WINTER GLOW

WINTER GLOW
Korbankan Ekormu untuk Selamatkan Tubuhmu


__ADS_3

" Tidakkah kalian berpikir? Bahkan dimulai dari dia mengakui semua tapi  membantah Jantung Singa merah itu sudah aneh, apalagi dia mematikan  lampu dan meminta agar tidak dibunuh didepan putrinya. Apa kalian tidak  sadar, dia sedang meminta waktu. Dia bukan tidak ingin kalian terlihat oleh putrinya tapi dia tidak ingin kalian melihat apa yang.... DIA BERIKAN PADA PUTRINYA." Gantian Jabat Sentosa dan Sentia Mulyadi yang terbelalak.


" Apa maksudnya,....?" Tanya Jabat Sentosa tak percaya dia takut apa yang terpikir olehnya saat ini adalah benar.


" Dia tau kalau dia akan dibunuh jadi dia pasti mempersiapkan sebuah rencana. Pertama, dia sengaja mengakui semuanya untuk membuat kalian percaya bahwa dia tidak menemukan Jantung  Singa merah sehingga kalian hanya terfokus pada apa yang dia ceritakan. Kedua, dia meminta agar kalian tidak membunuhnya didepan putri agarnya dia punya waktu untuk memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada putrinya dan dia mematikan lampu diruangan itu agar kalian tidak tau benda apa itu sehingga paketnya sampai dengan baik. Orang amacam apa yang nyawanya sudah diujung tenggorokan tapi masih berpikir memberikan mainan.. mainan? Kepada putri satu-satunya jika bukan sesuatu yang penting. Jika hanya sekedar tidak mati didepan mata anaknya maka dia pasti akan membawa kalian keluar dari rumah, engajak bertemu dia suatu tempat atau bahkan melarikan diri. Dia tidak melakukannya bukan, karena dia kehabisan waktu. Reca tidak mengetahui apa-apa saat kalian datang, tapi untuk menceritakannya dari A sampai Z itu mustahil karena terlambat menyadari waktu yang tepat untuk memberitahu putrinya. Dia tau dia diburu yang artinya dia tidak punya banyak waktu karena bisa mati kapan saja, maka dari itu dia memastikan setidaknya Reca mendapatkan paketnya kan?"


" Apa..?"


" Tapi kalian malah berpikir bahwa itu hanya sikap cengeng Branu Sanjaya yang merupakan pengacara pintar yang terkenal handal menangani kasus?" Esa sangat prustasi. Tidak menyangka betapa bodohnya kedua tua bangka ini dan betapa lengahnya dirinya. Siapa yang mengira misteri yang coba dia pecahkan dengan susah payah selama delapan tahun, terpecahkan dalam dua menit dengan cerita yang menurut kedua orang sok pintar ini tidak penting.


" Bagaimana kau begitu yakin?" Tanya Jabat Sentosa masih ga terima ketahuan begonya.


" Jika tidak bagaimana Reca yang dulu ingusan itu, tiba-tiba menghilang lalu sekarang berusaha keras menyelidiki kematian ayahnya. Dari mana dia dapatkan petunjuknya, dari semua jejak yang bersih ini?" Esa menunjuk ke arah monitor yang masih memerkan data pribadi orang yang dimaksud.


Jabat Sentosa dan Sentia Mulyadi mulai berpikir lagi serta menduga-duga apakah itu artinya tidak menutup kemungkinan seorang Branu Sanjaya membuat rencana balas dendam setelah kematiannya. Itu artinya juga, dia bisa saja meninggalkan banyak petunjuk dan bukti untuk putrinya mengungkap kematiannya.


" Apa kau yakin putrinya yang bernama Reca itu mencoba membalas dendam ayahnya?" Jabat bertanya ke Esa.


" Selama ini aku tidak memata-matainya karena mengingat dia hanya gadis bodoh yang polos, tapi terakhir kali saat aku mengunjungi Mika di rumahnya saat pertama kali tiba disini dari Amerika... " Esa tersenyum sebelum melanjutkan kata-katanya.


" Dia mencoba menggeledah handphone ku, meski aku tau dia tidak akan menemukan apapun tapi caranya mengambil dan mengembalikannya sangat tidak biasa. Itu seperti seorang ahli."

__ADS_1


Jadi wak waktu itu ternyata Esa sadar tapi dibiarin aja karena ngerasa klo Reca ga bakaln menemuan apapun, selain itu Esa cukup terkejut kenapa Reca mencari sesuatu tentang dirinya bahkan sebelum mereka saling baku hantam di rumah sakit. Apakah Reca mencurigai sesuatu tentang dirinya? Padahal Esa yakin tidak meninggalkan jejak apapun yang mengarahkannya pada Singa merah bahkan anggota Singa Merah sekalipun tidak mengetahui siapa ketuanya tapi kenapa.... Reca bisa mengarah padanya.


" Ini semakin menarik."  Jabat Sentosa tersenyum miris, tidak menyangka harus mewaspadai seorang wanita yang dianggapnya remeh. Tapi entah kenapa nyalinya terasa menciut seperti sesuatu yang besar sedang mengancamnya seolah dirinya adalah mangsa dari seekor buaya yang sangat sabar menunggu dalam tenang tapi siap menerkam lehernya begitu dia lengah.


" Sepertinya kau harus memata-matai dia untuk kedepannya."


" Sudah... tapi dia hanya sibuk dengan karir artisnya."


" Jika semua dugaan ini adalah benar, bukankah itu hanya kedok belaka?"


" Bisa dibilang ya ataupun tidak... kalau sebuah kedok dia tidak mungkin repot-repot untuk terkenal dan membuatnya begitu sibuk hingga tidak punya waktu bahkan untuk tidur sekalipun. Apalagi untuk menyusun sebuah rencana balas dendam. Aku sangat tau bagaimana sibuknya seorang artis terkenal menjadi mesin pencetak uang." Ya lah, yang mantan manager aktor terkenal ceritanya.


*****


Kamar yang sedikit berantakan karena baju yang diletakkan sembarangan ditambah beberapa kaleng bir dan sampah makanan ringan. Ruangan itu gelap karena gorden yang tidak disingkap meski matahari sudah tinggi, cukup menjelaskan bahwa penghuni kamar masih tertidur lelap.


" Ken!" Sarah datang dengan menggunakan bathrobe karena baru selesai mandi, rambutnya juga masih dibalut handuk. Dengan lembut dia mengelus rambut Kendra untuk membangunkan dokter tampan itu.


" Eammmhhh..." Kendra bergumam tidak jelas.


" Kamu ga bangun? Emangnya kamu ga kerja Ken? Udah dua hari loh kamu ga masuk kerja." Dan udah tiga hari si Kendra tinggal di rumah Sarah, malahan yang lebih parahnya lagi mereka tidur di ranjang yang sama meski tidak bercinta. Hubungan yang aneh, mereka tidak pacaran tapi tinggal bersama trus tidur bareng tapi belum tentu bercinta. Padahal belum lama deket dan bisa dibilang ketemu juga hanya beberapa kali tapi keduanya seperti sepasang kekasih yang mabuk asmara. Walaupun ga bisa disangkal klo mereka sebenarnya bukanlah dua orang yang saling mencintai, mereka hanya saling apa ya.... entah lah wak ga jelas juga.

__ADS_1


" Aku udah bilang ke kantor klo aku cuti sementara." Masih dengan mata tertutup dan suara yang terdengar sangat mengantuk.


" Ouuhhh...." Sarah berpikir sebentar. Klo kendra cuti berarti...


" Klo gitu kamu bisa ikut aku?"


" Kemana?"


" Ke tempat dimana kamu bisa melihat apa yang Sentia Mulyadi lakukan." Mata Kendra langsung terbuka lebar dan kantuknya juga hilang. Doi juga langsung duduk mirip orang yang habis kena setrum.


" Apa maksud kamu Sar? Aku baru aja tau dan kamu mau ngebuat papa aku sadar hal itu?" Sarah tersenyum, lalu mengacak gemas rambut Kendra.


" Ya enggak lah ganteng."


" Trus?"


" Kita bisa lakukan ini." Sarah mengecup bibir Kendra sambil tersenyum nakal.


" Sambil menyelam minum air, kita akan berakting bahwa kita sedang pamer kemesraan sedang kewaspadaan orang tua kita menurun. Lalu..." Sarah mengangkat-angkat kedua alis sebagai isyarat dan Kendra segera mengerti apa yang dimaksud Sarah barusan


*****

__ADS_1


__ADS_2