
Dimalam Kejadian Delapan Tahun yang Lalu…
Malam itu seolah jadi awal dari sebuah mimpi buruk yang ga pernah Reca bayangkan. Dia juga ga menyangka bahwa itu adalah kali terakhir dia melihat papanya, hingga detik ini Re masih sangat menyesal tidak begitu peka dengan semua isyarat yang diberikan sang ayah dipenghujung hidupnya. Reca mengira itu hanya sebuah kebiasaan yan terlalu biasa dan tidak berarti, siapa yang akan mengira bahwa kebiasaan itu adalah pesat singkat sebuah panggilan kematian.
“ Papaaaahhh...” Reca merengek kesal.
“ Ihhh kan papa suka gitu deh… kenapa sih pah ga langsung kirim aja klo
mau ngirim pesan WA ke Re. Kenapa mesti pake timer sih paaahh….? Suka meleset dari waktunya loh tuh kaya gini kan Re jadi telat taunya.”
Jadi papanya si Reca punya kebiasaan unik neh suka ngirim pesan ga langsung tapi pake istilah kirim nanti gitu
dengan mengatur waktu pengiriman pesan. Misalnya neh ngetik pesannya di jam delapan pagi tuh buat dikirim di jam sepuluh pagi. Nah untu metode ini kamu bisa kombinasikan Whatsapp kamu dengan aplikasi pendukung lain.
“ Kenapasih anak papa ne marah-marah aja sukanya.” Eh si papa ketawa aja, padahal udah buat bette. Papa yang taidinya janji jemput tapi batal lantaran ada urusan, nah dateng si papa ini ngirim pesannya ga langsung tapi pake waktu kaya yang dibilang tadi. Nah entah karena sinyal ato apalah, sipesan tadi baru masuk setelah Re menunggu sejam di sekolah. Mana sekolah udah pada sepi, trus malmnya kan Reca mau ke acara pensi. Jadi pulang telat deh.
“ Reca mau ke pensi pah..”
“ Jam berapa coba? Ini juga baru jam 5 kan sayang. Pensinya jam 8 bukannya? Kamu masih punya banyak waktu kok.”
“ Kan mau pergi bareng Kendra ke pensi, Re punya banyak ritual kecantikan yang ga sebentar mau dilakuin biar keceh gituh. Klo sekarang udah ga keburu.” Merutuk dalam hati sendiri.
“ OK OK, papa salah. Maaf yaa… “ Masih dengan senyum menahan lucu ngeliat muka Reca yang masih cemberut.
“ Tau ah… Re mau siap-siap dulu. Papa ngeselin ih… “ Ga ketinggalan klo lagi kesel hentak-hentak kaki sambil jalan. Entah apa juga gunanya.
“ Ree..” Suara papanya tiba-tiba beda dari biasanya. Re berbalik trus sempet tertegun sebentar ngeliat muka papa yang tiba-tiba terlihat lain dari biasanya. Seperti ada yang ingin dibilang tapi enggan.
“ Papa akan tetap kirim pesan seperti itu sayang. Jangan bosan untuk cek pesan dari papa ya?” Mengakhiri ucapannya dengan senyum, hati Reca terasa aneh tapi dia segera mengabaikannya.
“ Iya pa.” Masih kesel tapi entah kenapa Reca mengiyakannya.
“ Janji ya Re kapan pun itu please cekpesan dari papa.”
__ADS_1
“ Iyaaaa paapaaaahhh… udah ah Re mau siap-sipa ne. Dag pa.”
Malam sebelum pergi ke pensi, Re nyempetin buat singgah ke ruang kerja papa buat pamit. Tapi begitu masuk Re ngeliat ruang kerja papa yang ga biasa banget, gelap. Hanya lampu baca diatas meja aja yang menyala, trus Reca juga ngeliat muka papa yang memucat dan keringat didahinya terlihat lebih banyak dari biasanya. Selain itu mukanya juga tampak lelah, sesekali dia fokus dengan lembaran berkas didepannya tapi tangannya sesekali gemetar.
“ Papa…” Re ngerasa papa sedang ga baik. Ganggu ga ya…
“ Eh sayang. Kamu udah mau pergi ya?” Re mengangguk.
“ Papa sakit ya kok kaya ga ebak badan gituh pa?”
“ Hah? Ga kok sayang hahahaha, cuma lagi kecapekan aja. Banyak banget berkas klien yang harus papa periksa.”
“ Klo capek istirahat pa.”
“ Iya sayang. Bentar lagi papa juga mau makan malam bareng mama.” Re ga memperhatikan omongan papanya, karena menangkap ada bayangan seseorang yang bersembunyi dibalik lemari tapi ga keliatan orangnya. Re coba celingukan buat mastiin tapi papa menariknya seolah ingin menghentikan Reca untuk memeriksa hal yang baru disadarinya itu.
“ Kamu udah mau pergi ya Re?”
“ Hmmm…“ Re mengangguk.
“ Hati-hati ya sayang, hmmm jangan lupa pesan papa kemaren.” papa memeluk Re erat banget bahkan beberapa kali mengecup kepala Reca seolah ini adalah pelukan terakhirnya.
“ Oiya, inih udah lama banget papa mau kasih tapi kelupaan terus. Papa udah temuin toko mainan yang bisa perbaiki ini.” Papa ngeluarin kotak warna coklat gelap dari paper bag yang dipegangnya.
“ Kamu masih ingat ini?” Reca menerima kotak itu dan segera membukanya. Isinya sebuah Snow Globe yang dipesan khusus, hanya ada satu-satunya di dunia. Ini adalah hadiah dari papa saat ulang tahun Reca saat usia 5 tahun. Mainan itu di pesan khusus sama papa dan merupakan mainan terfavorit buat Reca. Tapi mainan itu pernah
jatuh lalu pecah, Reca sedih banget waktu itu sampe demam karena ga ada toko mainan lain yang jual ato yang bisa buat mainan yang sama. Mungkin karena mainan ini papa pesan bukan di Indonesia.
“ Ya ampun paahhh… itu udah lama banget. Papa beneran nyari toko yang bisa baikin inih?” Reca terharu sampe hampir nangis. Dia malah udah menyerah untuk mengingat mainan ini. Meski mainan ini pernah sangat berarti karena sejarahnya.
“ Lubang kuncinya juga papa udah baikin?” papa mengangguk sambil senyum. Lubang kunci itu adalah yang paling penting karena Reca sedang menunggu sipemilik kunci datang menemuinya. Meski harapan itu sempat hilang tapi ngeliat mainan ini bisa diperbaiki, harapan Reca bertemu si pemilik kunci itu muncul lagi.
“ Udah balik kaya dulu Re seperti belum pernah pecah.”
__ADS_1
“ Makasih banyak papa.” Re memeriksa setiap sudut mainan itu dan yang dicarinya akhirnya ketemu. Winter Glow, hmmm… Reca tersenyum. Dua kata ini hanya dia dan papa yang tau artinya, bahkan mama juga ga tau arti yang
tersembunyi di dalamnya.
“ Udah senyum-senyumnya, ntar kamu telat loh.” Sekali lagi papa berusaha mengusirnya keluar. Agar Reca tidak lebih lama berada disini.
“ Ok pah. Reca pergi dulu ya pah. Re sayang papa.” Reca memberinya pelukan terakhir sebelum benar-benar pergi, ga ketinggalan kecupan sayang di pipi papa.
Begitu Reca meninggalkan ruangan kerja itu, papa Reca mengambil handphone dari sakunya dan membuka aplikasi rekam suara. Tangan gemetarnya mencoba secepat mungkin agar tidak terlihat lalu meletakkan HP itu
dengan terbalik diatas meja kerjanya.
Reca benar, ada seseorang yang sedang bersembunyi dibalik lemari ayahnya. Dan ayahnya sengaja mematikan semua lampu agar kunjungan orang asing itu tidak terlihat. Sebenarnya sebelum Reca masuk tadi ada dua orang
yang mendatangi ayahnya, entah bagaimana orang itu bisa menduplikat kunci rumah miliknya dan masuk begitu aja ke ruang kerja ayah Reca. Tapi karena suara Reca yang terdengar oleh ayahnya sedang menuju ruang kerja itu, ayah Reca memohon pada tamu yang tidak diundang itu agar tidak melibatkan putrinya. Si tamu juga setuju karena ga ingin mengundang keributan. Hal hasil si ayah mematikan semua lampu secepat mungkin dan berakting seolah sedang memeriksa berkas klien.
“ Berikan bukti itu selagi aku memintanya baik-baik. Dimana kau menyembunyikan bukti itu?” tamu yang tidak diundang itu menodongkan pistol, membuat ayah Reca panik tapi dia bertekat tidak akan memberikan apapun.
“ Bukti itu tidak ada di sini. Kalian salah menuduh orang.”
“ Oh benarkah?”
“ Silahkan cari saja seluruh isi rumah kalau kalian tidak percaya. Aku tidak menyimpan bukti apapun. Tapi tolong jangan sakiti keluargaku.” ayah Reca menelan ludah yang terasa sangat kering di tenggorokkannya.
“ Sepertinya kita salah orang, tapi bagaimana ini dia sudah melihat kita.” salah satu dari tamu ini berbisik ke pemegang pistol.
“ Salah atau tidak, dia tetap tidak berhak hidup.”
STUPPH! STUPPH! Mereka menembakkan dua peluru dengan pistol khusus yang tidak menimbulkan suara saat ditembakkan. Ayah Reca jatuh terkapar dilantai, dua peluru itu mengenai dadanya. Sepertinya sipenembak tau benar bagian apa yang harus ditembak untuk membuat korbannya ini hanya punya waktu beberapa menit untuk bertahan sebelum mati. Saat mereka pergi ternyata ayah Reca belum meninggal, dengan sisa tenaga yang dia miliki disela napas terakhirnya. Dia meraih handphone miliknya yang sedang dalam mode rekaman suara tadi, lalu mengirimkan rekaman itu. Kemudian dia menghapus semua data dalam handphonenya hingga benar-benar kosong.
“ Re.. huh .. huh...” Beliau mencoba merekam suara terakhirnya.
“ Lindungi mama, dan pergi jauh dari sini. Papa percaya kamu anak yang pintar dan bisa diandalkan. Huuh.. akhgh.. Ree… papa sayang kamu.” Begitu loading sending selesai, ayah Reca menajatuhkan tanganya ke lantai. Matanya kemudian tertutup untuk selamanya.
__ADS_1
*****