
“ Itu karena dia cinta sama lo Re.” Kalimat itu
terus terngiang ditelinga Reca meski udah ga sama Raka lagi.
“ Mika pernah kepergok nangis sambil tiduran di
kamarnya waktu gue nyamperin dia ke rumah.” Saat itu…
“ Lo ga sekolah? Mika.” Raka menyepak kaki Mika
bersikap sok asik padahal tau suasana lagi mencekam selepas ditinggal Reca.
“ Gue kangen Reca Rak.” Raka membeku, niatnya
ga ingin bahas ini malah Mika yang bahas.
“ Huuuhhhh..” Mika mendesah, Raka bisa liat
bulir bening mengalir disela mata Mika yang merem meski udah ditimpa pake
lengan.
“ Ikut gue yok, hari ini gue rela bolos demi
lo.”
“ Kemanapun gue pergi gue ngeliat Reca, gue ga
tau ada apa sama gue Rak tapi rasanya hati gue perih banget. Rasanya gue hampir
mati nahannya.” Mika bukanlah orang yang mudah terus terang soal perasaannya,
ini pertama kalinya Mika ngasih tau ke Raka tentang apa yang dia rasain.
“ Sesakit itukah Mik, sampe lo ngomong ke gue?”
Batin Raka saat itu.
“ Bantu gue hapus dia dari ingatan gue Rak.”
“ Mik lo..” Yang tadinya mau marah trus ga
jadi, begitu ngeliat Mika yang udah buka mata dan ngeliatin muka nelangsanya.
SSSSIIIIIIIITTTTTTZZZZZ!
Reca mengerem mobilnya, untung jalanan sepi dan
ga lama lampu merah nyala. Cerita Raka itu mengganggu konsentrasinya
mengendarai mobil, ngebuat Reca harus berenti sebentar untuk menenangkan
dirinya. Satu-persatu ingatan Reca kembali pada kenangan masa kecilnya di
Finlandia, bagaimana Mika yang membantunya saat dia jatuh. Mika yang selalu
bersikap manis padanya selama sekolah bareng di Bhakti, Reca baru sadar bahwa
sejak awal Mika udah nunjukkin perasaannya tapi Reca ga pernah peka.
Sambil mengusap air matanya Reca memacu laju
mobil, saat ini yang ingin dilihatnya hanya satu yaitu cowo manis yang
tiba-tiba menghujaninya rasa kangen. Reca ingin memeluknya, rasanya ingin
mengumumkan pada dunia bahwa hati laki-laki tampan itu miliknya. Dan dia tidak
akan membiarkan orang lain mendekatinya, mulai hari ini hanya dia yang boleh
menyentuhnya bahkan untuk sekedar melihatnya.
“ MIKAAAA.” Reca teriak begitu menemukan Mika
di halaman rumahnya. Untuk beberapa saat Reca hanya berdiri ngeliat Mika yang
tersenyum ke arahnya.
Yah… senyum manis itu tidak pernah Mika berikan
pada orang lain sebelumnya. Wajah itu… adalah wajah yang selalu ada untuknya,
selalu saja melindungi Reca kapanpun itu bahkan saat Reca mengenalkan diri
sebagai orang lain Mika tidak pernah berhenti untuk peduli padanya.
“ Enggak. Diem disitu.” Reca mencegah Mika yang
berniat menghampirinya, dan Mika nurut meski mukanya bingung banget.
“ Biar gue yang menghampiri lo Mik. Biarkan
kali ini gue yang datang ke elo lebih dulu, tapi sebelum itu gue ingin melihat
wajah lo lebih lama. Karena untuk pertama kalinya gue…pengen bilang klo gue… ”
Batin Reca.
Reca berlari secepat mungkin sementara Mika menunggunya
__ADS_1
sambil tersenyum dan dua tangan yang dimasukin kedalam saku celana. Habis lari langsung meluk ga pake ngerem, Mika sampe mundur satu langkah untuk menahannya tapi doi tersenyum. Sumpah seneng banget, entah
kesambet apa si Reca kok tiba-tiba sampe rumah langsung meluk kaya gini.
Sangking senengnya sampe mengelus rambut Reca masih ga berenti senyum. Reca
sendiri mempererat pelukannya sambil terpejam, dia tidak ingin ini berakhir.
“ Lo gila Re?” Reca mengingat sesuatu. Dan baru
sadar apa yang dia lakukan sekarang adalah sikap egois yang bodoh. Sengaja atau
tidak, cintanya hanya akan melukai Mika sekali lagi. Reca buru-buru melepaskan
pelukannya, Mika yang masih ga ngerti ada apa mengangkat kedua alisnya dengan mata
polos yang penuh tanya apa yang sedang terjadi.
“ Maafin gue Mik.” Masih dalem hati, trus
mencium Mika untuk beberapa detik. Mika sempat membalas kecupan itu tapi Reca
justru menyudahinya lalu menatap Mika sedih. Kaya ngerasa telah melakukan hal
yang salah, seolah ciuman ini adalah kesalahan. Mika yang ga terima dan
terlanjur udah gemes, langsung menarik pacarnya untuk kembali mendekat kemudian
menghujani Reca dengan ciuman hingga Reca kesulitan untuk bernapas.
*****
Cahaya matahari pagi menyelinap dari gorden
jendela yang sedikit terbuka, menggelitik mata Mika untuk segera terjaga. Saat
Mika membuka mata, dia langsung menemukan wajah damai yang sedang terpejam terlihat
begitu cantik disebelahnya. Mika bertelanjang dada yang artinya dia tidur ga
pake baju, dan wanita disebelahnya… lengannya menyumbul disela selimut tanpa
kain yang menutupinya. You know lah…
Mika tersenyum karena perasaannya yang
berbunga-bunga, teringat apa yang terjadi tadi malam. Reca yang seolah bermain tarik
ulur tapi pasrah saat tangan Mika membuka kancing bajunya satu persatu. Reca
juga membiarkan Mika berkehendak atas dirinya, membiarkan aktor sekaligus model
itu juga Mika diberikan kepastian bahwa dialah orang pertama menjamah tubuh
cantik ini dan menembus dinding terlarang itu.
Sekali lagi Mika tersenyum, tersipu malu antara
senang dan rasa masih tidak percaya. Reca yang masih tertidur membalik
membelakanginya, Mika memeluknya lalu mengecup bahu Reca. Dia sangat bahagia
banget, sekaligus sangat berterima kasih karena Reca sudah membalas cintanya.
“ Ehmm…” Reca menggeliat, samar-samar membuka
matanya. Dia ga sadar klo Mika lagi merhatiin di sebelahnya lantaran panik soalnya
baru ngeh bangun tidur udah dikamar Mika trus pas meriksa badannya sendiri
dibalik selimut…
“ Haahhh????” Reca hampir kena serangan
jantung.
“ Ya ampun gila lo Re, gilak. Apa yang udah lo
lakuin tadi malam?” Jerit sendiri dalam hati. Langsung duduk buat memeriksa
sekali lagi, benarkah tidak sehelai benangpun menempel di tubuhnya.
“ Liat apa sih Re?” Si bego Mika malah ikutan
liat.
“ AAAAAAAaaaaaa..” Ngagetin aja ne manusia. Kok
malah ikut nengok sih, sumpah Reca malu banget.
“ Apaan sih Re? Aku dah liat semuanya juga tadi
malem pun.” Oke sekarang Reca jadi tambah malu, dia langsung menenggelamkan seluruh
wajahnya dalam selimut. Rasanya ga sanggup ngadepin Mika setelah ini.
“ Ih gemesin banget sih kamu Re.” Mika mengacak
rambut pacarnya lalu mengecup keningnya.
__ADS_1
“ Oke aku bangun duluan ya… hari ini ada
pemotretan Re. Kamu mau temenin aku kan?” Reca ga ngejawab tapi ga juga bilang
enggak. Lalu membanting dirinya ke kasur begitu Mika pergi.
“ Ehhhh…” Mau mati nahan penyesalan, malu trus
bahagia juga campur aduk.
“ Mati lo Re.. mati lo.” Mebanting-banting kakinya kekasur.
*****
Dilokasi Mika tak berhenti tersenyum sendiri
sepanjang pemotretan sampe ditanyain para kru yang penasaran sama rona bahagia
itu.
“ Ada hal baik yang sedang terjadi Mik?” Tanya
make up artisnya.
“ Ah.. huhh…” Ga kuat lagi nahan senyum yang
berujung ketawa.
“ Keliatan banget ya?”
“ Hmm… aku ga pernah liat kau seseneng inih.
Tuh anak-anak sampe nggosip di belakang.” Nunjuk ke kru yang pada bisik-bisik.
Dugaan Reca bener buat nunggu di mobil aja
soalnya akan sangat menarik perhatian, syukurlah Reca ga ikut ke dalem klo ga
kasian jadi bahas pembicaraan orang-orang. Sementara itu Reca yang menunggu
Mika di mobil menatap kertas memo di tanganya yang bertuliskan Putri Kristal.
Reca berniat untuk memberi tahu Mika tentang semuanya tapi satu sisi dia belum
siap karenamungkin saja bisa membahayakan Mika nantinya. Tapi Mika berhak tau
sebagai orang yang sudah menunggunya, Mika harus tau bahwa Reca adalah Putri
Kristal yang ga lain cinta masa kecilnya.
Ngeliat Mika udah keluar dari gedung studio,
Reca pun turun pengenya nyambut Mika gitu dan klo udah berani mau ngasih kertas
memonya biar lebih gampang memulai ceritanya. Mika langsung tersenyum sumringah
ngeliat Reca yang berdiri di samping mobil dan melambai ke arahnya. Tapi saat Reca
sudah beberapa langkah meninggalkan mobil…
STUPHSS!
Sebuah tembakan jarak jauh mengenai
sesuatu, ngebuat Mika maupun Reca terpaku di tempatnya. Mika ngeliat muka Reca
yang sepucat pasih dengan mulut terbuka seperti ingin bicara tapi terhalang
sesuatu.
STUPS!
Tembakan kedua melesat lalu Mika
buru-buru berlari menangkap tubuh Reca sebelum jatuh lemas, tangan Reca yang
memegang kertas memo mengalir darah dan terhempas ke telapak tangan Mika yang
berusaha meraih Reca.
“ RE?” Setengah berteriak.
Mata aktor tampan itu hampir keluar saat
melihat darah ditelapak tangannya yang berasal dari tangan Reca, terlebih
setelah melihat kertas memo Reca berikan disela menahan rasa sakit. Sesaat
waktu terasa berhenti, Mika sulit bernapas karena serangan panik. Seseorang
telah melepaskan peluru ke gadis yang dia cintai dan gadis itu adalah Putri
Kristal, cinta pertamanya.
“ Re…” Mika mengguncang-guncang tubuh
kekasihnya, tapi Reca sudah terpejam dengan darah yang terus mengalir.
*****
__ADS_1