
Esa masuk ke dalam kamar nya tapi ga lama. Langsung keluar lagi, padahal ayahnya juga baru liat pintu itu tertutup tapi Esa sudah keluar lagi seolah dia hanya berada dibalik pintu beberapa detik lalu keluar untuk kesan bahwa dia baru aja keluar dari kamarnya.
Agen AKS mulai masuk satu persatu setelah salah satu dari mereka memperlihatkan surat perintah penggeledahan.
" Paaaa... ada yang dateng paaa..." Esa yang berekspresi datar memanggil ayahnya seolah dia tidak tau apa-apa. Jabat Sentosa tampak cemas bukan karena AKS yang datang entah kenapa dia jadi sedikit khawatir dengan Esa.
" Siapa sayang?" Rayan Abdi keluar dan mengimbangi akting putrinya.
" Siapa mereka pa?"
" Mereka AKS sayang, ingin memastikan apakah papa ada korupsi atau tidak." Rayan tersenyum seadanya.
" Hmmm.... Esa pergi ke rumah temen dulu ya pa ada tugas kelompok."
" Iya sayang... hati-hati ya."
" Tunggu." Salah seorang yang kelihatannya adalah pimpinan AKS, menghentikan Esa yang hendak pergi keluar.
" Sebelum keluar kamu juga harus diperiksa cantik. Om izin buka tas kamu ya." Mungkin karena Esa masih anak SMP, anggota AKS itu mencoba bersikap ramah. Tapi itu tidak menghilangkan rasa gugup Esa dan juga Ryaan Abdi yang tau benar FD yang disembunyikan Esa di tasnya.
Pertama-tama semua isi tas dikeluarkan di atas meja lalu diperiksa satu persatu, tiba di bungkusan pembalut pemeriksanya sedikit terbatuk karena rasa kikuk yang seketika melanda. Ini sedikit tabu tapi dia harus menjalankan tugas. Saat petugas AKS itu memegang bungkusannya, Rayan Abdi dan Jabat Sentosa nyaris melotot kalau saja tidak ingat untuk mengendalikan diri agar para AKS tidak curiga.
__ADS_1
" Kenapa berenti Om? Periksa aja, Esa buru-buru mau kerja kelompok Om." Baik Rayan maupun Jabat tampak terperangah hebat melihat wajah Esa yang begitu tenang seperti air yang tidak beriak. Tidak memperlihatkan emosi apapun dan tidak terlihat takut sama sekali, bagaimana mungkin itu dilakukan oleh anak usia 12 tahun?
Si pemeriksa pun melanjutkan pemeriksaannya, Rayan dan Jabat merasa tercekik lehernya lantaran ga sanggup liat akhir dari penggeledahan ini. Awalnya dibungkus utamanya lalu sesaat melihat deretan pembalut yang tersusun rapi dan mengeluarkan smeua isinya, disaksikan seluruh orang yang ada di ruangan itu.
" Kenapa diam aja? Cepat selesaikan pemeriksaannya, kau membuat semua orang canggung dengan pembalut itu." Petugas AKS lain menegur si pemeriksa.
" Oh iyaa... maaf. Kamu boleh pergi." Esa langsung mengemasi barang-barang nya ke dalam tas lalu bersiap untuk pergi.
" Pah Esa pergi dulu ya pa?"
" Oh iya sayang. Hati-hati ya."
" Om Esa pergi dulu ya, makasih udah bawaain makanan kesukaan Esa."
*****
" Kau yakin itu tidak jadi masalah Rayan? Kau lihat bagaimana Esa tadi? Dia menakutkan." Tanya Jabat setelah semua tim AKS pergi dan meminta maaf untuk kesalahan yang terjadi. Mereka tidak menemukan satupun bukti yang mengarahkan Rayan sebagai pelaku suap dan korupsi seperti yang diduga sebelumnya.
" Tidak... putri ku adalah anak yang cerdas. Dia hanya sedang membantu ayahnya yang kesulitan mencari jalan keluar."
" Dengan melakukan hal Serapi tadi? Kau yakin dia melakukan ini untuk pertama kalinya?" Rayan tampak ragu sesaat.
__ADS_1
" Kita memang penjahat Rayan, tapi sebagai orang tua tetap saja penjahat sekalipun tidak ingin anaknya terlibat dengan kejahatan bukan?"
" Huuuhhh.... " Rayan mendesah berat, melepaskan segala keraguannya.
" Tidak, tidak Jabat. Esa adalah Putri terbaik yang kumiliki, dia adalah kekuatanku untuk melawan takdir."
Kekhawatiran Jabat Sentosa ternyata terbukti, Esa terus terlibat dalam membantu sang ayah melancarkan sayap politiknya bahkan dia tidak segan menyarankan nama-nama yg harus dieksekusi alias disingkirkan jika diperlukan. Yang luar biasanya Esa terlihat begitu manis seperti anak remaja seusianya, jika tidak melihatnya secara langsung maka tidak akan percaya kepribadian apa yang tersembunyi dibalik wajah cantik itu. Seperti orang dengan kepribadian ganda.
" Dia hanya akan jadi penyulit buat papa, baiknya disingkirkan aja. Papa tau maksud Esa kan?" Ughhh... sungguh Jabat Sentosa sendiri merinding saat mendengar Esa mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi nya yang datar.
Dan hanya dalam beberapa tahun setelah kelulusannya dari bangku sekolah menengah pertama, Esa mengajukan diri menggantikan Sang ayah untuk memimpin Singa Merah dan konyolnya Rayan Abdi mengabulkan permintaan itu Meski dia masih ikut mendampingi atau lebih tepatnya semua otak strategi Esa yang mengaturnya sementara Rayan Abdi hanya meneruskan semua ide gila Esa kepada Singa Merah. Dibawah kepemimpinan nya Singa merah berhasil bangkit kembali dipuncak kejayaan yaitu menguasai beberapa partai politik yang tunduk dibawah Singa merah serta memiliki koneksi hingga kepolisian yang paling berpengaruh. Namun karena usianya yang terbilang muda, Esa lebih sering bermain di balik layar DNA menjadikan Jabat Sentosa sebagai tangan kanannya. Itu kenapa para anggota Singa Merah tidak pernah melihat secara langsung wajah pemimpin mereka dan mungkin tidak pernah terpikirkan sekalipun bahwa sosok pemimpin bertangan dingin itu adalah seorang perempuan muda dengan kecantikan bak bidadari.
" Kau gila Rayan, kau benar-benar gila. Tidak, kalian berdua sudah gila. Bagaimana bisa... jadi selama ini... Oh jangan katakan Esa yang sudah membuat semua rencana itu dan..."
" Iya itu benar..."
" Aku tidak tau apa yang merasuki mu Rayan, tapi sadar atau tidak kau sedang membesarkan seorang monster."
" Tapi kau lihat sendiri kan, semua rencana Esa berhasil tanpa cacat sedikitpun dan lagi dia mewujudkan impian yang tidak pernah bisa kita raih bahkan untuk dekat sekalipun. Tapi sekarang lihatlah bahkan seorang presiden pu. sekarang tunduk di kaki ku. Esa adalah anak yang sempurna bagiku, dia mewujudkan semua... semuanya. Dia membuat aku dan istriku menjadi seorang ayah dan ibu. Dia memenuhi semua harapanku tentang sosok anak yang kuinginkan. Pintar, memiliki jiwa pemimpin dan yang paling penting dia telah menentukan jalannya yaitu jalan yang ditempuh ayahnya. Tidak ada yang lebih membanggakan dari itu. Hahahaha..."
" Kau gila Rayan." Hari itu Jabat Sentosa pergi dengan sejuta kegundahannya, dia menantang keras kepemimpinan Esa namun berjalannya waktu dia juga ikut mengakui kemampuan Esa menyelesaikan masalah, mencari jalan keluar dan menentukan sanksi tegas untuk mereka yang mulai tidak patuh dibawah perintahnya. Dan sekarang Jabat seolah tidak punya pilihan selain menyetujui ide gial seorang Rayan Abdi, karena nyatanya Esa membuat si ga merah sekuat ini dan belum tergoyahkan.
__ADS_1
*****