
BRAKK!! Sekonyong-konyong Reca ngebuka pintu kamar Mika secara kasar, si aktor ganteng aja ampe kaget dan langsung terduduk dikasurnya padahal tadi niatnya mau rebahan.
“ Mika nama bokap lo… Darmawangsa?”
“ I, iya Re. Kenapa?” Reca menahan sesak yang merambati napasnya, ga pasti apa tapi ini bikin dia deg-degan.
“ Apa bokap lo pernah cerita soal, Branu Sanjaya?”
“ Branu apa Re?”
“ Branu Sanjaya.” Mika menggeleng dengan muka yang bingung banget, belum ngerti soalnya.
“ Pyuuhhhh..” Sambil meremas rambutnya Reca pergi meninggalkan kamar Mika dan langsung keluar. Mika pengen nyusul tapi dia tau Reca tidak akan mengatakan apapun. Jadi dia mutusin untuk ke kamar Reca mencari jejak yang mungkin bisa ngasih tau sesuatu.
Dan bener aja Mika langsung menemukan beberapa buku dongeng diatas meja kerjanya yang udah dilinggkari beberapa bagian halamannya yang ngebuat Mika langsung ngeh pesan rahasia yang disembunyikan sang ayah dalam dongeng ciptaannya.
“ Darmawangsa bersama Branu Sanjaya menjaga Winter Glow...” Kaya sinyal yang bergerak cepat, Mika otomatis ingat dengan tatto di pinggang Reca yang ga sengaja dilihatnya dulu. Jadi, Winter Glow itu sesuatu yang sangat penting disini. Entah itu sebuah benda atau kata rahasia, Mika pun langsung mencari tentang Branu Wijaya di internet, dan muncullah kasus kematian seorang pengacara yang ditembak mati kediaman pribadinya yang tak lain adalah ayah kandung Reca.
“ Huhh..” Mika menelan ludah karena tenggorokkannya mendadak terasa kering.
Bagaimana bisa ini… jadi kedua orang tua mereka saling mengenal? Tapi papa ga pernah mengundang sekalipun keluarga Reca ke rumahnya saat hari besar apapun, Mika juga ga inget klo Reca kecil pernah bermain dengannya. Sama sekali ga ada kenangan soal itu.
Mika kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa membongkar laci-laci yang berisi album kenangan. Tidak satupun disana yang menunjukkan kehadiran Oom Branu Sanjaya alias papanya Reca, tidak satu pun. Mika mengumpulkan segenap ingatannya, semasa hidupnya juga beliau tidak pernah menceritakan siapa itu Branu Sanjaya.
Yang Mika ingat saat dia kecil tepatnya sudah menginjak usia tujuh tahun, sudah sedikit lebih besar dari terakhir dia ke Finlandia.
“ Sang Pengelana...” Mika kecil menatap buku dongeng yang baru papanya buat untuknya. Saat itu beliau berjongkok untuk mengimbangi tinggi Mika yang masih bertubuh mungil seraya tersenyum penuh kasih.
__ADS_1
“ Putri Kristal adalah Yeye, Mika. Kalau kamu kangen kamu bisa membaca ini, jadi kamu tetap bisa ingat sama Yeye hingga kita bisa menemukannya.”
Saat itu Mika menatap buku dongeng itu dengan mata berbinar senang, dia mendekap buku itu mewakili kerinduanya.
“ Apa kita bisa ketemu sama Yeye pa?”
“ Pasti sayang, papa yakin kita bisa menemukannya.”
“ Yeye masih ingat sama Mika ga ya pa?”
“ Selama kamu mengingatnya dalam hati sayang, maka Yeye juga akan mengingat Mika dalam hatinya.”
Sejak saat itu sesekali papa berulang kali bilang…
“ Jangan pernah nyerah untuk temuin Yeye ya sayang, papa yakin Yeye juga ingin ketemu dengan Mika.” atau kadang bilang…
Ingatan-ingatan itu juga tidak membantu banyak buat Mika mendapatkan petunjuk tentang kaitan dongeng yang berkisah tentang Yeye sahabat masa kecilnya dengan papanya Reca, sementara Yeye dan Branu Sanjaya berada di periode yang berbeda dalam kenangan Mika. Nama Branu Sanjaya tiba-tiba muncul di buku dongeng Pengorbanan Matahari untuk bulan.
“ Pengorbanan Matahari untuk bulan.” Iya benar buku dongengnya, dalam buku Sang Pengelana sebenarnya papa menceritakan kejadian nyata yang kemudian dikemas dalam bentuk dongeng. Jadi mungkin aja kan hal itu juga berlaku untuk dongeng tentang Matahari ini. Mika membaca buku dongeng itu dengan seksama beserta memperhatikan setiap detail gambar yang dibuat papanya, belajar dari pesan yang ditemukan Reca dalam gambar ilustrasi.
Gilak, ternyata benar aja dugaan Mika ga meleset. Di salah satu halaman Mika ngeliat api pijar yang membalut matahari pada gambar ilustrasi terdapat inisial huruf “B” dan dihalaman lain pada gambar ilustrasi cerita yang memperlihat gambar bulan, disebelahnya ada bintang kecil yang membentuk inisial huruf “D”.
“ Jika B adalah inisial Branu sanjaya dan D adalah inisial Darmawangsa, Maka Matahari adalah Branu dan Bulan adalah Darmawangsa. Matahari berkorban untuk bulan, artinya Branu melakukan pengorbanan untuk Darmawangsa.” Mika terpaku sebentar, kira-kira apa bentuk pengorbanan itu? Saat tengah berpikir Mika ga sengaja ngeliat halaman yang terbuka dibuku dongeng Pelukis yang putus aja. Dihalaman itu sedang mengilustrasikan seorang pelukis yang sedang melukis diatas kanvas, disusut kanan bawah kanvas itu ada sebuah coretan yang mirip tanda tangan persis seperti tanda yang ditinggalkan pelukis pada umumnya dilukisan yang mereka buat akan dibubuhi tanda tangan disertai tahun atau tanggal.
Goresan yang sangat kecil dengan bentuk tak beraturan itu tidak bisa dibaca dengan jelas tapi awalan garis itu membentuk huruf D yang tegas, sehingga masuk akal jika ujungnya adalah huruf A, R, M dan A yang ditulis bersambung.
“ Apakah ini maksudnya Darma?” Pupil bergerak-gerak menjelaskan bahwa Mika sedang menganalisa temuannya.
__ADS_1
Cerita tentang pelukis ini, jika itu juga dongeng yang berdasarkan kejadian nyata maka artinya sang pelukis yang tak lain adalah Darmawangsa. Maka kesimpulannya...
" Darmawangsa atau papa secara tidak sengaja mengetahui sebuah tindakan kejahatan, lalu Branu Sanjaya yang berkorban untuk Darmawangsa...." Mata Mika membesar diikuti wajah yang memucat mendekati warna kapas. Jika analisanya benar maka kematian papa Reca apakah disebabkan oleh ayah Mika sendiri? Tapi, papa nya sendiri sudah lebih dulu meninggal dunia jadi bagaimana bisa dia menyebabkan kematian papa nya Reca.
" Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Apa yang sebenarnya sudah papa lakukan? Dan... dan bagaimana bisa mereka saling mengenal?"
Tunggu, apakah Reca menyadari ini?
Sementara itu Reca ya udah sampai di Vale Hotel kamar 907 untuk sesaat terpaku didepan pintu kamar president suite itu untuk mengatur napas, mengendalikan debaran jantungnya yang sungguh ga sabar. Perlahan Reca mengetuk pintunya lalu menekan tuas pintu, terkejut ternyata tidak dikunci dan saat dia masuk Tante Melan menyambutnya dengan senyuman Rahma dengan wajah yang sama sekali ga terkejut. Seolah dia udah menduga klo Reca bakalan datang, bukan tapi tepatnya dia sudah menunggu Reca mendatanginya terbukti dari dua cangkir teh yang disiapkan di atas meja padahal wanita paruh baya itu hanya sendiri di kamar hotelnya.
" Hallo cantik."
" Gimana Tante bisa tau nama Re, bagaimana bisa Tante kenal Re padahal kita ga pernah berkenalan sebelumnya?"
" Hahaha kamu sangat tidak sabar ya, kamu baru aja sampe Re. Tidak bisakah kamu dulu dulu dan menikmati teh yang udah Tante siapkan?"
Reca melihat teh itu masih mengeluarkan asap dari panasnya, seakurat itukah perkiraan wanita pengusaha ini? Dia bahkan tau kapan teh itu harus dibuat hingga tamu yang ditunggu datang disaat tehnya masih hangat. Serem ga sih mama si aktor ini?
" Tante?" Tante Melan meletakkan teh ynag minumnya dengan anggun layaknya bahasa tubuh pengusaha berkelas pada umumnya.
" Bagaimana bisa kamu lupa sama Tante Re? Padahal Tante nyaris aja jadi calon mertua kamu."
" Apa?"
" Jika aja kejadian yang lebih dari dua puluh tahun yang lalu tidak pernah terjadi."
" Kejadian dua tahun lalu? Apa yang..." Reca mengingat bahwa kematian papa terjadi 10 tahun yang lalu tapi Tante Melan bilang dua puluh tahun yang lalu.
__ADS_1
" Apakah Tante barusan bilang dua puluh tahun yang lalu." Wanita berumur empat puluhan tahun itu hanya tersenyum seraya meminum tehnya.