
“ Esa.” Mika memanggil sekali lagi, kali ini dengan suara lembut yang sangat terlihat apa ya... sayang?
Meski tadi Mika sempat terkejut dengan sangat, tapi doi langsung merubah ekspresi wajahnya jadi sangat tenang dan bersahabat karena Mika ingin terlihat bahwa dia tidak tau apa-apa. Dia bahkan menarik lembut tangan Esa agar gadis itu menjauh dari pelukan Evan, biar keliatan cemburu gituh dan membuat kesan bahwa dia adalah pacar Esa khususnya di mata Evan.
“ Gue Mika.”
Mika ngulurin tangannya dengan ramah ke Evan, meski senyumnya
keliatan lumrah tapi bagi Esa ada angin dingin yang sedang berhembus
keseluruh tubuhnya buat dia gemeteran. Esa tau banget muka tenang ini
bukan berarti Mika ga masalah dengan yang terjadi barusan.
“ Gue Evan.”
Evan segera bisa ngebaca muka cemas Esa yang nunjukin klo dia cinta
banget sama lelaki yang baru dateng inih.
“ Sepupunya Esa.”
Tambahnya cepat sebelum Mika keburu salah paham.
“ Kamu ga pernah
cerita Sa punya sepupu secakep ini” Tuh kan... auranya emang ga
enak dari tadi. Sindiran ato apa neh?
“ Hmmm, iya kan..
kamu sibuk Mika jadi ga pernah cerita soalnya karena..” Emang ga
ada pembicaraan yang ngarah kesana kan tiap kali bareng lo. Yang ada
waktu habis cuman buat bahas Reca, kan Reca lagi.
“ Emmm... jadi
pesawat kamu jam berapa?” Tanya Mika lagi. Oh iya, harusnya tuh kan
Esa yang marah ya kan, Mika tuh kemana aja baru nongol. Sampe Esa
harus ribut sama papa dan turun dari pesawat demi dia neh.
“ Pesawatnya udah
berangkat.” Kali ini giliran Esa yang mau ngambek.
“ Kamu ga jadi
pergi?” Esa ga ngejawab, air matanya mau jatuh soalnya. Bahkan Esa
juga memalingkan wajahnya agar Mika ga ngeliat mata lemah itu. Mata
dari seorang wanita yang selalu kalah jika berhadapan dengan Mika,
yang kadang dirinya sendiri juga kesel kenapa bisa gitu. Dan sekarang
setelah semua drama kebrangkatannya yang gagal harusnya Mika minta
maaf bukannya ya? Atau seenggaknya ngejelasin gitu kenapa dia sampe
bisa terlambat. Harusnya, jika aja Mika peka. Tapi sayangnya dia
pekak.
“ Sa?” Mika
masih nunggu jawaban Esa.
“ Kayanya kalian
berdua ada yang harus diselesaikan. Aku cabut dulu klo gituh ya.. Sa,
Bro.” bergantian ngeliat Esa dan Mika.
__ADS_1
“ Eh ga Van,
jangan pergi dulu. Lo sibuk ga? Gue... pengen ngobrol dengan lo.”
Baik Esa sama Evan sama-sama terkejut denger ucapan Mika barusan.
“ Sama gue?”
Masih ga percaya.
“ Ya..” Mika
ngangguk santai. Trus Evan sama Esa ngasih tatapan, Why?
“ Mumpung lo ada
disinikan, jadi gue bisa kenal lo lebih dalem. Jarang-jarang neh Esa
ngenalin keluarganya ke gue. Ya kali aja gue bisa tanya-tanya soal
Esa ke elo atau lo ngasih tau gue klo Esa macem-macem.” Esa
langsung tersipu malu, bisa aja ih si Mika ini klo disuruh buat orang
baper meski Esa tau klo itu cuma basa basi busuknya Mika.
“ Lo ga curiga ke
gue kan?” Evan ngimbangin candaan Mika.
“ Hahahaha.. gue
jawab jujur ya, iya gue curiga sama lo.” Esa dan Evan terpaku
karena wajah Mika yang langsung berubah serius. Entah kenapa mereka
ngerasa ada hawa aneh yang sulit diartikan, tapi segera menepis
pikiran mereka sendiri. Mungkin aja Mika ga bermaksud begitu.
*****
jam sembilan malam, Mika baru aja nyampe rumah setelah nganter Esa ke
rumahnya. Begitu sampe rumah Mika langsung masuk ke ruang kerjanya
yang berada dibalik lukisan besar. Jadi ada lukisan besar banget di
dinding kamar Mika yang sebenarnya adalah sebuah pintu rahasia,
ruangan rahasia ini sengaja Mika buat untuk lari dari siapa aja saat
dirinya ingin sendiri. Hal itu juga berlaku buat Esa yang secara tau
gituh password pintu rumahnya, jadi Esa juga ga tau soal ruangan ini.
Untuk sesaat Mika mematung ngeliatin kamar yang ga pernah dia gunakan
itu sangking sibuknya. Tapi setelah hari ini dia bakalan akan sering
make nih ruangan.
Mika mencari semua
informasi tekait Evan dan ayahnya, Jen kusniar. Mulai dari latar
belakang mereka hingga posisi Jen Kusniar sekarang sebagai mentri
pendidikan. Selanjutnya Mika membuat skema di dinding, menempelkan
semua informasi dia dapat dan mencoba menghubungkannya. Dimulai
menempelkan foto ayah Reca yang diambilnya dari situs website, dikuti
dengan foto Jen Kusniar, Evan dan Esa. Mika memandangi foto itu,
mencoba mencermati apa yang buat Reca mendekati Evan sudah jelas
__ADS_1
karena ayahnya. Tapi apa yang membuat Reca mendekati Jen Kusniar
pasti Reca punya petunjuk lain. Masalahnya, bagaimana Mika bisa tau
petunjuk itu.
Mika meraih jaketnya
dan kembali keluar ditengah malam buta, mengendarai mobilnya kemana
aja yang mungkin ada Reca. Dia harus bicara dengan sahabatnya itu,
dia butuh penjelasan untuk semua yang tidak diceritakan tante
Frianka. Atau lebih tepatnya yang tante itu ga tau, makanya ga
cerita. Pertama Mika ingat soal rumah tempat dia sadar dari pingsan
kemaren, rumah itu bukan tempat kos Reca yang Mika tau. Tapi dengan
banyaknya foto Reca di rumah itu, Mika yakin Reca udah pindah
ketempat baru karena emangkan Reca itu suka di kejar-kejar orang.
Sampai di rumah itu
ternyata pintunya sama sekali ga dikunci, ruangannya juga gelap
banget jadi artinya Reca belum juga pulang sepanjang hari ini. Sial,
muka Mika langsung tersenyum kecewa menyadari sesuatu. Kemaren malam
dia dipukul kepalanya sampe ga sadar trus dibawa Reca ke rumah ini
tapi tuh anak ga balik sama sekali? Ga khawatir apa? Mika lo,
sahabatnya dia gituh? Luar biasa, emang ga ada artinya dia dimata
Reca. Tapi tunggu, ini aneh. Reca menyembunyikan identitasnya dari
Mika trus orang lain juga ngenal dia sebagai Caca sipemeran
pengganti, artinya Reca juga menyembunyikan identitas dirinya dari
orang lain. Tapi rumah yang ga dikunci ini dengan semua foto kenangan
masa kecil Reca, bukankah akan membuat siapa aja dengan mudah masuk
dan tau klo ini rumah Reca? Apa yang sebenarnya Reca rencanakan?
Mika keluar dengan
emosi yang hampir meledak sampe bawa mobil juga pake ngebut, dia
mikir lokasi latihan Reca adalah tempat terakhir yang dia tau. Jika
Reca ga ada disana, dia bener-bener ga tau harus kemana mencari
sahabatnya itu meski klo ngeliat jam rasanya ga mungkin jam segini Reca masih di sana.
Nyampe dilokasi Mika
keluar dengan tubuh lemas seraya ngebanting pintu mobil, dia
bersyukur menemukan sosok itu disana. Setengah berlari Mika mengejar
Reca yang tampak baru akan latihan lalu langsung memeluk gadis tomboi
itu ngebuat Reca nyaris jatuh klo aja kaki kanannya ga siggap
menyangga ke belakang. Pelukan Mika mengerat bersama matanya yang
terpejam, sesekali dia mengecup rambut Reca dan mengelus kepalanya.
Mika ngos-ngosan antara habis lari bercampur dengan rasa lega karena
bisa meraih Reca dalam pelukannya.
__ADS_1
“ Gue kangen lo Re. Gue kangen lo.”
*****