
Rumah sederhana tapi tidak menghilangkan nuansa elegannya yang modern, dikelilingi halaman luas. Beberapa spot tampak sangat asri dengan kebun bunga yang terawat baik. Ini sangat menjelaskan bahwa penghuninya adalah wanita paru baya yang sangat kesepian hingga sebagian besar kegiatannya mungkin dihabiskan untuk menanam bunga.
" Ayo masuk Ka. Kok bengong?"
" Eh i, iya tante."
Begitu masuk Mika langsung terhanyut oleh kenangan. Dia ngeliat deretan bingkai foto yang menyimpan ceritanya masing-masing. Tidak ada yang baru dari foto-foto ini, yah Mika sangat mengenal semua foto ini sebelumnya. Terkejut sih, kenapa bisa masih tetap sama yang dilihatnya delapan tahun lalu.
" Kamu segitu rindunya ya?" Mika terhenyak dari lamunannya dan segera menggeser tangannya. Matanya masih ingin melihat wajah itu tapi hatinya bilang untuk berhenti.
" Tante sebisa mungkin untuk menjaga semua kenangan ini meski tempatnya sudah berbeda." Wanita itu mengelah nafas berat. Tampak segurat kesedihan yang sudah mama mematri wajahnya. Bahkan senyum itu sangat lemah.
" Untuk Reca ya tante?" Frianka, mama nya Reca menggeleng. Mendadak wajahnya berubah haru. Hampir mewek.
" Tante kenapa..." Mika bingung
" Ah maaf Mika. Tante jadi kebawa perasaan gini. Maaf ya."
" Ga apa kok tante. Wajar kok kalo semua ini berat buat tante, meski... sudah delapan tahun berlalu."
" Mungkin buat orang lain itu sudah delapan tahun berlalu Mika. Tapi buat tante ini masih berlangsung hingga sekarang."
" Tante masih sangat kehilangan om?"
" Bukan Mika, Tante bukan hanya kehilangan Om tapi juga Reca." Mika terperanjat, terasa ada cekikan dilehernya yang hampir ngebuat dadanya meledak. Pikirannya mulai berkelana dengan berbagai asumsi tak jelas. Inikah alasan dia tidak bisa menghubungi sahabatnya, alasan tidak ada nyang baru dari semua foto itu? Apakah Reca juga...meninggal.
" Maksud tanteee..."
" Kejadian delapan tahun lalu, membuat kehidupan tante seperti film horor yang ga berujung. Tante dan Reca harus menerima peran yang sangat mengerikan, bahkan untuk seorang yang kuat sekalipun itu akan sulit. Apalagi buat Reca yang masih begitu belia."
DELAPAN TAHUN YANG LALU.
__ADS_1
Hari itu Frianka baru saja menyiapkan sarapan, tepat lima hari setelah pemakaman suaminya. Suasana rumah masih sangat suram, terasa gelap dan dingin hingga ngebuat makanan hangat yang disuapkan ke mulut terasa
beku.
PRAANNNKKK
Frianka segera berlari nenghampiri asal suara. Dia mendapati Reca yang mematung karena barusan menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya. Bukan, bukan itu. Entah apa yang membuat Reca terkejut sampe gelasnya
terjatuh. Tapi dia terlihat syok hebat.
" Re kamu kenapa sayang." Reca ga ngejawab apapun. Dia buru-buru melepas handset nya dengan gemetar lalu memasukannya ke saku hoodie yang sedang dikenakannya. Entah apa yang sedang Reca dengarkan, yang pasti dia keliatan terkejut dan takut.
" Mama kita harus pergi sekarang." Reca mendorong ibunya ke arah kamar dan segera mengambil koper dan memasukkan semua baju mereka.
" Kamu mau kemana Re, kenapa semua baju kamu masukin gituh?"
" Kita harus pergi dari sini ma. Kita harus cepat sebelum terlambat."
" Kemana aja ma. Jauh dari sini dan siapapun ga bisa nemuin kita." Reca tanpa henti mengemasi bajunya.
" Iya tapi kenapa?" Reca ga ngejawab
" Jawab mama Re...kamu sebenarnya kenapa?" Masih ga jawab
" RE." Mama ngebentak dan mencengkram kedua bahu Reca. Frianka mendapati wajah putrinya berurai air mata. Dengan muka yang diusahakan tegar, Reca mengusap air matanya.
" Re ga mau tinggal disini ma. Re ma pergi dari sini, Re takut ma. Papa di bunuh... kita ga tau sama siapa dan kenapa. Bisa jadikan mereka balik dan ngebunuh kita kan ma." Frinka langsung memeluk putri dengan erat. Ucapan Reca ngebuat dia gemetar.
" Jangan bilang gitu sayang. Kita akan baik-baik aja hhmmm....kamu tenang ya."
" Ayo kita pergi ma... kemana aja. Please." Reca memohon dengan segenap emosinya. Pertahanan Frianka hancur. Dia ngeliat dengan jelas Reca terguncang sangat hebat. Entah separah apa putrinya sedang terluka sekarang.
__ADS_1
Hari itu juga Frinka menuruti keinginan Reca untuk meninggalkan rumah. Dia berpikir itu hanya sementara, setidaknya sampe Reca tenang dulu. Setelah itu dia bisa menata kembali kehidupannya. Pikirnya saat itu tanpa prasangka apapun.
*****
DUA MINGGU KEMUDIAN
Hari itu juga hujan deras, Reca masuk rumah tanpa ngucapin salam dengan seluruh badan kuyup terkena hujan. Sepatu dan hoodie yang dipakainya tampak lusuh dan kotor. Bahkan rambutnya juga terlihat sangat berantakan.
" Re? Kamu dari mana? Kata eyang kamu ga pernah nyampe sana, mama sampe hawatir." Mama yang tau Re dateng langsung bergegas mengahmpiri. Padahal sejak tadi entah sudah berapa kali beliau terus menggigit kukunya sambil mondar mandir lantaran cemas.
" Re? Kok kamu kotor banget kaya gini sayang?" Frianka terkejut ngeliat kondisi Reca yang udah mirip gelandangan ga terurus, yang ditanya diem aja matung.
" Re.."
" Ceritanya besok aja ya ma, Re capek. Mama makan duluan aja, Re udah makan tadi." Dusta. Reca lansung masuk kamar dan langsung mengunci pintu.
" Kamu baik-baik aja kan Re? Kapan aja klo kamu mau cerita mama ada diluar ya sayang." Reca masih diam, tapi di dalam kamar menangis senyap sambil memeluk lututnya. Dia merasa sangat hancur, terlalu hancur untuk membaginya dengan mama.
Sejak saat itu semua berubah total, Re tidak mau sekolah lagi meski mama sudah mengurus untuk pindah ke sekolah yang baru. Reca terus saja mengurung dirinya dengan diam. Yang bikin mama cukup syok adalah sikap
Reca yang semakin aneh tiap harinya. Reca ngedadak jadi sangat rajin ngerjain semua kerjaan mama tanpa dibantu bibik ato mama sekalipun. Mulai dari bersih-bersih, masak, cuci piring dan bahkan pakaian pun Reca mencuci secara manual alias pake tangan. Selesai semua itu Reca akan makan sangat banyak, ngebuat mama semakin takut. Re hanya akan diam tanpa satu kata pun setiap kali ditanya.
Yang lebih anehnya lagi, setiap kali diminta untuk mengikhlaskan kepergian papanya, maka Re akan ngejawab.
" Udah baik-baik aja kok ma. Re juga udah ikhlas papa pergi, Re hanya ga pengen sekolah itu aja." Lalu Re pergi ga tau kemana dan baru kembali saat hari udah sangat larut.
Frianka sempat berpikir apakah Re berperilaku menyimpang dengan beralih ke obat-obatan terlarang atau pergaulan bebas. Tapi ternyata tidak, karena hasil laboratorium menyatakan dia bersih dari semua itu. Herannya meski Reca tidak menjelaskan apapun, dia nurut aja klo di bawa mama ke rumah sakit sakit untuk pemeriksaan. Malahan sempet konsul ke psikolog juga, tapi hasil konseling tidak menunjukkan penyimpangan apapun. Reca kooperatif dan dapat menjawab semua pertanyaan dengan baik. Hanya saja dikehariannya dia jadi pendiam itu aja.
Setelah semua usaha pendekatan itu Frianka menyerah. Dia hanya bisa menghela napas panjang dan menguatkan diri sendiri. Agar dia juga tidak terpuruk.
*****
__ADS_1