
“ Pemilihan presiden tinggal beberapa bulan lagi.
Seperti pemilu-pemilu sebelumnya, tidak ada yang boleh melakukan gerakan apapun
(sesuatu yang bisa menyebabkan skandal). Tahan diri kalian dan tertibkan semua
anggota kalian hingga sampai level terbawah, pastikan mereka tidak membuat
keributan.” Jabat Sentosa bicara dengan nada peringatan keras, seolah sedang
menunjukkan siapa bos diantara orang-orang penting ini.
“ Ehmm…” Ghani Wijaya merapikan jasnya sambil duduk,
dia tampak gelisah karena sedang merasa tidak yakin. Bukan hanya untuk dirinya
tapi juga semua menteri di ruangan ini.
“ Jika ada salah satu dari kalian yang membuat
keributan maka akan kupastikan kalian jatuh sendiri ke lubang neraka. Karena
aku bukan hanya bisa membersihkan diriku dari keterlibatan kalian tapi juga
bisa membuat kalian menjadi satu-satunya orang yang akan membusuk di penjara
tanpa ada harapan keluar sekalipun.” Jabat Sentosa tidak main-main dengan
ucapannya dan semua orang hadir disini tau itu.
“ Hmm… kalau begitu segera sudahi pertemuan ini.
Terlalu sering bertemu akan membuat orang mencurigai kita.” Daruma Tanjung
“ Mencurigai apa? Kita hanya sedang makan siang di jam
istirahat.” Singkat padat tapi ngenak banget, pak Tanjungnya sampe terdiam
denger omongan Sentia Mulyadi. Meski dengan tertawa ramah keliatannya, tapi itu
adalah kalimat peringatan ke orang di ruangan ini bahwa jangan mengatakan hal
mencurigakan apapun. Apapun itu, ini adalah makan siang hanya makan siang.
Siapapun harus meyakini itu termasuk orang lain diluar sana.
“ Aku duluan ya, masih banyak permasalahan rakyat yang
harus diselesaikan.” Sentia Mulyadi.
“ Aku juga sangat sibuk, permisi.” Daruma Tanjung.
Keduanya saling menundukkan kepala untuk memberi salam sekalian izin
meninggalkan ruangan, yang tertinggal hanya Jabat Sentosa dan Ghani Wijaya.
“ Kau yakin.” Ghani Wijaya sudah lelah menahan dirinya
agar terlihat baik-baik saja. Dia jelas saat ini tidak dalam keadaan baik.
“ Seseorang mendatangiku kemarin dan mengancamku.
Sepertinya dia memiliki semuanya, dia pasti akan datang lagi. Lakukan sesuatu.”
“ Apa yang dia inginkan?”
“ Aku harus membunuhmu. Kau tau aku hampir saja gila
mendengarnya, dia bahkan tau siapa dirimu.”
“ Ssssttt… jaga bicaramu.”
“ Bersihkan seperti katamu, buktikan dirimu sesuai
omonganmu. Amankan kami semua maka kau juga aman. Aku berani bertaruh orang itu
__ADS_1
tau sesuatu.”
“ Tidak, dia tidak tau. Dia hanya sedang menduga-duga
dan sekarang berusaha memancingmu agar kau melakukan hal bodoh yang akan
mengacaukan segalanya.”
“ Apapun itu segera bersihkan. Aku tidak mau
kampanyeku terganggu.”
“ Kau berani memerintahku Ghani?”
“ Berhenti berlagak paling penting Jabat. Bagiku tidak
ada penguasa diantara kita, kita saling membutuhkan dan menguntungkan satu sama
lain. Kau membutuhkan aku begitu juga sebaliknya. Aku permisi dulu.”
BRAKK!
Jabat Sentosa memukul meja dengan keras karena
amarahnya hampir saja meledak. Tapi cara Ghani Wijaya meninggalkan ini ngebuat
dia ga punya pilihan selain diam, percuma juga marah klo ditinggal pergi.
*****
Mata Reca tampak takjub saat Mika menunjukkan ruang
rahasia di kamarnya. Bukan hanya ga percaya ada ruangan itu di kamar seorang
aktor kaya Mika tapi isi kamar yang penuh dengan skema praduga subjek. Alis
Reca sempat terangkat sesekali karena kagum ngeliat informasi yang Mika dapatkan
dan di tulis rapi di papan itu yang udah kaya bagan struktur organisasi.
“ Aku udah coba nyari semua informasi yang mungkin
dibuatnya.”
“ Jen Kusniar Mentri Kesehatan, Sentia Mulyadi menteri
perdagangan, Daruma Tanjung menteri Pertahanan dan Ghani Wijaya gubernur Ibukota
Negara yang lagi naik daun. Aku sudah selidiki semua background mereka tapi…”
“ Mereka sangat bersih bukan?”
“ Hmmm.” Tertunduk sambil mengangguk membenarkan.
“ Mereka adalah mentri-mentri yang berada di hati
rakyat karena berhasil membuat kebijakan yang pro rakyat. Tapi sebenarnya tidak.”
Mika sedikit kaget hingga kedua bahunya hampir
terangkat sangking ga percayanya dengan apa yang Reca katakan barusan.
“ Jen Kusniar, mentri Keuangan yang memiliki banyak sekali
lahan bisnis namun dipalsukan kepemilikannya agar terhindar dari pajak dan
penyidik korupsi. Ghani Wijaya, meski sering terjun langsung ke lapangan untuk
membantu golongan menengah ke bawah. Tapi dia menggelapkan dana bantuan
pemerintah lebih dari 65 % dari dana yang diberikan, tapi para penyidik selalu
tidak berhasil menemukan bukti.” Mika nyimak dengan anteng.
“ Daruma Tanjung menteri Kesehatan yang sangat berjasa
__ADS_1
menciptakan program asuransi kesehatan gratis untuk masyarakat tidak mampu.
Tapi dia memiliki perilaku **** menyimpang dan memiliki kerajaan bisnis di
dunia malam. Narkoba, wanita penghibur dan pembuatan film porno adalah bisnis
utamanya. Dari bisnis itu dia seolah punya kendali sendiri di beberapa menteri
dan pejabat Negara yang terlibat dalam bisnis dunia malam itu. Lalu Sentia
Mulyadi menteri perdagangan berperan besar terhadap kekuatan ekspor impor.
Meski belum menemukan celahnya, tapi gue yakin dia juga punya kartu hitam yang
bisa menjatuhkannya.”
“ Kenapa kamu seyakin itu Re?”
“ Tidak ada menteri yang benar-benar bersih. Entah itu
ikut terlibat atau jadi oknum yang tutup mata membiarkan semua kejahatan
politik terjadi, mereka pasti punya sesuatu yang ngebuat mereka memilih diam di
tempatnya.”
“ Lalu hubungan sama Esa apa Re?” Mika mulai mengerti
kenapa Reca mendekati Evan yang jelas anak kandung Jen kusniar, tapi dia masih
belum menemukan alasan keterkaitan Esa dalam hal ini.
“ Hmmm?” Ngasih tampang polos yang ga bisa ditolak.
“ Kamu bilang kamu ga sengaja berada di dekat aku
karena sedang mendekati Esa. Ada dengan Esa Re?”
“ Esa?”
“ Iya Esa. Kenapa kamu deketin Esa Re.” Reca berdiri menghampiri
skema yang tertempel di dinding kamar itu.
“ Ada organisasi rahasia bernama Singa merah,
Organisasi itu terdiri dari beberapa mentri yang sangat berpengaruh, dibuat
untuk mengendalikan pemilihan Presiden.
Mereka merasa berhak untuk mengatur siapakah presiden yang akan terpilih dana
bagaimana memanipulasi suara agar Presiden yang mereka pilih keluar sebagai
pemenang. Sayangnya gue belum dapat siapa para anggota organisasi ini.”
“ lalu?”
“ Esa pernah menerima undangan dari istana negara
untuk menghadiri pelantikan para menteri. Itu artinya Esa bisa saja putri dari salah
satu menteri yang menjabat saat ini.” Reca mencium bau mencurigakan kenapa
identitas Reca sangat dirahasiakan dari siapapun.
“ Pertanyaannya adalah siapa? Tidak pernah satupun
mentri yang menjabat saat ini pernah terlihat mendampingi Esa setiap kali ada
kegiatan orang tua murid di sekolah, bahkan Esa tidak pernah terlihat bersama orang tua bahkan saat hari pembagian rapot sekalipun dan anehnya tidak satupun orang disekolah Bhakti berkomentar soal itu. Pasti ada alasan kuat kenapa Esa harus
hidup dengan cara seperti itu kan?”
“ Jadi…”
__ADS_1
“ Jadi intinya ada orang lain dibalik semua ini yang
belum menampakkan wajahnya. Seseorang yang begitu kuat dan sangat ditakuti. Seseorang."