
Malam sedikit dingin dan berkabut, dua orang pria
paruh baya tambah bertemu secara rahasia di ruang kerja salah satu dari dua
pria itu. Mereka adalah Ghani Wijaya dan Daruma Tanjung.
“ Kau pasti tau sesuatukan, aku melihatmu menemui
mereka (Sentia Mulyadi, Jabat Sentosa, Jen Kusniar dan Toni Raen) kemarin sore. Ada apa sebenarnya,
kenapa Jen Kusniar bisa berada dalam pertemuan itu padahal dia tidak pernah
bergabung dengan kita sebelumnya.?”
“ Aku juga tidak mengerti, belakangan ini keadaan
sedikit rumit, karena sepertinya orang yang memegang bukti itu mulai
menampakkan taringnya. Dia mulai mengancam semua anggota kita satu-persatu.”
“ Termasuk Sentia Mulyadi (papanya Kendra)?”
“ Entahlah, tapi beberapa waktu lalu dia menerima
sebuah dokumen yang dibungkus map berwarna coklat di kantornya, tidak lama
berselang dari itu Jabat Sentosa memintanya bertemu secara pribadi tanpa
memanggil anggota yang lain. Semua anggota Singa merah menduga dia mendapatkan
ancaman dari sipemegang bukti.”
“ Lalu apa hubungannya dengan Jen Kusniar? Dia bukan
anggota Singa merah sebelumnya.”
“ Aku dengar Jabat Sentosa akan merekrutnya sebagai
anggota yang baru atas perintah Pimpinan. Jen Kusniar sekarang adalah kandidat
calon Presiden terkuat setelah dirimu, aku menduga dia kandidat cadangan untuk
memperkuat Singa merah.”
“ Tidak Daruma, Jen Kusniar bukanlah orang yang bisa
didekati dengan mudah. Dia punya power sendiri dibidang ini bahkan dunia
tergelap sekalipun, banyak para Mafia besar tunduk dibawah kakinya dan dia
salah satu orang yang paling ditakuti hingga Negri China. Tidak mungkin dia
takut dengan Singa Merah, pasti ada sesuatu yang membuat dia datang memenuhi
panggilan Jabat Sentosa.”
“ Dia bergabung tapi belum sepenuhnya.” Toni Raen
tiba-tiba muncul memecah kesunyian dan membuat suasana seketika canggung.
“ Kau menguping?” Daruma Tanjung
“ Tidak aku hanya mendengar sedikit ketika masuk. Tapi
kenapa kalian begitu tegang?” Ghani Wijaya dan Daruma Tanjung terbatuk kecil
untuk menghindari rasa gugup mereka.
“ Karena kalian sepertinya sangat penasaran makanya
aku bantu menjawabnya.”
“ Jadi kau tau sesuatu tentang alasan dan tujuan Jen
Kusniar bergabung dengan Singa Merah?” Ghani Wijaya
“ Alasan dan tujuan siapa yang ingin kalian ketahui,
Jen Kusniar atau Pimpinan (Singa merah)?” Toni Raen.
“ Jelaslah Jen Kusniar, memangnya siapa yang tau
__ADS_1
tentang pimpinan. Kita bahkan tidak pernah melihat seperti apa wajahnya, heh
jika dipikir-pikir kadangaku merasa sangat bodoh melakukan segala perintah atas
nama pimpinan yang tidak diketahui siapa orangnya bahkan namanya sekalipun.”
“ Jaga bicaramu Ghani, kau tidak tau siapa yang
mendengar perkataanmu atau yang akan tersinggung dengan itu. Kau tau
sendirikan, pimpinan sangat benci jika kita mempertanyakan identitasnya?” Daruma
Tanjung
“ Sudahlah jangan melakukan hal bodoh atau
memikirkannya sekalipun. Ingat, tidak satupun dari kita yang tau siapa anggota
Singa Merah yang sebenarnya. Seperti yang semuanya kita tau bahwa anggota Singa
Merah hanya lima orang. Sementara selebihnya hanya kedok belaka, jadi bisa saja
salah satu dari kita hanya pion yang akan dikorbankan sewaktu-waktu jika
pimpinan ingin mencari kambing hitam.” Toni Raen.
“ Toni benar, jadi sebaiknya kita tenang sambil
mempersiapkan senjata masing-masing. Karena jika pimpinan mengorbankan salah
satu dari kita maka tidak aka nada yang datang menyelamatkan.” Ghani Wijaya
“ Jadi itu alasannya kau mempersiapkan senjatamu (sesuatu
yang dapat mengamankan keselamatan) Ghani?” Daruma Tanjung.
“ Apa maksudmu?”
“ Jujur saja. Aku dengar kau sudah punya senjatanya
Ghani, jika kau ingin kita bisa saling burter atau tepatnya menggabungkan
senjata.” Daruma tanjung
Ghani Wijaya
“ Ayolah, aku bukan ingin berkhianat tapi memastikan
keamananku secara pribadi.”
“ Kau lupa yang kau katakana sendiri Daruma, kau
tidak tau siapa yang mendengar perkataanmu atau yang akan tersinggung dengan
itu. Lalu kenapa sekarang kau berkata begitu berani?” Daruma Tanjung
kikuk menyadari kecerobohannya.
“ Sudahlah, ayo keluar dari ruangan ini. Kita sudah
terlalu lama bicara.” Toni Raen berusaha mengingatkan.
Singa Merah hanya memiliki lima orang anggota sebagai
member dan sudah termasuk sang Pimpinan misterius didalamnya. Sementara saat
ini ada tujung anggota yang anehnya berperan sangat aktif dalam sepak terjang
organisasi ini yaitu Sentia Mulyadi, Jabat Sentosa, Ghani wijaya, Toni Raen,
Daruma Tanjung, Jen Kuniar dan Sang Pimpinan. Yang uniknya semua member tidak
mendapat informasi yang sama soal kerahasiaan Singa Merah, masing-masing dari
mereka menyimpan rahasia hitam yang berbeda. Tapi hanya satu hal yang mereka
yakini, si penyampai pesan dari sang pimpinan adalah Jabat Sentosa. Itu memastikan
bahwa Jabat Sentosa satu-satunya orang yang tau siapa sosok yang meminpin Singa
Merah sekaligus menjawab kepastian Jabat Sentosa sebagai anggota Singa Merah
__ADS_1
yang asli.
Saat Ghani Wijaya dan temannya meninggalkan ruangan
kerja itu, ada sesuatu yang bergerak dari dalam tong sampah kecil dibawah meja
lalu keluar sebuah benda lentur berwarna hitam menyerupai kabel sepanjang
sepuluh sentimeter dan ketebalannya setara dengan kabel charger. Benda itu
bergerak secara merayap mengikuti garis tepian setiap benda yang dilaluinya,
mirip seperti kaki seribu yang berjalan tepat disebelah kabel hingga badannya
menempel dengan kabel itu.
Gerakan benda itu sedikit cepat tapi sangat mulus,
sulit untuk melihatnya jika tidak benar-benar melihatnya dari dekat. Di CCTV
pun benda itu tidak tertangkap kamera, gerakannya yang halus membuat apa saja
yang dilalui tetap pada posisinya tanpa ada getaran sedikit pun. Bukan hanya
itu, benda kecil itu mampu melobangi kaca menggunakan laser untuk membuat jalan
masuk dan keluar diruangan yang dia inginkan. Setelah itu sebuah drone
menghampirinya, benda itupun masuk dalam drone lalu terbang ke gedung
diseberangnya tempat dimana sipengendali alat itu berada. Iya tepat sekali, alat
kecil menyerupai ular itu adalah penyadap yang dapat merekam gambar dan suara
dengan kendali jarak jauh. Kalian tau? Pengendali itu adalah Reca.
Ini kenapa Reca mengurung diri di kamar lalu belajar
mati-matian dibidang IT, alasan dirinya berteman dengan para hacker hingga ahli
robotic. Semua itu untuk menciptakan alat yang dia butuhkan selama mencari
fakta dibalik kematian ayahnya. Entah karena dorongan tekad kuat yang didasari
dendam, Reca begitu mahir dalam merakit alat-alat keren itu baik dsign maupun
keakuratan kinerjanya. Contohnya alat sadap ini bentuknya yang mirip kabel akan
melindungi identitas alat penyadap itu jika diambil oleh pihak yang tidak diinginkan,
orang yang melihatnya akan mengira itu hanya sebuah kabel biasa pada sebuah
drone.
Begitu drone mendarat, Reca segera merapikan barang-barang
lalu bergegas untuk turun. Sebelumnya Reca akan memastikan bahwa tidak ada
jejak apapun yang dia tinggalkan, tanganya saja menggunakan sarung tangan agar
tidak meninggalkan sidik jari. Wajah ditutup masker dan topi hitam, rambutnya
dibalut wig pendek lengkap memakai baju yang serba hitam juga. Bagi yang belum
tau, warna hitam dapat menyamarkan postur tubuh seseorang salah satunya akan
terlihat lebih kurus dari postur tubuh aslinya juga akan sulit dibedakan apakah
perempuan atau laki-laki jika dilihat dari jarak pandang tertentu. Untuk
menyempurnakan itu Reca bahkan rela melilit bagian dadanya dengan ketat
menggunakan kain yang cukup panjang agar terlihat seperti laki-laki.
Menggunakan sepatu jenis Sneakers Wedges yang size nya lebih besar dari ukuran
seharusnya, ini berguna untuk memanipulasi tinggi badan dan besarnya ukuran
kaki. So jika ada yang melihatnya tanpa Reca sadari, orang itu akan melihat
ciri-ciri orang yang salah.
__ADS_1
*****