WINTER GLOW

WINTER GLOW
Dia yang Dirindukan


__ADS_3

Mika bangun, kepala terasa pusing berat. Males sebenarnya buat beranjak dari tempat tidur nyaman ini. Perlahan Mika ngumpulin kesadaran beserta ingatannya. Dia mendapati dirinya udah di kamar tanpa ingat kejadian sebelumnya. Tapi samar-samar Mika kemudian ingat. Oh ya, dia ngajak Caca berenti di sebuah taman. Ceritanya sih Mika mau ngabisin waktu aja gituh sekalian curhat klo hatinya lagi ga enak banget. Tapi tunggu, Mika inget klo ada yang mukul kepalanya dari belakang. Dan setelah itu dia ga inget apapun.


Otomatis doi langsung panik, baru sadar klo kamar yang ditempatinya sekarang tidak familiar. Siganteng itu dengan gelisahnya ngeraba kantong dan masih mendapati hp dan dompet di tempatnya masing-masing. Berarti beliau tidak di rampok, lah terusss?


Pas matanya mulai berkeliling Mika mendapati wajah yang khas. Dan masih ingat betul dalam memorinya, gadis manis berambut panjang yang selalu tersenyum ceria. Seolah tidak akan terjadi hal buruk di dunia ini. Reca, dan dia masih sama cantiknya. Bahkan lebih cantik. Dia lega ini bukan kamar orang asing, tapi masih terasa aneh. Bagaimana dia berada di kamar sahabat yang udah sekian taon gituh ngilangnya dan ga pernah ada kabar. Padahal terakhir kali dia bersama Caca. Tapi malah cewe tomboi itu yang ga terlihat. Sumpah Mika lo belum sadar


apa klo mereka tuh orang yang sama? Bego ato lemot sih?


"Au.." Sakit banget kepala ini pikir Mika. Cukup terkejut juga dia karena mendapati agak benjol, tapi untungnya ga


berdarah.


HP berdering...


" Halo.."


" Mika kamu dimana?" Suara di sebrang sana, Esa. Terdengar sangat kesal dan hampir menangis.


" Hah?" Mika baru inget lagi, hari ini tuh Esa berangkat ke amrik. Harusnya dia nganterin kan? Perpisahan kek gituh.


" Jangan bilang kamu baru bangun. Inih jam berapa loh Mika bentar lagi tuh pesawatnya mau berangkat." setengah menangis.


" Maaf Sa aku..." Telpon di putus begitu aja Mika membiarkannya, kepalanya terlalu sakit untuk berantem. Dia sendiri juga masih belum jelas nasibnya apa.


Ternyata Handphone Esa ngedadak mati karena batrenya habis. Setengah menangis Esa mengutuk dirinya sendiri yang ga keinget buat charge HP nya malam tadi, sekarang lagi butuh gini malah mati kan. Esa buru-buru ngerebut handphone papa. Meski dia tau klo Mika ga bakalan angkat telpon dari nomor ga dikenal.


“ Apa sih Sa, papa kan lagi pake HP nya.”

__ADS_1


“ Bentar pah, ini penting.” Esa langsung mengetik nomor Mika yang udah hapal diluar kepalanya, tapi ga diangkat. Esa terus mencobanya berulang dengan cemas


Sementara itu Mika yang masih di rumah Reca mutusin buat keluar, sambil ngeliat sekeliling. Rumah itu kosong tidak ada siapapun. Positifnya rumah kecil ini punya halaman yang ga terlalu luas tapi nyaman dengan ragam tanaman yang terawat dengan baik. Itu menandakan klo rumah ini tuh terawat, banyak sekali yang ingin dia ketahui, sayangnya ga ada satu orang pun yang bisa di tanyai. Yang ditemukan Mika hanya mobilnya terparkir dengan baik dengan kunci yang masih terpasang di dalamnya.


Mika segera masuk mobil dengan napas mendesah berat. Dia pikir sebaiknya dia pulang atau singgah buat makan, karena perut udah mulai keroncongan. Cukup lama mikir lantaran sebenernya lagi ga selera makan, Mika berhenti di salah satu mini market. Niatnya mau beli mie instan seduh aja, biar cepet mateng bisa makan langsung ditempat ga pake lama ga pake repot.


Sreekk... suara kantong plastik yang tersangkut pintu masuk mini market.


" Oh..."Terlihat wanita berumur sekitar 40-an di sana yang sedang terperangah lantaran belanjaannya tercecer kemana-mana. Meski sudah berumur, garis kecantikannya masih terlihat jelas. Tapi matanya terlihat penuh kesedihan mendalam yang menggambarkan duka yang tidak terobati. Kesedihan akut yang terlihat sudah menahun, menimbulkan luka yang terus menganga meski berulang kali coba untuk diobati. Dengan kalem Mika bantuin si ibuk-ibuk itu, ga tega doi mah.


" Oh makasih ya nak... aduh jadi ngerepotin gini. Makasih a.."Si wanita yang awalnya sibuk ngomong sambil ngumpulin barang lansung terdiam begitu ngeliat muka Mika. Dan karena si ibuk omongannya terhenti Mika jadi nyadar...


" Tante Frianka?"


*****


" Tante mau pesan apa?" Wanita itu tersenyum, dia sadar sejak tadi Mika sangat gelisah.


" Kamu ga nyaman makan disini?" Dia sangat paham klo Mika kan artis, trus penggemarnya banyak. So doi wajib hawatir makan di tempat terbuka tanpa pengawalan.


" Ah ga apa kok tante. Emmm... tante sendiri aja?" Mulai mancing neh, mana tau si tante bakal langsung bilang dia sendiri karena Reca sedang sibuk di suatu tempat. Atau Reca mungkin aja ada ga jauh dari tempat mereka sekarang.


" Kamu mau nanyain Reca ya?" Mika tertunduk malu sambil tersenyum tapi wajahnya langsung mengakui.


" Pasti kamu dan temen-temen sudah sangat bingung dan hawatir. Tante minta maaf ya Ka. Tante begitu terpuruk waktu itu, jadi sulit untuk tinggal di rumah itu lebih lama. Jadi tante dan Reca memutuskan pindah.


" Gimana kabar Reca tante? Apa dia sekarang..." Kalimat Mika terhenti karena mata tante Frianka tetiba aja berair gituh menahan tangis.

__ADS_1


" Maaf Mika, tante sendiri juga ingin tau bagaimana kabarnya sekarang." Sambil tersenyum.


" Tante ga tau sekarang Reca dimana tante?" Kok bisa batin Mika syok hebat


" Ceritanya akan sangat panjang Mika. Sebaiknya kita bicara di rumah tante ya. Kamu ga sibuk kan?"


*****


" Selamat datang pak Ghani, hahaha. Silahkan, silahkan." Toni Raen, mentri keuangan negara saat ini.


" Apa semuanya sudah diperiksa?" Ghani wijaya. Wajah tuanya terlihat khawatir.


" Kenapa? Seperti orang baru saja." Ghani Wijaya langsung tersulut emosi dan mencengkram kerah si mentri.


" Jangan main-main, belum lama ini ada yang datang padaku." Si mentri memaksa tangan Ghani menjauh dari lehernya.


" Hah.. jaga sikap mu."


" Dia bukan orang sembarangan. Dia tau semuanya. Bahkan rahasia kita. Apa yang terjadi delapan tahun lalu."


" Husss... jaga bicaramu. Dinding sekalipun punya telinga disini."


" Terserah, aku kesini hanya untuk memperingatkan. Bersihkan semua sampahnya sekarang. Sebelum dia mengambil semuanya."


" Siapa dia. Apa dia salah satu dari kandidat Capres?"


" Aku tidak tau. Yang jelas dia sangat tau banyak dan sangat mahir bagaimana mempergunakannya. Jika kau tidak membereskannya, maka aku akan bertindak sendiri."

__ADS_1


*****


__ADS_2