WINTER GLOW

WINTER GLOW
Ada Apa dengan Ku


__ADS_3

" Hai (ala anak kecil banget) ini... mau?" Anak laki-laki yang masih berumur empat tahun itu memberikan Ice Cream kepada temannya, Gadis kecil berusia 4 tahun juga.


Setelah semua kebetulan dan janji yang mereka ucapakan, kedua balita itu kembali bertemu di salah satu toko mainan. Keduanya tertawa bersama sambil menikmati ice cream, tangan keduanya pun saling bergandengan. Seolah menunjukan pertemuan singkat mereka memberikan kesan yang kuat. Tapi senyum itu segera surut ketika kedua orang tua mereka harus meninggalkan toko ke arah yang berbeda.


" Mama jangan..." Kedua si kecil berusaha mempertahankan tangan sahabatnya tapi tetap saja tenaga kecil itu tidak berdaya.


" Ayo sayang kita harus cepat pulang." Mereka saling melihat hingga benar-benar terpisah, bulu mata keduanya tampak mulai basah karena menangis. Entah kapan mereka bisa bertemu lagi.


" Jangan mama tunggu.."


" Aaaa..." Si balita yang perempuan sesekali berbalik berusaha melihat wajah temannya meski sesekali keteteran mengikuti langkah kaki si ibu.


" Aaaaaa... Huh... pyuh... huh.." Mika tersentak dari mimpinya lalu terbangun dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Beberapa tahun terakhir dia sering bermimpi seperti tadi, selalu mimpi yang sama. Setelah menyeka keringatnya, Mika mengambil air dingin dari kulkas kemudian meminumnya buru-buru. Nafasnya masih ngos-ngosan disertai keringat, entah kenapa dia selalu merasa buruk setiap kali terjaga dari mimpi itu. Seolah mimpi itu adalah nyata, dan baru saja terjadi.


*****


" Ka? Kamu dengerin ga sih?" Esa sibuk nyikutin lengan Mika yang bengong sejak tadi, padahal sutradara dan crew film sedang melakukan pengenalan karakter hari ke dua.


" Oo.. iya.. aku... ughh..."


" Kamu sakit?"

__ADS_1


" Ga Sa, cuma kurang mood aja. Bagian aku dah kelar kan, aku ke toilet dulu ya?" Tidak nunggu izin dari Esa, Mika langsung ngibrit. Rasanya sumpek banget di ruangan tadi.


Hmmm... kepala udah terasa dingin, Mika mutusin untuk balik ke lokasi tadi. Sayangnya, baru aja doi duduk cewe misterius yang kemarin muncul lagi. Sama dengan penampilannya yang kemaren, celana jeans hitam dan jaket yang hitam juga. Tapi ada satu yang beda, rambutnya. Rambut panjangnya kemarin terlihat keluar dari sela jaket, semua orang pasti tau itu panjang. Sekarang sudah dipotong pendek dan sepertinya meniru gaya rambut Mika. Kalian ga lupa kan, itu lantaran dia bakalan jadi stuntman nya Mika pas suting ntar.


Entah kenapa Mika sangat sedih melihat rambut pendek itu, rasanya dia pengen banget nanyain lansung, ngapain di potong sih? Kan bisa pake wig, ahh... Klo aja dia bisa mengatakan itu. Sepanjang suting Mika ga berenti untuk fokus ngawasin cewe yang ngaku namanya Caca itu. Aktingnya sempurna, semua gerakan sulit bisa dilakukan hanya dalam satu kali take. Niat banget neh orang pikir Mika, namun sekali lagi yang tidak bisa dibantah dia sangat mirip dengan Reca. Sumpah muka ini ngeganggu banget.


" Reca bukan sih lo?" Batin Mika


Selesai suting dengan tidak membuang waktu, Mika yang udah empet banget sama rasa penasarannya itu menarik tangan Caca trus ngebawa dia ke tempat yang dirasa Mika aman. Agak kasar sih doi ngedorong tuh cewe ke dinding trus lengannya yang nempel kedinding mengisyaratkan  klo tuh cewe ga boleh pergi sebelum ngejawab semua pertanyaan Mika. Tapi bukannya buruan nanya Mika justrus menatap lekat wajah manis itu hingga jaraknya deket banget, kurang dari satu jengkal. Dan anehnya tuh cewe mukanya nantangin balik, ga gentar sedikit pun. Hayo Lo.


" Lo siapa?" Si Caca nya ngebisu aja. Dengan kasar gadis cantik itu menyingkirkan tangan Mika, dan pergi gitu aja tanpa sepatah katapun. Cuma ninggalin tatapan sinis yang artinya, resek banget sih lo males gue.


" Ree..." Mika tereak, cewe itu berenti tapi diem aja.


" Jadi kerusuhan lo ini, karena lo pikir gue temen lo? Sorry, lo salah orang. Gue bukan Re temen lo waktu SMA atau pun... Mika? Gue ga pernah punya temen yang namanya Mika. Gue disini mau kerja, cari duit, buat makan. Bukan mau reunian." trus pergi tanpa mau tau.


Mika terdiam, mata cewe itu tidak goyah sedikitpun. Seolah dia berkata benar apa adanya. Tapi disisi lain Mika yakin, karena ga mungkin ada orang sama persis di muka bumi ini. Bahkan orang kembar identik sekalipun punya perbedaan.


" Ka, lo dari mana aja sih." Tiba-tiba Esa nongol dengan muka bette nya. Ya iyalah, menurutnya temennya itu sangat aneh akhir-akhir ini.


" Gue laper Sa. Cariin gue makan siang." Mika langsung ngeloyor pergi, Esa tau laper hanyalah alasan Mika buat

__ADS_1


menghindarinya. Karena cowo ganteng itu bakalan bersikap kaya gini klo lagi males ngebahas.


Sepanjang suting Mika hanya terpana ngeliatin gadis yang diyakininya mirip Reca itu sedang memerankan adegan pengganti, atau bahasa kerennya stuntman. Gerakannya sempurna udah kaya laki aja, dan ya ampun tubuh itu... Mika bisa ngeliat dengan jelas. Kulit kecoklatan yang khas karena terbakar matahari dan ada bekas luka dimana-mana. Lengan, bahu, bahkan pipi sebelah kiri. Dan jika itu beneran Reca pasti Mika bakalan gilak karena sedih, gimana bisa Reca yang manis jadi seperti itu. Ah... itu tidak mungkin. Tidak ini hanya kebetulan saja. Mika berusaha keras meyakinkan dirinya.


" Hallo! Dimana lo?" Esa menoleh, karena suara Mika yang sedang menelpon seseorang.


" Balik aja, lo ga usah nyari Reca lagi. Gue udah ga tertarik, tapi gue ada tugas baru buat lo. Bisa ga lo selidiki seseorang buat gue. Cari tau alamatnya, latar belakang, keluarga, semuanya. Gue mau semuanya tentang dia."


" Sebenernya lo bukan nyuruh anak buah lo buat berenti nyari Reca, tapi lo pengen mereka menemukannya kan?" Batin Esa. Merana.


" Nelpon siapa sih sampe harus ngejauh dari aku."


Mika tidak menjawab, takut akan semakin melukai Esa. Sekarang aja cewe cantik itu lagi berusaha menahan air matanya yang sedang mendobrak keluar. Mika menyesal, lagi-lagi dia membuat Esa sedih. Sadar sih klo suka gitu, tapi kadang tetep aja Mika terus mengulang kesalahannya.


" Ga ada cuman..."


" Ga usah di jawab Ka, aku udah tau."


“ Sa..” Esa menepis tangan Mika yang hendak menyentuh pipinya.


“ Aku beli makan dulu.”

__ADS_1


Sambil berjalan Esa mengusap air matanya yang hampir terpergok jatuh di pipinya. Dia ga ingin kelihatan lemah, meski sebenarnya nyaris ga bisa berdiri karena gemetar. Udah beberapa tahun ini hubungannya dengan Mika baik-baik aja meski nama itu sering menghantui. Tapi sekarang... bukan hanya mengantui tapi seolah ingin mengklaim milik siapa hati Mika itu. Apakah benar Mika menyukai Reca? Atau dia hanya seseorang yang sedang mencari sahabatnya? Esa berharap pertanyaan terakhirlah yang menjadi kenyataan, karena dia terlalu takut jika pertanyaan yang pertama itu benar.


*****


__ADS_2