WINTER GLOW

WINTER GLOW
Jeritan Kerinduan


__ADS_3

Mika menghentikan ciumannya seraya memejamkan mata, tangannya meremas selimut yang menyentuhnya untuk


menahan amarah yang sebenarnya sangat ingin dia keluarkan. Kancing baju Reca udah terbuka sebatas dada, tapi mata dinginnya masih ga punya emosi apapun padahal bagian dalamnya sudah terlihat sebagian. Itu kenapa Mika memejamkan matanya, dia tidak ingin melihat itu kecuali memang mereka berdua menginginkannya. Luar biasanya, Reca ga bergerak sedikitpun dari tempatnya. Mata cantiknya hanya menatap kosong langit-langit kamar, dia bahkan tidak melakukan perlawanan apapun. Mika ga ngerti maksudnya apa, yang jelas mata dingin itu membuat hatinya juga ikut beku. Bagaimana mungkin seorang wanita membiarkan hal yang barusan terjadi padanya dengan begitu pasrah.


“ Apa kamu juga kaya gini dengan cowo lain Re?” Mika bertanya dengan hati perih, dia takut mendengar jawabannya.


“ Apa kamu juga akan membiarkannya kaya tadi Re?”


“ Ga.” Jawab Reca datar seraya memasang kancing bajunya tanpa beban. Mika melirik sedih.


“ Karena lo yang ngelakuin itu makanya gue biarin.” Tambahnya lagi sambil berdiri trus berniat ninggalin kamar. Tangan Mika mencegahnya, Reca terhenti. Mika seneng sebenarnya denger alasan itu, tapi tetap aja kan ini tuh ga baik. Iya lo nya juga cakep ngapain juga coba, pake nguji kaya gitu.


“ Kenapa memangnya klo aku Re?”


“ Karena gue tau lo ga akan ngelakuin itu.” Mika tersenyum sinis, rasanya antara pujian dan hinaan kok ga ada bedanya. Yang jelas harga diri aktor tampan itu sangat tersakiti.


“ Gimana kamu bisa gitu yakin Re?” Mika berdiri, mendorong kasar tubuh Reca hingga cewe itu hampir terduduk dimeja rias. Beberapa kosmetik yang ada disana sampe berjatuhan ke lantai.


“ Aku bisa aja ngelakuin ini Re.” Menarik pelan gaun Reca hingga diatas lutus seolah Mika akan…


“ Atau ini.” Dengan kasar menarik lengan gaun hingga robek, memperlihatkan bahu dan sebagian lengan Reca.


“ Bahkan ini.” Memeluk pinggang Reca hingga tubuh mereka sedekat itu. Kali ini Reca yang tersenyum sinis.


“ Gue bisa buat ini lebih mudah kok Mik.” Malah ngelepasin kancing baju Mika balik.


Mika ngelonggarin pelukannya, beneran ini cewe emang ga ada obat pikirnya. Tambah gemes tapi juga buat ngelus dada ngeliat kelakuannya. Mika tertunduk lesu.


“ Ok kamu menang Re.” Mika mengangkat wajanya dan menatap Reca serius.


“ Jangan lakukan hal ini ke cowo lain ya Re? Seperti yang kamu bilang, cuma sama aku. Cuma aku yang boleh ya Re. Janji, hanya aku.” Reca ga ngejawab, dia malah sibuk memegang dahinya Mika yang ternyata masih demam.

__ADS_1


“ Re?”


“ Terserah lo Mik.” Bodo amat mah


“ Ok itu cukup buat aku.” Mika menganggap Reca bersedia berjanji untuknya. Mika mengambil handuk untuk menutupi bahu Reca yang lengannya koyak tadi. Cewe manis itu akhirnya meninggalkan Mika sendiri di kamar.


*****


Esa tersenyum dengan hati berdebar, tangan memeluk sebuah kotak kecil yang dibungkus paper bag. Dia sudah sangat ga sabar sehingga entah sudah berapa kali memeriksa jam tangannya. Namun berakhir dengan menertawakan dirinya sendiri yang terlihat sangat bodoh, karena jarum jam itu tetap pada posisinya.


Akhirnya pesawat mendarat, Esa langsung turun tergesa-gesa. Segera mencari taksi terdekat dan mengatakan tujuannya. Hmmmm…. Esa membuka kaca jendela mobil lalu sedikit melihat keluar sambil menarik napas dalam.


Dia sudah rindu sekali dengan nuansa ini, aroma udaranya dan juga view nya. Esa merasakan sensasi pulang ke rumah. Ah… udara ini sangat hangat, dengan matahari teriknya yang selalu gagah menerangi langit terutama dimusim panas seperti ini. Inilah Indonesia.


“ Pak turun sebentar disini ya.” Esa turun di sebuah toko roti untuk membeli beberapa cemilan kesukaan.


“ Hallo, Van. Aku lagi singgah ke toko biasa, lo bisa sini ga? Tolongin gue, hehehehe…. Ok gue tunggu ya.” Esa menelpon Evan, sepupu yang emang selalu jadi andalannya klo butuh bantuan. Karena emang udah tau


nya aja.


“ Yakin lo mau pergi sendiri?” Tanya Evan begitu sampe di toko roti tempat Esa belanja cemilan.


“ Hmmm… ntar cewe-cewe loh pada ngambek lagi. Jadwal date lo kan padet, ga kaya gue.”


“ Hahahaha…. Untung lo sepupu gue Sa, klo ga udah lama gue pacarin.”


“ Gilak lu.” Ekspresi itu… Esa ga sengaja menyadarinya. Evan terlihat berusaha untuk tertawa, tapi matanya sedih banget. Kayanya sebenernya lagi sedih tapi ingin terlihat baik-baik aja.


“ Lo… lagi galau ga sih Van. Muka lo ga biasanya kaya gituh?” Evan hanya tersenyum, iya dia emang sedang


sedih belakangan ini. Pertemuannya dengan Reca udah membuat perubahan besar dalam hidupnya.

__ADS_1


Evan tidak lagi suka gonta-ganti perempuan sekalipun dia sangat ingin, karena wajah Reca selalu menghantui siapapun wanita yang dikencaninya. Yah, dia memang sangat rindu dengan wanita manis itu. Wanita yang sangat ingin dia miliki tapi tidak pernah bisa disentuhnya, setiap kali Evan berkencan denga Reca selalu merasakan kantuk yang luar biasa hingga begitu bangun Reca sellau tidak berada disampingnya. Evan tau rasa kantuk yang sering datang dan hanya saat bersama Reca itu bukanlah sebuah kebetulan. Evan sadar benar bahwa Recalah yang sudah memasukkan sesuatu dalam minumannya. Tapi saat Evan memeriksakan sample minuman yang membuatnya tertidur, Evan hanya tersenyum melihat hasilnya karena hanya mengandung obat tidur biasa.


Reca bisa saja memasukkan sesuatu yang beracun mungkin atau narkotik, tapi dia tidak melakukannya. Evan tidak marah, justru ngerasa klo Reca itu imut.


Tapi Reca justru menghilang tanpa bisa ditemukan disaat Evan justru sudah semakin sayang. Jangankan tau dimana keberadaannya, jejak digitalpun Evan tidak memilikinya. Sementara rindu ini semakin hari semakin menyiksanya.


“ Cuma lagi banyak kerjaan aja Sa.”


“ Tuh sempat nolongin gue?” Iya karena Evan sekarang tidak berkencan dengan satu wanita pun.


“ Jadi gue tinggal aja ne?”


“ Eh jangan, hehehehe..”


Evan pun langsung masukin koper Esa kedalam mobil dan segera berpamitan. Sementara Esa kembali ke taksi untuk melanjutkan rencananya. Cuma butuh waktu lima belas menit aja, Esa udah sampe tujuan di sebuah


rumah mewah berpagar kayu yang dicat coklat tua. Sekali lagi Esa tersenyum sebelum masuk, kini debaran jantungnya semakin tidak bisa dia kendalikan. Untuk itu Esa menarik napas dalam dan menghembuskannya, lalu dengan riang melangkah masuk. Sampe depan pintu Esa menekan sandi kunci, awalnya ragu sih apakah sandinya masih sama dengan terakhir sebelum dia pergi. Lalu kemudian…


Tit, tit, tit, tiiitttt… tek!


Bunyi sandi terkonfirmasi benar dan pintupun terbuka, tapi Esa kemudian menutupnya lagi. Ini tidak benar pikirnya, sekalipun dia tau kata sandinya tidak lantas dia masuk begitu aja apalagi ga tau apakah Mika ada di rumah ato ga. Iya ini tuh rumahnya Mika, dan saat Esa mencoba menekan sandi membuat Reca seketika menoleh ke arah pintu masuk saat sedang mengambil jus dikulkas.


Sudah beberapa kali di telpon, tapi Mika tetap ga angkat telponya. Esa jadi ragu jangan-jangan Mika lagi ga di rumah. Tapi tiba-tiba pintu terbuka, Esa yang udah pasti otomatis ngeliat ke arah pintu matanya langsung membelalak karena menemukan wajah dibalik pintu dalah Reca.


Waktu terasa terhenti buat Esa, masih sulit percaya dengan wajah yang pernah memberikan rasa takut muncul dihadapannya. Bukan hanya itu, dia menggunakan sweater milik Mika yang terlihat kedodoran ditubuh


perempuan itu. Ngebuat short yang dikenakannya miliknya tidak kelihatan, seolah Reca tuh cuma pake atasan doang.


“ Re, Reca?” Terucap begitu saja. Hati Esa perih, sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa Reca dan Mika tidak tinggal bersama.


*****

__ADS_1


__ADS_2