
Melan meremas lengan baju suaminya,
rasa hawatir yang pernah dia takutkan kembali merambati pikirannya
sambil menatap Branu yang masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.
Namun Darmawangsa menyuruh istri dan Branu duduk seraya memberikan
isyarat bahwa istrinya harus tenang dan dia memastikan semua
baik-baik saja. Dengan ******* napas berat Darma mengawali ceritanya
bagaimana lahirnya sosok Muliapati itu, saat itu entah kenapa Darma
begitu percaya pada Branu Sanjaya tanpa prasangka buruk sedikitpun
padahal mereka baru saja saling mengenal belum lama ini. Dan dalam
ceritanya itu Melan juga baru tau kalau ternyata tidak semua penjahat
yang dilukis suaminya berasal dari arahan kepolisian yang
berkerjasama dengan Darma selama ini, tapi ada kalanya bebera
penjahat yang Darmawangsa temui sendiri atau bahkan dicari taunya
sendiri. Karena setelah berhasil memecahkan satu kasus mulai timbul
rasa ketagihan dalam diri Darmawangsa yang tidak bisa dia kendalikan
gejolaknya. Bahkan Darmawangsa juga mengaku bahwa dia sedang
menyelidiki kasus pembunuhan kandidat calon Presiden yang tidak
sengaja dia dengar beberapa minggu lalu, dan dia berhasil
mengumpulkan beberapa bukti.
Hari itu setelah mendengarkan semua
ceritanya Branu tidak berkomentar apapun, dia hanya pamit pulang dan
terlihat murung. Selain itu Branu juga tidak lagi sering menghubungi
Darma seperti biasanya, dan janji mereka mengenai liburan bersama
mereka di Filandia juga dibatalkan sepihak oleh Branu melalui sebuah
surat singkat yang dikirimnya. Darmawangsa dan Melan merasa sangat
aneh dengan perubahan itu, dan merasa bahwa Branu Sanjaya menjauhi
mereka tapi suatu hari ayah Reca itu datang ke rumah Darma tanpa
memberi kabar terlebih dahulu.
Branu Sanjaya datang untuk
menjelaskan sejauh mana nama Muliapati berkembang diluar, begitu
ditakuti sekaligus dicari oleh para penjahat-pejahat kelas kakap.
Branu memperingatkan agar tidak menyimpan jejak apapun yang bisa
menghubungkan Darma dengan Muliapati, karena bisa saja hal buruk akan
terjadi pada mereka. Branu Sanjaya yang bekerja sebagai pengacara
telah banyak mendengar tentang Muliapati, yang hingga dijuluki Mata
Tuhan karena tidak pernah diketahui sosoknya tapi seolah selalu bisa
melihat secara langsung pelaku kejahatan. Besarnya nama Muliapati
membuat orang beranggapan bahwa penulis dongeng itu adalah orang yang
sangat ahli dan terampil dibidang penyidikan kejahatan, dan itu
membuat beberapa kelompok penjahat bersikap sangat serius dengan nama
ini.
Setelah memberi peringatan itu Branu kembali pamit pulang
dengan wajah murung penuh kecemasan, entah apa yang sedang
dipikirkannya tapi Darma merasa saat itu bahwa Branu tau sesuatu yang
dia tidak tau, sekaligus merasa bahwa sahabat yang belum lama
dikenalnya itu bisa dipercaya. Hingga kembali timbul ide gila dalam
benak Darmawangsa.
*****
“
Ha, hallo..” Darmawangsa menelpon sambil terbata-bata, tubuhnya
berkeringat dan gemetar ketakutan di rumahnya.
“ Iya hallo.
Mas Darma?” diseberang telpon Branu menjawab.
“ Bi, bisa ke
rumah sekarang Branu aku butuh bantuanmu.”
Darmawangsa
langsung menutup telponnya setelah mendapat jawaban Branu yang
menyanggupi permintaannya. Tangannya masih gemetar tapi tetap
mengemasi barang-barang yang dirasanya perlu, setelah itu dia
membakar semua buku dongeng karangannya beserta semua gambar yang
sudah dibuatnya. Kecuali sebuah buku donger berjudul Sang Pengelana di Negeri tanpa Malam yang
beberapa hari lalu diberikannya pada Mika.
“ Mas
__ADS_1
Darma ada apa?”
“ Apa
ada yang megikuti mu?”
“ Tidak
mas, apa terjadi sesuatu?”
“ Inih….
Di kaset ini ada semua hal yang ingin aku ceritakan tapi sepertinya
tidak akan sempat. Tapi sebelumnya waktu liburan terakhir kita di
Finlandia, aku tidak sengaja mendengar kau dan putrimu menciptakan
sebuah nama indah untuk Finlandia saat kita bermain di padang salju
yaitu Winterglow. Jadi aku menggunakan nama itu untuk membuat pola
cerita, password hingga petunjuk yang akan membuat Mika mengerti apa
yang terjadi dengan ayahnya suatu hari nanti. Untuk itu aku minta
tolong kepada mu Branu, tolong simpat kaset CD ini baik-baik dan
pahami isinya karena hanya kamu yang bisa aku percaya.” Branu
melihat wajah ketakutan Darma yang begitu besar, matanya juga mulai
menangis dengan sangat putus asa membuat Branu terdorong begitu saja
untuk menuruti permintaan Darma.
“ Mas
apa yang kamu maksud.. sepertinya tidak akan sempat?”
“ Seperti
yang kamu bilang, cepat atau lambat mereka akan tau siapa itu
Muliapati. Dan sekarang mereka mungkin sedang menuju kesini, jadi
tolong Branu...Melan….”
Darma
menarik tangan Branu ke arah kamarnya kemudian langsung membuka pintu
kamar itu, disanan Mika sedang tertidur pulas sementara Melan
bercucuran keringat dan terlihat mengalami perdarahan. Dia sangat
kesakitan tapi menahan erangannya karena tidak ingin Mika terbangun.
“ Tolong
bawa Melan ke rumah sakit dan jug a Mika Branu, aku tidak tau siapa
yang telah menungguku diluar sana dan mereka bisa dimana saja
mengingat mereka orang-orang dunia politik yang sangat berkuasa dan
mereka tau Melan adalah istri Muliapati maka mungkin nyawanya tidak
akan tertolong. Tolong Branu.” Memohon dengan kedua tangan yang
menggenggam tangan Branu sambil gementar.
Tanpa
banyak bicara Branu langsung menghampiri Melan dan memapahnya bersama
Darma agar masuk ke mobil, kemudian Branu kembali untuk menggendong
Mika.
“ Maaf
kan aku Melan, karena sudah membuat keluarga kita seperti ini.”
Darma mengecup kening istrinya yang luar biasa itu, lalu bergantian
mencium Mika dan memberikan pelukan erat.
“ Papa
sayang kamu Mika, dan papa percaya kamu akan mengerti suatu hari
nanti.”
“ Aku
tidak tau mas apa yang sedang kau hadapi, tapi kembalilah dengan
selamat. Aku akan jaga mereka seperti keluargaku sendiri. Tapi kau
juga harus menjaga dirimu.” Ucap Branu sebelum masuk ke dalam
mobil, Darma mebalasnya dengan anggukan.
Itu
adalah kalimat terakhir yang Branu ucapkan sekaligus menjadi salam
perpisahan, Darma menatap Branu dengan jutaan terimakasih dan rasa
syukur karena telah memiliki teman yang tidak pernah dia bayangkan
sebelumnya akan mempertaruhkan keselamatan keluarganya pada orang
itu.
Begitu
tiba di rumah sakit, seperti dugaan Darma banyak terlihat orang
-orang yang sangat mencurigakan. Mereka seperti sedang mencari
seseorang yang tidak diketahui wajahnya tapi sudah mengantongi
beberapa petunjuk dan mungkin saja nama Darmawangsa Setiahaja tidak
__ADS_1
boleh diucapkan disini.
“ Dokter
tolong dia sedang hamil dan saat ini mengalami perdarahan.” Bicara
ngos-ngosan sambil menggendong Mika yang tertidur.
“ Ibuuu…
siapa namanya bu.” Prosedur awal petugas kesehatan saat pasien
masuk melalui pintu emergency maka mereka akan menilai kesadaran
pasien dengan bertanya lalu mendengar jawaban dan melihat respon
pasien.
“ Me,”
“ Frianka
dokter.” Branu cepat memotong ucapan Melan sebelum dia
menyelesaikan jawabannya, dia takut jika nama itu disebutkan akan ada
yang menyadari siapa Melan sebenarnya. Dan hanya nama Frianka yang
terpikirkan saat itu.
“ Maaf
anda siapanya pasien pak?” Branu tampak berpikir sebentar tapi
kemudian menjawan dengan mantap tanpa ragu.
“ Saya
suaminya pak, dia istri saya dan ini anak saya.” Branu memeluk Mika
erat, jujur dia juga sangat takut tapi nuraninya memaksa dirinya
untuk kuat.
“ Baik
silahkan mendaftar dibagian administrasi, saya akan tangani
pasiennya.”
“ Ba,
baik dokter.”
Selesai
penanganan perdarahan karena keguguran tanpa menunggu pemulihan
padahal wajahnya masih sangat pucat, Melan langsung meminta pulang
dari rumah sakit dan minta diantar ke rumah peninggalan orang tuanya
yang selama ini bisa dibilang sangat jarang dia kunjungi hingga tidak
banyak yang tau sosok Melan yang memang tidak mudah bergaul dengan
orang lain itu.
“ Terimakasih
Mas Branu dan mohon maaf membuat mas meninggalkan Frianka dan Reca
beberapa hari ini.”
“ Bagaimana
dengan Mas Darma, apakah sudah ada kabar?” Melan hanya diam menatap
kosong ke arah jendela.
“ Dia
mungkin sudah menghembuskan napas terakhirnya, tapi tidak ada yang
bisa kulakukan untuk menyelamatkannya.” Luar biasanya Melan tidak
menangis sedikitpun setelah kehilangan bayi dalam kandungannya dan
suaminya.
“ Lalu
bagaimana kita menjelaskan ayahnya pada Mika?”
“ Sementara
ini aku akan bilang papanya ke luar negeri karena suatu pekerjaan.”
“ Sampai
kapan?”
“ Entahlah...hingga aku rasa siap
menjelaskannya. Keselamatan Mika saat ini adalah segalanya begitu
juga psikisnya, aku tidak mau kematian papa yang sangat dekat
denganya itu mempengaruhi tumbuh kembangnya. Dan kamu mas sebaiknya
tidak terlibat dengan kami lagi karena itu bisa membahayakan dirimu
dan keluargamu.” Mata Melna yang tampak kosong itu memperlihatkan
bagaimana dia melawan kehancurannya dengan memasang badan untuk
putranya.
“ Tidak
Melan, suatu saat aku akan kembali menemuimu setelah mempelajari
kasetnya dengan baik. Yang harus kamu lakukan adalah janagn pernah
mengganti nomor telpon ini.” Branu menyerahkan ponsel Darma yang
__ADS_1
sempat Darma selipkan di saku kemeja Branu saat mereka berpisah.
*****