WINTER GLOW

WINTER GLOW
Saat Gelap dan Terangku 2


__ADS_3

Hari-hari Reca semakin gelap, dan kesepian. Dia bahkan tidak keluar dari kamarnya kecuali saat makan. Sepertinya dalam kesedihannya pun Reca masih ingat bahwa sekarang mereka hanya berdua aja sama mama, kasian mama klo harus makan sendirian. Dengan rutin Reca akan keluar dari kamar pada waktu makan, mulai dari sarapan, makan siang sampe makan malam. Hanya saja yang disayangkan meja makan masih tetap sunyi. Gadis yang selalu bawel dan penuh cerita saat makan, sekarang hanya menghabiskan makannya dengan diam.


Tapi yang sedikit membuat Frianka bingung, Putrinya yang bernama Reca itu makan sangat lahap. Malah sesekali dia menambah nasi atau lauk ke piringnya.


" Re duluan ya ma?" Reca lansung bangkit dan buru-buru mencuci piringnya sendiri. Mama hanya bisa terperangah.


Selanjutnya Reca akan pergi ke kulkas mengambil beberapa minuman dan cemilan, trus masuk kamar lagi. Ada rasa lega ngeliat Reca makan dengan baik, menjaga asupan tubuhnya. Tapi Frianka juga takut karena


dulu sebelum dunia gelap ini datang Reca tidak pernah makan sebanyak itu dalam keadaan sangat bahagia sekalipun.


" Re..." Untuk kesekiankalinya mama mencegahnya masuk untuk bicara, mencoba memahami dan ingin berbagi.


" Mama jangan cemas Re baik-baik aja kok ma." Reca membuka pintu kamarnya dan menuntun mama masuk.


" Liat. Reca lagi belajar ma...." memperlihatkan layar laptop miliknya, untuk memberitahu apa yang sedang dia kerjakan. Ah ya... Frianka ingat, sekang Reca udah mulai home schooling. Cukup terkejut juga, ternyata Reca mengerjakan semua tugasnya. Mata Frianka masih tidak percaya mendapati tumpukan tugas di meja belajar putrinya dan itu sudah selesai dikerjakan. Benarkah Reca memang baik-baik aja.


" Boleh Reca lanjut belajar ma?" Oh ayolah ma, dia sedang bilang bahwa mama harus meninggalkan kamar ini segera. Reca tidak ingin diganggu lebih lama.


" Oh iya, ya. Silahkan sayang. Emmm...mau mama buatkan cemilan, susu, juice atau..." Secara otomatis mama menangkap sederet makanan yang udah tertata juga di meja itu.


" Oh sudah ya..." Ucap nya lemas


Entah sejak kapan putri kecilnya ini begitu mandiri, bahkan kamarnya sekarang sangat rapi. Lantainya juga sangat bersih. Oh Tuhan... Frianka ingin menjerit. Entah dia harus apa, benarkah ini pertanda baik atau Reca sebenarnya hanya ingin terlihat baik.


*****


Masih jam 5 pagi, saat Frianka melirik jam dinding. Disetengah sadarnya dia melihat jendela yang tirainya sudah terbuka, kantuknya pun langsung hilang. Dia ngeliat dengan jelas Reca di luar sudah menggunakan stelan olahraga set, memakai headphone dan melakukan pemanasan.


" Hi ma..." Sapa Reca saat pulang dari lari pagi sambil meneguk juice jeruk.


" Mau sarapan?" Reca mengangguk imut. Sumpah... dia udah balik keknya. Serius? Reca move on?


" Habis sarapan Re keluar bentar ya ma. Ada yang mau Reca beli." Mama tersenyum.


" Kamu pergi sendiri."


" He eh."


" Re."


" Hmm?" Sambil mengunyah sarapannya.


" Emmm... Mika..." Kunyahan Reca langsung terhenti.


" Kamu ga mau ngabarin temen-temen sayang." Yah... mama akan sangat lega jika di luar rumah ada orang  lain yang bisa nemenin Reca. Bukan, lebih tepatnya membantu Frianka meluruskan semua keanehan ini. Alangkah baiknya jika Reca memang baik-baik aja.


" Re ga mau ganggu mereka ma. Bentar lagi kan ujian akhir, Re juga mau fokus sama belajar Re." Mama terpaku ga tau harus ngomong apa


" Re mandi dulu ya ma." Ah...entahlah.


Setelah keanehan itu, kebiasaan Reca berubah. Dia jadi sering ke perpustakaan, menghabiskan waktu berjam-jam disana, Frianka yang


penasaran pun mengikuti putrinya diam-diam dan mendapati Reca yang


belajar tanpa henti dengan keras. Buku-buku tebal tampak berjejer di


sebelahnya, jari dan matanya berkutat dengan laptop lalu sesekali


membuka buku mencari teori. Bukanlah hal aneh sebenarnya, semua itu


adalah hal wajar yang dilakukan seorang pelajar. Tapi masalahnya hal


itu bukanlah kebiasaan Reca. Selain itu, Reca juga mendaftar di kelas


taekwondo. Dia terlihat sangat serius berlatih bahkan sekarang

__ADS_1


menjaga asupan makanannya. Reca juga jadi suka banget liat berita


berjam-jam, aktifitasnya setelah olahraga pagi Reca akan menyantap


sadwich sambil menonton berita. Trus yang lebih aneh lagi beritanya


hanya soal politik jika berita membahas hal lain maka Reca akan


segera mengganti chanel buat cari berota politik lain.


“ Paket.”


Seorang Kurir datang, Frianka hanya bisa terheran-heran


menerimanya karena ga merasa beli barang tapi kok belakangan ini


kurir sering datang ke rumah. Ya ampun ternyata Reca yang pesan, tuh


anak jadi sering banget belanja online dengan alasan ga punya waktu


buat belanja. Iya juga sih klo dipiki-pikir Reca sudah mengahbiskan


semua waktunya untuk belajar, latihan, olahraga, malah sekarang jadi


bantuin mama buat ngerjain kerjaan rumah belum lagi home schooling.


 


 


HINGGA SUATU KETIKA...


“ Ma, kita tempat Eyang yuk?” Reca tersenyum setelah sekilan


waspada.


“ Tempat Eyang? Kok tiba-tiba mau kesana? Rindu Eyang Re?”


“ Ga ma, Re rindu papa.” Oh iya... Papa Reca alias suaminya


dikubur dikampung halaman. Diperkarangan rumah Eyang yang luas.


“ Yuk mah..”


“ Sekarang?” Reca mengangguk


“ Kok ngedadak sih Re? Lagian kita belum packing.”


“ Tuh... “ Reca menunjuk koper-koper yang entah sejak kapan


udah berjejer disana.


“ Pesawat?” Reca menggoyang-goyang handphone di depan wajah


mamanya. Buat nunjukin klo dia udah pesen tiket on line.


“ Yuk mah, siap-siap geh.”


Hari itu Frianka kira matahari kembali terbit dalam kehidupan


putrinya, seolah fajar telah terlihat setelah malam yang panjang.


Karena benar-benar telihat sangat bahagia, dia mengajak mama dan


eyang jalan-jalan ke mall. Memainkan wahana bersama-sama, belanja

__ADS_1


bareng dengan senyum yang tidak pernah surut dari wajahnya. Malahan


sekarang mereka jadi sering makan bareng, dipenuhi cerita penuh gelak


tawa. Reca juga bersikap sangat perhatian ke mama, kadang juga manja,


beneran membuat Frianka bahagia. Putri kecilnya sudah kembali, dia


sudah kembali dari perjalanan panjangnya yang gelap. Dia mampu


melewati semua rintangan dan keluar dengan baik, dia sudah bekerja


keras.


 


Mama maaf karena Re belum bisa cerita


Tapi Re harus pergi ma. Jangan cari Re


Re ga ingin mama terluka, biar aja Re yang akan menyelesaikan ini


Re janji akan baik-baik saja


Re mohon mama tinggal dengan eyang ya agar mama ga kesepian


Dan itu jauh lebih aman buat keselamatan mama


Karena Re belum bisa nemenin mama untuk saat ini


Tapi janji akan kembali buat mama


Percaya sama Re ma, Re bisa


Maaf jika belakangan udah buat mama khawatir


Re sayang mama


Diujung bawah kertas ada tulisan kecil


Jangan pernah percaya siapapun...


Frianka menjatuhkan secarik kertas


ditangannya, yang iya temukan tergelatak diatas tempat tidur. Mata


ibu berusia 45 Tahun itu menatap nanar pada sekeliling kamar dengan


air mata yang sudah nyaris keluar. Dia memeriksa semua lemari dan


koper, Frianka baru menyadari bahwa Reca hanya membawa semua barang


dan baju Frianka saja. Reca sma sekali tidak membawa barang-barang


pribadi miliknya. Reca sudah merencanakan perjalanan ini, dia tidak


benar-benar bahagia. Dia tidak benar-benar baik-baik saja, Reca


sedang bermain drama. Frianka tidak tau peran apa yang sedang


putrinya mainkan, dia hanya bisa terduduk dilantai menangisi


kelemahannya. Sebagai seorang ibu dia tidak bisa memahami apa yang


terjadi dengan putrinya dan tidak bisa melindungnya.

__ADS_1


__ADS_2