
Beberapa
foto Menteri tampak berjejer diatas sebuah karton yang disiapkan
Reca, dia sedang mencoba menambahkan informasi yang dia dapat kemaren
dengan beberapa penggalan informasi yang sudah ada sebelumnya.
Melalui penyadap yang ditanamkan Reca kedalam ponsel Kendra, dia
mengetahui bahwa beberapa menteri yang sudah diduganya sering
melakukan pertemuan rahasia sekaligus menjelaskan bahwa mereka satu
komplotan. Lalu Reca juga baru tau bahwa Sarah adalah anak dari Jabat
Sentosa. Lalu dari percakapan Ghani Wijaya kemarin Reca menemukan
skema hubungan yang belum utuh.
Yang
pertama kelompok ini bernama Singa merah dengan Pimpinavn yang masih Mr. X alias belum diketahui siapa identitasnya. Lalu
Singa merah harusnya beranggotakan lima orang tapi
kelompok ini justru
punya tujuh orang kandidat yaitu Sentia Mulyadi Mentri perdagangan, Jabat Sentosa tangan
kanan Mr. X,
Jen Kusniar si Mentri Keungan, Toni Raen mentri
Kesehatan,
Daruma Tanjung yang
merupakan mentri pertahanan,
Ghani Wijaya Gubernur ibukota negara sekaligus calon presiden dan Mr.
X sebagai pemimpin. Anggota yang dipastikan sebagai member asli
adalah Mr. X dan Jabat Sentosa yang merupakan ayah dari Sarah teman
SMA nya dulu. Sarah akan dijodohkan dengan Kendra yang tak lain anak
dari Sentia Muliyadi, dugaan sementara untuk menjadikannya Direktur
Rumah sakit pemerintah Sentanum. Analisanya, kelompok ini didirikan
untuk menjaga kekuasaan dalam mengatur penentuan siapa yang akan
duduk dibangku pemerintahan. Jadi jika Jabat Sentosa yang merupakan
anggota asli singa merah memberikan putrinya untuk menjalin hubungan
keluarga dengan Sentia Mulyadi maka itu
artinya Menteri perdagangan itu sesuatu
yang menguntung untuk Singa merah atau kemungkinan lainnya Sentia
Mulyadi salah satu dari Anggota Singa merah yang asli.
Yang
masih aneh disini adalah Ghani Wijaya sudah mencalonkan diri sebagai
Capres, lalu kenapa Jen Kusniar dari kubu lawan yang justru direkrut
oleh Singa Merah. Ah… sudah delapan tahun tapi Reca masih belum tau
motif yang tersembunyi dibalik kematian ayahnya. Mereka mencari
sebuah bukti yang diduga dimiliki sang ayah rapi tak perduli
bagaimanapun Reca mencarinya, Reca tidak menemukan apapun. Pesan
berjangka yang papa kirimkan hanya berisi ungkapan perasaan, user dan
pass semua akun pribadinya. Rekaman suara saat ayahnya dibunuh tidak
menunjukkan
bukti apa yang mereka maksud, tidak juga menyebutkan siapa yang
datang saat itu sehingga itu tidak bisa dijadikan semua bukti. Ouhhh…
inisangat sulit, Reca pikir dia sudah siap tapi ternyata terlalu
banyak misteri yang harus dipecahkan.
“ Kamu
ngapain Re?” Mika menghampiri Reca yang termenung dimeja kerjanya,
lalu mulai paham apa yang sedang Reca pikirkan. Mika membaca skema
yang dibuat Reca sesaat untuk memahami isinya.
“ Ikut
aku yuk Re, aku tunjukkin sesuatu.” Bengong tapi nurut aja
tangannya dibimbing Mika untuk mengikutinya.
Mika
ngebawa Reca ke kamarnya, tepatnya ke ruang rahasia yang diketahui
satu orang pun itu termasuk Esa. Tatapan Reca sepertinya takjub tapi
tidak berkata apapun hanya mengamati.
“ Mulai
__ADS_1
sekarang sertakan kau Re, karena dua lebih baik daripada satu. Saat
kamu ga memiliki jawaban, mungkin seorang rekan bisa menemukannya
dari sudut pandang berbeda.”
“ Kerjaan
lo gimana? Lo terlalu mudah dikenali Mik dan itu merepotkan.”
“ Kan
saat kamu beraksi juga ga ngeliatin muka kan Re, so ga masalah dong?”
Harusnya iya.
“ Lo
sadarkan Mik ini tuh berbahaya?”
“ Karena
aku sadar Re makanya aku ga bisa biarin kamu sendiri.”
“ Ini...”
Mata reca menangkap wajah yang tak asing saat dia memperhatikan skema
yang Mika buat dipapan tulis.
“ Evan?”
“ Kamu
tau Re klo dia sepupuan sama Esa? Apa itu yang buat kamu mencurigai
dia?”
“ Ga,
gue baru tau malah. Lo tau dari mana?”
“ Ga
sengaja kami kenalan pas aku nganter Esa dibandara untuk ikut
bokapnya ke Amrik.”
“ Bandara?”
“ Iya,
Evan udah ada disana pas aku dateng.”
“ Esa ikut bokapnya ke Amrik?” Reca bergumam sendiri sebenarnya sambil
mikirin sesuatu yang entah apa. Tapi Mika peka dengan itu.
“ Iya
ayah Esa kan Duta besar luar Negeri Re yang ditugaskan di Amerika.”
besar luar negeri Indonesia Amerika berarti...”
“ Rayan Abdi.”
Jawab Mika, baru menyadari sesuatu. Reca langsung mencari nama Raya
Abdi dimesin pencarian, dan benar wajahnya
sama dengan orang berfoto dengan Esa diponsel yang Reca liat kemarin
selain itu juga benar bahwa Rayan Abdi salah
seorang Duta besar.
Langsung
deh tangan Reca sibuk mencari hal lain seperti latar belakangnya,
riwayat karir Rayan Abdi
serta bagaimana dia bisa menjadi Keluarga Jen Kusniar.
“ Ini
Re.” Mika menemukan nama belakang Rayan Adbi yang ada dibeberapa
artikel, namun nama belakang itu disingkat dengan inisial huruf “K”.
Sepertinya seiring waktu berlalu nama belakang itu tidak lagi
digunakan, duta besar Indonesia Amerika itu lebih dikenal sebagai
Rayan Abdi.
“ Mungkinkah
Inisial ‘K’ ini adalah Kusniar?” Reca
“ Dilihat
dari silsilahnya Esa dan Evan sepertinya iya Re. Trus klo kamu belum
tau kenapa kamu deketin Evan Re?”
“ Jen
Kusniar pernah menjadi klien papa untuk kasus video panas yang sempat
viral sepuluh tahun lalu, tapi kemudian papa mundur dari kasus itu
dan digantikan oleh pengacar lain. Jen Kusniar bebas dari tuduhan
karena kurangnya bukti yang memastikan bahwa dia ada dalam video
asusila itu.
__ADS_1
Papa ga akan menolak suatu kasus jika terbukti kliennya bersalah,
atau ada hal salah lain yang buat papa mundur. Gue ga punya dugaan
siapa orang yang udah bunuh bokap gue, tapi Jen Kusniar setidak ada
hal yang bisa gue curigai.”
“ Oh
ada kemungkinan dia dendam sama papa kamu Re.”
“ Iya, tapi
suaranya tidak ada dalam rekaman itu. Hanya saja selama dengan Evan
gue sering ke rumahnya dan ada satu hal yang aneh… ada ruangan yang
dijaga khusus oleh beberapa pengawal bahkan Evan sekalipun ga boleh
masuk kesana. So, gue sangat penasaran. Sayangnya saat gue masuk ke
ruangan itu dan nemuin sesuati dibawah meja kerjanya, gue ga sempet
liat itu apa karena pengawalnya mula menyadari kehadiran gue disana.”
Mika angguk-angguk paham.
“ Okeh
kita liat aja lo berguna apa enggak.” Tiba-tiba Reca langsung
ngulurin tangan buat jabat tangan, si Mika refleks aja ikutan
salaman.
“ Maksudnya
kamu bolehin kau bantu kamu Re?”
“ He
ehm.” Mengiyakan tapi matanya ngeliat yang lain, tolah-toleh sana
sini mengaggumi ruangan rahasia ini.
“ Kok
dadakan? Kenapa?”
“ Alasannya
udah jelaskan, Esa lah. Apapalagi.”
“ What?”
“ Esa
tergila-gila banget sama lo kan, lo ga tau?”
“ Jahat
ga sih Re, klo aku manfaatin perasaanya buat nyari informasi?”
“ Gue
ga nyuruh lo buat mainan dia Ka.”
“ Trus
apa bedanya Re?”
“ Lahh
emang lo ga suka sama dia Ka?”
“ Kamu
tau banget aku sayangnya sama siapa Re? Kok nanya sih.”
“ Trus
hubungan kalian selama ini apa?” Kaya lagi tidur trus disiram air
satu tong, Mika kaya baru nyadar gituh klo dia udah lebih dulu jahat
sama Esa. Oh apa itu juga yang ngebuat Reca ga mau nerima cintanya,
karena takut nyakitin Esa? Atau dia ngerasa Mika ga tulus, karena ada
hubungan spesial dengan Esa yang ga bisa dia jelasin.
“ HTS
an?”
“ Re,
klo kamu ga ngilang aku ga bkalan sedeket ini sama Esa Re. Dia bantu
aku nenangin diri saat kehilangan kamu, ga akan kaya gini klo kamu
disamping aku dari awal.” Entah iya pun.
Reca
terdiam, wajahnya tetap datar tanpa mimik emosi. Ouuhhh berulang kali
Mika menyaksikan bagaimana dinding es yang begitu tebal masih belum
bisa dilelehkan. Mika tetap aja ga ada artinya ga peduli apapun yang udah dia lakukan, Mika bahkan menyesali untuk apa dia berada
disini sekarang tanpa berpikir lalu memutuskan terlibat dengan masa
lalu sahabatnya ini. Reca masih saja tidak perduli dengan
perasaannya, mungkinkah dia harus kembali pada Esa dan menyerah untuk
__ADS_1
Reca selamanya.