
Reca berpikir semalaman tanpa tidur meski sepanjang malam itu juga dia berbaring di tempat tidurnya. Tapi mata cantiknya tetap terbuka hingga fajar menyapa terang. Reca segera bangkit dan menyikat giginya di kamar mandi. Dia sudah memutuskan untuk tidak menangis lagi, dia harus mulai menapakkan langkah pertamanya. Dan dimulai hari ini Reca akan sangat sibuk.
Untuk menemukan semua misteri ini dia tidak bisa mengandalkan dirinya yang lemah, maka dia harus membuat dirinya kuat. Diawali dengan berolah raga rutin untuk melatih fisiknya, sekaligus menjernihkan pikirannya. Untuk sekolah Reca udah mutusin berhenti dari SMA Bakti, soalnya mau home schooling aja biar bisa sama mama terus. Walaupun dia bakal sibuk dengan semua rencananya di kamar, tapi setidaknya dia di rumah bersama mama. Tapi suatu ketika saat Reca sedang menuang juice nya…
“ Peserta capres dan cawapres akan melakukan debat politik pada...” Televisi lagi nayangin salah satu siaran berita.
“ Bersama kita bisa…. “
Suara seorang pria terdengar dari salah satu siaran berita di televisi, Reca membeku. Suara itu seolah menggema di telinganya, suara yang hampir di dengarnya setiap hari lewat earphone miliknya. Suara yang sama yang bicara sama papa sebelum beliau terbunuh.
“ Salah atau tidak, dia tetap tidak berhak hidup.”Reca ingat betul suara itu.
Reca dengan cepat melihat ke televisi tapi sayangnya berita sudah beralih ke informasi lain, Reca tidak sempat melihat wajahnya. Hanya satu yang Reca sadari saat itu adalah berita mengenai salah satu kandidat calon presiden.
Inilah awal yang membuat Reca sering memeriksa siaran berita politik, dia berharap suara itu muncul lagi tapi ternyata suara itu tidak pernah dia temukan lagi. Hingga Reca memutuskan untuk memulai menyelidiki
semua kandidat yang ikut dalam pencalonan Presiden. Dia mencari semua informasi sebisa mungkin lalu membuat kliping dalam satu buku. Semuanya… background, kasir si kandidat berserta sepak terjangnya, keluarganya dan bahkan Reca mencoba mendengarkan suara mereka satu-persatu secara berulang. Itu kenapa mama sering ngeliat Reca begitu giat belajar dan berkutat dengan banyak buku dikamarnya, namun suara itu tidak dimiliki dari semua kandidat yang mencalonkan diri.
Reca sadar bahwa ini tidak akan mudah pastinya. Jadi dia memutuskan untuk tidak kuliah tapi mengambil beberapa kelas kursus seperti kursus komputer, latihan menembak dan bela diri. Reca juga mulai berteman
__ADS_1
dengan para hacker, pembuat alat penyadap dan yang sangat gak terduga… belajar make up juga. Buat apa? Karena make up tidak hanya bisa ngebuat lo cantik tapi juga bisa ngebuat muka lo berubah seperti orang lain. Dan itu sangat berguna saat Reca ingin menyamar atau sekedar ingin wajahnya terlihat cantik tapi tidak memperlihatkan wajah aslinya.
Tidak dipungkuri, Reca mulai menjadi nakal dengan mengenal dunia malam untuk menemukan siapa saja kerabat para pejabat itu yang bisa didekatinya. Eittsss… tapi doi tetap menjaga kesadarannya dengan ga makan ato minum sembarangan, karena buat menyelidiki sebuah informasi lo harus siaga. Mata lo harus melek pake kesadaran penuh.
Ga jarang Reca jadi cewe player yang mendekati lelaki bahkan Oom tua bangka untuk mengumpulkan informasi yang dia inginkan. Dalam aksinya, Reca sering bercumbu dengan hati dingin atau membuat korbannya tidak sadarkan diri dengan ngasih obat tidur. Gimanapun Reca masih menjaga kesuciannya, dalam hal yang satu itu. Meski sering bercumbu tapi Reca tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya terlalu jauh. So, still virgin.
*****
“ Hah… “
Mata Mika menatap nanar bercampur kesedihan, napasnya berulang kali terdengar menahan sesak yang ingin meledakkan dadanya. Lihatlah wajah dingin itu, dia menceritakan semua hal kelam itu tanpa beban. Dan oh.. liat, liat! Matanya ga nangis sama sekali, ga ada air mata setetes pun seolah apa yang diceritakannya bukanlah hal yang bisa meninggalkan trauma hebat. Sekarang Mika tau dari mana tatapan tanpa rasa takut itu berasal. Bagaimana gadis yang dicintainya jadi berubah semengerikan ini.
Aktor tampan itu tertunduk sesaat, kedua tangannya menyangga badannya yang setengah membungkuk tepat di depan Reca. Dengan tenang Re ngebiarin dirinya berada diantara kedua tangan Mika, juga ngebiarin Mika tertunduk di depannya seperti sedang memohon. Lalu Mika menatap mata itu lagi, mata dingin itu masih tetap datar. Apakah Reca sudah mati rasa, separah itukah dia terluka?
“ Re, lo...” Mika ga tau harus bilang apa. Karena sebenernya banyak banget yang dia pengen bilang, tapi tekanan di dadanya begitu sesak sampe dia ga bisa memikirkan kalimat yang tepat.
“ Lo boleh nangis klo lo mau. Nangis bukanlah hal buruk ato pun salah.” Mika meraih tubuh kurus itu lalu memeluknya. Justru dirinya yang tidak bisa menahan airmatanya, sesekali bahunya terguncang menahan tangis dengan menghela nafas. Tapi gagal, air mata itu mengalir pasti meski Reca ga melihatnya.
“ Maafin gue Re karena ga ada di samping lo saat itu terjadi. Maafin gue yang terlalu lama terjebak dengan kebingungan perasaan gue. Maaf karena sangat terlambat menemukan lo, harusnya gue tau lo ada dimana.” Reca hanya terdiam menatap kosong kesembarang arah, dia masih ga tersentuh meski tangisan Mika begitu dekat di telinganya.
__ADS_1
“ Mik, udahan meluknya. Leher gue sakit, dengak muluk.” Suara jutek yang khas, ya ampun Mika sampe kelepasan ga bisa nahan senyum padahal masih sedih banget.
“ Maaf ya..” Mika mengacak gemes rambut Reca, tapi kemudian segera merapikan dengan penuh perhatian. Ya ampun sumpah ne cewe, mukanya masih datar gituh. Ga ngefek apa berantem mesra dari tadi sama inih cowo ganteng. Payah bilang udah, payah bilang pokoknya.
Ini… mata Mika menangkap bekas luka dileher Reca saat merapikan rambutnya, mendadak Mika teringat soal semua bekas luka di tubuh Reca itu. Apakah ini hanya bekas luka biasa yang didapat karena latihan beladiri, atau karena sering jadi pemeran pengganti di film laga. Atau seperti kemaren, karena Reca berkelahi
dengan orang yang mengejarnya. Apa yang sudah dan sedang dihadapi tubuh mungil ini, bukankah ini terlalu
berat untuk dialami seorang wanita? Apakah Reca benar baik-baik seperti yang terlihat sekarang? Atau sebenarnya sosok Reca yangdia kenal sudah lama mati, terkubur oleh trauma yang begitu besar.
“ Tidak...” Ucap Mika dalam hati sambi menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh berpikir yang bukan-bukan. Sekarang dialah yang harus menenangkan diri agar bisa berada di samping Reca.
“ Mik gue udah ceritakan, trus lo sekarang mau apa?” Mika ga menjawab. Matanya menatap lurus ke arah Reca sambil tersenyum. Mika mungkin udah terlalu lama jadi aktor, tapi otak pintarnya masih disitu ga kemana-mana. Belum berkarat, juga cuma mati suri bukan mati total jadi masih akan bekerja dengan baik kalo digunakan.
*****
__ADS_1