
“ Re apa yang udah lo lakuin ke gue? Ciuman ini...” Batin Mika menjerit, tangannya mulai memeluk Reca untuk lebih dekat bahkan terlihat mencengkram pinggang dan punggung Reca. Udah lama banget dia sangat rindu, dan perasaannya yang ga pernah dia ngerti buat Reca seolah hari ini terjawab. Dia bukan hanya berdebar, tapi sangat menginginkan makhluk cantik ini dan bakalan ga rela klo dia diambil orang lain. Apa ini Tuhan? Lo jatuh cinta Bro.
Eh kok tiba-tiba udahan, Mika yang tadinya udah terhanyut dengan ciuman itu sampe matanya terpejam langsung buka mata sambil lempar pandangan sejuta tanya. Ada apa Re?
“ Ciuman ini ga sama dengan delapan tahun lalu, ga lo bukan Mika orangnya. Pasti bukan.” Ucap Reca dalam pikirannya.
“ Sory Mik gue salah orang. Yuk pulang?”
“ What?” Mika syok, terbego parah pake banget. Mukanya langsung nelangsa, bingung karena ini ga adil mau dipikir bagaimanapun juga. Ya Tuhan, suka-suka dia aja. Ga ada otak kali kan.
“ Tu, tunggu Re. Apa?”
“ Apa?”
“ Tadi lo... barusan…” Lo barusan nyium gue njirrr, terus sekarang nyuruh pulang? Sumpah ne makhluk ngeselin banget, umat mana sih lo Re?
“ Barusan yang lo bilang tadi...”
“ Pulang. Gue bilang ayok pulang.”
Sekali lagi neh Mika kaya diskakmat, rasanya mau gilak tapi ga berdaya. Kaya ga ada kata apapun yang bisa mewakili perasaannya sekarang. Mau ngomong tapi ya udahlah, Mika tau Reca akan sangat tidak perduli. Seperti biasanya.
Begitu nyampe rumah Reca langsung naik ke atas, ke kamar Mika. Begitu buru-burunya sampe sepatunya dilepas trus dibiarin tergelak sembarangan. Mika dengan sabar merapikan itu, trus ga bereaksi apa-apa karena doi mikirnya mungkin capek banget jadi mau cepat-cepat istrahat. Lagian ga bakalan jugakan Reca mau jawab klo ditanya.
__ADS_1
Sampe di kamar Mika Reca memeriksa meja riasnya, mencari-cari parfum lalu mencium aromanya. Gilak ternyata ga cuma satu parfum tuh aktor. Kesel Reca ngeliatnya, heh harus kebawah ne ngambil kopi. Dan iya aja, Reca ke bawah ambil kopi trus cepet-cepet balik ke kamar. Sekali lagi Mika cuma ngeliatin aja. Balik ke kamar Mika, Reca kembali mencium aro parfume diselingi aroma kopi 1:1.
DEG! Aromanya ketemu, eh beneran si Mika punya parfume ini. Jantung Reca berdebar kencang, sambil gemetar Reca mengambil gambar botol parfumnya pake HP miliknya. Melihat ejaan merk dengan teliti dan mencarinya di mesin pencarian untuk lebih jelas soal parfum ini.
Myxion
Parfum langka yang hanya ada 10 di dunia, dibuat oleh pembuat parfum terkenal dunia Dioney Myxion. Parfume itu adalah karya terakhir Dioney sebelum meninggal dunia. Parfum seharga mobil mewah itu bergaransi tahan hingga 7 hari meski bajunya telah dicuci berulang kali, dengan kuantitas yang dijamin tidak akan habis selama 3 tahun dengan pemakaian rutin. Satu lagi, hanya bisa dibeli dengan kartu member khusus. Namun daftar pembeli dirahasian oleh Brand tersebut demi terjaganya informasi pelanggan VIP mereka.
Reca mendesah. Dirinya memejamkan mata sebentar, memulihkan hatinya yang nyaris goyah. Tidak, dia ga boleh kaya gini. Ini bukanlah hal sebanding dengan kematian ayahnya, dia harus mengabaikannya. Baik itu siapa identitas pria misterius itu, atau jika benar sekalipun bahwa Mika adalah orangnya. Itu tidak merubah apapun.
Reca langsung pergi mandi, seperti biasa dia mengambil kemeja milik Mika dan memakainya. Pakaian yang Mika siapkan belum disentuh sama sekali bahkan kamarnya juga, karena Reca selalu berakhir terlelap setiap kali berada di kamar ini. Sekarang juga begitu, gadis tomboi itu mulai menarik selimut untuk terlelap. Tapi Mika tiba-tiba datang menarik selimut itu, dia ga bisa diam lebih lama lagi. Mika harus bertindak sekarang atau itu ga akan pernah.
“ Apa?”
Reca masang muka kesel. Si Mika ga ngejawab tapi langsung menggendong Reca buat dibawa ke kamar yang udah Mika siapin, yang bakal beneran jadi kamar Reca. Ngeliat Mika yang diem aja, Reca ga berkomentar apapun juga. Dia ikut diem aja dan ngebiarin Mika ngegendong dirinya nyampe kamar.
“ Gue lebih suka pakek ini.”
“ Isshh” Mika menarik tangan Reca dengan mata yang nyaris melotot. Bandel banget sih.
“ Klo ga mau ganti...” Tek! Tangan Mika mengunci pintu, lalu berjalan mendekati Reca hingga gadis itu ikut berjalan mundur buat ngimbanginya.
“ Gue yang gantiin neh?” Reca melotot, parah Mik.
__ADS_1
“ Tinggal pilih aja, mau ganti sendiri ato gue yang gantiin.” Mika menaruh baju yang udah dia pilihkan, di atas tempat tidur. Piama biasa sih, tapi warnanya pink trus motifnya girly banget dan Reca benci gitu. Dengan kasar Reca merampas dan menghentak-hentakan kakinya hingga ke kamar mandi. Kepaksa.
Seriusan loh, Mika nungguin di luar kamar mandi. Memastikan tuh cewe melaksanakan perintah yang dia suruh, ternyata dikerjakan juga klo udah dipaksa kaya gini. Begitu keluar Mika ngeliatin Reca sambil tersenyum, ngeliat rambut yang setengah basah dibiarin berantakkan. Sekali lagi Mika ngebantuin Reca ngeringin rambut hingga menyisirnya. Sementara Reca menyalakan televisi mencari siaran berita politik. Berulang kali Reca mengganti chanel begitu jeda komersial atau berita berakhir. Mika teringat dengan yang di ceritakan tante Frianka.
“ Lo mau nonton apa sih Re?” Ya Tuhan sabar banget Mika ngeladenin, ngomongnya juga pake suara terlembut yang Mika punya. Diaman akal lo sih Re bisa nyuekin cowo seganteng dan sebaek ini.
“ Siaran berita. Lo ga liat?”
“ Harus yang politik? Kenapa, hmmm..?” Masih dengan suara terlembutnya Mika.
“ Gue ngantuk, gue tidur dulu ya.” Langsung pergi, rebahan trus meluk guling.
“ Oke, aku akan disini sampe kamu tidur.” Reca ga perduli, bodo amat.
Ngeliat Reca yang kayanya beneran udah tidur Mika berdiri, niatnya mau makein Reca selimut sebelum dia tinggal keluar. Ga sengaja mata Mika ngeliat pinggang kiri Reca yang keliatan lantaran atasan piamanya tersingkap gituh, trus refleks dong mau benerin biar ga keliatan. Tapi mata doi malah ngeliat ada tato tulisan di pinggang Reca. Ukurannya ga terlalu besar, dijarak sedekat ini juga baru bisa keliatan. Tulisannya, Winter Glow.
Mika langsung melihat ke wajah Reca yang terlelap, hatinya lagi-lagi ngilu dibuat sahabatnya ini. Tubuhnya yang semakin kurus, penampilan urakan ga kaya cewe sama sekali. Rasanya ga percaya mengingat Reca yang dulu begitu manis, periang, ketawa dimana aja dia berada dan sangat penurut. Dan apa ini, tatoo? Ternyata masih banyak perubahan Reca yang Mika ga tau, bisa aja ini belum semuanya. Ada badai hebat yang telah menghantam hidup Reca, gadis itu bukan hanya sekedar kehilangan ayahnya. Mika menyeka airmatanya yang mengalir senyap kemudian meninggalkan kamar itu pelan-pelan.
Saat tiba di kamar, Mika memungut handphone milik Reca yang masih tergeletak di meja rias miliknya. Mika memiringkan Hp itu hingga melihat jejak pola yang Reca tinggalkan, dan ternyata Mika berhasil membukanya. Cowo ganteng itu segera berubah serius, dia pergi ke ruang kerja lalu memeriksa isi gawai itu satu persatu. Mata Mika membelalak, melihat isi gawai itu penuh dengan foto tokoh-tokoh politik yang sangat terkenal. Mika juga menemukan beberapa file berbentuk pdf yang begitu dibuka juga cukup mencengangkan isinya. Sampai akhirnya Mika melihat satu folder yang berisi rekaman suara, tangan Mika langsung gemetar dan ragu membuka file itu. Dia kembali teringat cerita tante Frianka bahwa setelah kematian ayahnya Reca sering mendengarkan sesuatu dengan
handset, hingga suatu ketika Reca mulai bersikap aneh setelah mendengar sesuatu yang entah apa. Mika memutuskan menarik nafas dalam, mengusap wajahnya untuk menengakan diri. Tidak mudah buat Mika mengumpulkan keberanian untuk membuka rekaman suara ini, dia sangat takut mendengar hal yang menyakiti Reca.
“ Ja, jangan. Jangan sakiti keluargaku, mereka...”
__ADS_1
TUPS! TUPS! Terdengar suara tembakan dua kali dengan pistol peredam suara. Mika langsung mem-pause rekamannya, dia ga sanggup untuk mendengar lebih dari ini. Lalu menangis sejadi-jadinya di ruang kerjanya.
*****