
Udah
seharian Mika nemenin Esa jalan-jalan, dimulai dari nonton sampe
belanja dan sekarang mereka sedang
makan di sebuah restoran mewah yang privat banget.
“ Sa,
aku boleh nanya sesuatu ga?” Mika dengan ragu memberanikan dirinya, daripada
dirinya terus tersiksa dengan sejuta tanya.
“ Hmm...”
Esa tersenyum sambil mengagguk untuk nunjukkin klo Mika boleh nanya
apa aja.
“ Apa
arti mainan masa kecil ini buat kamu?” Mata Mika menatap mainan
yang dia maksud, sejak Esa memberikannya dia terus membawanya.
Mungkin Esa ga tau, tapi hal ini sangat berarti untuk Mika terutama
untuk menentukan arah hatinya yang lelah. Sudah terlalu lama
berkelana, kali ini dia ingin melabuhkan hatinya untuk berhenti
selamanya dari sebuah pencarian. Tapi
jika akhirnya harus memilih Esa, Mika akan tetap menepati janjinya
untuk membantu Reca memecahkan misteri kematian ayahnya.
“ Itu
pernah jadi segalanya Ka, karena yang memberikan mainan itu udah
menyentuh hatiku untuk pertama kali. Bayangin aja aku masih kecil
banget tapi pernah bermimpi untuk menemukan pria kecil tampan itu
saat aku udah gede dan bakalan nembak dia duluan buat dijadiin
pacar.”
“ Hehmm”
Mika tersenyum karena Esa berekspresi sangat lucu.
“ Serius.
Tapi sayangnya aku ga punya jejak apapun tentang dia dan sekarang
udah ketemu kamu. Aku...” Tidak bisa melanjutkan kalimatnya bahwa
Esa sudah menyerahkan hatinya untuk Mika.
Mika
sendiri tertunduk, apakah dia ceritakan saja yang sebenarnya tapi
rasanya masih belum yakin. Meskipun ingatan Esa hanya berupa potongan
yang lengkap tapi tidak satupun dari kenangan itu yang sesuai dengan
ingatan yang Mika miliki, jadi dia ga boleh gegabah. Bersabar sedikit
lebih lama lagi agar dia tidak salah menyimpulkan sekali lagi.
Bagaimana jika gadis itu bukan Esa, lalu keputusan yang dia ambil
salah sementara hanya itu alasan yang dia miliki untuk memilih gadis
ini. Karena cinta ini masih untuk Reca.
“ Kenapa
sih Ka kok tiba-tiba nanyain itu?”
“ Iya
klo ini sangat berarti banget kenapa kamu kasih ke aku Sa?”
“ Karena
gue udah mutusin cinta masa lalu gue Mika untuk berada di masa depan
dengan
lo.” Batin Esa yang tak mampu diucapkannya.
“ Aku
cuma pengen ngasih yang spesial sama kamu, tapi kamu kaya banget kan ya udah punya
segalanya juga jadi yaaa itu… satu-satunya yang spesial yang aku
punya.”
Kesunyian
tiba-tiba tercipta, lantaran keduanya canggung mau bilang apa.
Sama-sama ada perasaan yang terpendam dihati masing-masing tapi ga
bisa jujur sekarang, sangat ingin hati-hati agar tidak ada yang
menjauh nantinya.
“ Hei
Bro.” Suara ramah seorang pria memaksa Esa dan Mika menole ke asal
suara.
“ Kebetulan
banget ini.” Evan tersenyum lebar dan ngeberi tos ala-ala cowo gitu
dan dibalas oleh Mika.
“ Evan?
Lo...” Kok bisa disini sih, ganggu ajah. Esa ngenes, tau banget
soalnya gimana sepupunya ini.
“ Lo
lupa? Apartment sebelah sama resto ini kan punya bokap gue.”
“ Ahh
iya… lupa gue.” Esa tersenyum pahit. Resiko punya sepupu kaya
anak Mentri yang asetnya bertebaran dimana-mana udah gitu bagus buat nongkrong
pulak.
“ Lo
sama siapa bro?” Tanya Mika akhirnya. Dari balik badan Evan yang masih berdiri mulai
tampak wanita cantik dengan pakaian sexy nya berjalan anggun bak
seorang model. Long Coat hitamnya hanya dipasangkan dibahu untuk
menutupi bagian punggung yang terbuka, di tambah heels hitam ngebuat
kakinya makin jenjang. (Kadang perempuan ini ya kan pening kali awak
__ADS_1
liatnya, pake baju sexy tapi habis tuh ditutupnya. Klo awak tengok
bagian yang terbuka marah dia, dibilangnya “Eh mata kao ya bang
biasa aja nengoknya”. Eh dirumah ajalah bilang jontik kalipun, ga
tau jontik? Menteeelll)
Bukan
hanya Mika, Esa juga terpana ngeliat kecantikan yang ga biasa itu karena
sebelumnya Reca ga pernah terlihat secantik ini. Jantung
Mika mau copot liatnya, bukan hanya gegara cantiknya yang bikin
deg-degan tapi juga pakaiannya itu loh buat
hati Mika miris banget. Ga rela klo itu dinikmatin sama orang lain.
“ Lo berdua
pacaran?” Esa yang syok ga bisa nahan rasa ingin taunya, sekalian
heran juga liat Reca yang ga kaget sama sekali denan pertemuan ini.
Ga pernasaran apa kenapa mereka bisa saling kenal?
Evan
ngeliat ke arah Reca sebagai kode apakah Reca yang akan menjelaskan
atau dirinya, ngeliat Reca yang diem aja maka Evan berinisiatif
ngejawab.
“ Menurut
lo apa?” Niatnya godain Esa, tapi Evan justru mergokin mata Mika
yang terus menatap Reca
tanpa berkedip dan Reca malah ngebalas tatapan itu tanpa gentar. Itu
cukup buat ngejelasn bahwa mereka saling kenal.
“ Menurut
gue lo… ah tapi ga mungkin. Tapi klo kalian beneran pacaran itu
berarti… Lo jatuh cinta Van? Seorang Evan?” Secara ga mungkin ya
kan mengingat sepupunya yang playboy itu takluk pada satu wanita dan
lagi-lagi wanita itu…. Reca. Wah… luar biasa banget ga sih. Esa
tersenyum miris saat tawa Evan yang secara jelas mengatakan klo itu bener, kenapa
seluruh isi bumi berpusat padanya.
“ Ehmm.”
Evan berdehem buat nyindir Mika yang begitu fokus, tapi
ternyata Mika tidak bergeming dan masih menatap Reca.
“ Oiya
Kenalin Re, dia Esa sepupu aku.”
“ Gue
tau, kita temenan dulu di SMA Bhakti.” Seperti biasa Reca klo
ngejawab, jutek ketus trus mukanya datar tapi cantik pulak.
“ Ouya?
Kamu juga tau klo mereka pacaran?” Tanya
pacaran kenapa? Bodo.
“ Hmmmm.” Artinya
gue tau sih klo mereka deket, dan gue gamasalah kok dengan itu.
Mika
tersenyum pahit ngeliat Reca sesantai itu, emang sih itu bukanlah hal
baru buatnya toh biasanya Reca sering kaya gitu juga tapi untuk
didepan Evan rasanya kaya sama aja waktu di SMA Bhakti. Dimana Reca
menganggap Mika ga ada untuk seorang Kendra, dan
itu semakin melukai harga dirinya menyebabkan keluarnya kalimat fatal
dari mulut Mika yang bikin suasana langsung tegang.
“ Jadi
Kendra udah tergantikan Re? Cinta pertama kamu.” Mika. Evan
langsung inget sama Kendra yang baru ditemuinya tadi, dan Evan pun
penasaran untuk jawabannya.
“ Ok
Sa lo sekali lagi terjebak dalam perang dingin antara Mika sama Reca
yang pada dasarnya saling peduli.” Esa dalam pikirannya.
“ Cinta
pertama pertama gue bukan Kendra.” Hening sesaat, Mika dan Esa ga
menduga jawaban ini. Secara seluruh makhluk di SMA Bhakti saat
delapan tahun lalu sangat tau bagaimana dekatnya Reca dan Kendra
beserta cerita yang tersembunyi dibalik hubungan mereka. Dikarenakan
SMA Bhakti pernah dihebohkan waktu Kendra sang kakak kelas yang
kharismatik nan tampan melatih anggota paskibraka. Pasalnya Kendra
yang begitu dipuja trus sikapnya sebagai anggota paskib yang terkenal
disiplin dan disegani,
tiba-tiba permisi meninggalkan barisan yang dilatihnya demi bisa
nyamperin Reca yang ga sengaja ngeliat sesi latihan itu. Otomatis
ngebuat adek-adek kelas terutama cewe yang dilatih saat itu jadi
baper, so sweet banget njirrr. Apalagi saat denger omongan Kendra
saat itu…
“ Cinta pertama gue adalah cowo yang ngambil ciuman pertama gue di
SMA.
Dan itu bukan Kendra.” Mata Mika langsung membesar, apakah yang
dimaksudnya saat Mika mencium Reca dimalam Pensi waktu itu? Klo
iya maka artinya cinta pertama Reca adalah dirinya (Mika)?
*****
Kita balik sebentar ke moment itu ya wak.
__ADS_1
Kendra
dan Reca pertamakali bertemu saat hari pertama kepindahan Reca di SMA
Bhakti. Reca saat itu kebingungan mau minjem buku di perpus sekolah
untuk tugas pertama yang diterimanya dari guru. Karena masih anak
baru Reca belum punya kartu anggota sebagai sarat utama bisa pinjem
buku di perpus sekolah, ditambah belum banyak teman yang dia kenal
ngebuat Reca cuma bisa duduk di meja perpus dengan muka bingung. Saat itulah pertama kali Kendra
melihat wajah manis dari
balik rak buku yang membuat hatinya berdebar pelan tapi bertahan hingga hari-hari
berikutnya, alias Kendra jatuh cinta pada pandangan pertama gitulah
ceritanya.
Kendra pun nyamperin Reca dan menawarkan bantuan sehingga dihari
itupun keduanya saling mengenal.
“ BELOK
KIRIIIII….GRAK!” Suara Kendra yang begitu disegani waktu itu
melatih pasukan berbaris. Ditontonin para kaum hawa mulia kelas X
sampe XII, maklumlah udah cakep pinter pulak dalam hal apa aja. Ngertilah
kelen kan wak kek mananya, klo pas SMA nampak ada kakak kelas yang
disegani kali karena kemampuan pramuka dan baris-berbaris pasti
ganteng aja nampaknya dimata kelen kan wak meskipun hitam gosong dia
kenak matahari tapi dialah itu yang paling ganteng kurasalah inang.
Disaat
itu Reca yang masih jadi anak baru, lewat
gitu mau pulang ini ceritanya kan
genks tapi
singgah dulu karena mau balikin kartu anggota perpus sekolah punya si
Kendra.
Nampaklah sama si Kendra ini kan.
“ BERHENTI
GRAK. ISTIRAHAT DI TEMPAT GRAK!! Okeh kakak izin sebentar ya, kalian
lanjutin latihannya bareng kak Adi ya.”
“ Yaaaa…”
“ Jangan
dong kak.”
“ Sama
kakak aja lah kak.” Beberapa
anggota cewe terdengar ga rela.
“ Maaf ya.”
Ucap Kendra trus berlari kecil ke arah Reca.
“ Uwwuuuu.”
Para penonton yang baper berseru iri sekaligus memuji betapa
beruntungnya Reca yang mencuri rasa peduli Kendra didepan khalayak
sebanyak ini.
“ Hi
Re.”
“ Maaf
ya kak ganggu, klo sibuk ga apa-apa sih lanjutin aja kak.”
“ Ga
kok, kan ada temen kakak tuh yang lanjutin.”
“ Hmmm…
ini kak kartunya. Makasih banyak ya.” Kendra menerima kartunya,
tapi matanya ga lepas ngeliat Reca.
“ Re
pulang dulu ya kak, ga enak diliatin mereka yang pengen kak balik ke
barisan.”
“ Mau
dianter Re?”
“ Ga
kak… papa jemput kok.”
“ Hmmm,
hati-hati ya...”
“ UWUUUUUU”
Diserokain lagi sama yang nyimak.
Ahhh…
Kendra ingat jelas kenangan itu, baginya itu
baru aja terjadi kemaren tapi apakah Reca juga mengingat kenangan
ini? Dia mendesah sedih mengira-ngira, mungkinkah selama ini cintanya
bertepuk sebelah tangan? Atau Kendra terlalu terlambat untuk
mengungkapkan cinta hingga hati Reca sudah lebih dulu dicuri orang
lain.
“ Kakak
kangen kamu Re.”
*****
__ADS_1