WINTER GLOW

WINTER GLOW
Jantung Singa Merah


__ADS_3

" Kenapa kau tidak pernah memberitahu apapun soal ini?" Sentia Mulyadi melakukan pertemuan rahasia dengan Jabat Sentosa diluar sepengetahuan anggota Singa Merah. Dari cara mereka bertemu dan kedekatannya, sepertinya keduanya membina hubungan simbiosis mutualisme diluar organisasi. Biasanya hubungan rahasia yang saling menguntungkan ini memiliki maksud tersendiri diluar organisasi, mungkin saja Sentia Mulyadi dan Jabat Sentosa membangun koneksi mereka sendiri untuk tujuan yang menguntungkan tentunya.


" Apa kau pernah lihat Singa Merah gagal menyelesaikan masalah yang kalian ciptakan? Esa mungkin masih muda tapi dia pintar dalam segala hal dan memiliki kemampuan mencari jalan keluar yang sangat baik."


" Jadi memang benar kau mendukungnya."


" Tidak Sentia, tidak. Aku diam bukan berarti terima begitu saja."


" Lalu sampai kapan kau terus menjadi kacungnya, apakah kau tidak lelah Jabat? Bagaimana rencana kita membangun hirarki sendiri, rencana yang kau janjikan akan menjadikanku presiden selanjutnya dan pernikahan anak kita. Apa kau sudah lupa?"


" Heehh, untuk apa kau memeras otakmu dan mengotori tanganmu jika ada orang lain yang bisa melakukannya. Bagaimanapun tragedi delapan tahun yang lalu hingga detik ini belum terpecahkan. Dimana jantung Singa merah itu berada (sebutan untuk FD yang berisi semua informasi kejahatan yang saat ini dipegang oleh Reca, sengaja disebut dengan nama itu agar tidak diketahui arti yang sesungguhnya)."


" Benda itu sampai detik ini belum ditemukan Jabat?" Sentia Mulyadi tampak khawatir.


" Hmmm... tidak perduli bagaimanapun aku mencarinya masih tidak ditemukan. Bahkan setelah mengajak Jen Kusniar dalam Singa merah, hal itu tidak juga membuahkan hasil. Awalnya aku dan Esa berpikir Jen Kusniar tau dimana keberadaan jantung singa erah itu. Karena dia hingga detik ini masih mengawasi rumah Branu Sanjaya dan putrinya."


" Lalu?"


" Dari cara dia (Jen Kusniar) tidak menjawab ajakan singa merah, dugaanku dia juga masih ragu apakah jantung singa merah itu ada pada kita. Dan dia juga tidak ingin gegabah dengan menolak sebelum memastikannya sendiri."


" Jika dia menginginkan benda itu, maka artinya dia juga tau apa isinya. Apakah dia orang yang berada dalam daftar? (termasuk orang yang memiliki catatan kejahatan yang tertera buktinya dalam jantung singa merah)"


" Tidak ada." Sentia Mulyadi mengangkat alisnya, sedikit terkejut karena jika Jen Kusniar tidak memiliki catatan kejahatan dalam daftar itu lalu kenapa dia menginginkannya?


" Bagaimana mungkin tidak ada?" Jabat Sentosa melempar pandangan bingung ke arah Sentia Mulyadi.

__ADS_1


" Kita semua tau bagaimana sepak terjang Jen Kusniar dalam bisnis kotornya. Tapi kenapa kita tidak memiliki catatan tentangnya?"


" Kau lupa? Dia adik dari siapa? Rayan Abdi Kusniar, ayahnya Paradisa Kusniar. Haruskah aku jelaskan lagi kenapa?"


" Apaaa?" Sentia mulyadi sangat marah, bukan karena baru tau Jen Kusniar adik dari Rayan Abdi tapi....


" Rencanamu cacat. Jika begitu bagaimana bisa kau mengendalikan semua orang dengan jantung singa merah jika ada salah seorang yang tidak terpengaruh dengan benda itu. Cuuhh." Meludah karena rasa kecewa luar biasa.


" Maka artinya Jen Kusniar adalah ancaman yang sangat serius. Dan mungkin saja dia orang justru naik jadi presiden." Jabat Sentosa tidak berkomentar apapun, dia hanya terpaku karena baru menyadari sesuatu. Apakah Rayan Abdi juga memiliki rencana cadangan seperti dirinya?"


***


" Reca." Suara wanita yang sangat lembut terdengar parau mendekati Reca yang baru aja selesai mengganti bajunya. Masih di acara fashion week.


Reca terpaku mencoba mengenali wajah yang menyapanya, dia nyaris gagal kalau tidak melihat Raka yang entah sejak kapan sudah ada di lokasi dan Mika yang datang kemudian berdiri dibelakang wanita itu.


" Gue Desy, Re. Sahabat Lo." Desy tidak peduli sedingin apa Reca menatapnya, dia hanya berhambur memeluk sahabatnya yang sudah sangat lama dia rindukan.


" Gue Desy, sahabat Lo di SMA Bhakti." Raka sekarang mengerti apa yang membuat Mika sedih tiap kali melihat mata Reca yang dingin, karena sekarang Raka menyaksikannya sendiri.  Reca tidak membalas pelukan Desy yang tulus merindukannya, dia hanya bereaksi seperti patung es tanpa jiwa. Wajahnya tanpa emosi dan hanya melihat ke sembarang arah mewakili kenyataan bahwa dia tidak memiliki empati apapun.


" Kemana aja Lo Re? Gue kangen Lo."


" Lo Desy?" Desy melepaskan pelukannya, mengusap air matanya lalu tersenyum sedih.


" Iya ini gue Desy, sahabat Lo yang dulu selalu sibuk sama acara sekolah tapi selalu berhasil ngasih acara pensi yang spektakuler buat kalian."

__ADS_1


" Hmmm..." Reca ngerasa canggung, ga tau harus apa. Dia melihat ke arah Mika berulang kali meminta petunjuk apa yang harus dia lakukan dengan orang sedang menangis di depannya. Mika cuma mengangguk pelan untuk bilang klo Reca ga perlu khawatir, bersikaplah biasa saja Desy akan memakluminya.


" Oiyaaa... akhirnya ya. Mereka berdua udah cerita sama gue klo lo saa Mika udah jadian. Gue ikut seneng Re, seandainya aja ada Angel dan Bayu disini." Reca tersenyum, terpaksa. Sumpah dia canggung banget rasanya, udah terbiasa ga bersosialisasi sama orang-orang trus sekarang ketemu sahabatnya dulu seperti dipaksa untuk balik jadi Reca yang dulu. Yang ceria penuh canda dan rame, sementara sekarang Reca benci itu.


*****


" Udah! Lo udah terlalu banyak minum Van." Esa menarik gelas dari tangan Evan yang terlihat setengah mabuk. Sejak kembali dari buntutin Reca hingga ke rumah Mika, Evan terus meminum alkohol tanpa henti. Setelah acara fashion weeks berarkhir Evan yang masih ga terima dengan pernyataan Mika, secara diam-diam mengikuti Reca dan Mika hingga ke rumah mereka. Lebih terkejut lagi mengetahui klo mereka berdua tinggal serumah, rasanya dia ingin lompat dari mobil dan mengahajar Mika habis-habisan tapi niatnya urung karena pemandangan yang disaksikannya lebih menyakitkan lagi. Dibalkon lantai dua yang ga lain kamarnya Mika, Evan melihat dari halaman kedua sejoli itu tengah berbicara mesra lalu berakhir dengan ciuman panas yang membakar Evan dari ujung kaki hingga ujung ubun-ubunnya. Reca bahkan terlihat membalas ciuman itu, sementara saat dengan Evan Reca hanya diam tanpa bereaksi lalu menyudahinya. Reca terlihat begitu pasrah saat Mika mendekapnya begitu erat dan jemarinya yang nakal mulai bermain dibalik pakaian gadis itu, detik itu juga seperti sebuah pengakuan buat Evan. Pria itu tau benar Reca tidak pernah membiarkan siapapun menyentuhnya kecuail dia menghendakinya. Dan ketika gadis itu menghendakinya maka artinya... dia sedang jatuh cinta bukan? Ah... Evan menutup matanya, menyudahi ingatan menyakitkan itu  lalu kembali meneguk alkohol.


" Apa lo juga ngerasa sesakit ini Sa?" Esa terdiam, mukanya seketika membeku karena pertanyaan itu.


" Saat lo akan terbiasa dan dengan sendirinya lo ga akan peka lagi sama rasa sakit.


" Heh... jadi lo ngeralin dia?" Evan tersenyum sinis.


" Ga." Evan menoleh ditengah sisa kesadarannya.


" Karena apa yang gue inginkan, selalu gue dapatkan."


" Gimana klo ga?"


" Maka tidak ada seorang pun yang boleh mendapatkannya."


" Maksud lo Sa?"


" Tergantung, apakah bisa gue rebut ato ga? Klo ga maka dia harus mati." Esa tersenyum sinis meneguk Champagne nya. Evan ga begitu dengar apa yang Esa bilang  karena dia mulai mabuk dan nyaris tidak bisa membuka mata.

__ADS_1


*****


__ADS_2