
" Kamu baik-baik aja Re?" Mika cemas ngeliat Reca yang terpaku membisu seolah dia itu patung es.
Reca ga jawab hanya menghapus air matanya dengan senyap lalu memeluk kedua lututnya, Mika menyadari detik itu juga kulit Reca sepucat kapas dan terasa sangat dingin.
" Kita lanjutan ini besok aja ya?"
Mika menggendong Reca dan meletakkannya di tempat tidur, tubuh Reca sedikit menggigil sulit percaya klo inget Reca yang tangguh dan jutek trus sekarang kaya ketakutan ga berdaya.
" Re a.." Tiba-tiba menarik lengan kemeja Mika sambil meremasnya, Mika yang ga ngerti ini maksudnya apa menunggu dengan sabar.
" Kita harus pergi Mik... ayo pergi dari sini."
" Re..."
" Aku bisa kehilangan kamu kehilangan mama..." Reca menggeleng keras sambil gemetaran.
" Benda itu menakutkan Mik... aku ga bisa bayangin orang seperti apa yang... yang menjadi pemilik benda itu."
" Oke.. Oke... kita tidur yuk..."
Reca akhirnya terlelap dalam pelukan Mika, lalu aktor ganteng itu melepaskan pelukannya pelan-pelan biar Reca ga terbangun. Sumpah demi apa ngeliat wajah Reca yang menyedihkan ini Mika sangat ingin marah. Karena ternyata sifat sok kerasnya Reca, angkuhnya dan juteknya itu hanyalah benteng pertahanan yang diperlihatkan untuk menyembunyikan sisi dalam yang sudah hancur lebur tidak terselamatkan. Reca masihlah gadis lucu yang dulu yang lembut dan mudah takut, Mika bersumpah akan memberi pelajaran sama orang yang telah ngebuat bidadarinya jadi seperti ini.
*****
" Huuuhhh..." Mika mengusap wajahnya setelah menutup pintu kamar perlahan. Dia mengeluarkan handphone dar sakunya dan menelpon seseorang.
" Hallo Rak! Bisa lo datang ke rumah gue? Sekarang."
Ga pake lama Raka udah nyampe di rumah mewahnya Mika, wajahnya terlihat sangat khawatir. Raka takut klo Mika akan mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk.
" Reca baek-baek aja kan?"
__ADS_1
" Hmm." Mengangguk sambil mejem bentar.
" Trus kenapa lo nelpon gue?"
" Gue ga tau harus bagi ini dengan siapa Rak. Cuma lo yang gue percaya."
Mika pun menceritakan semua yang udah terjadi mulai dari mereview pertemuan pertamanya dengan Reca di Finlandia sampai terbukanya kotak pandora yang idak seharusnya mereka buka.
" GILAK." Megap-megap ga jelas soalnya mau ngomong tapi ga keluar. Sumpah Raka merinding inih.
" Jadi, jadi itu alasan Reca yang ninggalin kita dan ga ada kabar?"
" Dan yang terburuk dari itu adalah gue penyebab utamanya. Dia terseret ke dalam.... uhhhh."
" Jadi apa yang bisa gue bantu buat lo Mik."
" Gue butuh team Rak, gue ga mungkin nyelesain ini sendiri."
*****
Saat ini Singa merah seperti yang sudah direncanakan sebelumnya mengadakan pertemuan di Derra Restauran, untuk pertama kalinya pimpinan yang tidak pernah bertatap muka langsung hadir disitu tapi wajahnya tidak pula terlihat dengan jelas karena lampu hanya menyorot para anggota dan membelakangi si pimpinan Singa merah itu. Sehingga wajahnya terkena sisi gelap dari ruangan yang tidak terkena cahaya, hal ini disengaja karena si pimpinan tidak ingin identitasnya sepenuhnya terbongkar.
" Kecilkan suaramu, atau kau akan ditendang keluar dari sini.
" Hmmmm, aku wanita ya? Kalian merasa aku menginjak harga diri kalian? Hahahahahaha......" Tertawa jahat yang sangat menyeramkan, padahal suara Ghani Wijaya nyaris tidak terdengar tapi ternyata sampai juga ditelinga wanita yang sedang mengenakan stelan blazer merah dan sepatu heels runcing berwarna hitam. Suasana berubah jadi muram karena wajah Jabat Sentosa yang biasanya dingn terlihat sangat menyegani pimpinan singa merah itu.
" Baik, aku akan beritahu kalian yang mungkin sangat penasaran siapa aku dan bagaimana aku bisa ada disini?"
Semua anggota Singa merah yang tampak terkejut saling berbisik kecuali jabat sentosa yang emang udah sering berinteraksi dengan pimpinan singa merah itu. Bahkan Senti Mulyadi yang selalu bersikap bijak tampak menahan rasa kesalnya terlebih melihat pemimpin yang jauh lebih muda darinya bahkan bisa dibilang seumuran dengan anaknya. Bagaimana anak bau kencur itu bisa memimpin singa merah, tau apa dia soal dunia politik?
*****
__ADS_1
Memandangi dengan tatapan kosong snowglobe yang terlihat sangat indah itu, serbuk gliter di dalamnya sesekali melambung saat musiknya di putar. Reca memeluk lututnya membiarkan bulir bening di pipinya jatuh bergantian, dia tidak memiliki tenaga untuk mengusapnya. Suara papa yang ada di FD terasa begitu nyata ngebuat Reca begitu rindu dengan cinta pertamanya itu. Papa! Papa! ingin bisa berseru dengan nama itu lagi. Reca menyesal untuk semua hal yang dia sia-siakan, untuk semua yang tidak dilakukan dengan papa dan.... untuk tidak mengerti bahwa malam itu seseorang mengancamnya. Bahwa malam itu papa pasti sangat takut tapi dia bertahan melindungi Reca dan mama. Ah papa... papa yang begitu baik menjaga cinta pertamanya hingga Reca bisa bertemu dengan Mika dan merasakan semua kasih sayang dari cowo tampan itu. Ah papa.... Reca kangen papa.
Luka yang dia kira sudah perlahan sembuh ternyata hanya kering diluar, begitu tersentuh justru lebih sakit lebih banyak darah dan jauh lebih parah dari yang pertama kali terluka.
" Re." Mika meraih kepala Reca agar kekasih nya itu bersandar dalam pelukannya.
" Papa... ehh.." Reca berusaha menahan tangisnya tapi tangis itu terus mendorong nya sehingga Reca terdengar seperti sedang menahan batuk dibarengi sesegukan.
" Nangislah Re klo mau. Ga apa-apa, kamu bisa menangis sebanyak yang kamu mau?"
Reca menyembunyikan wajahnya, membiarkan dada Mika menutupi wajahnya agar jeritannya tidak begitu terdengar.
" Oh Re... jika memang begitu berkata selama ini kenapa menahannya sendiri." Batin Mika
*****
" Jabat Sentosa, apa kau sedang bercanda?" Sentia Mulyadi berbisik dengan wajah yang menahan marah.
" Apa aku pernah bercanda?"
" Lalu apa ini? Bagaimana bisa nama besar Singa Merah dipimpin oleh anak kecil dan itu adalah wanita."
" Heh.. wanita? Kau pikir dia seorang wanita? Bahkan dia bukan manusia. Jika kau masih ingin tetap hidup sebaiknya diamlah dan jangan membuatnya tersinggung. Kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa, dia orang terkejam yang pernah memimpin singa merah. Jadi diamlah, lihat saja dengan tenang apa yang akan terjadi."
" Egg... eghmmm.." Batuk kecil seraya memperbaiki jas.
" Baiklah aku akan memperkenalkan diriku." Wanita itu keluar dari bayangan yang menutupi wajahnya, semua orang di rungan terkesima melihat wajah cantik yang tidak biasa. Auranya memperlihatkan seorang wanita sosialita yang sangat modis berwajah cantik dengan tinggi semampai. Jari-jari indah terlihat lemah karena begitu lentik, kulit putihnya cukup menjelaskan bahwa itu sangat terawat dengan baik, ditambah bau parfum yang sangat lembut memberi kesan bahwa dia wanita manis yang akan memikat banyak pria yang melihatnya.
" Perkenalkan." Duduk diatas meja dengan tangan terlipat depan di bawah dada, kaki kanannya lurus 45 derajat sementara kaki kirinya ditekuk menapak disalah kaki kursi tak jauh dari dia duduk saat itu.
" Namaku Paradisa Kusniar, Panggil aku Esa. E-S-A. Esa."
__ADS_1
*****