WINTER GLOW

WINTER GLOW
Lubang Dalam tanpa Dasar


__ADS_3

“ Esa.” Mika memanggil sekali lagi, kali ini dengan suara lembut yang sangat terlihat apa ya... sayang?


Meski tadi Mika sempat terkejut dengan sangat, tapi doi langsung merubah ekspresi wajahnya jadi sangat tenang dan bersahabat karena Mika ingin terlihat bahwa dia tidak tau apa-apa. Dia bahkan menarik lembut tangan Esa agar gadis itu menjauh dari pelukan Evan, biar keliatan cemburu gituh dan membuat kesan bahwa dia adalah pacar Esa khususnya di mata Evan.


“ Gue Mika.”


Mika ngulurin tangannya dengan ramah ke Evan, meski senyumnya


keliatan lumrah tapi bagi Esa ada angin dingin yang sedang berhembus


keseluruh tubuhnya buat dia gemeteran. Esa tau banget muka tenang ini


bukan berarti Mika ga masalah dengan yang terjadi barusan.


“ Gue Evan.”


Evan segera bisa ngebaca muka cemas Esa yang nunjukin klo dia cinta


banget sama lelaki yang baru dateng inih.


“ Sepupunya Esa.”


Tambahnya cepat sebelum Mika keburu salah paham.


“ Kamu ga pernah


cerita Sa punya sepupu secakep ini” Tuh kan... auranya emang ga


enak dari tadi. Sindiran ato apa neh?


“ Hmmm, iya kan..


kamu sibuk Mika jadi ga pernah cerita soalnya karena..” Emang ga


ada pembicaraan yang ngarah kesana kan tiap kali bareng lo. Yang ada


waktu habis cuman buat bahas Reca, kan Reca lagi.


“ Emmm... jadi


pesawat kamu jam berapa?” Tanya Mika lagi. Oh iya, harusnya tuh kan


Esa yang marah ya kan, Mika tuh kemana aja baru nongol. Sampe Esa


harus ribut sama papa dan turun dari pesawat demi dia neh.


“ Pesawatnya udah


berangkat.” Kali ini giliran Esa yang mau ngambek.


“ Kamu ga jadi


pergi?” Esa ga ngejawab, air matanya mau jatuh soalnya. Bahkan Esa


juga memalingkan wajahnya agar Mika ga ngeliat mata lemah itu. Mata


dari seorang wanita yang selalu kalah jika berhadapan dengan Mika,


yang kadang dirinya sendiri juga kesel kenapa bisa gitu. Dan sekarang


setelah semua drama kebrangkatannya yang gagal harusnya Mika minta


maaf bukannya ya? Atau seenggaknya ngejelasin gitu kenapa dia sampe


bisa terlambat. Harusnya, jika aja Mika peka. Tapi sayangnya dia


pekak.


“ Sa?” Mika


masih nunggu jawaban Esa.


“ Kayanya kalian


berdua ada yang harus diselesaikan. Aku cabut dulu klo gituh ya.. Sa,


Bro.” bergantian ngeliat Esa dan Mika.

__ADS_1


“ Eh ga Van,


jangan pergi dulu. Lo sibuk ga? Gue... pengen ngobrol dengan lo.”


Baik Esa sama Evan sama-sama terkejut denger ucapan Mika barusan.


“ Sama gue?”


Masih ga percaya.


“ Ya..” Mika


ngangguk santai. Trus Evan sama Esa ngasih tatapan, Why?


“ Mumpung lo ada


disinikan, jadi gue bisa kenal lo lebih dalem. Jarang-jarang neh Esa


ngenalin keluarganya ke gue. Ya kali aja gue bisa tanya-tanya soal


Esa ke elo atau lo ngasih tau gue klo Esa macem-macem.” Esa


langsung tersipu malu, bisa aja ih si Mika ini klo disuruh buat orang


baper meski Esa tau klo itu cuma basa basi busuknya Mika.


“ Lo ga curiga ke


gue kan?” Evan ngimbangin candaan Mika.


“ Hahahaha.. gue


jawab jujur ya, iya gue curiga sama lo.” Esa dan Evan terpaku


karena wajah Mika yang langsung berubah serius. Entah kenapa mereka


ngerasa ada hawa aneh yang sulit diartikan, tapi segera menepis


pikiran mereka sendiri. Mungkin aja Mika ga bermaksud begitu.


*****


jam sembilan malam, Mika baru aja nyampe rumah setelah nganter Esa ke


rumahnya. Begitu sampe rumah Mika langsung masuk ke ruang kerjanya


yang berada dibalik lukisan besar. Jadi ada lukisan besar banget di


dinding kamar Mika yang sebenarnya adalah sebuah pintu rahasia,


ruangan rahasia ini sengaja Mika buat untuk lari dari siapa aja saat


dirinya ingin sendiri. Hal itu juga berlaku buat Esa yang secara tau


gituh password pintu rumahnya, jadi Esa juga ga tau soal ruangan ini.


Untuk sesaat Mika mematung ngeliatin kamar yang ga pernah dia gunakan


itu sangking sibuknya. Tapi setelah hari ini dia bakalan akan sering


make nih ruangan.


Mika mencari semua


informasi tekait Evan dan ayahnya, Jen kusniar. Mulai dari latar


belakang mereka hingga posisi Jen Kusniar sekarang sebagai mentri


pendidikan. Selanjutnya Mika membuat skema di dinding, menempelkan


semua informasi dia dapat dan mencoba menghubungkannya. Dimulai


menempelkan foto ayah Reca yang diambilnya dari situs website, dikuti


dengan foto Jen Kusniar, Evan dan Esa. Mika memandangi foto itu,


mencoba mencermati apa yang buat Reca mendekati Evan sudah jelas

__ADS_1


karena ayahnya. Tapi apa yang membuat Reca mendekati Jen Kusniar


pasti Reca punya petunjuk lain. Masalahnya, bagaimana Mika bisa tau


petunjuk itu.


Mika meraih jaketnya


dan kembali keluar ditengah malam buta, mengendarai mobilnya kemana


aja yang mungkin ada Reca. Dia harus bicara dengan sahabatnya itu,


dia butuh penjelasan untuk semua yang tidak diceritakan tante


Frianka. Atau lebih tepatnya yang tante itu ga tau, makanya ga


cerita. Pertama Mika ingat soal rumah tempat dia sadar dari pingsan


kemaren, rumah itu bukan tempat kos Reca yang Mika tau. Tapi dengan


banyaknya foto Reca di rumah itu, Mika yakin Reca udah pindah


ketempat baru karena emangkan Reca itu suka di kejar-kejar orang.


Sampai di rumah itu


ternyata pintunya sama sekali ga dikunci, ruangannya juga gelap


banget jadi artinya Reca belum juga pulang sepanjang hari ini. Sial,


muka Mika langsung tersenyum kecewa menyadari sesuatu. Kemaren malam


dia dipukul kepalanya sampe ga sadar trus dibawa Reca ke rumah ini


tapi tuh anak ga balik sama sekali? Ga khawatir apa? Mika lo,


sahabatnya dia gituh? Luar biasa, emang ga ada artinya dia dimata


Reca. Tapi tunggu, ini aneh. Reca menyembunyikan identitasnya dari


Mika trus orang lain juga ngenal dia sebagai Caca sipemeran


pengganti, artinya Reca juga menyembunyikan identitas dirinya dari


orang lain. Tapi rumah yang ga dikunci ini dengan semua foto kenangan


masa kecil Reca, bukankah akan membuat siapa aja dengan mudah masuk


dan tau klo ini rumah Reca? Apa yang sebenarnya Reca rencanakan?


Mika keluar dengan


emosi yang hampir meledak sampe bawa mobil juga pake ngebut, dia


mikir lokasi latihan Reca adalah tempat terakhir yang dia tau. Jika


Reca ga ada disana, dia bener-bener ga tau harus kemana mencari


sahabatnya itu meski klo ngeliat jam rasanya ga mungkin jam segini Reca masih di sana.


Nyampe dilokasi Mika


keluar dengan tubuh lemas seraya ngebanting pintu mobil, dia


bersyukur menemukan sosok itu disana. Setengah berlari Mika mengejar


Reca yang tampak baru akan latihan lalu langsung memeluk gadis tomboi


itu ngebuat Reca nyaris jatuh klo aja kaki kanannya ga siggap


menyangga ke belakang. Pelukan Mika mengerat bersama matanya yang


terpejam, sesekali dia mengecup rambut Reca dan mengelus kepalanya.


Mika ngos-ngosan antara habis lari bercampur dengan rasa lega karena


bisa meraih Reca dalam pelukannya.

__ADS_1


“ Gue kangen lo Re. Gue kangen lo.”


*****


__ADS_2