
Hari-hari Reca semakin gelap, dan kesepian. Dia bahkan tidak keluar dari kamarnya kecuali saat makan. Sepertinya dalam kesedihannya pun Reca masih ingat bahwa sekarang mereka hanya berdua aja sama mama, kasian mama klo harus makan sendirian. Dengan rutin Reca akan keluar dari kamar pada waktu makan, mulai dari sarapan, makan siang sampe makan malam. Hanya saja yang disayangkan meja makan masih tetap sunyi. Gadis yang selalu bawel dan penuh cerita saat makan, sekarang hanya menghabiskan makannya dengan diam.
Tapi yang sedikit membuat Frianka bingung, Putrinya yang bernama Reca itu makan sangat lahap. Malah sesekali dia menambah nasi atau lauk ke piringnya.
" Re duluan ya ma?" Reca lansung bangkit dan buru-buru mencuci piringnya sendiri. Mama hanya bisa terperangah.
Selanjutnya Reca akan pergi ke kulkas mengambil beberapa minuman dan cemilan, trus masuk kamar lagi. Ada rasa lega ngeliat Reca makan dengan baik, menjaga asupan tubuhnya. Tapi Frianka juga takut karena
dulu sebelum dunia gelap ini datang Reca tidak pernah makan sebanyak itu dalam keadaan sangat bahagia sekalipun.
" Re..." Untuk kesekiankalinya mama mencegahnya masuk untuk bicara, mencoba memahami dan ingin berbagi.
" Mama jangan cemas Re baik-baik aja kok ma." Reca membuka pintu kamarnya dan menuntun mama masuk.
" Liat. Reca lagi belajar ma...." memperlihatkan layar laptop miliknya, untuk memberitahu apa yang sedang dia kerjakan. Ah ya... Frianka ingat, sekang Reca udah mulai home schooling. Cukup terkejut juga, ternyata Reca mengerjakan semua tugasnya. Mata Frianka masih tidak percaya mendapati tumpukan tugas di meja belajar putrinya dan itu sudah selesai dikerjakan. Benarkah Reca memang baik-baik aja.
" Boleh Reca lanjut belajar ma?" Oh ayolah ma, dia sedang bilang bahwa mama harus meninggalkan kamar ini segera. Reca tidak ingin diganggu lebih lama.
" Oh iya, ya. Silahkan sayang. Emmm...mau mama buatkan cemilan, susu, juice atau..." Secara otomatis mama menangkap sederet makanan yang udah tertata juga di meja itu.
" Oh sudah ya..." Ucap nya lemas
Entah sejak kapan putri kecilnya ini begitu mandiri, bahkan kamarnya sekarang sangat rapi. Lantainya juga sangat bersih. Oh Tuhan... Frianka ingin menjerit. Entah dia harus apa, benarkah ini pertanda baik atau Reca sebenarnya hanya ingin terlihat baik.
*****
Masih jam 5 pagi, saat Frianka melirik jam dinding. Disetengah sadarnya dia melihat jendela yang tirainya sudah terbuka, kantuknya pun langsung hilang. Dia ngeliat dengan jelas Reca di luar sudah menggunakan stelan olahraga set, memakai headphone dan melakukan pemanasan.
" Hi ma..." Sapa Reca saat pulang dari lari pagi sambil meneguk juice jeruk.
" Mau sarapan?" Reca mengangguk imut. Sumpah... dia udah balik keknya. Serius? Reca move on?
" Habis sarapan Re keluar bentar ya ma. Ada yang mau Reca beli." Mama tersenyum.
" Kamu pergi sendiri."
" He eh."
" Re."
" Hmm?" Sambil mengunyah sarapannya.
" Emmm... Mika..." Kunyahan Reca langsung terhenti.
" Kamu ga mau ngabarin temen-temen sayang." Yah... mama akan sangat lega jika di luar rumah ada orang lain yang bisa nemenin Reca. Bukan, lebih tepatnya membantu Frianka meluruskan semua keanehan ini. Alangkah baiknya jika Reca memang baik-baik aja.
" Re ga mau ganggu mereka ma. Bentar lagi kan ujian akhir, Re juga mau fokus sama belajar Re." Mama terpaku ga tau harus ngomong apa
" Re mandi dulu ya ma." Ah...entahlah.
Setelah keanehan itu, kebiasaan Reca berubah. Dia jadi sering ke perpustakaan, menghabiskan waktu berjam-jam disana, Frianka yang
penasaran pun mengikuti putrinya diam-diam dan mendapati Reca yang
belajar tanpa henti dengan keras. Buku-buku tebal tampak berjejer di
sebelahnya, jari dan matanya berkutat dengan laptop lalu sesekali
membuka buku mencari teori. Bukanlah hal aneh sebenarnya, semua itu
adalah hal wajar yang dilakukan seorang pelajar. Tapi masalahnya hal
itu bukanlah kebiasaan Reca. Selain itu, Reca juga mendaftar di kelas
taekwondo. Dia terlihat sangat serius berlatih bahkan sekarang
__ADS_1
menjaga asupan makanannya. Reca juga jadi suka banget liat berita
berjam-jam, aktifitasnya setelah olahraga pagi Reca akan menyantap
sadwich sambil menonton berita. Trus yang lebih aneh lagi beritanya
hanya soal politik jika berita membahas hal lain maka Reca akan
segera mengganti chanel buat cari berota politik lain.
“ Paket.”
Seorang Kurir datang, Frianka hanya bisa terheran-heran
menerimanya karena ga merasa beli barang tapi kok belakangan ini
kurir sering datang ke rumah. Ya ampun ternyata Reca yang pesan, tuh
anak jadi sering banget belanja online dengan alasan ga punya waktu
buat belanja. Iya juga sih klo dipiki-pikir Reca sudah mengahbiskan
semua waktunya untuk belajar, latihan, olahraga, malah sekarang jadi
bantuin mama buat ngerjain kerjaan rumah belum lagi home schooling.
HINGGA SUATU KETIKA...
“ Ma, kita tempat Eyang yuk?” Reca tersenyum setelah sekilan
waspada.
“ Tempat Eyang? Kok tiba-tiba mau kesana? Rindu Eyang Re?”
“ Ga ma, Re rindu papa.” Oh iya... Papa Reca alias suaminya
dikubur dikampung halaman. Diperkarangan rumah Eyang yang luas.
“ Yuk mah..”
“ Sekarang?” Reca mengangguk
“ Kok ngedadak sih Re? Lagian kita belum packing.”
“ Tuh... “ Reca menunjuk koper-koper yang entah sejak kapan
udah berjejer disana.
“ Pesawat?” Reca menggoyang-goyang handphone di depan wajah
mamanya. Buat nunjukin klo dia udah pesen tiket on line.
“ Yuk mah, siap-siap geh.”
Hari itu Frianka kira matahari kembali terbit dalam kehidupan
putrinya, seolah fajar telah terlihat setelah malam yang panjang.
Karena benar-benar telihat sangat bahagia, dia mengajak mama dan
eyang jalan-jalan ke mall. Memainkan wahana bersama-sama, belanja
__ADS_1
bareng dengan senyum yang tidak pernah surut dari wajahnya. Malahan
sekarang mereka jadi sering makan bareng, dipenuhi cerita penuh gelak
tawa. Reca juga bersikap sangat perhatian ke mama, kadang juga manja,
beneran membuat Frianka bahagia. Putri kecilnya sudah kembali, dia
sudah kembali dari perjalanan panjangnya yang gelap. Dia mampu
melewati semua rintangan dan keluar dengan baik, dia sudah bekerja
keras.
Mama maaf karena Re belum bisa cerita
Tapi Re harus pergi ma. Jangan cari Re
Re ga ingin mama terluka, biar aja Re yang akan menyelesaikan ini
Re janji akan baik-baik saja
Re mohon mama tinggal dengan eyang ya agar mama ga kesepian
Dan itu jauh lebih aman buat keselamatan mama
Karena Re belum bisa nemenin mama untuk saat ini
Tapi janji akan kembali buat mama
Percaya sama Re ma, Re bisa
Maaf jika belakangan udah buat mama khawatir
Re sayang mama
Diujung bawah kertas ada tulisan kecil
Jangan pernah percaya siapapun...
Frianka menjatuhkan secarik kertas
ditangannya, yang iya temukan tergelatak diatas tempat tidur. Mata
ibu berusia 45 Tahun itu menatap nanar pada sekeliling kamar dengan
air mata yang sudah nyaris keluar. Dia memeriksa semua lemari dan
koper, Frianka baru menyadari bahwa Reca hanya membawa semua barang
dan baju Frianka saja. Reca sma sekali tidak membawa barang-barang
pribadi miliknya. Reca sudah merencanakan perjalanan ini, dia tidak
benar-benar bahagia. Dia tidak benar-benar baik-baik saja, Reca
sedang bermain drama. Frianka tidak tau peran apa yang sedang
putrinya mainkan, dia hanya bisa terduduk dilantai menangisi
kelemahannya. Sebagai seorang ibu dia tidak bisa memahami apa yang
terjadi dengan putrinya dan tidak bisa melindungnya.
__ADS_1