
“ Mah…?
“ Kendra mengernyitkan keningnya, mencoba meminta penjelasan ke ibunya apa yang dilakukan seorang dokter disini. Ditengah sekumpulan pejabat yang memiliki kepentingan politik. Sampai dia harus meminta izin pada rumah sakit tempat dia bekerja.
“ Ayolah Ken, kasian papa udah nunggu di dalam. Mungkin dia hanya ingin membanggakan putranya.” Kendra geleng-geleng kepala tapi akhirnya masuk juga.
“ Selamat siang, ehmmm… “ Kendra menyapa begitu memasuki ruangan Private room disalah satu Cafe. Gugup, canggung.
“ Waahh… ini dia sudah datang.” Senyum Sentia Mulyadi, si mentri perdagangan langsung sumringah begitu
ngeliat putra nongol dari balik pintu.
“ Kendra Om.” Memperkenalkan diri dengan hormat.
“ Hahaha… dia mau pamer kayanya. Mentang-mentang punya anak dokter.” Ghani Wijaya
“ Hahahaha bisa aja. Bukan pamer cuma akan mengenalkan calon Direktur Rumah sakit Sentanum. Hahaha...” Kendra langsung terbatuk-batuk denger papanya bilang inih. Sempet ngelirik juga buat ngeliat semua ekspresi para orang tua yang hadir di sini dan papanya juga. Bukan tanpa maksud Sentia Mulyadi berambisi menjadikan anaknya Direktur rumah sakit kenamaan milik pemerintah itu, banyak tujuan politik yang ingin dicapainya.
“ Sekarang bertugas dimana Ken?” Seorang pria paruh baya dengan wajah yang sangat ramah mengajak Kendra ngobrol. Daruma Tanjung, Mentri Pertahanan.
“ Sekarang masih bekerja di Rumah sakit Kenara Om.”
“ Iya ya… tapi sebentar lagi pasti akan di Sentanum.” Kendra salah tingkah, ga tau harus komentar apa.
“ Kendra?” Terdengar suara perempuan muda yang membisukan tawa para pejabat besar itu, mereka juga langsung melihat ke arah asal suara.
“ Ah maaf menunggu lama.” Jabat Sentosa datang bersama putrinya, Sarah. Dan Sarah mengenali kakak kelas yang tampan itu.
“ Kalian saling kenal?” Daruma Tanjung
“ Hahahaha… hahahhaa..” Entah kenapa Sentia Mulyadi tertawa sangat senang saat tau Sarah dan Kendra saling mengenal.
“ Waahhh luar biasa yaaa, seperti niat untuk berbesan akan terwujud sebentar lagi.” Ghani Wijaya
“ Sarah.” Jabat Sentosa memberi kode pada putrinya untuk mengajak Kendra ngbrol di ruangan lain. Sarah tertunduk, dia tau ada hawa perjodohan disini tapi dia tetap bersikap santai.
“ Ken, kamu temenin Sarah ya. Kamu pasti bosan ngobrol bareng temana papa disini.”
“ A, ah I iya pa.”
Kendra dan Sarah sekarang berada di halaman Cafe. Mereka berdu amemilih bicara di luar ruangan untuk menghindari hawa yang menyesakkan. Gimana ga sesak, tiba-tiba tau klo mereka berdua sedang dijodohkan sama orang tua mereka.
“ Makasih ya sar udah selametin aku dari pertemuan yang membosankan.”
__ADS_1
“ Hahahaha.. iya sama-sama. Aku juga bakalan terjebak di sana klo ga ada kamu.”
“ Aku diminta anterin kamu pulang sama papah.”
“ Hmmm gimana ya… Aku lebih seneng kalo kamu sendiri yang berniat nganterin aku.” Sarah menggoda sambil tertawa, dia mencoba bercanda.
“ Hahaha. Aku ralat deh, aku anterin kamu pulang gimana?”
“ Emangnya dokter kaya kamu ga sibuk Ken?”
“ Sekalian jalan kok. Aku mau balik ke rumah sakit.”
“ Boleh deh.” Sarah tersenyum.
****
BRAKKK!
Reca membanting hadphonenya ke meja, mukanya kesel banget. Ga tau sih apa yang ngebuat dia marah sebenarnya, karena Kendra yang keluar dari ruang pertemuan itu sehingga dia ga bisa dengar apapun atau karena
dia dengar Kendra bakal nganterin Sarah pulang. Reca lalu berpikir sebentar kemudian berdiri menghampiri lemari pakaiannya. Iyahhhh…. Bukankah Mika memberikan semua pakaian(wanita) cantik ini untukknya.
“ Re gue… “ Mika berniat masuk ke kamar Reca karena ada yang mau dia bilang. Tapi pintu kamar itu terbuka dikit, dan Mika ngeliat Reca yang berdandan trus mengenakan mini dress yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Gaun berwarna olive itu sederhana tapi ngebuat Reca terlihat sangat girly dan cantik, apalagi denga heels putih yang dia kenakan. Mata Mika sulit percaya, seolah gadis itu tidak pernah terlihat tomboy sebelumnya.
“ Ak.." Reca terkejut saat akan keluar Mika tepat di depan pintu. Memandangnya sedih tapi ga berkata apapun.
“ Mau kemana?”
“ Lo ga kerja?”
“ Jawab aku Re. Kamu masih belum lupakan hal gila apa yang bakalan aku buat klo kamu masih ga terbuka sama aku?” Eh tunggu, aku? Kamu? Sejak kapan neh anak ngomongnya kaya gini.
“ Gue mau jalan bentar, ga boleh?”
“ Kemana? Sama siapa?”
“ Lo pacar gue? Rusuh gitu gue mau kemana?”
“ Kalo itu harus, biar lo bisa terbuka sama aku. Maka iya. Jadi pacar kamu akunya Re?”
“ Mika lo sakit?”
“ Re please.”
__ADS_1
“ What?” Reca pergi gitu aja tapi Mika menarik tanganya dan memeluk pinggangnya.
“ RE!” Suaranya tegas, ngasih peringatan ceritanya.
“ Urus aja urusan lo OK? Klo lo risih liat gue… gue bisa cabut dari rumah lo hari ini juga. Masalah lo apa sih? Tolong biarin gue dengan urusan gue.” Reca mendolak Mika dengan kasar buat ngejauh darinya.
“ Udah gue bilang kan klo gue ga mau repot. Klo lo emang mau bantuin gue, liatin ke gue klo lo mampu. Kita bukan lagi main film Mika, yang pas kelahi bisa pakek pemeran pengganti.” Tambah Reca lagi. Ehmmm… dalem iyah. Emang ga ada basa-basinya, tapi bener juga sih.
Mika ngelepasin Reca dengan berat, tapi cewe itu bener. Ga cukup cuman ngomong doang buat ngelindungi sahabatnya itu. Nyatanya Reca sendiri sering bertemu dengan para pria yang ingin menghabisi nyawanya. Mika
tertunduk dengan tangan yang dimasukkan ke saku celananya, tapi kemudian alis kirinya terangkat. Baru sadar klo harga dirinya barusan diinjak-injak.
Sementara itu Reca memacu mobilnya, menuju rumah sakit tempat Kendra bekerja. Begitu sampe di rumah sakit dan turun dari mobil, Reca mengambil belatih kecil dari tasnya lalu menoreh lengannya sendiri. Bukan pergelangan tangan tapi lebih dekat ke lipatan siku.
“ AK..” Reca menahan sakitnya, lalu darah segar mengalir dari luka itu. Sambil berjalan ke UGD, Reca ngebuang belatihnya ke tempat sampah terdekat. Udah gilak si Reca ini kurasa, ngapainlah dia lukai tanganya klo mau
berobat kian ke UGD kan wak. Bunuh diri kok nanggung, masak bilang-bilang. Adoohhh….
“ Ada yang bisa dibantu bu?”
Seorang perawat menyambutnya di depan UGD, Reca yang nyelonong masuk ga ngehiraukan pertanyaan si perawat. Di malah sibuk celingukkan nyari seseorang, dan begitu menemukan wajah Kendra yang sedang berdiri di
nurse station Reca menghampirinya. Tanpa sepatah katapun dia memperlihatkan tanganya yang terluka, Si Kendra langsung kaget dong.
“ Re? Kenapa…?” Napas Kendra kerasa berhenti sesaat. Buru-buru dokter tampan itu ngarahin Reca ke tempat tidur pasien. Dengan wajah panik dia membersihkan luka Reca tanpa minta bantuan perawat, dan tau… se-UGD dibuat bengong karena ini.
Bukan hanya cara Reca yang dari dateng aja udah aneh, mana pas dibersihin lukanya ga ada ngeluh sakit. Meringis ato bilang aduh juga enggak, yang ada mata Reca fokus ngeliatin muka Kendra yang sibuk ngebersihin
luka dengan muka cemas. Udah gitukan dokter paling ganteng pulak si kawan ini, udahlah heboh perawat dibuatnya. Menggibah masal lah mereka, Pacarnya kah itu? Eh menurutmu lah dulu?
“ Ini kenapa Re?”
“ Hmm?”
Memberi jawaban ambigu sehingga Kendra menatap Reca buat minta penjelasan. Tapi justru hatinya yang berdebar, dia baru sadar rambut Reca udah panjang aja. Trus hari ini kok… cantik banget.
*****
__ADS_1