WINTER GLOW

WINTER GLOW
Wajah yang Membelah Hati


__ADS_3

"


Apa dia buka suara?" Seorang pria paruh baya mengisap rokok dengan setelan jas mahal. Meski sedang bicara dengan orang yang keliatannya sangat penting dia tetap berada didalam mobil tanpa menyalakan lampu. Jelas sekali dia tidak ingin kehadirannya diketahui. Dia adalah Jen Kusniar.


" Saat ini dia masih bungkam pak."


" Hmmm...bereskan seperti biasa ya. Apa kau sudah mengatur jaksanya?"


" Sudah pak. Saya pastikan sidang besok tidak hanya akan membebaskan anda tapi akan sangat menguntungkan untuk kampanye anda pak."


" Bagus. Ini bagian mu."


" Terimakasih pak."


" Jalan."


*****


" Syutingnya ditunda?"


" Iya Ka, katanya ada beberapa part yang diganti. Aku juga baru terima naskah yang  baru diganti hari ini. Maaf ya?"


" Hmm...ga apa kok. Tapi..."


" Tapi apa?"


" klo pemotretannya bisa dimajuin ga Sa? Aku ada perlu neh?" Deg! Sekali lagi, udah mulai deh ne orang. Calon-calonnya ngilang ne. Hello secara gue manager lo Mika, apasih urusan lo itu sampe gue ga tau.


" Aku ga tau kamu ada jadwal lain. Emangnya kamu mau kemana?"


" Hiyaa ga jadi surpice dong."


" Hmm?" Maksud lo? Mika mendekatkan mukanya yang manis itu.


" Aku mau ngajak kamu jalan." Kemarin setelah mengikuti Reca sepanjang malam yang penuh misteri, Mika berusaha keras meluruskan pikirannya. Cowo ganteng itu akhirnya mulai mikir klo dia udah buang-buang waktu menghawatirkan orang yang ga dia kenal.


Setelah kebaikannya yang mahal itu, perhatiannya yang paling diinginkan wanita satu Indonesia raya tapi justru ga dapet feedback berbentuk apapun dari Reca alias Caca. Cewe itu masih dengan keangkuhannya, please deh capek kan lo. Beruntungnya Mika cepet sadar untuk kembali ke jalan yang lurus. Terlebih bakalan kelewatan banget klo kali ini pun mengabaikan Esa, lo bisa kehilangan segalanya bro.


" Hmmm..." Esa sulit menyembunyikan wajah senangnya, dia kelewat bahagia. Kalimat barusan itu kaya mimpi aja.

__ADS_1


" Iyaaa, aku mau ngajak kamu jalan. Kamu ada waktukkan?" Esa ngangguk buru-buru. Paling ga bisa jual mahal sama Mika, dari pada ntar nyesel mending mau aja deh.


Mika yang ikutan seneng liat cewe kece itu senyum manis banget. Dia memeluk Esa erat banget bahkan mengecup lembut kening managernya itu.


Singkat cerita doi udah gaya ganteng banget, Si Esa juga udah berdandan bak Cinderella gaes. Standar sih, mereka makan malam romantis trus cerita ini itu. Sesekali ketawa atau saling bersikap romantis. Ternyata semua sikap diluar wajarnya Mika belum berakhir. Doi sekarang jadi rajin banget nelpon sebelum tidur. Lebih perhatian dari sebelumnya, trus sekarang jadi suka jemput Esa buat pergi kerja bareng. So sweet lah pokoknya, yang lebih mengejutkan lagi, Mika sangat sabar nemenin Esa belanja n ke salon malah. Gilaaakkk. Klo ga ngelliat sendiri Esa ga bakalan percaya, dan cewe cantik itu memutuskan untuk menikmatinya dari pada banyak nanyak. Meski sebetulnya jujur, dia ngerasa aneh sama perubahan ini.


*****


" Apa pa? Esa harus pindah ke Amerika?"


" Iya sayang, kan kasian Mama klo harus sendirian di sana pas Papa ngantor di kedutaan. kamu ga kasian sama Mama?"


" Ya tapi kan.." What? ini cobaan apalagi ya kan. Secara baru aja ngerasain kebahagiannya bersama Mika, Esa justru harus ikut Papanya yang ditugaskan sebagai Duta besar luar negeri.


" Loh bukannya itu impian kamu sejak lama Sa? Dulu seinget Papa kamu bilang pengen banget bisa kuliah di sana."


" Dulu sih iya Pa. Tapi sekarang Esa kan juga kerja dan terikat kontrak dengan beberapa Brand ternama Pa. Ga bisa langsung pindah gituh." Bisa aja sih, secara yang terikat kontrak itu kan artisnya. Manager mah bisa aja diganti kan. Tapi berat ninggalin Mikanya, apa lagi tuh anak lagi manis-manisnya. Gimana kan bun.


" Ya udah kamu selesaikan cepet deh, Papa tunggu ya. Bila perlu pengacara Papa yang akan urus semua pembatalan kontraknya, Papa ga keberatan klo harus bayar penaltinya."


" Banyak loh Pa. Ga ah. Please Pa, biarin Esa disini dulu ya buat nyelesain semuanya. Kasih Esa waktu ya Pa?"


" Tapi jangan lama ya. Kasian Mama Sa, kamu kan anak satu-satunya Papa. Klo kamu ga ngejagain Mama siapa lagi?"


*****


" Belum tau sih. Namanya juga kerja di kedutaan, yaahh sampe papa ga kerja situ lagi mungkin." Mika memejamkan matanya sebentar. Kenapa selalu ada aja yang menggoyahkan niatnya.


" Huuuuhhh.." Mendesah berat.


" Kamu marah?" Esa cemas, menggelayut manja ke lengan cowo ganteng itu beharap bisa merubah suasana hati Mika.


" Kita bahas itu besok ya, aku pulang dulu. Kamu jangan lupa makan dan istirahat." Mika langsung pergi begitu selesai mengusap rambut Esa sebentar.


Di mobil Mika terus melamun. Entah kenapa hari terasa suram. Meski tanpa cinta, dia udah terbiasa menghabiskan waktu bareng Esa. Dimana pun dan kapanpun, terbiasa itu ngebuat dia jadi merasa ada kurang padahal belum terjadi.


Entah bagaimana, begitu sadar Mika udah nyampe di tempat suting. Dari tadi tanpa disadarinya dia menyetir mobilnya ke arah ini, padahal niat awalnya tuh mau pulang. Hari ini ga ada kru karena


jadwal suting ditunda. Tapi Mika ngeliat Reca ada di sana, melakukan beberapa gerakan yang dikenali Mika ada di naskah. lagi latihan kayanya.

__ADS_1


Mika mendekat perlahan hingga Reca tidak menyadarinya. Sambil jalan gituh, Mika ngeliat ada banyak bekas luka di lengan cewe yang selalu bikin penasaran. Mungkin karena pemeran pengganti jadi sering cidera. Tapi tunggu, Reca selalu menyelesaikan perannya hanya dalam 1 kali take. Dan hampir ga pernah mengalami trauma, dia terlihat sangat mahir dalam bidangnya. Lagian meski ada, kayanya tuh luka ga akan sebanyak ini pikir Mika.


" Udah makan?" Nyaris muka cakep Mika kena jurus tendangan bangau (alay mah) neh kalau aja Reca ga segera menyadarinya. Hampir lecet tuh muka.


" Latian berat jadi harus makan banyak." Mika udah hapal banget klo cewe itu ga bakalan ngejawab apa yang dia bilang. So, dia buru-buru menggedikan kepalanya yang artinya, ayo ikut gue. Dan seperti biasa neh cewe bakal langsung jawab, ogah.


Mika udah terlalu hapal, dia udah mengantisipasi Reca yang bakalan nolak terus mengelak dengan kasar. Kali ini Mika berhasil mepetin cewe manis itu ke pohon yang kebetulan tumbuh di sana.


" Sekali aja. Sekali aja, nurut napa? Ga rugi gituh. Klo ga gue cium neh." Si cewe keder juga ternyata. Ga pake nunggu Mika langsung narik tuh cewe ke mobilnya.


" Neh lap keringet lo." Ga lama dari mobil jalan, Mika nyodorin handuk kecil yang  biasa disiapin di mobilnya. Jujur


aja neh, sejak tadi Mika agak ga konsen nyetir karna ngeliat keringet tuh cewe, yang entah bagaimana bisa keliatan seksi banget. Tapi emang cantik juga sih. Reca menerima handuk itu tanpa banyak bicara, kali ini dia nurut meski dengan muka bete abis.


" Berenti, gue makan deket sinih aja."


" Dimana? " Tatapan Mika jelas banget bilang. Jalan sepi, gelap, trus ga ada yang jualan gitu pun. Boong aja. Reca ngejawab dengan mengangkat dagunya ke arah yang  entah dimana itu, tapi Mika langsung ngeh dan otomatis bilang...


" Enggak. Ga suka gue tempatnya."


" Lo artis bukan sih?" Siittttt... Mika ngerem ngedadak lantaran syok. Pertanyaannya itu loh. Pertanyaan macam apa ini coba


" Apa?"


" Artis tuh bukannya biasanya sibuk banget. Tapi kok lo selalu punya waktu buat nyusahin gue?"


" Nyusahin lo?"


" Berenti ganggu hidup gue. Lo urusin aja hidup lo. OK?" Reca keluar dari mobil. Mika cepet-cepet nyusul.


" Is lepas.." Reca keliatan ga suka banget.


" Lo mau kemana? Masuk mobil, tempat ini ga aman."


" Bukan urusan lo."


" Sekarang jadi urusan gue, karena lo pemeran pengganti gue. Jadi klo lo sampe kenapa-napa suting gue bisa terganggu. Dan itu bakalan ngerepotin banget kalo sampe harus cari gantinya elo." Sumpah ini alasan ga masuk akal banget. Reca langsung pergi.


" OK, OK." Mika menyerah, kali ini dengan wajah memelasnya dia memohon. Bahkan suaranya jadi lembut banget.

__ADS_1


" Please, temenin gue. Hari ini aja."


*****


__ADS_2