WINTER GLOW

WINTER GLOW
Hi


__ADS_3

SREKK!


Jabat Sentosa mengambil sebuah amplop coklat yang baru saja diterimanya dari alah satu anak buahnya. Isinya lembaran foto yang berhasil diabadikan selama suruhannya itu memata-matai putrinya, Sarah.


" Kemarin malam Kendra mendatangi apartemen nona Sarah dan belum terlihat keluar hingga saat ini pak."


" Hmmm... baik aku mengerti." Menggerakkan jarinya sebagai isyarat klo suruhannya itu sudah bisa pergi.


" Kenapa mukamu buruk sekali?" Sentai Mulyadi yang baru saja datang ikut duduk di depan Jabat Sentosa yang saat ini berada di kantor pribadinya.


" Lihat saja sendiri." Menunjuk ke amplop coklat yang tadi. Sentia Mulyadi meraih amplop itu sambil ngerutkan dahinya, tidak lama matanya terbelalak karena sulit percaya pada gambar-gambar itu. Dimana terlihat Kendra dan Sarah yang bertemu beberapa kali seperti pasangan kencan dan beberapa foto ciuman panas termasuk foto pagi ini yang diambil dari drone yang mengitari apartemen Sarah. Secara ga langsung itu menjelaskan keduanya menghabiskan malam bersama ato malah emang udah tinggal bareng.


" Ehmm.. hmm..." Meski terkejut Sentia Mulyadi msegera mempernaiki ekspresinya menjadi dingin seolah tak perduli.


" Kenapa? Bukankah ini yang kita harapakan?"


" Kita sepakat mereka menikah. Bukan tinggal bersama tanpa pernikahan."Jabat Sentosa terlihat kesal karena bagaimanapun harga dirinya sebagai seorang ayah tengah terinjak. Sentia Muyadi tidak berkomentar.


" Apakah Kendra terbiasa menghabiskan malam bersama dengan banyak gadis?"


" Tidak... anak itu bahkan belum pernah puya pacar." Sentia Mulyadi tampak berpikir keras, Jabat Sentosa yang cukup peka itu segera menyadari kalau temanya juga sedikit bingung dengan kedekatan anak mereka yang tiba-tiba.


" Kau yakin?"


" Bukankah kita punya cara pikir yang sama? Aku juga mengawasinya hanya saja beberapa hari ini aku tidak begitu memperdulikannya karena kondisi genting Singa merah saat ini. Tapi..." Setahu Sentia Mulyadi anaknya selama ini hanya tertarik dengan satu wanita yaitu putri Branu Sanjaya... tapi memang mereka belakangan tidak terlihat bertemu lagi. Dan public juga tau soal berita model terkenal yang menjalin hubungan asmara denagn aktor yang sama terkenalnya.

__ADS_1


" Apa Kendra sedang mencari pelarian?" gumam Sentia Mulyadi dalam hati.


" Tapi apa?"


" Tidak hanya saja aku merasa ada yang kita lewatkan..."


" Ya memang ada yang aneh. Mungkin Kendra tidak akan bertindak seperti yang kupikirkan, tapi mungkin jika itu adalah putriku."


" Maksudmu?"


" Sepertinya Sarah merencanakan sesuatu, anggap saja anakmu sedang terperangkap dalam godaannya."


" Apapun itu biarkan saja, bagaimanapun Singa Merah saat ini lebih penting. Fokuslah terhadap apa yang sudah kita rencanakan."


*****


Dan Reca... bukankah ini sedikit aneh. Ada apa dengan gadis itu kenapa dia sangat sibuk dengan karirnya sebagai model sekarang? Tidakah dia sedang menyelidiki kematian ayahnya, tapi hasil penyelidikan dari mata-mata sewaannya juga melaporkan bahwa Reca hanya terlihat melakukan pemotretan dan suting iklan seperti seorang selebriti pada umumnya. Sementara jika diingat lagi saat Reca dirawat waktu itu... saat Esa pura-pura membesuk Reca dirumah sakit setelah ditembak oleh Esa sendiri. Diam-diam Esa memasukkan alat penyadap di bunga yang dia kirimkan buat memantau perkembangan Reca dari alat itu, dari penyadap dia mendengar percakapan Mika dan Raka yang menjelaskan bahwa Reca belum juga sadar tapi saat malam Esa akan membunuhnya... Reca justru mampu menghindari semua seranganya dengan baik yang artinya gadis itu pun terlatih secara fisik seperti dirinya bukan hanya itu kan... jika dia tau akan diserang malam itu artinya Reca juga menemukan alat penyadap yang dibawa Esa. Berati apakah dia tau bahwa Esa sengaja melakukannya, dana apakah dia juga tau bahwa Esa yang menyerangnya malam itu? Sumpah Esa sangat penasaran, tapi jika memang Reca sudah tau semuanya kenapa dia masih belum melakukan apa-apa?


" Jika lo pura-pura tidur saat itu berati lo cukup pintar kan Re... dan lo juga tau klo lo ga akan aman gitu aja... So, insting lo kuat kan? Tapi kenapa lo setenang ini?" Bergumam sendiri.


"Apa lo udah tau soal gue?" Mata liar Esa menatap tajam kaya ular. Serem.


" Ada istilah tenang sebelum badai." Jabat Sentosa masuk diikuti Sentia Mulyadi, mereka berdua secara rahasia bertemu dengan pemimpin Singa merah itu tanpa diketahui sama anggota yang lain.


" Maka temukan dan hindari badainya sebelum dia menyerang mu." Jawab Esa ketus.

__ADS_1


Jabat Sentosa dan Semtia mulyadi terdiam, sangat canggung untuk mengakui bahwa Esa memang lebih pintar dari mereka meskipun dari segi usia dia masih sangat belia tapi catatan yang harus diingat adalah Singa Merah memulai masa kejayaannya saat dibawah kepemimpinan gadis ini yang lebih miris lagi saat itu Esa bahkan masih duduk dibangku SMP. Tapi caranya menganalisa keadaan kemudian mencari solusi selalu memeberikan hasil yang terbaik bahkan sejauh ini tanpa cacat. satu-satunya kegagalan mereka adalah saat jantung Singa merah itu tercecer denagn cara yang sangat konyol.


" Saat Branu Sanjaya menghembuskan nafas terakhirnya aku sudah memantaunya lebih dari dari dua tahun, dan seperti yang kau lihat.... sangat bersih." Ucap Sentia Mulyadi seraya duduk nyaman di sofa merah tak jauh dari tempat Esa berdiri.


" Bahkan malam itu dia tidak mengatakan apapun selain memberikan hadiah konyol pada putrinya."


" Apa?' Mata Esa seketika membelalak, wajahnya murka seperti orang yang baru saja kena tipu.


" Malam kapan?"


" Tepat saat delapan tahun lalu dimana Branu Sanjaya terbunuh." Tambah Sentia Mulyadi, membuat Esa berpikir keras mengumpulkan ingatannya. Dimana dia saat malam itu terjadi? Ah yaaa malam Pentas Seni tahunan sekolah, yah tepat saat itu kan Reca mendapat telpon bahwa ayahnya terbunuh. Esa pun masih ingat adegan yang membuat hatinya terbakar saat Mika memenangkan gadis itu. Ah seketika amarahnya bertambah, tapi Esa menahannya karena merasa ada hal yang harus dikonfirmaisnya dengan jelas.


" Huuuhh..... bisa anda ceritakan dengan jelas bapak Sentia Mulyadi, kejadian yang terjadi malam itu?"


" Malam itu sesuai perintahmu kami mendatangi Branu Sanjaya yang mulai meresahkan karena menerbitkan cerita karangan Muliapati disaat penulisnya saja sudah tewas. Dengan kecurigaan bahwa dia mengetahui segalanya yang diketahui Muliapati dan memiliki Jantung singa merah karena dia juga yang berada di ruanganĀ Derra Restaurant yang kita pesan. Tepat dimana dan kapan jantung Singa merah menghilang." Yah itu benar, Esa lah yang memberi perintah pembunuhan malam itu.


" Tapi malam itu dia tidak melakukan perlawanan apapun, bahkan saat tau dia akan dibunuh. Dia tidak meminta pengampunan untuk hidupnya. Dia hanya meminta jika kami tidak melakukannya di depan putrinya, dia bahkan mengakui semuanya bahwa dia mengetahui apa yang terjadi terhadap Muliapati tapi dia bersikeras mengatakan tidak tau apapun tentang jantung Singa merah. Sesaat sebelum dia dihabisi, putrinya datang dengan gaun cantik lalu Branu Sanjaya memberikan sebuah kado untuk putrinya."


" Kado? Kado apa? Apa isinya?"


" Aku tidak melihat dengan jelas benda apa itu karena saat itu ruangannya cukup gelap, Branu sengaja melakukannya agar kami tidak terlihat oleh putrinya. Tapi aku mendengar dia menyebut sebuah mainan masa kecil putri yang rusak dan dia berhasil memperbaikinya." Diingat bagaimanapun menurut Sentia Mulyadi itu tidak berarti, hanya potongan adegan drama selayaknya perpisahan untuk terakhir kalinya.


" Dan kalian membiarkannya begitu saja?' Sentia Mulyadi dan Jabat Sentosa saling bertatapan tidak mengerti, apa yang harus merea waspadai dengan itu. Menarik, pikir Esa. Gadis cantik itu tersenyum remeh, mentertawakan dirinya sendiri yang merasa sangat bodoh. Setelah ayah Reca terbunuh, Esa merasa pekerjaan anak buahnya sudah selesai hingga dia tidak perlu mengkoreksinya. Dia lengah karena merasa tenang karena orang yang mengetahui tentang Singa Merah itu sudah mati.


PRANK!!!! Esa membating gelas yang berada didekatnya ke lantai, dari bentuk serpihannya yang nyaris meyerupai pasir bisa dilihat seberapa kuat dan marahnya gadis itu.

__ADS_1


" Tidakkah kalian berpikir? Bahkan dimulai dari dia mengakui semua tapi membantah Jantung Singa merah itu sudah aneh, apalagi dia mematikan lampu dan meminta agar tidak dibunuh didepan putrinya. Apa kalian tidak sadar, dia sedang meminta waktu. Dia bukan tidak ingin kalian terlihat oleh putrinya tapi dia tidak ingin kalian melihat apa yang.... DIA BERIKAN PADA PUTRINYA."


*****


__ADS_2