
DULU SEKALI....
Seorang Laki-laki yang sedang putus asa akan sebuah harapan mempunyai seorang anak, menghibur dirinya dengan mengunjungi sebuah panti asuhan. Dia sangat menginginkan seorang anak laki-laki yang akan meneruskan kerajaan bisnisnya, yang bisa diajaknya nonton bola bersama dengan segala keseruannya. Tapi dokter Kandungan konsultan infertilitas memvonis istrinya tidak dapat mempunyai anak meskipun melalui metode bayi tabung dikarenakan kelainan bentuk rahim yang menyebabkan ketidakmampuan rahim untuk di tumpangi janin. Sementara meninggalkan istri yang begitu dia cintai, pria itu tidak mampu karena baginya istrinya lah yang menjadikan dia begitu sukses seperti sekarang.
" Ah pak Rayan Abdi?" Seorang kepala panti asuhan menyapa lelaki yang sedang merenungi nasibnya itu.
" Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu pak?" Karena tidak biasanya Rayan Abdi berkunjung dua kali dalam sepekan, dan hari ini bukan hanya dia datang untuk kedua kali tapi juga wajahnya tampak murung.
Rayan Abdi tidak menjawab dia hanya menatap kosong ke arah anak-anak yang tengah bermain di halaman panti. Banyak anak lelaki tapi hatinya terus meras hampa setiap kali melihat mereka, dia semakin merasa kosong dan tidak lengkap. Tawa anak laki-laki itu seolah menertawakan kekurangannya, namun hari itu ada anak perempuan yang duduk di kursi taman tak jauh dari tempat Rayan Abdi berdiri. Anak perempuan yang tampak sedih dan terus murung, seakan tidak ada satupun di dunia ini yang bisa membuatnya tertawa.
" Anak itu... "
" Ah baru datang beberapa hari yang lalu pak. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, dia diasuh oleh neneknya tapi hanya beberapa bulan setelah itu sang nenek juga meninggal. Baru-baru ini dia sudah diadopsi beberapa kali oleh keluarga baru tapi...."
" Tapi?"
" Tapi entah bagaimana selalu ada kebetulan setiap keluarga yang mengadopsinya tidak lama kemudian mengalami musibah. Hingga dia dianggap... membawa sial." Pimpinan panti tampak begitu prihatin padalahal anak perempuan itu sangat cantik bak boneka Barbie.
" Sesaat orang yang melihatnya akan terpesona tapi setelah mengadopsinya mereka justru menyalahkan anak itu untuk hal yang tidak menyenangkan yang mereka alami, bayangkan betapa ketakutannya gadis kecil itu. Seluruh dunia seakan tidak menerimanya."
Rayan Abdi tersentuh detik itu juga, seolah dia menemukan seseorang yang begitu senasib. Rayan Abdi merasa dia baru saja dapat teman untuk melawan dunia, untuk membuktikan bahwa hal yang tidak diterima di dunia ini seperti kekurangan istrinya bisa mewujudkan impian yang mustahil.
__ADS_1
" Hai." Rayan mendekati anak itu lalu menggenggam jemari kecilnya. Anak itu mengangkat wajahnya, matanya terlihat tanpa harapan.
" Maukah kamu memeluk Om?" Entah kenapa Rayan menangis saat itu, dia tidak berkata apapun tapi air mata itu memberi tahu pada si anak perempuan kalau Rayan sama menyedihkannya. Gadis kecil itu mengusap air mata Rayan dengan jemari kecilnya lalu dai memeluk Rayan yang berjongkok di tanah.
Seketika tangis gadis itu pecah, dia merasa telah menemukan tempat bersandar yang dia cari. Dan dia bisa mencurahkan apa saja di tempat itu termasuk membagi bebannya.
Hari itu Rayan menggandeng jemari kecil itu hingga ke rumahnya.
" Namanya Paradisa, nama itu pemberian mendiang orang tuanya." Istri Rayan, Mia. Hanya menatap seraya membeku melihat suaminya pulang membawa anak perempuan, dia tau bahwa anak laki-laki adalah impian terbesar suaminya.
" Mulai hari ini namanya Paradisa Kusniar."
" Ouhhh?" Istri Rayan langsung berhambur memeluk Paradisa, meluapkan rasa haru bercampur bahagia... akhirnya suaminya bersedia mengadopsi seorang anak. Dia tidak perduli laki-laki atau perempuan, melihat wajah yang begitu sempurna ini hatinya sangat bahagia. Bahkan bahagia itu tidak berubah setelah Rayan menceritakan gelar pembawa sial yang melekat pada anak cantik itu.
" Mama?"
" Huh?" Mia terperangah, tidak percaya dirinya dipanggil mama oleh seorang anak. Panggilan yang begitu dirindukannya. Dia takut dia salah dengar, dia takut ini hanya ilusinya.
" Mama.."
" Iya nak... Iyah... ini mama sayang." Mengangguk sambil menangis. Paradisa memeluk Mia dan tangisnya pun kembali pecah. Bibir kecilnya terus mengucapkan kata mama dengan jemari mungil yang meremas baju sang ibu. Dia takut jika sekali ditinggalkan, takut sekali.
__ADS_1
Sejak saat itu Paradisa menemukan rumahnya, keluarga barunya. Tapi sebuah kenyataan harus tetap dihadapi bahwa orang seterkenal Rayan Abdi tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa Paradisa yang dipanggilnya dengan nama Esa itu adalah anak angkat. Pamornya membuat seluruh dunia tau bahwa Rayan Abdi tidak memiliki anak kandung dan Esa adalah anak adopsi. Kejam memang, karena hal itu Rayan Abdi sebisa mungkin tidak menampakkan dirinya di depan publik bersama Esa bukan karen malu akan statusnya tapi.... Rayan tidak ingin Esa terluka karena mendengar perkataan orang-orang yang menyebutnya anak adopsi. Semua perayaan keluarga dilakukan tertutup dan Rayan menggunakan kekuasaannya agar media menjauh dari kehidupan anaknya. Rayan Abdi Kusniar, selama karirnya di bidang politik lebih dikenal sebagai Rayan Abdi dan nama itu melekat bersama karir politiknya yg meroket. Sementara itu nama Kusniar mulai dilupakan, hingga banyak yang tidak sadar bahwa Paradisa Kusniar itu adalah anak adopsi Rayan Abdi. Berjalannya waktu orang-orang mulai lupa soal Paradisa Kusniar.
Namun Esa yang merasa telah diberikan sebuah kehidupan, diangkat dari tempat tergelap ke tempat yang penuh masa depan selalu berusaha membuat Rayan terkesan. Dimulai dari belajar sangat keras agar selalu jadi yang terbaik di sekolah, menjaga sikap agar selalu sopan hingga membuat kedua orang tuanya bangga karena selalu dipuji para kolega saat mereka bertemu Esa. Suatu ketika dia tau bahwa ayah angkatnya itu pernah sangat mendambakan anak laki-laki diusianya yang saat itu masih sebelas tahu . Esa pun berusaha keras menjadi anak laki-laki untuk sang ayah sekaligus anak perempuan untuk si ibu. Esa membiasakan menonton pertandingan olahraga bersama papa atau malah olahraga bareng layaknya seorang putra dengan ayah kandungnya. Melakukan apapun yang bisa membuat kedua orangtuanya senang. Dan terjadilah hari bersejarah itu yang menjadi titik awal semua kekacauan yang menyeret Esa dalam pekerjaan kotor.
" Apa yang kita lakukan? Tim AKS akan segera kesini." (AKS atau Anti Korupsi dan Suap, badan negara yang sejenis KPK lah klo di kehidupan nyata Wak) Jabat Sentosa terlihat kalut, rencananya dan Rayan Abdi yang ingin membangun Hirarki politik terancam berakhir di jeruji besi. AKS mulai mencium jejak kejahatan yang dilakukan Rayan Abdi dimana dia baru ditunjuk sebagai pemimpin kelompok Singa Merah, AKS mendapati dugaan penipuan pemilu berupa manipulasi suara. Sialnya saat itu semua catatan transaksi kejahatannya ada di ruang kerja Rayan Abdi tepatnya di salah satu ruangan di rumah pribadinya. Tentu Rayan Abdi tidak bisa mengelak jika AKS menemukan bukti itu di rumahnya.
" Berapa lama hingga mereka tiba di sini."
" Kurang dari 20 menit mereka akan sampai. Kita tidak akan punya waktu untuk keluar dari sini, mata-mata AKS terus memantau kita di luar." Jabat menyibak sedikit gorden jendela dan tampak beberapa titik yang sedang dijaga eh agen AKS yang sedang menyamar.
" Ini gila... pyuuhhhh." Esa yang saat itu masih kelas 1 SMP tidak sengaja melintas di depan ruang kerja ayahnya dan mendengar pembicaraan mereka. Dari celah pintu yang sedikit terbuka Esa melihat FD yang di pegang ayahnya.
" Kita harus menyembunyikan bukti ini, tanpa harus merusaknya karena ini berisi semua bukti yang terkait dengan seluruh susunan parlemen. Tidak luput seorangpun, jika ini ditemukan kita akan tersapu bersih tapi membuangnya begitu saja juga hanya akan mempercepat kematian kita karena akan kehilangan kendali para pejabat serakah itu. Ah.... bagaimana ini?"
Esa tiba-tiba masuk dan merebut FD ditangan ayahnya lalu menyambungkan nya ke perangkat komputer, Esa memindahkan semua isi FD milik ayahnya itu dalam FD pribadinya. Rayan yang terlihat syok ingin bertanya tapi tidak mampu mengeluarkan suara. Mulutnya hanya tergagap lalu diam karena serangan panik.
Selagi proses pemindahan data Esa mengambil pembalut dan lem super dari kamarnya kemudian membawanya ke ruang kerja ayahnya. Dia mengambil salah satu pembalut yang belum dibuka lalu membuka sedikit bungkus nya selanjutnya FD milik Esa yang sudah selesai memindahkan tadi diambil lalu dimasukan dalam bungkus pembalut yang dibukanya. Setelah mengaturnya agar tidak kelihatan Esa mengelem kembali kemasan yang terbuka tadi lalu memasukkan nya dalam kemasan besar sehingga bercampur dengan pembalut yang lain. FD yang terlihat kosong akan sangat mencurigakan jadi Esa mengisi dengan tugas sekolahnya lalu memasukkan FD itu dalam tasnya. Setelah itu Esa yang masih mengenakan seragam sekolahnya buru-buru keluar dari ruang kerja ayahnya.
" Esa." Panggil Rayan
TEK! Pintu utama terbuka kemudian masuk beberapa agen AKS yang bersiap menggeledah seluruh isi rumah Rayan Abdi.
__ADS_1
*****