WINTER GLOW

WINTER GLOW
Putri Kristal


__ADS_3

Rasa takut, panik sekaligus berharap dalam putaran waktu yang terasa sangat lambat. Jarak yang dekat terasa sangat jauh dan orang-orang disekitar seolah tidak memiliki telinga untuk mendengarkan jeritan minta tolong dan tidak punya mata untuk melihat kemalangan yang sedang terjadi. Sesekali Mika memanggil nama Reca agar terjaga, memintanya bertahan sedikit lagi karena sebentar lagi rumah sakit terdekat akan sampai.


" Tolong." Mika menjerit begitu tiba di pintu UGD, mencari tempat tidur terdekat yang dia temui untuk membaringkan Reca yang terus kehilangan darahnya. Timah panas yang melesat menembak lengan kanan dan pinggang yang tembus hingga bagian perut kanan bawah.


Raka yang kebetulan sedang bertugas menyambutnya dan jantungnya pun serasa akan berhenti melihat Reca yang terbaring dengan kesadaran yang berangsur hilang.


" Raka. Tolong Reca Rak, diaa..." Mika tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tapi nama yang dia sebutkan langsung membuat Kendra menghampiri dengan wajah yang sama terkejutnya.


" Re, Reca?" Begitu memastikan wajah itu, Kendra langsung bersiap dengan sarung tangannya mengambil kasa untuk menekan luka sementara Raka dan perawat lain dengan cepat memasang infus. Karena kondisi luka dan kesadaran Reca mereka terpaksa menggunting pakaian didekat area luka agar memudahkan melihat lebar dan kedalaman luka yang dialami serta memudahkan dalam menjahit luka itu nantinya.


" Re?" Raka berkata nyaris tanpa suara, dia cukup terkejut mendapati lengan Reca denan banyak bekas luka dan Kendra pun menyadari hal yang sama. Raka melanjutkan tugasnya meski sesekali harus berusaha tegar menahan tangis hingga beberapa kali menyeka air matanya. Begitu juga Kendra yang sebenernya tuh gugup banget tapi harus mengendalikan dirinya agar tetap fokus demi Reca yang bertarung dengan waktu.


Siang itu juga operasi cito (Harus disegerakan tidak dapat ditunda) dilakukan. Mika terpaku di ruang tunggu operasi, sesekali peristiwa tembakan itu terlintas kembali dalam ingatannya. Muncul berbagai pertanyaan yang sangat menggangu pikirannya yaitu tentu saja siapa pelakunya? Mengapa dia menembak Reca disaat Reca justru tidak sedang mencari informasi tentang ayahnya? Bagaimana dia bisa tau keberadaan Reca dan Mika saat itu?


" Nih" Raka menyerahkan bungkusan burger lalu duduk disebelah Mika sambil melahap burger ditangannya.


" Kenapa lo ga bilang klo udah nemuin Reca?" Sejak tadi Raka udah menahan diri untuk bertanya karena kondisi Reca yang kritis, sekarang raka butuh penjelasan.


" Inih.." Mika menyodorkan ponsel pribadinya yang memperlihat beberapa foto Reca yang diambilnya diam-diam saat Reca masih bekerja sebagai pemeran pengganti. Pupil mata Raka seakan mau copot keluar karena terkejut, wajah yang sama tapi terasa seperti dua orang yang berbeda.


" Karena itu, gue ga bisa langsung mengenalinya Rak. Kalaupun iya gue akan berharap itu bukan Reca yang kita kenal. Dia bukan hanya berubah menjadi orang lain tapi hancur... sehancur-hancurnya Rak selepas bokapnya meninggal dia kehilangan hak untuk berduka. Karena misteri dibalik kematian yang belum terpecahkan menyeret Reca dalam dunia hitam, lebih buruknya dia menghadapi semua itu dengan tubuh mungilnya. Luar biasanya dia melewatinya dengan baik..." Raka memilih untuk tidak bertanya apa itu, pasti ada alasan kenapa Mika ga bisa cerita.


" Trus sekarang apa rencana lo? Apa lo masih tetep diem soal perasaan lo?"

__ADS_1


" Gue udah ngungkapinnya berulang kali. Heehhh" Mika tersenyum saat menyandarkan kepalanya sambil tengadah dengan mata terpejam lalu kemudian menatap ke atas.


" Serius lo?" Raka menatap Mika mencari kesungguhan ucapan sahabatnya itu, bisa diliat dengan jelas wajah lelah Mika yang telah melewati semua bagian berat dalam perjuangan cintanya.


" Hmmm, lo tau Rak? Sebanyak itu gue ungkapin perasaan gue, sebanyak itu juga gue di tolak."


" Jadi lo akhirnya memilih Reca dari pada cinta masa kecil yang lo tunggu-tunggu dari dulu itu, sampe nolak semua cewe yang deketin lo?" Mika menyerahkan kertas memo yang sejak tadi dipeganginya, saat Raka membuka kertas itu dan menatapnya... Raka langsung ngerti klo Putri Kristal itu adalah Reca. Mika ga pernah sekalipun cerita soal Putri kristalnya ke sahabat-sahabatnya kecuali sama Raka


" Lo pasti ga bakalan percaya Rak... gue sendiri sampe sekarang belum bisa percaya klo ternyata cinta pertama gue, cinta masa kecil gue, cewe yang gue tunggu seumur hidup gue, Putri Kristal gue itu ternyata... Reca."


" Serius lo?"


" Mirisnya gue baru tau beberapa detik setelah Reca tertembak." Raka menepuk bahu Mika mewakili dukungannya, ini berat tapi dia yakin Mika bisa melaluinya.


" Mik." Tangan Kendra menahan Mika yang berniat menemui Reca, sedikit mencengkram karena rasa marah sedang menggelitik hatinya.


" Lo ga perlu tau apa yang terjadi sama pacar gue."


" Pacar?" Jadi keinget omongan Sarah...


Gue yakin lo belum lupa siapa yang udah menyita seluruh waktu Reca di bangku SMA, dan itu masih


orang yang sama sampai saat ini...

__ADS_1


" Kali ini gue ga akan ngalah lagi Mik, gue akan serius deketin Reca. Dan sampe gue denger sendiri dari Reca soal status kalian berdua gue ga akan percaya."


" Gue ga butuh rasa percaya Lo. Dan sebaik nya Lo ngejauh dari cewe gue."


" Lo ga bisa maksa gue ngejauhin Reca karena gue dokter disini dan sekarang Reca adalah pasien rumah sakit ini. Jika Lo ga pengen gue terlibat harusnya Lo ga memilih rumah sakit ini sejak awal."


Sial, Mika juga ga pengen ke Rumah sakit ini njirr tapi terpaksa. Dia takut seseorang akan mencelakai Reca seperti peristiwa penembakkan. Dan kenapa ke rumah sakit ini, ya karena Kendra. Mika tau Kendra akan sangat peduli, jadi sangat bisa diharapkan untuk membantu Mika merawat Reca dengan baik.


" Ehm.." Reca bergumam lirih saat Mika dan Raka menungguinya, Reca masih dibawah pengaruh bius sehingga cenderung mengantuk dan tertidur. Kendra juga ikut nungguin hanya saja tidak bisa seperti Mika yang duduk sangat dekat lalu terus menggenggam tangan Reca.


Suara Reca terdengar sangat lemah, dia juga mengigau dan bergumam tidak jelas.


" Mikaaa." Raka, Kendra dan Mika langsung bereaksi ingin mendengar lebih jelas apa yang Reca ucapkan.


" Re, apa Re kamu bilang apa?" Mika


" Mika, Mika." Kali ini ketiga cowo itu mendengar dengan jelas apa yang Reca igaukan.


" Iya Re aku disini, aku disini Re." Reca tidak membuka matanya karena memang masih belum sadar. Tapi tangannya seperti merespon omongan Mika, dia menarik tangan itu mengeratkan jemarinya seakan ingin memeluk lengan itu lebih dekat.


" Mika..."


" Aku disini Re, aku akan nemenin kamu selalu disini." Sekali lagi seolah merespon suara Mika, Reca menjadi tenang dan kembali tidur. Hati Kendra perih, bahkan dibawah alam sadarnya hanya nama Mika yang ada. Hanya Mika,

__ADS_1


*****


__ADS_2