
" Dalam enam bulan ini masih tetap sama tuan, dia tidak melakukan apa-apa." Seorang mata-mata Jen Kusniar melaporkan hasil pengamatannya selama membututi Reca.
" Dia hanya melakukan kegiatan keartisannya dan juga tidak berhubungan lagi dengan tuan muda Evan. Karena sepertinya dia menjalin hubungan asmara dengan Mika yang juga aktor ternama, aktor itu sempat berkelahi dengan tuan muda karena tuan muda Evan menggangu pacarnya."
" Anak ituu..... benar-benar memalukan. Huuuhhh.... jadi bahkan dengan Evan pun dia sudah tidak terlibat?"
" Benar tuan... selain itu dengan anak Sentia Mulyadi juga dia tidak lagi melakukan interaksi apapun. Justru anak itu menjalin hubungan dengan putri Jabat Sentosa."
" Pernikahan politik yaa?"
" Sepertinya begitu tuan, Jabat Sentosa berencana memperkuat hirarki dengan Sentia Mulyadi."
" Hmmm... apa yang sebenarnya membuat dia berhenti... apa dia juga (Reca) tidak menemukan petunjuk yang ditinggalkan ayahnya? Apa dia menyerah? Hmmm siaaalll... harus kuapakan Jabat Sentosa itu." Jen mengingat kejadian delapan tahun lalu saat tiba di rumah Branu Sanjaya, saat dia menyelinap ke rumah itu Branu sudah berlumuran darah dan ditangisi oleh istrinya yang panik. Saat itu Jen berpikir seandainya saja dia datang lebih cepat, seandainya dia datang lebih dulu mungkin dia bisa mendapatkan barang yang dia cari itu.
" Umm tuan saya pikir... ah lupakan saja tuan. Sepertinya tidak penting."
" Apa? Cepat katakan."
" Saya masih ragu tapi ini... sulit sekali untuk di abaikan.. Esa itu sangat menggangu pikiran saya tuan."
__ADS_1
" Kenapa? Bukankah dia sudah ikut ayahnya ke luar negeri?"
" Beberapa bulan lalu dia kembali tuan dan mendekati Mika lagi tidak lama setelahnya Reca ditembak oleh orang misterius lalu nyaris dibunuh saat berada di rumah sakit. Saya tidak menemukan bukti dia ada kaitannya dengan insiden itu tapi... kehadirannya saat ini cukup aneh. Anggota saya yang mengawasinya bilang Esa nyaris tidak keluar dari tempat villa yang ditinggalinya saat ini, untuk wanita yang sejak dulu dekat dengan Mika sekaligus mantan manager nya tentu satu-satunya alasannya kembali ke negeri ini hanya Mika kan tuan. Tapi setelah acara fashion week kemaren dia tidak menemui Mika lagi tapi juga tidak kembali ke Amerika padahal dia tidak punya kerabat selain tuan. Dan..."
" Dia juga tidak mengiunjungiku bukan?"
" Iya tuan."
" Hmmmm... tidak begitu aneh klo dia bertemu teman-teman seusianya di tempat nongkrong atau berbelanja. Tapi tidak melakukan apapun padahal jauh-jauh dari luar negeri begitu kan?"
" Iya tuan, benar sekali."
" Biarkan dia dulu untuk saat ini sambil terus mengawasinya. Saat ini prioritasku adalah putri Branu Sanjaya (Reca) jangan sampai lengah. Bisa saja diamnya dia selama ini sedang mempersiapkan sesuatu, tidak mungkin anak secerdas itu tidak menemukan jejak apapun soal ematian ayahnya. Aku yakin dia sudah mengumpulkan informasi hanya saja masih menunggu senjatanya siap, sialnya dia tidak bisa kudekati terlebih Evan sudah tidak lagi berhubungan dengannya..." Jen Kusniar berpikir sangat lama, dahinya sesekali berkerut mungkin sedang berpikir sangat keras.
" Baik tuan."
*****
Sosoknya yang berkharisma disertai senyum yang selalu hangat, meski menjabat sebagai mentri tapi tidak pernah melalaikan perannya sebagai seorang ayah. Bahkan sesibuk apapun beliau selalu menanyakan kabar anaknya setiap hari dan bercengkrama bersama membicarakan pertumbuhan masa remaja bersama anaknya dengan sangat akrab, begitulah sosok Sentia Mulyadi sebagai seorang ayah dimata Kendra. Sesempurna itu, betapa tegasnya beliau dalam mendidik tidak pernah sekalipun dia melakukan kekerasan fisik pada Kendra sehinga pria tampan itupun merasa ayahnya adalah orang yang penuh kasih sayang. Seorang ayah yang sangat lembut dan perhatian, bagaimana bisa kemarin ada seseorang yang mengatakan bahwa ayahnya bukanlah orang yang baik. Bahwa ayah yang Kendra kenal bukanlah kepribadian yang sebenarnya dari Sentia Mulyadi, dan setelah mengumpulkan kembali ingatannya Kendra seolah mendapatkan pembenaran dari teori itu.
__ADS_1
Reca yang sudah menghilang lebih dari delapan tahun lalu kembali dengan kepribadian yang sangat berbeda, dia terlihat dingin tapi cerdas dan cantik secara bersamaan. Seperti yang Sarah bilang, Reca tidak pernah benar-benar menjalin hubungan yang nyata dengan Kendra dan hanya datang secara tiba-tiba dengan alasan yang tidak pernah Kendra tau. Reca kemarin seolah bermain tarik ulur dengan perasaannya tapi tiba-tiba Reca berubah jadi orang yang tidak perduli kehadiran Kendra sama sekali, bahkan dia tanpa segan bersikap tidak pernah mengenal dokter tampan itu. Lalu apa maksud dari ciuman Reca saat mereka pertama kali bertemu di rumah sakit, kenapa gadis cantik itu bisa menciumnya dengan begitu mudah? Apakah dia juga mencium pria lain semudah itu? Lalu kenapa harus Mika yang menjadi pelabuhan terakhirnya? Apakah Mika itu benar lelaki yang dia cintai atau hanya persinggahan buat Reca seperti dirinya dulu? Tapi ini sudah terlalu lama dan mereka bersama, dia dan juga Evan tidak selama itu dekat dengan Reca.
" Huuhhh..." Kendra menghela napas, pikirannya sangat kacau dan penuh serasa akan meledak. Dia begitu penasaran dengan siapa sebenarnya ayahnya, tapi patah hatinya jauh lebih sulit untuk diabaikan. Kendra meraih Handphone disaku celananya dan menatap layar monitornya sesaat karena enggan tapi.... dia seolah begitu putus asa dan tidak punya pilihan.
" Hallo. Ini aku Kendra, aku mau ketemu kamau ada waktu?.... Sekarang (Kendra minta sekarang juga)"
Sejam kemudian...
" Kok murung banget sih?" Sarah tersenyum mendekati Kendra yang sedang duduk di sofa, di apartment pribadi Sarah. Karena rasa penasarannya dengan ucapan sarah kemarin Kendra yang ga tau harus memulai dari mana mencari informasi sola ayahnya, dia berpikir klo Sarah mungkin orang pertama yang harus dia dekati.
Gadis cantik itu tanpa sungkan memeluk Kendra dengan senyum buatannya, karena Sarah tumbuh tanpa simpati jika semua ekspresinya juga dibuat-buat jadi ga tulus. Tapi anehnya Kendra membiarkannya, entah karena dia merindukan Reca dia judtru membalas pelukan itu dengan erat trus anehnya perasaan gelisahnya sedikit berkurang. Mungkin karena yang dibayangkannya adalah Reca kali ya.
" Jadi apa alasan kedatangan yang tiba-tiba ini hmm?" Sarah melonggarkan pelukannya dan menyentuh kedua pipi Kendra seperti kakak yang sedang menenangkan adiknya yang menangis.
" Aku terima tawaran kamu Sar..." Mata Sarah membelalak nayrsi mau teriak tapi ditahannya.
" Aku akan jadi pasangan politik yang baik yang artinya, apakah itu memperlihatkan kemesraan didepan publik ataupun bersikap baik sama kamu Sar."
" Waahhhh..." Sarah tersenyum sinis, dia tau pasti ada sesuatu dibalik niat Kendra ini. Tidak mungkin dokter tampan ini tiba-tiba aja gituh baek banget.
__ADS_1
" Tapi sebagai gantinya, tolong aku Sar. Ceritakan sejujurnya siapa itu Sentia Mulyadi yang kamu kenal."
******