WINTER GLOW

WINTER GLOW
Dalam Sebuah Kebetulan


__ADS_3

" Frianka saya... emmm.... saya tidak ingin berbohong sama Mika jika itu hal sulit maka harusnya..." Melan menggelengkan kepalanya, seraya menatap sedih ke arah Frianka.


" Saya juga tidak berniat berbohong mbak Melan." Frianka tersenyum lalu menggenggam tangan Melan dengan hangat.


" Ya Ma, kita kan bisa kesini lagi tahun depan dan janjian buat ketemu." Darmawangsa menepuk pundak istrinya untuk meyakinkan bahwa itu bukanlah hal yang mustahil.


" Be, benarkah?" Melan sangat terharu karena sebenarnya dia wanita yang sangat kesepian dengan kehidupan glamournya yang sulit mendapatkan teman yang  tulus. Dan hari ini untuk pertama kalinya dia melihat Frianka yang begitu tulus menjalin sebuah hubungan karena kepolosan anak-anak mereka.


" Iya mbak, kenapa tidak. Saya ga keberatan jika mengatur pertemuan kita tahun depan pakah itu disini taua mungkin di destinasi yang lain. Palingan kita perlu menyesuaikan waktu biar ketemu kapan bisa liburan bareng."


" Atau kita bisa saling berkunjung ke rumah masing-masing barangkali?" Tambah Branu Sanjaya.


" Hahaha sama pikiran kita pak Branu. Ini nomor telpon saya eee... tulis dimana ya?" Branu Sanjaya buru-buru menyerahkan memo dan pulpen yang disediakan hotel, Darmawangsa pun menuliskan nomor telponnya pada kertas itu.


Kala itu telpon belum seperti sekarang hingga menyimpan nomor telpon lebih sering di tulis di secarik kertas lalu terkadang lupa menyalinnya ke telpon genggam. Itu juga yang dialami Branu yang cenderung menyinpan kertasnya ketimbang menyalinnya ke ponsel jadulnya.


Tiba diliburan akhir tahun berikutnya, pertemuan itu berhasil terlaksana. Kedua keluarga itu kembali menghabiskan liburan Mereka di Finlandia. Dan terjadi hal yang sangat menakjubkan saat mereka akan kembali ke Indonesia...


“ Ayo


sayang, kita harus masuk nak. Nanti ketinggalan pesawat lo.” Di depan pintu


masuk Bandara Reca kecil tidak mau beranjak dari pintu masuk seolah ada yang sedang di tunggunya.


“ Ga mau, ga mau. Yeye mau di sini.”


“ Sayang…” Kini gilaran Papanya yang membujuk.


“ Kita harus masuk sekarang klo ga kita ga bisa pulang nak. Dengerin papa yah?”

__ADS_1


“ Huuu..(menangis) Ga mau ga mau  pa Yeye masih mau di sini.” Kedua orang tua ini sangat bingung kenapa putri kecilnya bertingkah aneh. Sejak dari rumah tadi, dia terus memegang mainan dan menolak untuk dimasukkan ke dalam tas, bahkan saat ini jemari mungilnya terus memegang erat di depan perut buncitnya yang comel.


“ Gimana pa?” Si mama panik.


“ Kita tunggu sebentar lagi masih ada waktu satu jam kok.”


“ YEYEEEE…” Terdengar suara ika kecil berteriak dari seberang jalan pintu masuk Bandara, dia sedang berlari mendekat dan tampak wajah Reca tersenyum senang.


“ MIKAAA…” Reca membalas teriakan itu, kedua tangannya membentang tanda dia tidak sabar ingin memeluk temannya itu.


“ Oh ya ampun Mika dari tadi udah ga sabar banget minta ke Bandara padahal pesawat kami masih 3 jam lagi, ternyata mau ketemu Reca ya?” Melan tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya, begitu takjub karena kedua anak kecil dihadapannya ini seperti mnemiliki kontak batin atau sejenis telepati. Bagaimana mereka bisa yakin bisa bertemu dijam ini seolah sudah atur janji sebelumnya secara akurat mengenai tempat dan waktunya.


Padahal Melan dan Darmawangsa rencananya akan menghadari american fashion week karena Melan sangat menyukai fashion sehingga tidak bisa kembali ke Indonesia bareng Frianka dan keluarganya, makanya jam keberangkatan mereka berbeda. Selain itu Mika dan Reca tidak pernah saling menelpon satu sama lain, setiap kali bersama mereka hanya bermain sepanjang hari dengan kepolososan seorang balita.


“ Ini buat Yeye.” Mika menyodorkan sebuah suprise egg seukuran telapak tangan orang dewasa.


“ Ini buat Mika.” Reca juga memberikan suprise egg dengan ukuran yang sama tapi warna dan motif yang berbeda jadi intinya mereka bertukar mainan.


“ Oh iya... hati-hati ya. Nanti setelah sampai di Indnesia saya akan kabari ya biar bisa berkunjung ke rumah.’


Saat orang tua mereka sudah saling berpamitan, keduanya melangkah dengan berat, sesekali menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan. Menjaga pandangan mereka hingga kedua saling tak terlihat.


“ MIKAAA.” Reca berteriak lalu berlari memeluk Mika serta membubuhkan ciuman manis di pipi pria kecil tampan itu. Wajah Mika terlihat sangat bahgia dia membalas pelukan  itu dengan penuh kerinduan.


“ YEYEEE.” Mika berteriak untuk terakhir kali dan melambai imut sebelum muka Reca benar-benar hilang dari pandangannya


*****


Bola mata cantiknya bergerak-gerak perlahan karena sekumpulan ingatan mulai dirasakan Reca terputar kembali seperti melihatnya langsung dari sebuah layar. Saat cerita tante Melan berkahir, Reca merasakan perih di hatinya yang tidak bisa dia jelaskan.

__ADS_1


“ Hmmm...terkejut?” melan meletakkan teh yang baru aja diseruputnya, lalu tersenyum anggun dan dingin.


“ Ke...” Reca baru aja mau ngomong tapi Melan buru-buru memotong.


“ Kebetulan yang luar biasa bukan? Hahahaha...” Tertawa seolah emang lucu banget.


Reca bisa melihat kesedihan besar yang tersembunyi dalam wajah tegar itu, sekaligus juga memahami kenapa mama Mika bersikap sangat dingin kepada anaknya hingga menciptakan jurang yang begitu besar diantara mereka. Melan sebenarnya sudah lama hancur namun untuk melindungi Mika dia bersikap sangat tidak punya perasaan agar terlihat kuat, serta menguatkan diri untuk membesarkan anak tanpa seorang ayah. Melan sendiri tidak-baik-baik saja, tapi jika dia hancur maka MIka akan lebih hancur lagi.


“ Tante baik-baik aja?” Reca tau banget rasa itu, sedh tapi tidak punya waktu untuk berduka. Marah tapi belum punya kemampuan yang cukup untuk melepaskan amarahnya, meski dia tidak tau pasti apa yang sudah begitu melukai tante Melan.


“ Apakah tante terlihat tidak baik-baik saja Reca?”


“ Terlihat sangat baik tante.” Melan tersenyum puas.


“ Tapi untuk yang memiliki ketidakberdayaan yang sama seperti saya, tante terlihat berjuang keras menyembunyikan perasaan tante yang sebenarnya.”


“ Anak laki-laki dan perempuan memang beda ya?” melan merasa Reca terlalu peka dengan analisa emosinya.


“ Mika tidak pernah terbiasa dengan tante meski sudah lebih dari dua puluh tahun. Tapi kamu langsung tau hanya di pertemuan kedua kita.”


“ Apakah hanya cerita itu yang tante punya? Lalu apa kaitannya denga semua teka teki...”


“ Oh kamu sudah menemukan teka-tekinya? Sesuai harapan berarti.”


“ Sesuai harapan?” Reca seperti baru saja merasa dibohongi mendengar ucapan Melan barusan. Apakah maksud dari sesuai harapan berarti dia tau soal teka-teki ini? Apakah dia yang membuatnya? Lalu apakaitannya dia, kenangan dua puluh tahun itu dengan kematian papa nya delapan tahun yang lalu?


“ Iya sesuai harapan papa kamu Reca, dia begitu yakin kamu tidak lebih pintar dari Mika insa mmecahkan teka-teki itu suatu hari nanti. Ternyata dugaan papa kamu tidak salah.”


“ Dugaan papa?” Bicara sendiri.

__ADS_1


“ Iyaaahh ironis bukan? Pertemuan pertama kalian pada saat balita memang sebuah ketidaksengajaan. Tapi pertemuan kalian pada saat dewasa bukanlah sebuha kebetulan.”


*****


__ADS_2