WINTER GLOW

WINTER GLOW
Persahabatan Yang Dikira Dangkal


__ADS_3

Melan meremas lengan baju suaminya,


rasa hawatir yang pernah dia takutkan kembali merambati pikirannya


sambil menatap Branu yang masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.


Namun Darmawangsa menyuruh istri dan Branu duduk seraya memberikan


isyarat bahwa istrinya harus tenang dan dia memastikan semua


baik-baik saja. Dengan ******* napas berat Darma mengawali ceritanya


bagaimana lahirnya sosok Muliapati itu, saat itu entah kenapa Darma


begitu percaya pada Branu Sanjaya tanpa prasangka buruk sedikitpun


padahal mereka baru saja saling mengenal belum lama ini. Dan dalam


ceritanya itu Melan juga baru tau kalau ternyata tidak semua penjahat


yang dilukis suaminya berasal dari arahan kepolisian yang


berkerjasama dengan Darma selama ini, tapi ada kalanya bebera


penjahat yang Darmawangsa temui sendiri atau bahkan dicari taunya


sendiri. Karena setelah berhasil memecahkan satu kasus mulai timbul


rasa ketagihan dalam diri Darmawangsa yang tidak bisa dia kendalikan


gejolaknya. Bahkan Darmawangsa juga mengaku bahwa dia sedang


menyelidiki kasus pembunuhan kandidat calon Presiden yang tidak


sengaja dia dengar beberapa minggu lalu, dan dia berhasil


mengumpulkan beberapa bukti.


Hari itu setelah mendengarkan semua


ceritanya Branu tidak berkomentar apapun, dia hanya pamit pulang dan


terlihat murung. Selain itu Branu juga tidak lagi sering menghubungi


Darma seperti biasanya, dan janji mereka mengenai liburan bersama


mereka di Filandia juga dibatalkan sepihak oleh Branu melalui sebuah


surat singkat yang dikirimnya. Darmawangsa dan Melan merasa sangat


aneh dengan perubahan itu, dan merasa bahwa Branu Sanjaya menjauhi


mereka tapi suatu hari ayah Reca itu datang ke rumah Darma tanpa


memberi kabar terlebih dahulu.


Branu Sanjaya datang untuk


menjelaskan sejauh mana nama Muliapati berkembang diluar, begitu


ditakuti sekaligus dicari oleh para penjahat-pejahat kelas kakap.


Branu memperingatkan agar tidak menyimpan jejak apapun yang bisa


menghubungkan Darma dengan Muliapati, karena bisa saja hal buruk akan


terjadi pada mereka. Branu Sanjaya yang bekerja sebagai pengacara


telah banyak mendengar tentang Muliapati, yang hingga dijuluki Mata


Tuhan karena tidak pernah diketahui sosoknya tapi seolah selalu bisa


melihat secara langsung pelaku kejahatan. Besarnya nama Muliapati


membuat orang beranggapan bahwa penulis dongeng itu adalah orang yang


sangat ahli dan terampil dibidang penyidikan kejahatan, dan itu


membuat beberapa kelompok penjahat bersikap sangat serius dengan nama


ini.


Setelah memberi peringatan itu Branu kembali pamit pulang


dengan wajah murung penuh kecemasan, entah apa yang sedang


dipikirkannya tapi Darma merasa saat itu bahwa Branu tau sesuatu yang


dia tidak tau, sekaligus merasa bahwa sahabat yang belum lama


dikenalnya itu bisa dipercaya. Hingga kembali timbul ide gila dalam


benak Darmawangsa.


*****



Ha, hallo..” Darmawangsa menelpon sambil terbata-bata, tubuhnya


berkeringat dan gemetar ketakutan di rumahnya.


“ Iya hallo.


Mas Darma?” diseberang telpon Branu menjawab.


“ Bi, bisa ke


rumah sekarang Branu aku butuh bantuanmu.”


Darmawangsa


langsung menutup telponnya setelah mendapat jawaban Branu yang


menyanggupi permintaannya. Tangannya masih gemetar tapi tetap


mengemasi barang-barang yang dirasanya perlu, setelah itu dia


membakar semua buku dongeng karangannya beserta semua gambar yang


sudah dibuatnya. Kecuali sebuah buku donger berjudul Sang Pengelana di Negeri tanpa Malam yang


beberapa hari lalu diberikannya pada Mika.


“ Mas

__ADS_1


Darma ada apa?”


“ Apa


ada yang megikuti mu?”


“ Tidak


mas, apa terjadi sesuatu?”


“ Inih….


Di kaset ini ada semua hal yang ingin aku ceritakan tapi sepertinya


tidak akan sempat. Tapi sebelumnya waktu liburan terakhir kita di


Finlandia, aku tidak sengaja mendengar kau dan putrimu menciptakan


sebuah nama indah untuk Finlandia saat kita bermain di padang salju


yaitu Winterglow. Jadi aku menggunakan nama itu untuk membuat pola


cerita, password hingga petunjuk yang akan membuat Mika mengerti apa


yang terjadi dengan ayahnya suatu hari nanti. Untuk itu aku minta


tolong kepada mu Branu, tolong simpat kaset CD ini baik-baik dan


pahami isinya karena hanya kamu yang bisa aku percaya.” Branu


melihat wajah ketakutan Darma yang begitu besar, matanya juga mulai


menangis dengan sangat putus asa membuat Branu terdorong begitu saja


untuk menuruti permintaan Darma.


“ Mas


apa yang kamu maksud.. sepertinya tidak akan sempat?”


“ Seperti


yang kamu bilang, cepat atau lambat mereka akan tau siapa itu


Muliapati. Dan sekarang mereka mungkin sedang menuju kesini, jadi


tolong Branu...Melan….”


Darma


menarik tangan Branu ke arah kamarnya kemudian langsung membuka pintu


kamar itu, disanan Mika sedang tertidur pulas sementara Melan


bercucuran keringat dan terlihat mengalami perdarahan. Dia sangat


kesakitan tapi menahan erangannya karena tidak ingin Mika terbangun.


“ Tolong


bawa Melan ke rumah sakit dan jug a Mika Branu, aku tidak tau siapa


yang telah menungguku diluar sana dan mereka bisa dimana saja


mengingat mereka orang-orang dunia politik yang sangat berkuasa dan


mereka tau Melan adalah istri Muliapati maka mungkin nyawanya tidak


akan tertolong. Tolong Branu.” Memohon dengan kedua tangan yang


menggenggam tangan Branu sambil gementar.


Tanpa


banyak bicara Branu langsung menghampiri Melan dan memapahnya bersama


Darma agar masuk ke mobil, kemudian Branu kembali untuk menggendong


Mika.


“ Maaf


kan aku Melan, karena sudah membuat keluarga kita seperti ini.”


Darma mengecup kening istrinya yang luar biasa itu, lalu bergantian


mencium Mika dan memberikan pelukan erat.


“ Papa


sayang kamu Mika, dan papa percaya kamu akan mengerti suatu hari


nanti.”


“ Aku


tidak tau mas apa yang sedang kau hadapi, tapi kembalilah dengan


selamat. Aku akan jaga mereka seperti keluargaku sendiri. Tapi kau


juga harus menjaga dirimu.” Ucap Branu sebelum masuk ke dalam


mobil, Darma mebalasnya dengan anggukan.


Itu


adalah kalimat terakhir yang Branu ucapkan sekaligus menjadi salam


perpisahan, Darma menatap Branu dengan jutaan terimakasih dan rasa


syukur karena telah memiliki teman yang tidak pernah dia bayangkan


sebelumnya akan mempertaruhkan keselamatan keluarganya pada orang


itu.


Begitu


tiba di rumah sakit, seperti dugaan Darma banyak terlihat orang


-orang yang sangat mencurigakan. Mereka seperti sedang mencari


seseorang yang tidak diketahui wajahnya tapi sudah mengantongi


beberapa petunjuk dan mungkin saja nama Darmawangsa Setiahaja tidak

__ADS_1


boleh diucapkan disini.


“ Dokter


tolong dia sedang hamil dan saat ini mengalami perdarahan.” Bicara


ngos-ngosan sambil menggendong Mika yang tertidur.


“ Ibuuu…


siapa namanya bu.” Prosedur awal petugas kesehatan saat pasien


masuk melalui pintu emergency maka mereka akan menilai kesadaran


pasien dengan bertanya lalu mendengar jawaban dan melihat respon


pasien.


“ Me,”


“ Frianka


dokter.” Branu cepat memotong ucapan Melan sebelum dia


menyelesaikan jawabannya, dia takut jika nama itu disebutkan akan ada


yang menyadari siapa Melan sebenarnya. Dan hanya nama Frianka yang


terpikirkan saat itu.


“ Maaf


anda siapanya pasien pak?” Branu tampak berpikir sebentar tapi


kemudian menjawan dengan mantap tanpa ragu.


“ Saya


suaminya pak, dia istri saya dan ini anak saya.” Branu memeluk Mika


erat, jujur dia juga sangat takut tapi nuraninya memaksa dirinya


untuk kuat.


“ Baik


silahkan mendaftar dibagian administrasi, saya akan tangani


pasiennya.”


“ Ba,


baik dokter.”


Selesai


penanganan perdarahan karena keguguran tanpa menunggu pemulihan


padahal wajahnya masih sangat pucat, Melan langsung meminta pulang


dari rumah sakit dan minta diantar ke rumah peninggalan orang tuanya


yang selama ini bisa dibilang sangat jarang dia kunjungi hingga tidak


banyak yang tau sosok Melan yang memang tidak mudah bergaul dengan


orang lain itu.


“ Terimakasih


Mas Branu dan mohon maaf membuat mas meninggalkan Frianka dan Reca


beberapa hari ini.”


“ Bagaimana


dengan Mas Darma, apakah sudah ada kabar?” Melan hanya diam menatap


kosong ke arah jendela.


“ Dia


mungkin sudah menghembuskan napas terakhirnya, tapi tidak ada yang


bisa kulakukan untuk menyelamatkannya.” Luar biasanya Melan tidak


menangis sedikitpun setelah kehilangan bayi dalam kandungannya dan


suaminya.


“ Lalu


bagaimana kita menjelaskan ayahnya pada Mika?”


“ Sementara


ini aku akan bilang papanya ke luar negeri karena suatu pekerjaan.”


“ Sampai


kapan?”


“ Entahlah...hingga aku rasa siap


menjelaskannya. Keselamatan Mika saat ini adalah segalanya begitu


juga psikisnya, aku tidak mau kematian papa yang sangat dekat


denganya itu mempengaruhi tumbuh kembangnya. Dan kamu mas sebaiknya


tidak terlibat dengan kami lagi karena itu bisa membahayakan dirimu


dan keluargamu.” Mata Melna yang tampak kosong itu memperlihatkan


bagaimana dia melawan kehancurannya dengan memasang badan untuk


putranya.


“ Tidak


Melan, suatu saat aku akan kembali menemuimu setelah mempelajari


kasetnya dengan baik. Yang harus kamu lakukan adalah janagn pernah


mengganti nomor telpon ini.” Branu menyerahkan ponsel Darma yang

__ADS_1


sempat Darma selipkan di saku kemeja Branu saat mereka berpisah.


*****


__ADS_2