
Delapan tahun kemudian. Waktu terus berjalan memaksa matahari datang dan pergi. Seiring itu luka mulai terkikis, memudar kemudian berangsur-angsur sembuh.
" Ok last shoot....and...nice. Break!"
" Ini baju kamu...dan makan siang nya...aku belum pesen sih. Kamu mau apa?" Esa memberi tatapan manja membuat Mika tersenyum dan mengacak lembut rambutnya cewe' cantik itu. Manis banget sih.
" Hmmm...makan diluar gimana?" Balas Mika dengan tatapan manja juga.
" Boleeeeeh. Dimana?"
" Dimana aja yang keliatan enak."
" Ok, aku ambil tas dulu ya." Mika Mengangguk, tapi ketika Esa akan beranjak Mika meraih tangannya.
" Sa!"
" Hmm..?"
" Makasih ya."
" Untuk?"
" Kamu selalu ada buat aku." Esa tersenyum kemudian mengangguk senang.
Meskipun sampai saat ini Mika belum juga membuka hatinya, belum juga menyatakan cinta padanya tapi Esa senang karena menjadi satu-satunya wanita di samping Mika. Untuk seorang temanpun jika itu wanita Mika sangat acuh. Esa tidak tau apa alasanya, tapi biarlah. Biarkan hanya dia yang ada sisi Mika, hati ini masih sama dengan delapan tahun yang lalu. Masih sama menggebunya untuk memiliki Pangeran salju itu. Malah cinta itu makin besar setiap harinya.
Sementara bagi Mika, Esa adalah peri penyembuh yang sangat sabar. Tidak sekalipun mengeluh menghadapi sikap cuek dan jutek yang kadang sangat keterlaluan. Sekarangpun masih sangat dingin, padahal sudah menjadi seorang model sekaligus aktor. Tetap saja Mika tidak memiliki simpati, yang herannya masih banyak aja orang yang ngefans sama tuh cowo'.
Sekarang Esa menjadi managernya hingga harus ikut kemanapun Mika pergi. Bersama wanita cantik itu Mika merasa nyaman, dan bahkan tertawa. Hal yang paling sulit dilakukan Mika jika bersama orang lain. Herannya untuk menjadikan Esa seorang kekasih Mika masih enggan.
Kadang dia berpikir sendiri kenapa tidak bisa mencintai cewe' cantik yang baik hati itu. Hampir tidak punya alasan sebenarnya, tetap saja Mika tidak bisa. Hatinya pernah berdebar untuk gadis lain dan sampai sekarang masih nama yang sama. Dia terlambat menyadari itu cinta, saat dia sadar cinta nya sudah pergi tanpa bisa ditemukan. Dan sekarang hatinya berontak menuntut Mika agar menghilangkan rindu ini. Rindu yang semakin bergejolak tanpa bisa dikendalikan, sementara obat rindu ini di luar jangkauannya.
" Sudah pindah? Kemananya udah tau?" Mika terllihat kecewa.
" Ok deh, apapun itu cepet kabarin aku ya!" Esa menelan makan siangnya dengan pahit. Ternyata Mika masih berusaha mencari wanita itu. Reca.
Apa masalahnya, apa sepenting itu Reca buat Mika? Atau sebenarnya itu... cinta? Apa Reca orang yang membuat Mika tidak bisa menerima Esa sampai sekarang? Hampir saja Esa memburu Mika dengan pertanyaan itu jika tidak ingat ketakutannya, karena resikonya Mika bisa aja ngilang dari hidup Esa to forever.
" Masih nyari Reca ya?" Mika mengangguk lesu. Kemudian kembali makan.
" Kaya nya dia sering pindah, tidak menetap disatu tempat. Informan aku bilang bahkan dikampung halaman ayahnya yang aku tau, mereka ga tinggal disana lagi. Semakin mustahil aja rasanya nemuin dia."
" Terus...?"
__ADS_1
" Ya.... aku ga tau Sa... cuma bisa berusaha. Jika tidak bisa menemukannya setidaknya aku sudah berusaha. Agar nantinya tidak ada penyesalan. Dan jika Tuhan mau, aku akan menemukannya. Ntah bagaimana caranya." Esa terpaku
" Kamu ga' suka?" What? Emang klo bilang iya kamu akan berhenti gitu. Sebenarnya mau kamu apa sih Mik? Kamu tau aku suka kamu, dan bersikap seolah aku punya hak atas kamu. Trus kenapa kita ga pacaran aja, kenapa kamu belum nembak aku? Untuk kesekian kali batin Esa berperang sendiri.
" Klo iya, gimana?" Mika tersenyum, entah senang atau cemeeh.
" Aku berenti. Berenti nyari dia. Itu cukup?"
" Hahaha... kamu serius? Pertanyaannya, alasan kamu nyari dia apa? Kamu peduli sama dia kan? Trus kenapa berenti?"
" Karna kamu." Esa terpana, hampir mulutnya menganga lebar. Tapi please deh... ini sudah yang kesekian kalinya, Esa tidak akan terpengaruh. Mika bersikap seperti itu hanya menghargainya, bukan mencintainya.
" Mulai sekarang aku akan coba lebih keras lagi. Tidak lagi membuat kamu khawatir. Dan mencoba mencintai orang lain. " tangan Mika mengelus pipi Esa yang kemudian memegang tangan cowo ganteng itu seraya tersenyum. Esa memperlihatkan layar handphone nya.
" Udah cukup gombalnya. Tuh udah jam berapa. Kamu kan harus ke lokasi suting."
" Ok... aku bayar dulu ya. Kamu langsung ke mobil aja."
" Seorang pengusaha ternama ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya, dengan perut terluka oleh benda tajam. Tidak ditemukannya barang bukti atau jejak pelaku yang terduga kasus pembunuhan. Saat
ini..." Mika terpaku melihat berita.
" Ini kembaliannya Pak."
" Aw, aw, aw...."
" Kenapa Sa?" Mika mendapati Esa yang terpincang-pincang sesampainya di mobil.
" Tadi aku kesandung terus.. aw... berdarah deh." Tanpa ragu Mika berlutut meraih kaki Esa.
" Ya Tuhan, kenapa sih dengan cowo ini. Semakin mempesona aja setiap harinya. Dan ada saja tingkahnya yang merusak pertahananku. Kekuatan yang susah payah gue bangun, runtuh gitu aja." Batin Esa yang terpesona ngeliat muka sahabatnya itu. Terlebih saat Mika melepaskan heels nya Esa lalu menggendongnya masuk ke mobil.
" Kita ke rumah sakit."
" Sekarang?" Esa panik
" Suting kamu gimana. Hari ini kan kita pengenalan karakter, kamu harus dateng. Selesai nganter aku, kamu duluan ya. Aku ga apa kok sendiri. Nanti bisa telpon papa." Mika tidak mengiyakan, dia malah meraih handphonenya.
" Hallo Rend, gue Mika. Maaf dateng agak telat ya, Esa cidera gue harus ke rumah sakit sekarang. Sampein maaf gue sama sutradara ya. Ok" Oh Tuhan, hati gue. Selamatin hati gue, lagi-lagi Esa memohon.
Ga pake lama, cuma lima menitan. Kebetulan ada rumah sakit yang deket, keduanya udah tiba dan langsung masuk UGD. Begitu masuk pintu Emergency, langsung ada perawat dan dokter yang membantu Esa naik kekursi roda.
" Baringkan di bed tiga ya." perintah dokter jaga, perawat pun bergegas. Mika merasa suara dokter itu ga asing, dan setelah lihat wajahnya sepertinya Mika mengenalnya.
__ADS_1
" Kenapa pasiennya Pak?" begitu melihat muka Mika dokter itu ikut terpana. Suasana mendadak canggung.
" Emmm... Esa tadi jatuh ga sengaja, kayanya... terkilir."
" Hi, Mik. Apa kabar lo? Itu Esa temen SMA dulu kan?" Basa-basi. Sekalian bilang, ga usah pura-pura ga kenal, gue inget kok. Mika mengangguk seraya melihat ke arah Esa yang segera mengerti situasi kedua pria itu.
" Lo dokter di sini." Mereka berjabat tangan, kaku banget.
" Ya... begitulah. Ouya selamet ya, film lo kemaren gue liat sukses."
" Bukan apa-apa kok." dokter itu kembali fokus pada catatan anamnesa.
" Ini sakit Sa?"
" Aw.. iya. Ken.. eh Dok." Dia Kendra. Kakak kelas kharismatik yang pernah begitu digilai sama Re. ah...kenapa harus Re lagi?
" Kita Rongten dulu ya. Setelah keluar hasilnya, nanti gue jelasin lagi apa tindakan selanjutnya. Lo dianter sama perawat nanti ya." Esa mengangguk pelan.
" Gimana hubungan lo sama Esa?" Keduanya berjalan di taman rumah sakit selesai pengobatan kaki Esa, sekarang manager Mika itu masih rebahan di UGD. Kendra yang kebetulan udah tukar sift memutuskan ngobrol sebentar dengan Mika.
" Kita masih temenan, belum ada yang berubah. Lo sendiri?"
" Hahaha.. gue ga seterkenal lo Mik, belum ada yang mau sama gue." Udah segede ini eh bukan lebih tepatnya udah setua ini, udah lama banget ga ketemu tapi ne anak tetep aja, cuek dingin.
" Udah ada kabar soal Re?" Mika menggeleng.
" Lo selama ini nyari dia?"
" Iya, klo aja gue bisa. Masalahnya gue ga tau satu pun jejaknya. Keluarganya, sekolahnya, gue ga tau mulai darimana." Mika diem aja.
" Ini, kartu nama gue Mik." Mika menatap risih, Trus kenapa? Batinnya.
" Gue tau lo ga bakal butuh ini. Gue berharap lo ngabarin gue klo dapat kabar apapun soal Re. Raka juga kerja di rumah sakit ini, lo tau kan. Gue denger dari dia klo lo sampai sekarang masih mencari keberadaan Reca."
" Bukan urusan lo kan?"
" Ka please." Kendra menahan bahu Mika yang akan pergi.
" Gue pengen tau kabar dia sekarang. Atau lo bisa kasih informasi buat gue nyari Reca."
" Simpen aja kartu nama lo. Kalau pun gue nemuin Reca gue ga akan biarin dia ketemu lo. Ga untuk keduakalinya." Mika tidak bermaksud kasar, ia hanya berkata dengan pelan. Hanya saja Mika tidak mau mantan kakak kelas yang sudah jadi dokter itu mencampuri urusannya.
*****
__ADS_1