
Reca membiarkan Mika memeluknya tapi tidak berkata apapun, mukanya ga kaget sama sekali cuma menatap kosong sambil sedikit tengadah lantar Mika yang tinggi itu masih memeluk dirinya. Cewe tomboi itu sama sekali ga terkejut, nanya juga enggak. Yang jelas dia udah ngeh aja gituh klo Mika udah tau sapa dia sebenarnya.
Saat Mika menyudahi pelukannya lalu menatap wajah Reca, hatinya menjerit perih melihat wajah dingin itu menatapnya seolah menggambarkan hal berat apa yang telah dilaluinya. Berusaha keras untuk tidak menangis Mika meletakkan kedua tangannya di pipi Reca yang masih aja matung kaya ga bernyawa.
“ Lo kemana aja Re? Gue nyariin lo.” Reca menurunkan tangan Mika dengan risih, lebay banget sih jelas-jelas di depan hidung lo pun. Lo nya aja yang kelewat bego.
Mika tau Reca ga bakalan ngomong apapun, dia juga ga berniat tanya-tanya saat ini. Yang dia ingin lakukan hanya memastikan wajah ini terus berada disampingnya.
“ Re.” Menahan tangan Reca agar ga pergi, tapi kemudian dengan sangat hati-hati membimbing tangan itu untuk masuk ke mobil.
“ Siapin semuanya ya.” Entah siapa yang Mika telpon ga jelas, tapi dari cara dia menatap Reca sudah pasti Mika menyiapkan sesuatu untuk gadis itu.
Sepanjang perjalanan ke rumah Mika berlangsung sangat sunyi, Reca yang emang lelah memejamkan matanya lalu bersandar. Nyampe di rumah Mika, sudah banyak pelayan saat mereka berdua masuk. Reca sedikit heran karena sebelumnya dia datang ga pernah melihat pelayan sebanyak ini, ga ada satupun malah. Reca yang terbego jadi nurut aja gituh dibimbing para pelayan ke sebuah ruangan yang ternyata udah dirubah jadi tempat spa dadakan lengkap dengan atributnya. Mereka meminta Reca untuk mengganti pakaian dan Reca melakukannya dengan sedikit terpaksa. Sumpah males banget untuk berdebat dengan para pelayan yang pasti nurut banget sama tuannya, jadi percuma juga Reca nolak hanya akan buat semuanya jadi lebih lama.
Begitu selesai ganti baju, Reca langsung dimanjakan dengan perawatan tubuh dari ujung kaki sampe ujung rambut. Sementara itu diluar Mika mempersiapkan banyak hal. Kamar baru buat Reca dengan segala perabotan yang diganti yang girly. Baju-baju wanita, perhiasan, sepatu, tas brand termahal dan aksesoris lain seperti jam atau kaca mata yang serba baru dipesan khusus untuk Reca. Meja riasnya juga lengkap dengan kosmetik mahal untuk kebutuhan harian Reca dari ujung kaki sampe ujung rambut.
“ Jangan..” Reca menghentikan penata rambut menyentuh kepalanya. Rambut potongan lelaki yang sudah mulai panjang tapi masih sangat pendek.
“ Hanya mencucinya dan jangan lakukan perubahan apapun.” tegasnya. Mika yang baru datang langsung tersenyum.
“ Tinggallah, biar aku yang melakukannya.” dibalas anggukan dan pamit dari si penata rambutnya. Cuma Reca yang bisa begini, ngebuat aktor secakep Mika nyuci rambut cewe tomboi kaya dia ini.
Selama proses cuti rambut masih juga sunyi, Mika sendiri menikmati momen ini. Secara jarang banget bisa ngeliatin muka Reca sampe lama kaya gini meski cewe itu lenih memilih memejamkan matanya. Mika bisa lihat perubahan total Reca yang jadi lebih bersih dan kulitnya terlihat lembab. Padahal sebelumnya kering ga terawat, terbakar matahari dan kusam.
“ Udah, sinih aku keringin.”
“ Gue aja.” Ngerebut dengan kasar plus muka ketus, sumpah kurang ajar.
Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil Reca berjalan keluar dan mendapati kesibukan pelayan mondar mandir, ngebuat Reca bengong terperangah berkali-kali. Mukanya juga ga bisa bohong dia terkagum ngeliat semua furnitur dan barang mewah mewakili harganya. Tapi Reca ga suka ini, terlalu wanita.
Dengan masa bodoh akan semua itu Reca menuju kamar Mika, langsung buka lemari dan mencari kemeja putih lalu mengenakannya tanpa bawahan. Reca melempar handuk sembarangan dan terlihat bersiap untuk tidur. Entah karena lelah, ato karena dia lebih suka kamar ini. Ga perlu waktu lama Reca langsung memejamkan matanya hingga tidur sangat nyenyak. Mika sekali lagi tersenyum seraya meraih handuk yang terdampar begitu aja menggantung di sofa hingga lantai. Dia juga ngeliat gimana Reca lebih memilih kemeja miliknya dari pada baju perempuan yang udah Mika siapkan. Cowo ganteng itu sama sekali ga marah, dia bahkan membelai rambut Reca lalu mengecup keningnya. Mika terus terhanyut menatap wajah itu hingga tanpa sadar ia terlelap.
*****
Jari mungil
berkulit putih mengemas sebuah mainan terbaik yang baru saja dibelinya,
bibirnya tak berhenti tersenyum karena jantungnya terus berdbar tidak sabar.
Hari ini mama bilang akan pulang ke rumah di Indonesia, dan pikiran kecil dari
bocahlaki-laki berusia 5 tahun itu telah merencanakan sesuatu.
“ Ayo
sayang, kita harus masuk nak. Nanti ketinggalan pesawat lo.” Di depan pintu
masuk Bandara seorang anak perempuan berusia lima tahun tidak mau beranjak dari
pintu masuk seolah ada yang sedang di tunggunya.
“ Ga mau, ga
mau. Yeye mau di sini.”
“ Sayang…”
Kini gilaran Papanya yang membujuk.
“ Kita
harus masuk sekarang klo ga kita ga bisa pulang nak. Dengerin papa yah?”
“
Huuu..(menangis) Ga mau ga mau pa Yeye
masih mau di sini.” Kedua orang tua ini sangat bingung kenapa putri kecilnya
bertingkah aneh. Sejak dari rumah tadi, dia terus memegang mainan dan menolak
untuk dimasukkan ke dalam tas, bahkan saat ini jemari mungilnya terus memegang
erat di depan perut buncitnya yang comel.
“ Gimana
pa?” Si mama panik.
__ADS_1
“ Kita
tunggu sebentar lagi masih ada waktu satu jam kok.”
“ YEYEEEE…”
Terdengar suara anak laki-laki seusia putri mereka, dia sedang berlari
mendekata dan tampak wajah si Yeye tersenyum senang.
“ MIKAAA…”
Yeye Membalas teriakan itu, kedua tangannya membentang tanda dia tidak sabar
ingin memeluk temannya itu.
Begitu
tangan mereka bertemu, keduanya tersenyum dan bersama-sama memasuki bandara.
Kedua mata mereka seolah sedang bercerita tentang persahabatan yang tidak akan
bisa dimengerti siapapun, hingga akhirnya mereka bertukar mainan lalu
berpamitan untuk yang terakhir kalinya tanpa tau akan bertemu lagi atau tidak.
Keduanya melangkah dengan berat, sesekali menoleh ke belakang sambil melambaikan
tangan. Menjaga pandangan mereka hingga kedua saling tak terlihat.
“ MIKAAA.”
*****
“ Hah.”
Mika tersentak, mimpi itu datang lagi. Mimpi yang sampai sekarang tidak jelas
bagi Mika sendiri apakah itu hanya sebuah mimpi yang memiliki episode atau
sebuah ingatan. Karena wajah anak perempuan itu tidak pernah muncul dengan
Begitu
terbangun Mika pun tersadar klo Reca udah ga ada di tempat tidurnya denga
setengah mengantuk Mika melihat jadwal sutingnya dan ternyata hari ini kosong.
Buru-buru Mika turun ke bawah mencari-cari Reca kesemua ruangan tadi ga ada.
Saat Mika menyerah karena ngerasa Reca pasti udah pergi, matanya menangkap
wajah itu. Hebat… Reca ga pergi kaya biasanya, Mika tersenyum.
“ Aku kira
kamu udah pergi.”
“ Hampir
sih, emang mau pergi.”
“ Re..”
“ Apa?”
Awalnya pengen ngomel, masa iya sih ga mau cerita juga. Tapi kemudian dia
urungkan karena takut banget malah buat Reca pergi terus menghilang.
“ Sarapan
yuk? Mika menunjuk meja makan yang sedang di siapkan oleh pelayan, tampak
beberapa makanan sudah terhidang di sana. Karena berencana untuk ngebuat Reca
tinggal di rumahnya, Mika mulai memperkerjakan pelayan untuk mempersiapkan
semua kebutuhan dia dan Reca. Bukan sembarang asisten rumah tangga tapi pelayan
__ADS_1
terpercaya yang udah ngerawat Mika dari kecil, dan harus di boyong Mika dari
rumah mama nya kesini.
“ Lo
sendiri aja. Gue buru-buru.”
“ Buru-buru
kemana sih Re? Jadwal suting kan kosong.”
“ Mika
please.” Reca membentak lalu memejam untuk menahan amarahnya.
“ Berhenti
terlibat dari hidup gue ok. Karena itu baik buat lo.”
“ Baik? ”
“ Iya. Baik
untuk keselamatan lo, karena klo lo lama-lama sama gue lo bisa…”
“ Apa?
Mati?” Re memalingkan wajahnya, dia sangat gam au ngebahas ini.
“ Ada apa
sih sebenarnya Re? Cerita dong ke gue, biar gue bisa bantu lo.”
“ Ga ada
yang bisa lo bantu OK.” Reca mau pergi, tapi segera ditarik sama Mika.
“ Lo kenapa
sih. Lepas.” Reca menolak Mika dengan kasar.
“ Lo yang
kenapa Re, klo lo ga mau gue ikut campur kenapa lo harus balik. Kenapa lo dateng
lagi dan ngerusak ketenangan gue?” Ok Mika udah muak, muak nahan semua yang
udah hamper meledak di kepalanya.
“ Harus lo ngilang
dengan sangat baik kaya sebelumnya, ga perlu berada disekitar gue jadi pemeran
pengganti yang gue liat hampir tiap hari. Ngebuat gue mikirin lo tiap hari,
ngerasa cemas buat lo, dan ngegoyahin keputusan yang gue buat untuk Esa.” Reca
terperanjat, ga nyangka Mika meledak kaya gini. Tapi itu ga lama, dia balik ga
peduli.
“ Sory klo
gue ngeganggu lo dengan muncul depan muka lo, tapi gue ga punya pilihan karena
target gue ada di deket lo.”
“ Target?”
Di dekat Mika?
“ Lo nyari
kebebaran soal bokap lo kan?” Reca yang tadinya mau pergi jadi membalik.
“ Gue tau
apa yang lo cari, dan lo akan butuh gue.”
__ADS_1
*****