WINTER GLOW

WINTER GLOW
Muliapati


__ADS_3

Darmawangsa baru saja menyeka tangannya dengan tissue lalu membuangnya ke tong sampah, dia berniat untuk kembali selepas buang air ke Restoran dimana Mika dan Melan sedang makan saat itu.


" Kamu bawa barangnya?" Darmawangsa yang terkejut karena tiba-tiba mendengar suara lelaki yang setengah berbisik, pria berusia 30 tahun itu menghentikan langkahnya dan bersembunyi dibalik tanaman hias yang tidak jauh dari sana.


Untungnya tanaman hias yang cukup tinggi itu dapat menutupi tubuh berisinya dengan baik. Dia merasa di tempat yang tidka tepat hingga membuatnya bersembunyi, karena takut kehadirannya mengganggu kedua pria yang berbisik tadi.


" Ini uangnya... cepat berikan barangnya."


" Kau yakin akan transaksi disini? Bukankah ini berbahaya? Apa kau sudah gila? Ini tempat umum, siapa saja bisa melihat kita." Sepertinya sebuah transaksi narkoba sedang berlangsung. Darmawangsa pun berusaha melihat wajah kedua orang itu.


" Sudah cepat saja berikan barangnya, aku sudah tidak punya waktu. Para polisi sudah mengawasi rumahku, aku akan segera pergi ke luar negeri begitu barangnya sudah kuterima?"


" Lalu bagaimana nanti di bandara?"


" Aku sudah mengaturnya, beberapa anak buahku akan membantu agar lolos dari pemeriksaan."


Kasus pria itu pun bertukar antara uang dan barang haram lalu pergi berlawanan arah. Sesampai dirumah peristiwa itu terus menghantui Darmawangsa, membuatnya terus memikirkan peristiwa itu dan tanpa sengaja melukis kedua wajah pengedar itu sembari dia merenung.


Hingga suatu ketika ketidaksengajaan ini berubah menjadi sebuah awal dari takdir yang mengerikan.


" Ma bisa anterin bahan papa di meja kerja? Ketinggalan tadi lantaran buru-buru mau ketemu editor, udah sampe percetakan malah bahannya tinggal." Darmawangsa menghubungi istrinya via telpon, pada masa itu teknologi belum secangggih sekarang untuk membuat ilustrasi buku masih digambar secara manual dikertas terlebih dahulu.


"Oh Ok deh bentar ya pah mama ambil dulu trus anterin deh di percetakan."

__ADS_1


Begitu selesai meletakkan gagang telpon, Melan bergegas ke ruang kerja suaminya dan mendapati beberapa tumpuk gambar diatas meja yang tidak termasuk kedalam map. Buru-buru Melan memasukkan kertas-kertas itu yang sebenarnya adalah gambar wajah dua orang yang bertransaksi narkoba tempo hari.


" Papa gimana sih sketsa dongeng terbaru nya kok berantakan kaya gini."


Melan melirik jam tangannya, seingat dirinya sebentar lagi jam Mika pulang sekolah maka dirinya harus bergegas.


Percetakkannya tidak terlalu besar, berada di satu unit ruko tiga lantai karena pada saat itu Darmawangsa hanya sekedar menyalurkan hobinya menulis dongeng anak-anak. Karena tergesa-gesa Melan menjatuhkan beberapa lembar sketsa tersangka tadi saat turun dari mobil, kebetulan saat itu tidak jauh dari sana ada seorang pria yang kebetulan melintas dan memungut kertas-kertas yang jatuh itu.


“ Permisi bu...” Darmawangsa dan Melan yang saat itu baru saja bertemu spontan menoleh ke arah pria yang memanggil Melan.


“ Anda menjatuhkan...” Mata lelaki itu membelalak, ketika melihat dengan teliti ganbar yang dipegangnnya.


“ Oh itu iya punya saya, terimakasih pak.” Melan segera menghampiri dan seeskali menunduk hormat mewakili rasa terimakasihnya.


“ Si, siapa yang melukis gambar ini?” Melan menoleh lagi ke suaminya, meminta persetujuan untuk mengatakan sesuatu. Atau ini sifatnya tidak boleh kah?


“ Maaf anda siapa ya?” Tanya Darmawangsa akhirnya.


“ Ah iya...” Pria itu mengeluarkan tanda pengenalnya untuk diperlihatkan sebagai indentitas dirinya, disana terlihat jelas bahwa pria itu adalah seorang detektif.


“ Saya seorang Polisi di unit khusus, dan kebetulan saya sedang mencari orang ini.”


Darmawangsa pun menceritakan pengalamannya saat secara tidak sengaja melihat kedua penjahat itu. Dia juga menceritakan profesi sampingannya sebagai seorang penulis dongeng anak-anak, sehingga nalurinya tumbuh begitu saja menggambar sketsa itu karena terus kepikiran.

__ADS_1


Seketika timbul ide dikepala si detektif untuk menyebarkan wajah si pengedar narkotika itu tanpa disadari oleh sipelaku. Darmawangsa diminta bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk membuat cerita berdasarkan tokoh nyata tetapi tetap dikemas dalam dongeng yang ringan dan pantas untuk anak-anak. Yang harus sama hanyalah wajah sipelaku, sehingga memudahkan penyebaran gambar dengan cepat dan membantu penyamaran kepolisian saat mereka bertugas.


“ Ini pasti akan sangat membantu, tidak akan ada yang mengira bukan bahwa wajah buronan terpajang dari buku dongeng? Saat teman-teman saya bertugas dilapangan pun dapat melihat gambar sipelaku dengan leluasa tanpa ada yang sadar bahwa mereka sedang mencari target operasi.”


“ Apakah sebesar itu pengaruhnya pak?”


“ Iya saya akan memberitahu setiap kantor daerah terkait ini, tapi untuk keselamatan anda sebaiknya anda menggunakan nama samaran dalam karya anda.”


“ Nama samaran?”


“ Hmmm... ha.. bagaimana dengan Muliapati? Diambil dari tugas mulia anda membantu kepolisian dalam memburu tersangka.”


Sejak saat itu sang detektif pun secara rutin memberikan wajah-wajah burunon, dan Darmawangsa pun memulai karirnya sebagai Muliapati. Siapa sangka dari seringnya petugas polisi yang membeli buku-buku karyanya memicu rasa ingin tau penjaga toko buku. Meningingat buku itu keluaran baru begitu juga nama penulisnya tapi kenapa beberapa orang tau dan mencari buku itu secara khusus. Dan ketika dibaca ternyata Darmawangsa memiliki imajinasi luar biasa dan cerita yang dibuatnya tidak pasaran tapi tetap mengandung nilai edukasi yang baik untuk anak-anak. Hingga meledaklah pesanan karya Muliapati dipasaran, membuat orang-orang mulai penasaran dengan sosoknya.


Tapi ketenaran itu tidak sepenuhnya berakhir bahagia, karena bagaimanapun lama-kelamaan pembaca akan menyadari bahwa beberapa wajah dalam karya-karya terlihat sama dengan wajah yang disiarkan ditelevisi saat satu-persatu buronan itu tertangkap. Hal itu pun menambah rasa penasaran terhada sosok Muliapati, para wartawan mulia mendatangi kantor percetakan untuk mengkonfirmasi sosok sang penulis. Namun demi keselamatan dirinya dan keluarganya. Darmawangsa tetap tidak berkenan membongkar idemtitas dirinya. Tapi wartawan bukanlah satu-satunya ancaman.


" Aku sudah memanipulasi semua kertas suara, beberapa pemilih yang sudah renta juga sudah dibimbing untuk memilih kandidat kita."


Darmawangsa kembali mendapati transaksi kejahatan tanpa disengaja ketika hendak bertemu dengan petugas percetakan untuk menyerahkan beberapa bahan di sebuah restoran. Ayah Mika itu barus saja turun dari mobil yang diparkirkannya di basement, sekitar jarak sepuluh meter dari tempatnya ada sekelompok pria menggunakan setelan jas hitam dan suara mereka dapat didengar jelas oleh telinganya. Penulis itu pun sebisa mungkin melihat wajah mereka tanpa disadari oleh para pria yang terlihat penting itu.


“ Bagus.Tinggal jalankan rencana selanjutnya. Ini Lokasi berikutnya.” Seseorang yang terlihat seperti pemimpin disitu menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan lokasi pertemuan rahasia selanjutnya.


Darmawangsa langsung menyadari bahwa orang-orang itu dari dunia politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan.

__ADS_1


*****


__ADS_2