Kendra bakalan terlambat bentar


lagi neh klo ga cepetan berangkat. Hanya butuh waktu 15 menit sebetulnya untuk


sampe di Rumah sakit Kenara empat Kendra kerja klo aja ga macet. Untungnya


masih ada waktu dua menit sebelum jam masuk, Kendra udah berada di depan mesin


pinjer masuk, lega banget rasanya bisa nyampe tepat waktu.


“ Aww..” BRAKK


Di lobi rumah sakit salah seorang petugas Rekam medis


yang sedang mendistribusikan file pasien secara sengaja di tabrak Reca hingga


jatuh dan dokumennya berserakan di lantai.


“ Ah maaf.” Ucap Reca pelan seraya menarik topinya


agar wajahnya tidak terlihat jelas. Saat itu Kendra menoleh, tapi dia tidak


menyadari ada Reca disana.


Reca yang pura-pura ngebantu korban yang ditabraknya


buat ngerapihin dokumen yang bersetakan, tapi tanganya bergerak sangat cepat


menukar tanda pengenal palsu yang dia siapkan dengan tanda pengenal si petugas


rekam medis tadi. Hampir seluruh pintu memiliki access control yang hanya bisa


dibuka dengan tanda pengenal karyawan atau nametag. Jadi Reca emang udah


ngerencanain tabrakan ini sebelumnya.


Sedikit tentang Rekam medis adalah pusat informasi


medis pasien dan rumah sakit. Ruangan Rekam medis biasanya sangat luas dengan


lemari khusus file yang bisa diatur maju mundur dengan sebuah tuas pemutar


untuk memudah kan penyusunan file atau pengambilan file tapi tetap menghemat


ruangan, jadi lemari disusun rapat tanpa celah tapi bisa digeser saat


diperlukan. Di rekam medis inilah semua catatan kesehatan pasien dijadikan


disusun berdasarkan kedatangan pasien dank ode rekam medisnya.


Reca memilih rekam medis karena selain memiliki banyak


informasi, petugas rekam medis biasanya mendistribusikan file ke


ruangan-ruangan di rumah sakit, atau mengambil kembali file-file yang sudah


selesai digunakan. Ini memudahkan Reca menjelah Rumah sakit tanpa terlihat


mencurigakan.


Reca pun menjalankan aksinya, setelah mengganti


seragam dia mengambil beberapa file pasien sembarangan lalu membawanya agar telihat


selayaknya petugas rekam medis sungguhan. Reca menyamar degan rambut palsu dan


memberi wajahnya sedikit kumis tipis dan alis buatan yang membuatnya terlihat


seperti orang lain tapi tetap natural. Reca duduk disalah satu meja yang sedikit


jauh dari petugas lain, menggunakan komputer di meja itu yang udah pastilah di


hack buat buka password dan mengetik nama ayahnya buat cari informasi medisnya.


Disana Reca bisa mendapatkan nomor filenya dan melihat catatan elektronik medis


ayahnya. Reca mencatat semua obat yang diberikan dan dokter yang merawat saat


itu, kemudian dia sembunyi-sembunyi mencari status ayahnya dan memofo hasil


visum.


Tidak berhenti disana, Reca juga memanfaatkan


perangkat lunak rumah sakit untuk memberinya informasi lain. Reca mencari


nama-nama beberapa orang dan mengetiknya disana, lalu munculah informasi


identitas pasien yang dicari berupa alamat nomor telpon bahkan wali pasiennya.


Kenara adalah rumah sakit swasta bergengsi yang banyak dijadikan tempat para

__ADS_1


pejabat, artis dan orang ternama lainnya untuk menjadi solusi kesehatan mereka.


Sehingga Reca dengan mudah mememukan informasi orang-orang terkenal itu yang


berobat disini. Meski tidak semua dari nama yang dicarinya ada disana tapi Reca


sudah cukup puas, dan mengakhiri aksinya. Dia ga boleh terlalu lama karena


orang lain bisa saja sadar bahwa dia adalah penyusup.


“ Eh bantu gue dong, berat neh.” Seseorang menepuk


bahu Reca, sempat membuat gadis itu terpaku membeku.


“ Hmm ya.” Jawabnya. Reca tidak ingin orang yang


bicara tadi curiga padanya, dia berusaha bersikap sewajar mungkin.


“ Eh lo siapa sih?” Mampos, si kawan sadar rupanya.


Tanpa piker panjang lagi, Reca langsung berjalan cepat sebelum  orang itu melihat wajanya. Tapi si kawan ini


ga gitu aja pulak biarin dia pergi.


“ He tunggu, siapa lo?” Teriakan laki-laki membuat


beberapa petugas lain sadar dan ikut mengejar dirinya.


“ Penyusup, penyusup.” Teriak petugas lain bersautan.


“ Pencuri.”


Seperti biasa Reca akan cari tempat yang ga terlihat CCTV,


kaya kamar mandi buat ngeganti pakaiannya dan ngebuang semua perangakat


penyamaranya. Tapi sialnya kamar mandinya semua terisi saat Reca memeriksanya,


akhirnya Reca buka aja bajunya trus ngebuah seragam itu ke tong sampah (ga usah


piktor genks, pake baju dalem dia mah). Eh ada petugas yang ngejar dia tadi,


ngeliat.


“ Hei, disini.”


“ Sial.”


Sekarang Reca udah jadi pencuri beneran, ngambil


sesuatu tanpa permisi dan dikejar orang-orang. Tapi kan wak ga pulak lah si


Reca neh lari cepet-cepet cuma jalannya aja yang terus zigzag biar yang ngejar


hilang focus.


“ Aak.”


“ Maaf, kamu ga pa-pa?” Reca ga sengaja bertabrakkan


bahu dengan Kendra. Ga sampe jatoh, lantaran Kendra menangkap cepat kedua


lengan Reca lalu membantunya berdiri.


Reca langsung mengenali suara itu, tepat saat matanya


menagkap wajah itu firasatnya membenarkan.  Wajah itu tidak berubah banyak, masih menawan


masih berkharisma. Wajah itu dulu membuatnya tidak bisa tidur siang dan malam,


pernah membuatnya berdebar, pernah membuatnya merasakan cinta pertama.


“ Itu dia kejarrrr….”


Kendra melihat beberapa karyawan rumah sakit bersama


petugas keamanan tampak bergegas mendekat, dan orang yang dai pegang tangannya ini


segera bereaksi dengan kerumunan itu. Otak encer Kendra langsunh bilang klo dia


baru aja bertemu dengan pencuri. Kendra mendorong Reca ke dinding dan menarik


topi yang Reca kenakan dengan kasar, dokter uda itu udah ga sabar pengen liat


muka pencuri yang dikejar-kejar ini. Begitu topi tersingkap, wajah mungil yang


manis itu terlihat, mata Kendra pun langsung mengenalinya.


“ Re, Reca?” Oh sial, batin Reca. DIa lagi ga punya


waktu untuk menjelaskan ini, jadi dia mau langsung kabur aja. Tapi Kendra


menahannya.

__ADS_1


“ Re?”


*****


__ADS_2