
Selesai Video call denga Esa Mika tidak berkata apa-apa. Dia terus meninju samsak tinju di ruang latihan pribadinya, sambil terus berpikir keras apa yang akan dilakukannya? Terus mengejar Reca meski terus mengabaikannya, atau berhambur ke pelukan Esa yang selalu memberinya tangan terbuka. Jika dia meninggalkan Reca sekali lagi setelah penyesalannya apakah dia akan baik-baik aja? Tapi jika dia melepaskan Esa, apakah dia tidak akan menyesal juga? Tidak mungkin orang baik akan menunggu selamanya bukan? Esa juga mempunyai batas akhir kemampuan untuk bertahan di tempatnya sekarang.
“ Ouuuhhh.” Mika memeluk samsak tinju dan menyandarkan kepalanya. Kemanakah dia harus mengarahkan hatinya? Apakah hatinya bisa diarahkan?
Bersamaan dengan itu Reca datang ke ruang latihan juga, memakai tanktop hitam dan celana joger yang
ditarik ke bawah lutut. Rambutnya dikucir ekor kuda dengan beberapa anak rambut liar yang terlihat sexy menempel di pipi serta dahinya. Reca ngeliat Mika yang beberapa hari ini latihan tersenyum dingin tanpa arti. Mika berbalik karena menyadari Reca datang, cowo ganteng itu mengernyitkan dahinya sedikit melihat Reca yang mengitari dirinya seolah sedang bersiap untuk menantangnya bertarung.
Dan ternyata bener, Reca langsung menyerang Mika tanpa peringatan apapun. Awalnya sitampan yang lagi galau itu terus menghindar, tapi kemudian Mika mengerti klo Reca sedang mengukur kemampuan dirinya. Pergulatan antara mereka pun terjadi, dengan beberapa gerakan kunci buat saling lock.
“ Ouhh not bad.” Reca tersenyum puas karena berhasil menjatuhkan Mika, itu berhasil membuat harga diri Mika terusik. Mereka kembali saling serang, sesekali Reca tersenyum meremehkan begitu juga Mika.
“ Uuuu..” Reca memberi sorakan buat ngeledek saat Mika berhasil menjatuhkannya, menahan kedua tangannya di lantai dan wajah mereka yang berjarak hanya beberapa senti itu ngebuat mereka bisa saling merasakan napasnya masing-masing. Mika mencermati wajah itu, oh Tuhan dia bertambah cantik setiap hari. Semakin melihatnya Mika semakin ingin memilikinya, dan oh ada apa dengannya? Kenapa dia tidak bisa sebentar saja mengusir wajah ini dari pikirannya? Kenapa dia tidak bisa jauh sekalipun dia sangat ingin. Dan… Kenapa dia begitu lemah dihadapan wanita ini?
“ Hahaha..” Reca tertawa dengan ramah untuk pertama kalinya. Untuk pertama kalinya juga Mika ngeliat mata itu memiliki warna dari yang sebelumnya hanya kosong dan dingin.
Ouch, jantung Mika terasa nyeri. Dia sangat tidak berdaya, dia sangat putus asa wajah ini sangat menguasai dirinya. Dan tawanya saat ini seolah sedang berkata bahwa Mika tidak akan pernah bisa lepas darinya. Mika
meninju lantai, tapi mata cantik itu tidak berkedip sedikitpun. Mika bangun dan menyudahi tatapan ini sebelum dirinya yang akan mati sendiri menahan debaran jantungnya.
“ Ikut gue.” Reca menggeret tangan Mika, kali ini dia yang bersikap seenaknya menggeret si ganteng itu.
Ternyata Reca udah nyulap gudang kosong di belakang rumah Mika jadi tempat latihan menembak. Mata Mika membelalak, ga habis pikir dari mana semua benda ini berasal. Dari kapan juga gituh benda-benda ini bisa ada disini. Meski bingung tapi Mika segera mengambil salah satu senjata dan mulai mencoba menembak saat Reca ngeberi isyarat agar Mika mengambil posisi.
__ADS_1
Tembakan Mika ga buruk untuk pemula tapi belum tepat sasaran. Trus lagi-lagi Reca seenaknya aja gituh melingkarkan lenganya dari belakang buat ngajarin Mika gitu niatnya, tapi efeknya ngebuat Mika jadi lagi-lagi kenak
serangan jantung. Dia terus ngeliatin muka Reca meski cewe itu ga ngeliat mukak si Mika sama sekali, cuma lurus kedepan fokus sama sasaran tembaknya.
DOR! DOR! DOR!
Tembakan itu berhasil mendekati titik sasaran utama. Mika melepaskan dirinya dari Reca lalu berdiri menghadap ke gadis itu sementara papan sasaran berada di samping kanannya. Tanpa melihat ke arah target Mika merentangkan tangan kananya dan melakukan tembakkan masih dengan ngeliatin muka dinginnya Reca. Gilak, tiga tembakan yang dilepaskan bertubi-tubi itu menembus titik sasaran secara akurat. Reca melihat mata Mika yang penuh kemarahan menatapnya, tapi amarah itu seolah harus pasrah oleh air mata kesedihan yang memaksa keluar.
Reca ingin meraih pipi Mika karena sangking herannya, ngeliat Mika kaya gitu. Tapi Mika segera menepis tangan itu.
Ok Reca pikir Mika ga mau diganggu jadi dia langsung balek kanan, niatnya mau ninggalin Mika sendiri. Diluar dugaan, Mika malah menahan lengannya agar tidak pergi. Reca yang ga ngerti cuma ngeliatin aja
dengan sejuta kebisuan, lagi-lagi dia bersikap klo ga ada kejadian penting menurutnya. Mika memeluk Reca.
“ Sekali aja, cintai aku. Haaah...(mendesah dengan nelangsa banget, memohon dengan sangat)” Reca membalas pelukan itu, Mika terkejut sih tapi dia tetap diam untuk menunggu apa yang akan Reca lakukan selanjutnya.
“ Hmm… Lo terlalu baik buat gue.” Suara Reca terdengar tersenyum, tidak meremehkan. Kali ini senyum itu tulus dan penuh arti.
“ Gue ga layak buat lo Mik.” Mika terperangah hingga matanya sedikit membesar. Dia melonggarkan pelukannya lalu menatap kembali wajah sahabatnya itu, kedua tangannya mencekram lengan Reca dengan penuh tanya apa maksud Reca berkata barusan.
“ Berhenti mencintai gue Mika, Lo ga tau apa yang udah gue perbuat diluar sana.” Reca seketika mengingat semua kejahatan yang dia lakukan. Masuk kerumah siapa aja tanpa izin, bermain cinta dengan banyak lelaki meski ga sampe bobok bareng tapi Reca jijik sama semua itu. Dia merasa sangat… kotor.
“ Berhenti mencintai gue selagi lo bisa Mik. Karena gue ga tau apa yang akan gue lakuin saat gue yang menginginkan lo. Lo ga akan bisa lari dari gue.” Ini peringatan keras ya cakep. Mohon disimak baek-baek, jangan buta ma cinta lo.
__ADS_1
“ Gimana klo itu yang aku harapkan Re?”
“ Lo ngomong kaya gini karena lo ga tau apa-apa.” Senyum tulus itu muncul lagi, Mika melihat itu dan hatinya nyaris ga bisa selamat dari tenggelam semakin dalam oleh cinta.
“ Lo ga tau, bahkan gue sendiri ga tau bahaya apa yang akan datang ke elo saat lo dekat sama gue. Sebenarnya..” Reca tertunduk sebentar sebelum memaksa tangan Mika menyingkir dari tubuhnya.
“ Gue ga pernah benci lo Mika.” Hei apa ini? Reca mengacak rambut Mika dengan wajahnya yang tersenyum imut, wajah manis yang terakhir Mika lihat delapan tahun lalu sebelum tragedi. Bernahkah sikap hangat Reca kembali seketika gitu aja?
“ Terus?” Mika maju satu langkah.
“ Apa perasaan kamu buat aku Re? Ga lebih berartikah dari Kendra?” Ato lebih tepatnya, biar jelas pentingan Mika atau Kendra.
“ Ga.” JLEP! PEDIH!
“ Lo ga lebih atau kurang dari Kendra. Lo juga ga setara sama dia, karena Kendra ga pernah berarti buat gue.” Mika terkejut nyaris teriak bukan hanya karena ucapan Reca, tapi bagaimana wajah kebencian itu mengucapkan nama Kendra dengan sangat marah. Seolah kakak kelasnya itu sudah melakukan sesuatu pada Reca dan itu tidak termaafkan, lihatlah bagaimana gigi itu merapat disertai bibir angkuh.
“ Karena lo punya tempat sendiri di hati gue Mik.” Dah lah, beserak (berantakan). Fatal, fatal. Aduh cantik… tolong kelakuannya jangan terus buat sesak napas napa? Kasian si ganteng mah, kalang kabut ngatur perasaannya dari tadi. Trus ini apa juga lagi maksudnya? Udah kaya main layangan aja tarik ulur ah. Hadeehhh.. pande-pande lah Mik.
“ Cuma gue ga tau tempat apa itu, tempat untuk sahabat yang bisa lo andalkan atau ruang kosong yang lo isi tanpa arti yang jelas. Karena gue udah ga tau gimana cinta itu, terakhir kali saat gue ngerasa itu cinta ternyata hanya kekaguman yang gue sesali. Gue sadar itu bukan cinta saat gue udah terjebak di dalamnya, dan saat sadar gue hanya punya kebencian.”
“ Jika kamu emang ga bisa merasakan cinta, berarti ga ada yang perlu aku hawatirkan dari kamu Re. Selama aku cinta sama kamu, maka akan baik-baik aja. Kamu ga perlu balas cinta aku Re, biarin aku yang mencintai kamu. Kamu ga perlu bilang sayang, biar aku yang ucapin itu setiap hari buat kamu Re.” Reca terdiam, matanya menatap mata Mika baik-baik. Ada kesungguhan disana, ataukah rasa lelah dari sebuah harga diri?
“ Jika kamu ngerasa ga layak karena suatu alasan, aku ga tau apa itu. Tapi kamu bisa bawa aku jatuh bersama di dunia yang buat kamu ngerasa kotor ato apalah itu. Jika itu alasan, maka buat aku sama kotornya dengan kamu Re?”
__ADS_1
*****