
“ Re?”
Kendra memastikan apa yang dia lihat, yaitu wajah yang sangat dirindukannya belakangan ini. Wajah yang selalu membuatnya menyesal karena belum sempat menyatakan perasaannya, sekaligus membuatnya sulit membuka hati untuk orang lain. Tapi wajah ini sedikit berbeda.
Tanpa berkata apapun Reca ngelepas kumis dan alis palsunya, kemudian wig nya juga tapi matanya sambil memperhatikan Hp yang diletakkan Kendra disaku depan Kemejanya. Seolah sengaja untuk ngebuat Kendra makin terperangah, dan itu sangat berhasil. Mata Kendra melihat jelas rambut pendek potongan lelaki hanya sedikit lebih panjang, ah kendra masih ingat wajah manis Reca dengan rambut panjang indah berwarna hitam. Ada apa dengan wajah ini, begitu dingin tanpa emosi.
“ Re.” Kendra ingin menyentuh pipi itu tapi Reca dengan kasar menepisnya disertai tatapan sinis yang mendekati marah.
“ Re tunggu.” Kendra sempat menahan tangan itu sebelum dia pergi. Dan memeluknya dari belakang, sementara Reca diam mematung. Entah kenapa dengan Kendra dia ga bisa sekasar dengan Mika, tapi tetap juga dia bukanlah
orang yang sama dan sekarang pun dia tidak punya waktu buat nostalgia.
“ Re kemana aja, kakak nyariin kamu.” Kendra membenamkan wajahnya di bahu Reca, wajahnya ketara banget klo dia kangennya.
Untuk beberapa saat Reca membiarkan Kendra memeluknya, lagi pula Kendra adalah dokter di rumah sakit ini. Tidak ada yang mencurigainya jika dia bersama Kendra. Dan bener aja begitu yang ngejer dateng mereka udah ga mengenali Reca, langsung senyum dong.
“ Bisa lepaskan tanganya?” Tanya Reca jutek.
“ Hah?” Kendra terbego gitu denger Reca ngomong yang sumpah ga sopan banget. Kemana Recanya yang lucu dulu.
Reca pergi gitu aja membiarkan Kendra dengan kebingungannya, dokter muda itu pun hanya bisa ngeliatin aja saat Reca berjalan meninggalkannya. Tapi secara mengejutkan Reca memutar badannya dan berjalan kembali ke arah Kendra. Ga hanya itu aja, dia juga mendadak memeluk Kendra. Dengan gerakan yang sangat halus, Reca mengambil Handphone tanpa Kendra sadari karena emang gerakannya sambil meluk gituh. Begitu udah pelukan dan si HP udah ditanganya, Reca membuka silikon dibagian handphone, mengambil jarum yang udah disilipin di lengan bajunya. Jarum itu buat buka tempat ngeletakin sim card, lalu meletakan sebuah cip kecil di simcard itu. Nantinya saat sim cardnya di buka maka cip akan jatuh secara otomatis. Selesai memasang cipnya Reca pun tersenyum licik lalu melepas pelukan itu sambil mengembalikan HP nya.
Gilak, habis meluk Reca langsung mencium bibir Kendra dan ********** dengan gairah. Entah kenapa hati Kendra terasa sakit sekali dan merasakan sedih tanpa sebab hingga dia hanya menatapi Reca yang masih menciumnya. Jujur dia sangat rindu gadis ini, tapi kenapa Reca melakukan hal ini tanpa berkata apapun. Kendra akhirnya membalas ciuman itu, matanya terpejam bersama airmata yang mengalir. Dia sudah jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan Reca dengan sosok yang berbeda dalam hitungan detik. Hanya hitungan detik.
Reca menyudahi ciuman itu dengan senyum, ibu jarinya menyeka bibir Kendra untuk mengusap sisa ciuman yang membuat bibir Kendra sedikit basah. Detik itu Reca terlihat tersenyum yang Kendra pikir dia sangat tulus
__ADS_1
padahal Reca yang sedang menertawakan dirinya.
*****
“ Kau sudah mencarinya dengan benar?” Seorang pria paruh baya bertubuh gempal namun memiliki badan yang cukup tinggi, dibalut setelan jas mahal berwarna abu tua. Sepatu kulit yang dikenakannya tampak sangat spesial dan tidak bisa ditemukan di dalam negeri, merupakan sepatu edisi terbatas yang dibuat secara handmade namun berkelas.
“ Rumah itu masih sama dengan delapan tahun yang lalu pak. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama dengan yang aku lihat terkahir kali.”
“ Bagaimana mungkin masih sama, jika benar sudah delapan tahun yang lalu.”
“ Apakah menurut anda bukti itu benar-benar ada?” Pria gempal itu melempar tatapan tersinggung pada anak buahnya.
“ Apakah anda tidak menyadarinya pak? Jika benar bukti itu ada, kenapa tidak pernah sekalipun timbul kepermukaan untuk setidaknya menggertak kita?”
Pria paruh baya tadi merenung, memikirkan dengan seksama omongan dari tangan kanannya. Dia teringat kejadian delapan tahun lalu saat dia mendatangi sebuah rumah, disana dia menemui seorang pria yang berusia sekitar 40-an tahun memakai kacamata sedang berada di ruang kerjanya itu.
Tubsss! Melesat peluru dari pistol kedap suara. Mengalir darah merah segar, dan dia melangkahi pria sekarat itu. Sebelum dia mengobrak-abrik ruang kerja itu untuk mencari bukti yang dia inginkan, pria itu membaca papan nama di meja kerja tertulis, Pengacara Branu Sanjaya.
Lalu dia meninggalkan rumah itu tanpa rasa bersalah melainkan amarah, karena tidak perduli bagaimana mencarinya mereka tidak menemukan bukti yang mereka cari. Sudah mencari semua berkas di ruangan itu, email pribadi hingga seluruh ruangan di rumah tapi rumah itu hanya rumah biasa dengan banyak mainan anak-anak di rumahnya. Tidak ada yang spesial bahkan untuk rumah seorang pengacara.
“ Apa kita salah sasaran pak?” Ucap si tangan kana tadi.
Pria kaya itu mengankat alisnya sambil menghembuskan asap dari vape yang hisapnya. Dia mulai berpikir keras tentang itu, sia pria yang dia bunuh tidak meninggalkan jejak elektronik sedikit pun. Bahkan bukti fisik yang
tertulis juga tidak ada, tidak ada yang mengirimnya ancaman tentang bukti-bukti kejahatan itu. Apakah memang tidak ada yng memiliki bukti itu atau seseorang itu hanya sedang menunggu untuk kemudian menunjukkan taringnya. Apakah ini kondisi tenang sebelum badai?
__ADS_1
“ Apa yang sebenarnya terjadi...” Dia bergumam sendiri tanpa engajak siapapun bicara. Dia mungkin harus takut, atau harus bersiap.
“ Apa yang harus kita lakukan sekarang pak?”
“ Hubungi semua mentri Singa Merah. Katakan ada yang harus dibicaran segera.”
Singa Merah adalah nama rahasia Organisasi kelompok mentri yang dibentuk untuk tujuan khusus, tanpa sepengetahuan negara ataupun partai politiknya. Ini semacam hirarki yang tumbuh ditengah politik, jadi ada penguasa yang berpengaruh besar untuk terpilihnya Mentri, Presiden hingga Anggota Badan Legeslatif. Tidak sembarang orang bisa masuk organisasi ini, karena perkerjaannya yang sangat kotor memaksa mereka membatasi
anggota mereka. Dan hanya orang-orang yang mereka butuhkan yang mereka rekrute.
“ Baik pak akan saya atur pertemuan di tempat yang biasa.”
“ Hmm.”
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu yang diketuk sangat pelan, sepertinya meang sangat hati-hati. Si tangan kanan membukakan pintunya, muncul seorang wanita berseragam membungkuk hormat sepertinya pelayan hotel. Di berjalan mendekati pria paruh baya yang emang bos di tempat itu, lalu berbisik ditelinga bosnya.
“ Ibu Sarah datang pak.”
“ Hmmm, suruh dia masuk.”
Baru aja si pelayan akan meninggalkan tempat, wanita yang bernama sarah sudah duluan masuk memakai rok mini dan sepatu heels berwarna hitam. Tanganya memegang handbag dari merk ternama, dengan perhiasan anggun yang menawan. Berkulit putih bersih, leher jenjang dengan dengan rambut panjang yang ikal dibagian bawahnya. Rambut yang dicat coklat terang itu menambah damage di wajah cantiknya.
“ Hi pak Jabat Sentosa. Anda sibuk?” Bibir seksi itu tersenyum centil. Yang dipanggil Jabat Sentosa adalah bos yang sejak tadi kita bicarakan. Wajahnya sangar Jabat Sentosa langsung berubah jadi ramah lalu tersenyum tullus ke arah Sarah, putri kandungnya.
__ADS_1
*****