
" Tidak ada kegiatan khusus yang aneh, Reca sibuk dengan karir modelnya."
" Hmmm.. kau boleh pergi." Esa menerima laporan dari mata-mata suruhannya.
" Ada apa dengan Reca? Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" Jabat Sentosa mulai merasakan Esa lari dari misi mereka, mulai tercium urusan pribadi disini seperti cinta sepihak yang ga terbalas disertai kecemburuan.
" Kau tidak tau siapa dia?" Esa tersenyum sinis, apa saja kerja orang tua ini pikirnya. Jabat Sentosa memandangi foto Reca disalah satu pemotretannya melalui layar proyektor, dia tidak mengenali gadis itu.
" Ingat Branu Sanjaya? Dia putrinya."
" Lalu?"
" Lalu? Kau bertanya atau sedang mengujiku."
" Dia seorang model bukan? Memangnya apa yang menghawatirkan dari seorang model?"
" Hanya berjaga-jaga saja, bagaimanapun tidak ada seorang anakpun di dunia ini yang akan diam saja jika tau ayahnya dibunuh."
" Itu sudah delapan tahun yang lalu. Kenapa kau baru khawatir sekarang?"
Esa mengenang lagi saat Reca dirawat pasca luka tembakannya, sesuai dugaan Reca memang Esa lah yang menyerangnya saat itu. Cukup terkejut sih, Esa baru tau kalo Reca memiliki kemampuan beladiri yang sangat baik. Meskipun dia seorang stuntman profesional tapi melakukan pertahanan diri dalam keadaan terluka itu tidaklah mudah untuk seorang pasukan elit sekalipun. Tapi Reca seolah sudah terbiasa dengan itu, dan itu tidak wajar untuk seorang wanita seperti dirinya jika bukan berlatih karena alasan khusus serta sudah menguji kemampuannya secara langsung. Artinya Reca mungkin saja dalam diamnya sedang menyelidiki kematian ayahnya.
__ADS_1
" Entahlah... aku hanya merasa dia itu tidak boleh disepelekan."
" Pasti ada dasarnya bukan?"
" Dari Stuntman sekarang dia beralih menjadi seorang model, padahal Reca yang ku kenal belakangan ini bukanlah orang yang akan suka melakukan hal merepotkan semacam dunia modeling."
" Kita pernah mengawasinya bertahun-tahun dan tidak menemukan apapun. Aku harap ini bukan emosi pribadimu yang akan membuat tindakan gegabah atau hanya membuang waktu. Kuharap kau bisa kembali fokus untuk menemukan jantung Singa Merah, benda itu sudah menghilang selama delapan tahun harusnya itu adalah hal yang utama saat ini." Jabat Sentosa meninggalkan Esa yang terpaku di mejanya, yang kembali mengingat semua usaha mereka menggeledah rumah Reca malam itu namun tidak menemukan apapun bahkan ditempat tinggalnya sebelum bersama Mika. Surel hingga media sosial Branu Sanjaya juga sudah mereka telusuri tapi tidak ada jejak apapun, sementara Reca seperti manusia yang hidup di jaman purba yang ga memiliki satu pun akun media sosial selain itu dia bahkan tidak menghubungi siapapun dari riwayat panggilan teleponnya.
Dan sekarang Esa jadi sangat penasaran apakah Reca sama seperti dirinya yang tidak menemukan apapun. Apakah karena hal itu dia sampai saat ini masih diam? Tapi... dia berhasil membuang semua penyadap yang Esa pasang bukan? Jangan-jangan... dia sengaja hidup seperti manusia jaman batu untuk membuat catatan yang begitu bersih hingga siapapun tidak bisa menarik informasi tentang dirinya dan itu artinya dia sangat siap untuk hal sekecil apapun. Bola mata Esa membesar, menyadari hal yang telah dilewatkannya. Reca menghilang delapan tahun lalu tanpa jejak, Esa sempat berpikir bahwa Reca terbunuh saat penculikan itu tapi kemudian dia hadir memperlihatkan dirinya dengan sengaja. Why? Karena Mika kah? Tidak, Reca bahkan saat itu bersikap pura-pura tidak mengenal mereka. Lantas karena apa? Apakah reca menyadari sesuatu tentang Esa?
" Tidak mungkin. Dia tidak mungkin sekompeten itu... tidak ada satupun yang mengarah ke gue trus kenapa dia..."
*****
" Gue udah bilang enggak kan?" Reca yang hampir meledak di tempat menarik Mika keluar buat minta penjelasan, sementara Desy mencoba menenangkan perwakilan LASA yang tampak gusar karena Reca yang tiba-tiba ninggalin ruangan tanpa basa-basi.
" Re, dengerin dulu penjelasan aku." Mika menggenggam kedua tangan pacar yang begitu dicintainya itu.
" Re please percaya sama aku dan bertahan sebentar lagi. Joana adalah pengusaha sekaligus dsigner ternama, dia memiliki banyak koneksi yang bisa menjadi tiket masuk kita untuk mendekati para pejabat karena beberapa pelanggan tetapnya adalah anak atau istri dari beberapa pejabat besar. Bayangkan saja seorang pelanggan VVIP yang spesial itu pasti Joana mengenalnya dan mungkin menyimpan informasi yang kita butuhkan. Dan bisa saja Joana membuat rekomendasi untuk kamu menghadiri event yang sering dibuatnya bersama para pejabat. Karena Joana sangat sering membuat acara bersama seperti itu dengan orang-orang penting di dunia politik."
Reca diam sebentar mencoba mencerna kata-kata Mika, masuk akal sih tapi yang Reca ga ngerti kenapa para penjabat itu bergaul dengan pengusaha fashion. Oke sekarang Joana itu terdengar sangat menarik.
__ADS_1
" Oke" Mika tersenyum, karena kata OK itu artinya Reca setuju.
Ga perlu waktu lama setelah pertemuan pertamanya dengan Reca, Joana segera jatuh cinta dan setuju untuk bekerja sama. Selama pemotretan yang diawasi oleh Joana langsung pun berjalan lancar, Joana terus memuji kemampuan Reca yang sebenarnya ngasal tapi gayanya epic banget. Singkat cerita, berita Reca yang direkrut oleh LASA menyebar di seluruh media dan sekali lagi kolaborasi itu menciptakan goal nya sendiri. Mulai dari penjualan yang meningkat tajam dalam waktu singkat diikuti nama Reca yang semakin besar di dunia entertaint, ngebuat nama Reca menjadi buah bibir dimana pun nama itu disebutkan.
Lalu terulang lagi, karir yang melejit dana nama yang semakin popular ngebuat Reca berkubang kesibukkan tanpa bisa bernapas. Logikanya perlahan mulai berontak, karena rencana yang Mika katakan belum terlihat sedikitpun
perkembangannya. Reca hanya sibuk memenuhi kontrak label tanpa bisa mendapat koneksi yang pernah Mika janjikan.
“ Ngelamunin apa sih Re?” Mika memeluk Reca dari belakang yang tengah memandang keluar dari dinding kaca. Dengan lembut menyibak semua rambut Reca ke arah depan sebelah kanan, lalu mengecup leher jenjang kekasihnya itu dari belakang. Mata Mika terpejam dan pelukannya mengerat, sesekali mengulang kecupannya di bahu dan rambut Reca. Ngeliat Mika dari pantulan kaca hati Reca perih, pria tampan itu terlihat begitu menyukai dirinya.
“ Segitu sukanya kah lo sama gue Mik, liat lah ekspresi muka lo yang seolah udah setahun ga ketemu gue padahal kita tinggal serumah gitu.” Ucap Reca dalam hati.
Reca melihat kebelakang ingin ngeliat dengan jelas wajah Mika yang terlihat hampir mati itu, beneran ga sih? Tapi malah dapat kecupan mesra dari Mika sambil tersenyum. Senyum yang hanya diberikannya pada Reca seorang.
“ Cantik banget sih.” Mika mengulang ciumannya kali ini lebih dalam. Menarik dagu Reca untuk ngebuat wanita itu membalik sepenuhnya lalu direngkuh dalam pelukan yang semakin erat.
“ Hmph.. Mik.. tungg...” Kayanya doi kehanyut suasana tanpa sadar ******* bibir Reca dengan sedikit ganas seraya berangsur memaksa Reca berjalan mundur trus terpojokkan dan berakhir terbaring di sofa, tapi karena
Reca merintih Mika berhenti sambil ngeliatin muka Reca yang memerah karena satu kancing baju paling atas dari blousnya udah kebuka.
“ Kamu tau Re... aku kangen banget karena belakangan kita sama-sama sibuk.” menyangga tubuhnya yang udah nindih Reca di sofa dengan kedua lengan kekarnya.
__ADS_1
“ Kangen? Kita kan tinggal serumah.” Balik deh muka cuek masa bodoh yang seolah nanya apa masalahnya, Mika tersenyum. Hanya wajah, satu-satunya wajah yang mampu bersikap seenaknya terhadap dirinya. Yang selalu membuatnya kalah dalam hal apapun, ga perduli sebanyak apa Mika memberikan cintanya wajah ini ga pernah ngerasa klo udah jahat banget ngebuat cowo setampan sehebat Mika jadi kaya gini. Mirip Raja Harimau ganas yang langsung berubah jadi anak kucing begitu ketemu sama pawangnya.