
Tangan yang mulai mengeriput dengan jemari yang
keibuan, dihiasi gelang mutiara berwarna putih dipergelangantangannya. Tangan
itu mengusap penuh kasih sebuah Snelli yang tergantung di sudut ruangan,
beberapa orang sering menyebut snelli dengan nama Jas dokter. Mata tua si ibu
tidak bisa menutupi betapa bangganya ia menjadi ibu seorang dokter, seolah
putranya telah memenuhi semua mimpinya.
“ Ken.” Wanita berusia 48 tahun itu memanggil putra
kesayangannya Kendra, dia tidak sabar untuk meminta putranya sarapan bersama.
“ Iya mah.” Saling membalas senyum.
“ Sarapannya udah siap sayang, yuk papa udah nunggu di
meja makan. Buruan ya.”
“ Iya mah.”
Kendra segera menarik kursi lalu duduk disebelah
papanya, yang merupakan mentri Perdagangan Sentia Mulyadi. Sebagai seorang mentri,
ayah Kendra itu di kenal sangat kritis dan selalu mengutamakan kesejahteraan
rakyat. Selain itu keluarganya yang haromonis serta memiliki putra seorang dokter
membuat pak mentri itu mencuri hati rakyat. Terlebih Kendra sering terlibat
acara bakti sosial yangdi siarkan di beberapa stasiun televisi. Dan yang
semakin membuat keluarga ini sempurna adalah hubungan yang terjalin sangat baik
antara anak dan ayah. Tidak seperti orangpenting kebanyakan yang sering tidak
punya waktu untuk Keluarganya.
“ Hmmm gimana kerja kamu di rumah sakit Ken?”
“ Baik pa.Ya gitu lah pa, kadang klo lagi rame
huuuhhhh…. Stress pokoknya pa.”
“ Kan papa udah bilang kamu pindah ke rumah sakit
Sentanum, papa bisa jadiin kamu direkturnya klo mau.” Sentanum adalah Rumah
sakit bergengsi milik pemerintah yang merupakan pusat rujukan rumah sakit lain.
Karena selain memiliki fasilitas terlengkap, banyak dokter spesialis ataupun
Konsultan terkenal secara bidang keahliannya bekerja di rumah sakit ini. Dan
lagi pula masyarakat percaya bahwa pelayanan rumah sakit ini adalah yang
terbaik diantara rumah sakit swasta termahal sekalipun.
“ Hahaha… papa bisa aja. Pengetahuan Kendra masih
kurang pa. Kendra masih harus banyak belajar.”
“ Belajar kan bisa sambil berjalan dengan karir kamu,
ga ngerasa tertantang Ken?”
“ Hahaha papa ini, bisa aja.” Kendra melihat jamnya
dan segera buru-buru menyelesaikan.
“ Pelan-pelan Ken makannnya ah, entar kesedak loh.”
Mama keliatan hawatir.
“ Kendra duluan ya pa ma, soalnya ada morning Report
pagi ini.” Dengan cepat mencium pipi oranguanya bergantian lalu menyambar
snelli di sandaran kursi.
“ Ken, besok
acara kampanye papa kamu datang kan?” Kendra yang udah mau pergi langsung putar
badan.
“ Kendra usahain ya ma, klo UGD aman. Kendra akan izin
pulang cepat. Dagh maaa..”
__ADS_1
Kendra tidak menunda lagi, dan segera berlari ke
mobilnya. Jam ditangannya terus saja bilang klo Kendra bakalan terlambat bentar
lagi neh klo ga cepetan berangkat. Hanya butuh waktu 15 menit sebetulnya untuk
sampe di Rumah sakit Kenara empat Kendra kerja klo aja ga macet. Untungnya
masih ada waktu dua menit sebelum jam masuk, Kendra udah berada di depan mesin
pinjer masuk, lega banget rasanya bisa nyampe tepat waktu.
“ Aww..” BRAKK
Di lobi rumah sakit salah seorang petugas Rekam medis
yang sedang mendistribusikan file pasien secara sengaja di tabrak Reca hingga
jatuh dan dokumennya berserakan di lantai.
“ Ah maaf.” Ucap Reca pelan seraya menarik topinya
agar wajahnya tidak terlihat jelas. Saat itu Kendra menoleh, tapi dia tidak
menyadari ada Reca disana.
Reca yang pura-pura ngebantu korban yang ditabraknya
buat ngerapihin dokumen yang bersetakan, tapi tanganya bergerak sangat cepat
menukar tanda pengenal palsu yang dia siapkan dengan tanda pengenal si petugas
rekam medis tadi. Hampir seluruh pintu memiliki access control yang hanya bisa
dibuka dengan tanda pengenal karyawan atau nametag. Jadi Reca emang udah
ngerencanain tabrakan ini sebelumnya.
Sedikit tentang Rekam medis adalah pusat informasi
medis pasien dan rumah sakit. Ruangan Rekam medis biasanya sangat luas dengan
lemari khusus file yang bisa diatur maju mundur dengan sebuah tuas pemutar
untuk memudah kan penyusunan file atau pengambilan file tapi tetap menghemat
ruangan, jadi lemari disusun rapat tanpa celah tapi bisa digeser saat
diperlukan. Di rekam medis inilah semua catatan kesehatan pasien dijadikan
disusun berdasarkan kedatangan pasien dank ode rekam medisnya.
Reca memilih rekam medis karena selain memiliki banyak
informasi, petugas rekam medis biasanya mendistribusikan file ke
ruangan-ruangan di rumah sakit, atau mengambil kembali file-file yang sudah
selesai digunakan. Ini memudahkan Reca menjelah Rumah sakit tanpa terlihat
mencurigakan.
Reca pun menjalankan aksinya, setelah mengganti
seragam dia mengambil beberapa file pasien sembarangan lalu membawanya agar telihat
selayaknya petugas rekam medis sungguhan. Reca menyamar degan rambut palsu dan
memberi wajahnya sedikit kumis tipis dan alis buatan yang membuatnya terlihat
seperti orang lain tapi tetap natural. Reca duduk disalah satu meja yang sedikit
jauh dari petugas lain, menggunakan komputer di meja itu yang udah pastilah di
hack buat buka password dan mengetik nama ayahnya buat cari informasi medisnya.
Disana Reca bisa mendapatkan nomor filenya dan melihat catatan elektronik medis
ayahnya. Reca mencatat semua obat yang diberikan dan dokter yang merawat saat
itu, kemudian dia sembunyi-sembunyi mencari status ayahnya dan memofo hasil
visum.
Tidak berhenti disana, Reca juga memanfaatkan
perangkat lunak rumah sakit untuk memberinya informasi lain. Reca mencari
nama-nama beberapa orang dan mengetiknya disana, lalu munculah informasi
identitas pasien yang dicari berupa alamat nomor telpon bahkan wali pasiennya.
Kenara adalah rumah sakit swasta bergengsi yang banyak dijadikan tempat para
__ADS_1
pejabat, artis dan orang ternama lainnya untuk menjadi solusi kesehatan mereka.
Sehingga Reca dengan mudah mememukan informasi orang-orang terkenal itu yang
berobat disini. Meski tidak semua dari nama yang dicarinya ada disana tapi Reca
sudah cukup puas, dan mengakhiri aksinya. Dia ga boleh terlalu lama karena
orang lain bisa saja sadar bahwa dia adalah penyusup.
“ Eh bantu gue dong, berat neh.” Seseorang menepuk
bahu Reca, sempat membuat gadis itu terpaku membeku.
“ Hmm ya.” Jawabnya. Reca tidak ingin orang yang
bicara tadi curiga padanya, dia berusaha bersikap sewajar mungkin.
“ Eh lo siapa sih?” Mampos, si kawan sadar rupanya.
Tanpa piker panjang lagi, Reca langsung berjalan cepat sebelum orang itu melihat wajanya. Tapi si kawan ini
ga gitu aja pulak biarin dia pergi.
“ He tunggu, siapa lo?” Teriakan laki-laki membuat
beberapa petugas lain sadar dan ikut mengejar dirinya.
“ Penyusup, penyusup.” Teriak petugas lain bersautan.
“ Pencuri.”
Seperti biasa Reca akan cari tempat yang ga terlihat CCTV,
kaya kamar mandi buat ngeganti pakaiannya dan ngebuang semua perangakat
penyamaranya. Tapi sialnya kamar mandinya semua terisi saat Reca memeriksanya,
akhirnya Reca buka aja bajunya trus ngebuah seragam itu ke tong sampah (ga usah
piktor genks, pake baju dalem dia mah). Eh ada petugas yang ngejar dia tadi,
ngeliat.
“ Hei, disini.”
“ Sial.”
Sekarang Reca udah jadi pencuri beneran, ngambil
sesuatu tanpa permisi dan dikejar orang-orang. Tapi kan wak ga pulak lah si
Reca neh lari cepet-cepet cuma jalannya aja yang terus zigzag biar yang ngejar
hilang focus.
“ Aak.”
“ Maaf, kamu ga pa-pa?” Reca ga sengaja bertabrakkan
bahu dengan Kendra. Ga sampe jatoh, lantaran Kendra menangkap cepat kedua
lengan Reca lalu membantunya berdiri.
Reca langsung mengenali suara itu, tepat saat matanya
menagkap wajah itu firasatnya membenarkan. Wajah itu tidak berubah banyak, masih menawan
masih berkharisma. Wajah itu dulu membuatnya tidak bisa tidur siang dan malam,
pernah membuatnya berdebar, pernah membuatnya merasakan cinta pertama.
“ Itu dia kejarrrr….”
Kendra melihat beberapa karyawan rumah sakit bersama
petugas keamanan tampak bergegas mendekat, dan orang yang dai pegang tangannya ini
segera bereaksi dengan kerumunan itu. Otak encer Kendra langsunh bilang klo dia
baru aja bertemu dengan pencuri. Kendra mendorong Reca ke dinding dan menarik
topi yang Reca kenakan dengan kasar, dokter uda itu udah ga sabar pengen liat
muka pencuri yang dikejar-kejar ini. Begitu topi tersingkap, wajah mungil yang
manis itu terlihat, mata Kendra pun langsung mengenalinya.
“ Re, Reca?” Oh sial, batin Reca. DIa lagi ga punya
waktu untuk menjelaskan ini, jadi dia mau langsung kabur aja. Tapi Kendra
menahannya.
__ADS_1
“ Re?”
*****