
" Kamu siapa?" Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk tampak gemetar memegang kursi kerjanya. Wajahnya pucat melihat bayangan hitam di depannya.
" Mau uang? Mau berapa aku bisa berikan, tolong lepaskan aku. Tolong." Orang yang di depannya tidak menjawab. Mukanya tertutup topeng putih dengan karakter tersenyum, pakaian serba hitam. Bahasa tubuhnya memperlihatkan seperi laki-laki. Perlahan tangan orang itu menyodorkan buku kecil.
" Aku punya puluhan salinannya. Bunuh Jabat sentosa atau aku akan membunuhmu."
" Aaaaaa.."
" Pak Ghani, anda tidak apa-apa?" Seorang ajudan tiba dan mendapati atasannya tengah memegang dada kirinya menahan sakit. Ajudan itu segera meraih obat dan meminumkannya.
" Bernapas pelan-pelan pak."
" Dia, dia..... hhuh..." Menoleh kanan-kiri memeriksa orang bertopeng tadi. Tampaknya sudah pergi.
" Anda tidak apa-apa Pak Ghani." Gubernur saat ini, Ghani Wijaya.
" I, iya tidak apa-apa. Ayo kita pergi sekarang."
Hari ini akan diadakan kampanye pemilihan kepala daerah, Ghani Wijaya rencananya akan mencalonkan diri sebagai gubernur kembali untuk periode kedua. Ghani dimata masyarakat adalah pemimpin yang baik selama masa pemerintahannya. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan dan sangat berpengaruh besar pada kesejahteraan masyarakat. Hingga akan diprediksi bahwa dia akan kembali terpilih sebagai kepala daerah atau menerima tawaran partai untuk mencalonkan diri sebagai Capres.
" Ghani Wijaya kembali memberi sumbangan kepada 300 petani miskin di daerah...."
" Liat apa sih Mik, serius banget?" Esa mengacak lembut rambut Mika yang segera mematikan ponsel yang sejak tadi dilihatnya.
" Hmm... ga ada cuma..."
" Aku liat kok, Ghani wijaya kan? Aku salut sama beliau, baik banget. dan satu-satunya pejabat yang dinyatakan bersih dari korupsi. Dia akan jadi pemimpin yang hebat. Gimana menurut kamu?" Mika cuma tersenyum yang artinya dia ga tertarik tuh.
" Sa!"
__ADS_1
" Ya? Oh Sutradara Roy, apa kabar pak?"
" Baik Sa. Stuntman (pemeran pengganti) untuk Mika, kita udah dapet. Kapan Mika bisa atur jadwal untuk mempelajari naskah?"
" Oh syukurlah pak, setelah pemotretan jadwal Mika kosong kok."
" Ok, saya tunggu."
" Mik udah dengerkan kita habis ini langsung cus ke tempat pengenalan naskah." Esa sibuk mencari handphone nya sampe ga sadar klo Mika yang diajak ngomong ga dengerin, malah justru bengong ga jelas.
" Mik? kamu dengerin aku kan?" Mika masih ga jawab, sekarang malah mirip orang bego yang syok berat. Pelan-pelan doi berdiri dengan wajah yang agak bingung.
Mika melihat seseorang memakai jaket hitam dengan celana jeans yang juga berwarna hitam. Entah kenapa hatinya mengatakan bahwa itu seseorang yang dia kenal. Tapi karena tidak melihat wajahnya, Mika memutuskan untuk mendekat. Dia mendapati wajah yang tertutup masker dan hanya terlihat bulu mata yang lentik disertai bola mata hitam yang sangat cantik, cukup untuk meyakinkan bahwa itu adalah wanita. Meski kepalanya memakai topi jaket, Mika bisa melihat jelas mata cantik itu menatapnya tanpa takut ketika mereka berhadapan. Tangan gadis itu tidak bergerak dari dalam saku jaketnya, dia juga tidak mengatakan apapun sekalipun Mika yang tampan itu berdiri sangat dekat sekarang, kurang dari satu meter.
Mata itu tidak bereaksi selain tatapan datar yang menantang tanpa kedipan. Mika terpesona sama mata cantik itu, seolah menjanjikan wajah yang sangat cantik dibalik masker ini. Parahnya entah atas dasar apa, tangan Mika bergerak berniat menyentuh pipi wanita itu tapi kemudian dia ragu sehingga hanya diam mematung dengan tangan yang setengah terangkat.
" Lo.....?"
" Mika! Kamu ngapain sih?"
" Ah... enggak. Pyuhhh... aku..."
" Masuk ke mobil yuk, kita berangkat." Esa melihatnya, wanita berjaket tadi. Esa juga melihatnya, tidak pernah ada yang bisa begitu menarik perhatian Mika, batinnya. Tapi kenapa orang dengan jaket hitam tadi? Mata Mika mengatakan, orang itu sangat menarik. Sepanjang jalan Mika ga ngomong apapun, dia bahkan ngebiarin Esa nyetir sendiri udah mirip sama supir pribadi, bukan manager.
" Ini naskahnya, kamu akan memerankan tokoh utama dalam film ini. Ceritanya tentang agen rahasia yang... zxvnzbz#!??..." Begitu seseorang masuk membuka pintu, suara sutradara terdengar seperti suara alien di telinga Mika. Wanita berjaket itu datang lagi.
Mata cantiknya mengamati sekitar, bulu matanya sesekali bergerak keatas kebawah karena kedipan. Sebagian rambutnya terjulur keluar dari sela topi jaket dan cukup ngeliatin seberapa panjangnya itu.
Mata itu, kali ini Mika benar-benar menyadarinya. Mata yang sangat dikenalnya, mata yang dulu selalu berbinar manja, mata yang dia yakin sepenuhnya tidak mungkin dimiliki orang lain.
__ADS_1
" Reca." Mika setengah berlari menghampiri wanita itu dan meraih lengannya. Si wanita berbalik dengan tatapan heran, pasti. Malah Esa lebih terkejut lagi, ngedenger Mika memanggil dengan sebutan apa wanita itu.
" Re.."
" Ouya..kamu udah datang? Bagus, berarti kita udah bisa mulai pengenalan naskahnya. Ini Stuntman yang saya bicarakan kemarin, kenalin." Sutradara Roy menyuruh Mika bersalaman dengan si stuntman, tersangka yang dimaksud mengulurkan tangannya. Cukup mengejutkan cewe itu membalas.
" Mika"
" Caca" Kening Mika mengernyit, suara itu. Bahkan suara itu hampir terdengar mirip, tapi yang ini lebih terdengar, tangguh.
Seolah tau dengan penasarannya Mika, Cewe itu ngebuka topi jaketnya, maskernya juga. Saat topi itu diturunkan, memperlihatkan rambut panjang yang hitam lurus meski tampak berantakan tapi sangat sexy. Dan ketika masker itu dibuka, hasilnya sesuai harapan.
" Reca?" Sekali lagi Mika hanya mampu mengucapkan nama itu, tapi cewe itu ga bereaksi apa-apa. Matanya masih datar, dan sikap yang luar biasa masa bodoh plus angkuh.
" Dia Stuntman yang cukup terkenal, beberapa kali terlibat dalam film-film hebat. Meski dia perempuan, kamu ga perlu khawatir dia bisa memerankan semua aksi dengan baik."
" Sa..." Mika meminta Esa meyakinkan dirinya, kalo bukan hanya dia yang berpikir telah ngeliat sahabatnya yang hilang delapan tahun lalu.
" Hmm... permisi dulu sutradara. Saya dan Mika ada yang mau dibicarakan sebentar."
" Silahkan, tapi jangan lama ya. Kita mau mulai soalnya."
" Mik, apaan sih kamu?"
" Dia mirip banget sama Reca kan Sa?"
" Kamu harusnya ga boleh kaya gitu dong Mika, siapa aja bisa mirip dengan orang yang kita kenal. Harusnya tuh, kamu tahan diri dulu, pastiin dulu. Kamu bisa dibilang orang aneh tau ga? Disini tuh banyak orang Mika, dan semuanya kenal kamu."
Entah apa yang membuat Esa cemas sebenarnya reputasi Mika sebagai aktor terkenal atau masa lalu nya. Yang jelas hatinya menjadi tidak tenang gelisah bercampur ketakutan. Hatinya terus berbisik agar tenang, tapi pikirannya bilang dia akan kehilangan. Ini tidak benar tapi juga belum tentu benar.
__ADS_1
" Ya Tuhan... redamlah hatiku dari gelisah dan takut." Doa Esa dalam hati.
*****