
Di malam pensi saat Reca mendapat kabar dari mamah klo papa sedang dirumah sakit karena luka tembakkan. Mama ga tau kapan itu terjadi, yang jelas saat akan mengajaknya makan malam dia justru menemukan suaminya berlumuran darah. Saat Reca tiba di rumah sakit, papa sudah ditutup kain putih. Mama yang ga kuat dengan pukulan cobaan ini justru jatuh lemas hingga harus diinfus.
Seketika pandangan Reca jadi kabur, airmatanya terus jatuh bergulir meski tanpa suara. Dan yang tidak Reca mengerti malam itu adalah, pihak rumah sakit yang terkesan terburu-buru mengeluarkan hasil visum. Selain itu ada yang aneh di malam itu saat Reca ingin melihat wajah papa yang terakhir kali, Reca ga sengaja ngeliat dada papa yang tepat di bawah dagu ada jejak merah seperti lebam. Meski malam itu Reca tidak begitu memikirkannya, tapi saat membaca hasil visum yang diberikan tidak terdapat luka lebam yang Reca lihat. Kemudian hal aneh lain
adalah, lunasnya administrasi rumah sakit padahal Reca dan mama tidak melakukan pembayaran. Namun semua kejanggalan itu tidak begitu Reca pikirkan.
Reca terlalu hanyut dalam kesedihan yang ngebuat dia ga pengen ngelakuin apa aja, selain menangis. Hingga suatu hari ada notifikasi pesan masuk di Whatsapp miliknya, dan Reca sulit percaya itu
pesan suara dari papa. Reca tersenyum sambil menangis, notofikasi Whatsapp ini sangat menghiburnya. Dan begitu dia klil tombol play, Rindu Reca sedikit terobati. Dia mendengar suara papa secara nyata seolah beliau baru saja hidup kembali.
“ Hi Re… lagi apa? Papa baru pulang kantor, papa mau ngajak kamu makan diluar. Luangkan waktu buat papa ya?” lalu pesan berikutnya…
“ Pasti kesal karena papa kirim pesan pake cara kaya gini ya Re? Hahahaha… tapi papa akan selalu kirim pesan seperti ini sayang. Biar kamu tetap bisa dengar suara papa meski papa ga disamping kamu.” Re terisak seraya mengeleng, dia menyesal pernah bilang kesal soal itu ke papa. Sekarang dia ingin sekali bilang terimaksih karena papanya tetap melakukan hal menyebalkan itu.
Seolah papa tau bahwa dia akan meninggalkan putrinya, dan pesan suara ini seolah sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi itu.
“ Re hari ini papa kangen kamu, tapi kata mama kamu lagi ngerayain ultah temen kamu. Jangan pulang malam-malam ya, papa tunggu Re di rumah...”
Klek!
Reca menyudahi mematikan handphonenya. Ada lubang besar terasa memberi ruang kosong dihatinya. Suara papa mengobati rindu tapi juga memeberikan luka secara bersamaan. Namun seperti magic, pesan dari papa mampu buat Reca melewati hari.
Setiap hari dia akan mendengarkan pesan itu entah memutarnya ulang pesan lama atau pesan yang
baru aja masuk, hingga Reca bisa seharian memasang handset di telinganya sambil melakukan bayak hal. Ternyata papa ngebuat voice not itu seperti buku diary digital pribadinya, karena dia menceritakan apa aja tentang dirinya. Lalu sampailah Reca pada pesan suara yang dikirim papa disaat detik-detik terakhir napasnya.
PRANG!!!
Reca menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya. Dia terkejut dengan suara yang baru saja di dengarnya, suara itu secara tidak langsung memberitahunya bahwa papa meninggal karena dibunuh dengan sekelompok orang yang tidak bisa Reca tebak berapa jumlahnya. Yang jelas mereka meminta sesuatu dari papa, tapi papa tidak memberikan sesuatu itu lalu mereka membunuhnya.
“ Re kamu kenapa sayang." Reca ga ngejawab apapun. Dia buru-buru melepas handsetnya dengan gemetar lalu memasukannya ke saku hoodie yang sedang dikenakannya.
" Mama kita harus pergi sekarang." Reca mendorong ibunya ke arah kamar dan segera mengambil koper dan memasukkan semua baju mereka.
" Kamu mau kemana Re, kenapa semua baju kamu masukin gituh?"
" Kita harus pergi dari sini ma. Kita harus cepat sebelum terlambat."
__ADS_1
" Pergi? Kenapa? Kemana Re?"
" Kemana aja ma. Jauh dari sini dan siapapun ga bisa nemuin kita." Reca tanpa henti mengemasi bajunya.
" Iya tapi kenapa?" Reca ga ngejawab
" Jawab mama Re...kamu sebenarnya kenapa?" Masih ga jawab
" RE." Mama ngebentak dan mencengkram kedua bahu Reca. Frinka mendapati wajah putrinya berurai air mata. Dengan muka yang diusahakan tegar, Reca mengusap air matanya.
" Re ga mau tinggal disini ma. Re ma pergi dari sini, Re takut ma. Papa di bunuh... kita ga tau sama siapa dan kenapa. Bisa jadikan mereka balik dan ngebunuh kita kan ma." Frinka langsung memeluk putri dengan erat. Ucapan Reca ngebuat dia gemetar.
" Jangan bilang gitu sayang. Kita akan baik-baik aja hhmmm....kamu tenang ya."
" Ayo kita pergi ma... kemana aja. Please."
Seperti yang sudah Re duga bahwa siapapun pembunuh papa ga akan membiarkan dirinya hidup tenang. Hari itu hari kesepuluh kepergian papa, Re bermaksud untuk kembali ke sekolah. Bagaimanapun hidup harus berlanjut, dan jalan Re sendiri masih sangat panjang. Namun saat Re turun di halte bus, dua orang laki-laki membekap mulutnya lalu membawanya masuk dalam mobil. Dan saat sadar Re berada di pergudangan tua yang terbengkalai, dengan tangan dan kaki yang terikat.
Re mempelajari sekitar, melihat tatanan letak barang atau jika dia beruntung dia bisa menemukan pintu keluar. Tidak ada siapapun disini, bahkan bayangan orang pun tidak kelihatan. Reca sangat takut, ia menangis tanpa suara tapi masih berusaha kuat untuk menemukan cara keluar dari sini. Tapi kemudian seseorang datang, bukan lebih tepatnya beberapa pria bertubuh tinggi besar memakai topeng berwajah senyum seperi topeng yang biasa dipakai dalam tarian daerah atau wayang dibali dan sekitaran Jawa.
“ Ka, kalian siapa?” Reca memberanikan diri bertanya , meski dia terus bergerak mundur untuk menjauh dari orang-orang itu.
“ Hahahaha... disini hanya aku yang boleh bertanya.” Pria itu mengeluarkan sebuah foto dari saku jaketnya. Foto sebuah flashdisk yang terbuat dari intan, memiliki ukiran khas yang melihatnya saja akan tau bahwa itu bibuat dengan khusus atau tempahan.
“ Kau pernah melihat ini?” Reca menggeleng buru-buru. Tapi pria itu menarik rambutnya.
“ Aaaaa...”
“ Coba lihat baik-baik, apakah ayahmu pernah memakai ini atau mungkin pernah lihat dimana benda ini tersimpan?”
“ Ga... papa ga pernah pakai benda kaya gituh.” Meski dengan wajah takut Re terdengar sangat yakin.
“ Oh yaaa... bagaimana kamu bisa begitu yakin.”
“ Tolol. Kau pikir dia akan nengatakan yang sebenarnya?” Pemakai topeng lain bicara.
“ Mulutnya pasti tidak tapi matanya bilang dia memang tidak pernah melihatnya.”
__ADS_1
“ Heh, anak ingusan ini tidak mungkin tau apa-apa.”
“ Mungkin mama tau.” Tiba-tiba Reca menyela pembicaraan mereka.
“ Mama? Hahahah... berani ngajarin ya?”
“ Iya soalnya mama suka barang antik, barang yang tadi itu barang antik kan?” Entah apa tujuan Reca mengatakan itu. Tapi itu cukup membuat kelompok penjahat itu terheran-heran. Karena sepertinya Reca mengira mereka sedang mencari barang antik. Apakah gadis ini benar-benar sepolos itu?
*****
__ADS_1