
“ Lo
siapa?” Tangan Sarah mencengkram lengan Reca dan menariknya
mendekat. Wajah cantik yang berubah badas, tapi sayang Sarah kalah
damage. Karena segera Reca melepas tanganya dengan paksa.
“ Orang
yang akan buat lo diabaikan sama Mika.” Mata Reca yang emang ga
pernah kenal takut menantang balik, dia masih ingat bagaimana
tergila-gilanya Sarah sama sahabat SMA nya itu.
“ Lo
mau liat?” Meski ga ngejawab tapi mukanya bilang, coba aja klo
emang iya. Songong banget sih lo, sok cantek.
“ Mik,
lo masih mau makan bareng gue ato sama dia disini?” Bukan sok
cantek, emang cantek loh.
Ga
sampe lima detik Mika, langsung masuk ke cafe diikuti Reca yang
langsung tersenyum sinis menyombongkan wajah kemenangannya. Sarah tidak kesal, pikirannya
terlalu sibuk mengingat wajah yangtidak asing tapi juga tidak
familiar. Dia sama sekali ga lupa soal Reca, tapi yang berdiri
sekarang ini… ah tunggu! Sarah menggigit sudut bibirnya.
“ Mika
masih mengekori gadis itu, benarkah?” Batin Sarah
“ Lalu
Esa? Bukankah dia managernya Mika, hubungan mereka terlihat sangat
spesial di layar kaca.” Batin Sarah lagi.
Sarah
masih belum bisa menggeser Mika dari hatinya, meski dia termasuk cewe
player yang suka gonta-ganti pacar. Tapi dia masih terus mengikuti
Mika dari media sosial dan semua tentang Mika di televisi. Sebenarnya
Mika yang membuat semua lelaki yang dipacarinya terlihat tidak
berarti di mata Sarah, standar Mika masih belum terkalahkan.
“ Apakah
itu Reca?” Seketika wajah Sarah memucat, seputih kapas.
“ SARAH TOLONG GUE. SARAH TOLONG GUE”
Sepotong
ingatan melintas dipikiran Sarah, gadis belia sedang menangis dan
meminta bantuannya. Tapi Sarah hanya terpaku dengan tatapan puas tanpa
berkata apapun, tidak peduli bagaimana dia memohon.
Gadis itu Reca yang dia lihat delapan tahun lalu di sebuah gudang
tua.
“ Ga,
ga mungkin.” Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya, membantah
ingatanya. Tangannya gemetar hingga
tidak bisa memasukan handphone nya dengan benar ke dalam tas. Jika
cewe tadi adalah Reca kenapa dia ga bereaksi apapun, kenapa dia hanya
diam saja. Bahkan tidak menyebut namanya, tidak memandang benci. Dia
hanya terlihat…. tidak perduli.
“ Jadi
jelas itu tidak mungkin Reca kan?” Ucap batin Sarah seraya
terjongkok karena kakinya terasa lemas dan tidak bisa berdiri. Dia
kemudian mengambil kembali handphone masih dengan gemeteran.
“ Jangan
keluar dulu, selidik seseorang untuk ku. Aku tunggu di mobil.”
“ Kamu
inget sama cewe tadi Re?”
“ He
hmm. Sarah kan?”
“ Hmmm.”
“ Yang
nembak lo dulu? Kenapa?” Jawabnya dengan muka super judes, dingin
tapi ga bikin yang denger marah.
“ Waktu
kamu ngilang dari sekolah, dia ikutan hilang ga lama setelahnya.”
Reca berhenti mengunyah sambil bersiap mendengarkan cerita Mika
selanjutnya.
“ Oiya?”
“ Tapi
ga ada yang tau kenapanya.”
__ADS_1
“ Itu
penting buat lo?” Mika
buru-buru
menggeleng.
“ Cuma
penasaran aja karena kamu Re.”
“ Sebenarnya
dulu kamu kema...” Belum sempat Mika bicara Reca tiba-tiba meremas
jari Mika diatas meja. Tangan satunya memberi isyarat ke
Mika untuk tidak bersuara. Mika panik. Kok tiba-tiba kaya gini, meski
ga ngerti dia nurut aja.
Reca
meriksa bawah meja piring vas bunga dan matanya melihat sekelling
untuk mencari alat penyadap dan CCTV. Reca baru sadar, ruangan ini
sangat minimalis, hanya ada satu meja yang dihiasi sekedarnya dan dua
kursi. Tidak ada objek lain yang memungkin seseorang untuk meletakkan
alat penyadap. Dibawah meja juga ga ada, hanya ada dua CCTV terpasang
diatas.
“ Re.”
“ Ssssstttt.
Ada seseorang di balik pintu itu.”
“ Seseorang?”
Firasat Reca benar, seseorang sedang menguping pembicaraan mereka.
“ Tapi
bukankah ruangan ini kedap suara?” Pikirnya.
“ Sebenarnya
kenapa Re?” Mika berbisik. Reca
ga jawab, dia hanya menunggu sambil menatap pintu ruangan dengan
lekat.
SREEEKKKK
Pintu
geser itu terlihat terbuka,
dan seorang pelayan masuk membawa makanan
penutup yang sama sekali ga mereka pesan. Dan kalau pun itu layanan
dari cafe pasti akan disebutkan di buku menu atau disebutkan oleh
pelayan saat mereka memesan tadi, tapi masalahnya ga ada loh. Saat
pelayan masuk Reca melihat ada sepatu yang sedikit terlihat dibalik
Fix ne berarti, emang ada yang aneh dengan makanan penutupnya. Makanan
ini didatangkan untuk sesuatu tujuan.
“ Terimkasih
ya mbak.” Untuk pertama kalinya Mika ngeliat Reca tersenyum ramah
ke orang lain. Entah kenapa Mika bergidik ngeri ngeliatnya, gilak aja
ngeliat ada orang yang acting di dunia nyata.
Perlahan
tangan Reca menyeret pisau steak diatas meja lalu menyembunyikan dibawah
meja dengan tangan yang siap melesatkan pisau itu jika terjadi
serangan.
“ Iya
mbak sama-sama, selamat menikmati.” Pelayan itu pergi dengan
tenang. Reca sedikit tertarik melihat sikap pelayan yang sangat
tenang itu, bisa dibilang dia terlihat sudah biasa melakukan peran
ini. Tempat apa ini?
Reca
memberi isyarat menggeleng kepada Mika agar cowo ganteng itu tidak
menyentuh makanan penutupnya. Kemudian Reca mengeluarkan uang tunai
dan meletaknnya di meja untuk membayar makanannya. Dia tidak ingin
meninggalkan jejak apapun, apalagi berupa elektronik kaya karti
kredit ataupun
debit. Reca menunggu orang yang dibalik dinding itu bergerak terlebih
dahuku, Mika yang ga tau apa yang terjadi cuma bisa ngeliatin sama
sesekali nelan ludah. Sebenarnya siapa Reca ini, kenapa banyak sekali
orang yang mencarinya? Dan untuk apa? Atau, apakah yang telah Reca
lakukan?
Reca
berdiri dan segera meraih tangan Mika agar berdiri di belakangnya.
Kebalik ih, harusnya Mika yang bersikap kaya gini. Pelan-pelan Reca
berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu tapi langsung merapat ke
dinding, buat nunggu ada yang masuk ato enggak. Pas
Reca ngintip keluar ternyata udah ga orang sama sekali, Reca dan Mika
pun keluar dengan tenang. Sampe di luar Reca udah ga ngeliat Sarah
lagi.
“ Mik,
__ADS_1
lo pulang dukuan geh. Gue ada urusan.”
“ Urusan
apa?” Mika buru-buruk menarik tangan Reca.
“ Lo
udah janjikan Re akan berbagi masalah lo sama gue.”
“ Gue
ga pernah bilang kaya gitu.”
“ Re
please. Aku...”
Mika
belum selesau bicara tiba-tiba Reca menariknya, lalu gadis itu
melesatkan tendangan. Ternyata ada orang yang pengen nyerang Mika. Ga
satu tapi tiga laki-laki bertubuh besar, meski begitu Reca ga
terlihat takut menghadapi mereka. Mika sendirinya hanya bisa terpaku
ngeliat Reca menghajar orang-orang itu satu persatu. Gerakannya cepat
dan selalu berhasil menyerang titik lemah lawan, kemampuan Reca
meningkat dari yang terkahir kali Mika lihat berkelahi. Hati Mika
sakit, Reca semakin hari semakin terasa orang asing.
“ Huh..”
Reca menyeka darah disudut bibirnya. Lalu menarik Mika buat lari.
“ Kunci
mobil lo.”
“ Inih.”
Eh tunggu..
“ Kok
lo yang bawak sih Re?”
“ Buruan
masuk klo ga mau muka cakep lo ancur.” Begitu Mika masuk mobil Reca
menginjak gas dan memutar kemudi dengan cepat. Tangnya terlihat
sangat ahli, bahkan bisa memundurkan mobil dengan sempurna.
“ Mereka
siapa Re?”
“ Gue
ga tau.”
“ What?
Trus kenapa kita lari?”
“ Karena
lo bisa mati klo lama-lama disana.”
“ REEEE..”
Jantung Mika mau copot hingga cowo ganteng teriak ketakutan, ngeliat
Reca bawa mobil ngebut banget trus nyalip-nyalip gitu.
Ga
lama mereka sampe di rumah Reca yang pernah Mika datangi terakhir
kali. Reca segera masuk dan memeriksa
seluruh ruangan di rumah itu. Dan Mika yang masih bingung cuma bisa
ikut mondar-mandir ngikutin kemana aja Reca jalan.
“ Kamu
nyari apa sih Re?” Mata Reca memeriksa setiap benda di dalam rumah
sepv erti
ingin menemukan sesuatu.
Rumah
itu ga dikunci sama sekali kaya Mika datang dulu, Reca sengaja ga
pernah mengunci rumahnya itu karena Reca
ingin tau sesuatu. Anehnya ga ada satupun barang yang hilang di
tempat itu, malahan ga ada benda yang bergeser sedikitpun dari tempatnya.
“ Re.”
Mika beneran udah ga tahan.
“ Jangan
buat aku bingung Re, sebenarnya kamu sedang apa? Apa yang lo cari dan
apa yang sebenarnya lo..”
“ Ga
tau.” What?
“ Gue
juga ga tau Mika apa yang gue cari. Yang gue tau mereka sedang
menginginkan sesuatu dari gue tapi gue ga tau itu apa?”
“ Mereka
siapa Re?”
“ Itu
juga gue ga tau.”
“ Apa?”
*****
__ADS_1