
“ Heh
hubungan
apa ini? Gilak lo Re? Lo
mau aja gituh dicium padahal lo bukan pacarnya, terlebih lo kan ga
cinta? Tapi
bau ini… ciuman ini… sama mendebarkannya dengan delapan tahun
lalu. Mika orangnya? Iya Mika lah orangnya...” Mika melihat Reca memejamkan matanya, hati Mika terasa hangat meski
tidak tau apa artinya.
“ Re..”
Hati Mika serasa ingin menjerit, tapi hanya mampu mengucapkan nama
itu dalam hati. Karena saat dia menyudahi ciumannya itu, Mika melihat
kembali tatapan Reca yang dingin dan dia segera mengerti. Reca tidak
menolaknya bukan karena perasaan sudah
menerima Mika tapi karena… Reca sudah terlalu sering melakukan ini.
Bercinta tanpa perasaan, Oh Tuhan hati Mika nyeri parah menatap wajah
mungil itu yang setiap hari semakin menyiksanya. Wajah itu memberi
tatapan menantang dengan kebisuannya.
“ Maaf
Re aku..” Mika menyeka bibir Reca yang terlihat masih basah.
“ Ga
apa kok santai aja. Gue melakukannya seperti biasa.” Reca
yang kembali mau masuk ditarik lagi tangannya sama Mika.
“ Maksudnya
Re? Seperti biasa apa? Sesering apa? Sama siapa aja?” Mika kali ini
memperlihatkan wajah marahnya, dia cemburu, dia ga rela dan dia
sangat-sangat ingin melampiaskan amarahnya. Reca ga pernah lihat muka
Mika yang kaya gini sebelumnya, hingga dia terpana dan ragu. Haruskah
dia mulai takut terlebih lelaki didepannya ini terus melangkah maju
tanpa hambatan. Ok sekarang Reca takut.
“ Jawab
Re, udah sama siapa aja?”
“ Kan bukan urusan lo.” Mika menarik tangan Reca dengan kasar, bola
matanya pun hampir keluar menatap penuh amarah disertai wajah yang
udah merah padam tanda si doi sebenernya mau meledak tapi masih
berusaha nahan.
Reca
sebetulnya hanya asal bicara aja, dia tidak benar-benar bercinta
dengan setiap pria. Tapi
khusus untuk Evan Reca emang sering bercumbu tapi cuma sampe bobok
bareng juga, entahlah mungkin karena Evan baik ato emang karena…
emang menarik sih anaknya. Cakep juga, duh yang ngerusak iman itu
banyak mana didepan mata ya kan, so maafkan adek la bang.
“ Aku
ga perduli lagi Re, terserah atas izin kamu ato ga. Mulai sekarang
kita jadian, kamu punya aku dan ga ada satu orang pun yang boleh
deketin kamu kecuali aku. Dan hanya aku yang berhak, hanya aku yang boleh
ngelakuin ini ke kamu..” Mika memeluk Reca seraya menghempaskan tubuh
mereka berdua ke tempat tidur, Mika kembali menyerang Reca dengan
ciuman yang lebih agresif dari sebelumnya dan ikut ngebuat Reca takut
tapi anehnya dia tidak bisa menolaknya. Yang bisa dilakukannya hanya
meremas kain sprei sambil nutup mata, pasrah apa pun yang terjadi.
Mika
lihat wajah takut itu yang
membeku ditempat namun tidak kuasa menolaknya, itu terlihat
manis dimata Mika karena dia tau benar seperti apa Reca yang
__ADS_1
tidak akan membiarkan siapapun melakukan sesuatu terhadap dirinya kecuali
tanpa izin dari Reca sendiri. Tapi melihat Reca yang tidak memberontak seperti
biasanya Mika jadi seneng banget, mungkin Reca udah membuka hatinya
hanya masih gede gengsi buat ngaku aja dan itu sukses buat Mika
tersenyum seneng banget.
Mika menyudahi ciumannya tapi tidak beranjak dari tempatnya, atau tepatnya dia masih menindih Reca diatas
tempat tidur lalu
mengacak gemes rambut Reca trus muka Mika berubah jadi cerah banget.
“ Inget
ya Re, lo punya gue sekarang.” Ucap Mika saat sudah bangkit dan
duduk di samping Reca yang masih diem aja salah tingkah menganalisa
dirinya sendiri. Apakah ini karena dia tau Mika adalah cinta masa
kecilnya atau karena yakin Mika lah orang yang telah merenggut
ciuman pertamanya. Mika lah orang yang pernah menghapus nama Kendra
dalam beberapa detik dan pernah membuatnya sangat rindu.
“ Jadi
ceritanya lo pacaran sekarang Re?” Tanya Reca sendiri dalam hati,
trus langsung panik karena baru sadar udah terlambat juga buat bilang
enggak.
“ Kayanya
papa meninggal bukan karena serangan jantung Re, kemungkinan papa di
bunuh.” Reca terdiam, sebenarnya kaget dari mana Mika tau hal itu?
Padahal tante Melan bilang ga cerita apapun, sepintar itukah ne anak
bisa langsung ngeh sama petunjuk yang sedikit itu? Reca sendiri butuh
persiapan delapan tahun loh.
“ Aku
ingat banget cuma bisa liat makamnya aja pas dikasih kabar papa
meninggal dengan alasan yang ga masuk akal. Tanahnya juga saat itu
tidak terlihat seperti kuburan yang baru digali, dan tanggal kematian
dikabarkan papa meninggal. Aku
terlalu kecil saat itu Re, dan ingin bertanya ke mama ga tega karena
mama keliatan sedih banget tapi air matanya ga keluar sama sekali.”
“ Lo
tau darimana?” Muka cuek tapi sebenernya penasaran.
“ Re
kayanya… mungkin aja papa kamu meninggal karena papa aku Re.”
Mika menoleh dan Reca bisa melihat mata si ganteng yang udah
berkaca-kaca, Reca langsung khawatir karena
sepertinya Mika berusaha keras untuk terlihat baik-baik aja padahal
sebenernya doi ga siap dengan kenyataan ini.
“ Kamu
benci aku Re? Apa selama ini sikap dingin kamu dikarenakan hal itu?”
Mika masih menatap Reca, cowok itu udah hampir nangis
“ Aku
ga pernah benci kamu Mika. Aku juga baru tau faktanya hari ini.”
Reca ngebatin.
“ Aku
harus apa Re untuk bisa dimaafin sama kamu?” Ngasih tatapan memohon
banget karena beneran putus asa. Reca
jadi bingung harus berbuat apa, karena dia bukanlah orang yang hangat
plus cenderung masa bodo. Tapi ngeliat Mika seperti ini hatinya juga
agak… nyeri. Dipeluk aja kali ya? Iya deh di peluk aja, akhirnya
Reca mutusin buat memeluk Mika.
“ Kita
cuma nerima sepenggal petunjuk yang belum ada akhirnya dengan sejuta
__ADS_1
kemungkinan kenyataan yang tersembunyi dibalik itu. Gue ga pernah
benci lo Mik, gue hanya kadang ingin fokus dengan kasus bokap gue.”
Reca
menyudahi pelukannya trus memberikan sedikit senyum untuk ngeyakinin
Mika klo dia beneran ga marah soal itu.
“ Gimana
klo kenyataan itu benar Re?” Reca terdiam
“ Apakah
kamu masih baik-baik aja Re?”
“ Gue
ga suka menebak-nebak.” Reca langsung berdiri, muka juteknya balik.
Gilak poker face banget, bisa langsung berubah gitu ekspresinya.
Makhluk apa sih lo Re? Alien?
“ Gue
lebih suka mencari kebenarannya, dari pada berandai-andai ga jelas.”
Pas Reca mau pergi Mika menahan tangannya.
“ Aku
juga ga suka menebak-nebak Re.” Ditarik sekali lagi, kali ini cukup
keras sampe ngebuat Reca putar balik paksa udah gitu jatuh rebahan di
tempat tidur. Sumpah pengen marah tapi Mika langsung ikutan tidur dan
memeluk Reca yang membelakanginya.
“ Biarin
Aku meluk kamu sampe aku bangun Re, biar aku yakin klo kamu udah
beneran punya aku. Huuhhh.” Mendesah pelan lalu memejamkan mata.
“ Hari
ini badan dan hati aku capek banget Re, please tetap disini sampe aku
buka mata. Karena aku takut ini cuma mimpi, sangat bangun kamu balik
jadi Reca yang terus menolak aku.” Males
banget sebenernya karena Reca harus memeriksa sesuatu, berhubung ne
tampan lagi sedih aja neh. Oke fine, sabar Re untuk kali ini aja.
Tidak
terdengar lagi suara Mika, hanya napasnya yang terasa membentur leher
Reca. Niatnya mau pelan-pelan bangun tapi baru gerak dikit si Mika
udah langsung ngomong padahal mata masih merem.
“ Aku
ga tau apa yang akan aku lakuin klo kamu pergi Re (Bisa jadi habis lo
sama gue cantik. So diem aja disitu yah, jangan
coba-coba nguji gue Re.).”
Reca langsung mengurungkan niatnya dan langsung pasrah meski ini
bakalan sangat lama. Yang bisa dilakuinnya hanya mendesah kesal sekaligus
ga berdaya.
“ Cintai
aku Re.” Mempererat pelukannya, kali ini Mika beneran tertidur
sementara Reca hanya menatap kosong pada dinding.
“ Apa
lo tau Mik, gue adalah Putri Kristal? Ngeliat lo masih menyimpan
kenangan itu, dan bisa tetep cinta sama gue meski lo ga tau klo gue
adalah cinta masa kecil lo. Gue penasaran Mik, sebesar apa cinta lo
buat gue? Dan kenapa lo bisa cinta sama gue saat ada orang secantik
Esa di samping lo. Apa lo tau? Gue ga layak buat lo njirrrr.”
Ngebatin sendiri, sebelum akhirnya Reca ikut terlelap bersama Mika.
Disaat
yang sama seseorang sedang memperhatikan Reca dan Mika dari celah
pintu kamar yang emang sejak tadi sedikit terbuka. Dia terpaku
memperhatikan kemesraan itu, tangannya yang sejak tadi ingin membuka
__ADS_1
pintu diurungkannya. Tapi matanya tetap menatap lekat.