WINTER GLOW

WINTER GLOW
Semakin Menginginkanmu


__ADS_3

“ Ke


tempat biasa ya, yang ga rame. Gue lagi badmood.” Evan hanya bisa


tersenyum seraya membukakan pintu mobil kemudian menutupnya


kembalinya. Meskipun dia tau kalau wanita yang sedang dirindukannya


ini tidak sepenuhnya ingin menemuinya dengan tulus, gadis itu moodnya


sedang ga baik dan Evan hanyalah tempat dimana dia


ingin melampiaskannya. Saat


wanita itu mobil ada sebuah kertas memo yang jatuh tapi tidak


disadarinya, sehingga tertinggal begitu saja di halaman saat mobil


mulai berjalan.


“ Udah


berapa hari kamu ga tidur Re?” Reca ga jawab hanya menatap jalanan


dari balik kaca mobil, membiarkan Evan terus bicara sendiri sementara


dia hanyut dalam lamunan. Ah… Evan satu-satunya orang yang sangat


bisa memahaminya, yang


langsung tau harus bersikap seperti apa yang buat Reca nyaman. Evan


langsung tau apa yang dimaksud gadis itu meski tidak mengucapkannya,


seolah ada telepati yang membisikan seperti


sekarang ini Evan langsung tau klo Reca lagi banyak pikiran smape ga


bisa tidur gara-gara itu.


Reca


dan Evan sama-sama tau bahwa hubungan mereka penuh sandiwara karena


Evan hanya umpan buat reca, ga pernah lebih. Tapi perasaan Evan


sangat tulus karena begitu terpikat oleh


pesona yang tidak bisa ditolak meski sudah menghindarinya. Perasaan


cinta ini bukanhanya mengikatnya tapi juga mengubahnya, membuat Evan


tidak bisa melihat pesona wanita lain betapa seribu kali lipatnya


lebih cantik dari Reca.


“Dia


bukan gadis yang tercantik, tapi dia punya pesonanya sendiri yang


tidak bisa digantikan wanita lain.” Itu kalimat khusus yang


diucapkan Evan saat diminta menggambarkan seperti apa reca itu.


“ Kita


ke rumah aku ya?” Reca menangkap ucapan Evan itu dan otaknya


langsung bekerja, teringat akan penyimpanan rahasia dibawah meja


kerja Jen Kusniar. Hyuuhh ini sangat sempurna sebenarnya untuk


kembali keruangan itu tapi saat ini Reca sedang tidak ingin melakukan


apapun.


“ Ga


mau ya? Ke apartment aku aja klo gitu ya?”


“ Terserah.”


Reca langsung memejamkan matanya tanpa perduli kemana Evan


membawanya, malahan


Reca diem aja waktu Evan menggenggam dan mengecup tangannya.


*****


“ Kamu


suka Kend?”


“ Iya


mah, Kendra ambil unit yang ini aja.”


“ Ya


udah klo gitu mama turun dulu ya buat nyelesaikan administrasinya.


Kamu lanjutin liat-liat geh sambil nunggu bentar lagi dsign interior


nya dateng.”


“ Mkasih


ya ma.”


Senyum


Kendra mengembang karena hari yang udah lama diimpikannya tiba,


dimana dia bisa ngebeli hunian idaman dengan uang hasil keringatnya


sendiri tanpa dibantuin papa atau mama. Entah


kenapa menatap hunian ini ngebuat dirinya berhayal akan menghabiskan


dengan seseorang yang saat ini wajahnya melintas begitu saja. Ah iya,


kemarin Kendra akhirnya bisa punya nomor telponnya. Apakah sebaiknya


nelpon aja ya, minta temenin gitu nentuin dsign interior jadi ada


alasan buat ketemuan. Saat menelpon tiba-tiba sambungan terputus dan


hal itu masih terjadi meski Kendra udah mengulang panggilannya.


“ Jaringan


kali ya? Lagi gangguan ato gimana sih? Biasanya klo lagi kesini ga


pernah gini sinyalnya.” Ngomel sendiri sambil jalan keluar mana tau

__ADS_1


dapet sinyal yang lebih baik.


Baru


saja akan mendekatkan ponselnya ketelinga, Kendra ngeliat wajah yang


sangat tidak asing melintas didekatnya saat orang itu baru aja keluar


dari lift.


“ Reca?”


Masak iya sih, tapi hatinya menolak itu benar.


Wajah


itu sudah sangat jelas bahkan matanya membalas tatapan Kendra yang masih tak percaya klo wanita yang dilihatnya ini adalah


Reca, apalagi ngeliat dia hanya berdua digandeng seorang pria tampan memasuki


sebuah apartment dengan pakaian yang sangat sexy. Belahan


dadanya nyaris keliatan trus bagian bawah gaun yang udah pendek pake


belahan pulak. Seingat


Kendra, Reca yang bertemu dengannya belakangan ini berpenampilan feminin namun manis juga terkesan sopan


dan polos. Tapi kali ini Kendra seperti melihat sisi lain yang tidak


dia kenali, wajah dengan make up kuat yang memperlihatkan kesan


tangguh dengan ekspresi badas


yang sangat berdamage. Ditambah mata angkuh yang menatap Kendra tanpa


ragu seraya melangkah anggun, menjelaskan bahwa Reca sangat sadar


Kendra mengenalinya tapi itu bukanlah sebuah masalah trus ga perlu


juga disapa seolah emang bukan siapa-siapa. Dan lihatlah bagaimana


dia memalingkan


mukanya dari Kendra tanpa berkata apapun, detik itu juga Evan


menyadari vibes yang terjadi antara Kendra dan Reca. Putra tunggal


Jen Kusniar itu tersenyum, manis banget.


“ Re.”


Dengan sengaja Evan menahan Reca agar bersandar ke dinding agar


Kendra ngelat mereka, padahal


pintu apartment milik Evan sudah disamping Reca saat ini.


“ Aku


kangen banget Re, boleh kan?” Evan menngecup bibir Reca setelah


mengucapkan kalimat provokatif yang bakalan ngebuat siapa aja yang


dengernya bakalan salah paham. Sesuai harapan mata Kendra membesar


saat ngeliat Reca ngebiarin Evan menciumnya, malah


masih tetap diem aja meski Evan berusaha melepaskan long Coat yang


sedikit aja cukup untuk ngebuat gaun sexy Reca terlihat sepenuhnya.


Reca sadar klo Evan sengaja melakukan ini agar Kendra melihatnya, Reca


mendorong Evan sambil tersenyum sinis agar menyudahi ciumannya bukan


karena Kendra tapi emang lagi ga mood kan dari awal juga.


“ Masuk


yuk.” Ucap Re kemudian menekan tuas pintu dan masuk.


“ Gue


Evan.” Evan menghampiri Kendra yang masih syok hebat, mengulurkan


tangannya untuk mewakili ajakan perkenalan.


“ Ken..dra.”


“ Tanya


aja apa ke gue, gue bakal jawab.” Evan tersenyum tulus karena emang


tulus.


“ Lo


dan Re...”


“ Gue


bukan pacarnya. Tapi gue sayang dia, dan kalau dia mau detik ini juga


gue bersedia jadi pacarnya.” Sekali lagi Evan tersenyum.


“ Apa?”


“ Lo


suka dia juga? Hmmm… keliatan kok.”


“ Lo


bukan pacar tapi kenapa lo..?”


“ Nyium


dia?” Sumpah ne orang kagak ngotak banget batin Kendra, muka


polosya bilang klo apa yang dia buat barusan ga salah sama sekali


trus mengucapkannya juga ga pake beban.


“ Gue


bakalan nyium dia berulang kali kapan pun itu klo aja dia ngizinin.


Tapi sayangnya itu ga pernah, so thanks karena ada lo dia ngizinin


gue nyium bibirnya.”


“ What?”


Parah banget.

__ADS_1


“ Serius,


gue ga boong.”


“ Sakit


lo.”


“ Hahaha…


ga jauh beda sama lo.” Muka Evan seolah bilang, gue bener kan? Coba


lo pikir-pikir. Dan Kendra terdiam, iyah Evan bener karena Kendra


juga punya perasaan yang sama untuk Reca meski setelah menyaksikan


apa yang terjadi hari ini. Kendra ngerasa aneh kenapa dia ga ngerasa


marah, tapi justru semakin ingin memilikinya.


“ Sama


kaya lo yang ga bisa ngebenci Re ga peduli gimana dia perlakukan lo,


karena itulah pesona Reca yang ga dimiliki cewe lain. Dia cantik,


menarik, ga murahan karena dia ga akan biarin lo bertindak apapun


terhadap dirinya jika dia ga mengizinkan. Dan saat dia mengizinkan


itu, tidak akan lebih dari batas yang dia tetapkan dan pedihnya lo


tau apa… izin itu juga bukan


karena lo. Tapi ada lasan lain yang ga pernah bisa lo ngerti kenapa


itu, apa, kapan dan gimana. Pedihnya


lagi dia melakuakn itu tanpa perasaan, tanpa emosi dan setelahnya lo


akan jadi semakin cinta tapi dianya malah ngilang dari lo tanpa


jejak.” Lagi-lagi Evan benar tentang analisanya.


“ Ini


kartu nama gue, gue bisa jadi tempat curhat lo saat lo depresi sama


kerinduan lo ke Re. Karena gue paham banget gimana rasanya, jadi gue


bisa temenin lo minum.” Kendra


menyambut kartu nama itu meskipun sebenarnya dia ngerasa akan aneh


jika beneran ngelakuin hal itu. Gila aja dia galau bareng sama ne


orang yang keliatannya aja udah ga waras.


“ Tapi


sory bro gue akan habisin lo klo ngambil dia dari gue.


Ga akan gue biarin siapapun milikin dia selain gue. OK? Gue cabut


dulu ya.” Evan berlalu seraya menepuk pundak Kendra yang masih


bingung kenapa Evan secara ga langsung biang klo ga akan ada yang


terjadi meski mereka berada dalam satu kamar, tapi


tetap aja Kendra cemburu dan ga rela untuk kenyataan klo Reca sama


Evan sedekat itu dan..


“ Huuuuhhh…


ada apa dengan kamu sebenarnya Re?”


Didalam,


Evan membenahi selimut Reca dengan tatapan penuh kasih. Rasa citanya


ngebuat Evan ga ingin merusak Reca seperti wanita-wanita lain yang


dikencaninya padahalnya jujur dia rindu banget, yang tersisa hanya


rasa ingin menjaga dan melindungi. Sebenarnya tanpa obat tidur


sekalipun Reca ga perlu hawatir karena Evan ga akan menyentuhnya,


sekarang pun Evan hanya berbaring di sebelahnya sambil melanjutkan


pekerkaannya sebagai CEO melalui tablet miliknya. Tangan kirinya


memegang tablet sementara tangan kirinya sesekali mengusap kepal Reca


penuh sayang sambil tersenyum.


“ Kok


bangun? Aku ngeganggu yah?” Reca berbalik lalu duduk tanpa


menyingkap selimut yang dia kenakan, dia bisa ngeliat wajah sendu


Evan penuh cinta yang sedang tersenyum dan entah kenapa hati Reca


berdesir saat itu. Evan terlihat tampan hari ini.


“ Ngapain


sih?” Ga beneran niat nanya, basa nasi aja. Evan membimbing Reca


agar memeluknya,


Reca pun menyandarkan


kepalanya kedada Evan selayaknya kekasih yang sedang bermanja dengan


pasanganya. Dan lo tau itu nyaman banget rasa, untuk seorang Reca


sekalipun.


“ Kamu


ga nanyain dia (Kendra)?” Tanya evan seraya mengecup pelan kepala


Reca yang


kembali terpejam.


“ Ga


peduli gue.” Evan seneng banget dengernya,


sekali lagi mengecup kening Re lalu mengacak gemes rambutnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2