
“ Ke
tempat biasa ya, yang ga rame. Gue lagi badmood.” Evan hanya bisa
tersenyum seraya membukakan pintu mobil kemudian menutupnya
kembalinya. Meskipun dia tau kalau wanita yang sedang dirindukannya
ini tidak sepenuhnya ingin menemuinya dengan tulus, gadis itu moodnya
sedang ga baik dan Evan hanyalah tempat dimana dia
ingin melampiaskannya. Saat
wanita itu mobil ada sebuah kertas memo yang jatuh tapi tidak
disadarinya, sehingga tertinggal begitu saja di halaman saat mobil
mulai berjalan.
“ Udah
berapa hari kamu ga tidur Re?” Reca ga jawab hanya menatap jalanan
dari balik kaca mobil, membiarkan Evan terus bicara sendiri sementara
dia hanyut dalam lamunan. Ah… Evan satu-satunya orang yang sangat
bisa memahaminya, yang
langsung tau harus bersikap seperti apa yang buat Reca nyaman. Evan
langsung tau apa yang dimaksud gadis itu meski tidak mengucapkannya,
seolah ada telepati yang membisikan seperti
sekarang ini Evan langsung tau klo Reca lagi banyak pikiran smape ga
bisa tidur gara-gara itu.
Reca
dan Evan sama-sama tau bahwa hubungan mereka penuh sandiwara karena
Evan hanya umpan buat reca, ga pernah lebih. Tapi perasaan Evan
sangat tulus karena begitu terpikat oleh
pesona yang tidak bisa ditolak meski sudah menghindarinya. Perasaan
cinta ini bukanhanya mengikatnya tapi juga mengubahnya, membuat Evan
tidak bisa melihat pesona wanita lain betapa seribu kali lipatnya
lebih cantik dari Reca.
“Dia
bukan gadis yang tercantik, tapi dia punya pesonanya sendiri yang
tidak bisa digantikan wanita lain.” Itu kalimat khusus yang
diucapkan Evan saat diminta menggambarkan seperti apa reca itu.
“ Kita
ke rumah aku ya?” Reca menangkap ucapan Evan itu dan otaknya
langsung bekerja, teringat akan penyimpanan rahasia dibawah meja
kerja Jen Kusniar. Hyuuhh ini sangat sempurna sebenarnya untuk
kembali keruangan itu tapi saat ini Reca sedang tidak ingin melakukan
apapun.
“ Ga
mau ya? Ke apartment aku aja klo gitu ya?”
“ Terserah.”
Reca langsung memejamkan matanya tanpa perduli kemana Evan
membawanya, malahan
Reca diem aja waktu Evan menggenggam dan mengecup tangannya.
*****
“ Kamu
suka Kend?”
“ Iya
mah, Kendra ambil unit yang ini aja.”
“ Ya
udah klo gitu mama turun dulu ya buat nyelesaikan administrasinya.
Kamu lanjutin liat-liat geh sambil nunggu bentar lagi dsign interior
nya dateng.”
“ Mkasih
ya ma.”
Senyum
Kendra mengembang karena hari yang udah lama diimpikannya tiba,
dimana dia bisa ngebeli hunian idaman dengan uang hasil keringatnya
sendiri tanpa dibantuin papa atau mama. Entah
kenapa menatap hunian ini ngebuat dirinya berhayal akan menghabiskan
dengan seseorang yang saat ini wajahnya melintas begitu saja. Ah iya,
kemarin Kendra akhirnya bisa punya nomor telponnya. Apakah sebaiknya
nelpon aja ya, minta temenin gitu nentuin dsign interior jadi ada
alasan buat ketemuan. Saat menelpon tiba-tiba sambungan terputus dan
hal itu masih terjadi meski Kendra udah mengulang panggilannya.
“ Jaringan
kali ya? Lagi gangguan ato gimana sih? Biasanya klo lagi kesini ga
pernah gini sinyalnya.” Ngomel sendiri sambil jalan keluar mana tau
__ADS_1
dapet sinyal yang lebih baik.
Baru
saja akan mendekatkan ponselnya ketelinga, Kendra ngeliat wajah yang
sangat tidak asing melintas didekatnya saat orang itu baru aja keluar
dari lift.
“ Reca?”
Masak iya sih, tapi hatinya menolak itu benar.
Wajah
itu sudah sangat jelas bahkan matanya membalas tatapan Kendra yang masih tak percaya klo wanita yang dilihatnya ini adalah
Reca, apalagi ngeliat dia hanya berdua digandeng seorang pria tampan memasuki
sebuah apartment dengan pakaian yang sangat sexy. Belahan
dadanya nyaris keliatan trus bagian bawah gaun yang udah pendek pake
belahan pulak. Seingat
Kendra, Reca yang bertemu dengannya belakangan ini berpenampilan feminin namun manis juga terkesan sopan
dan polos. Tapi kali ini Kendra seperti melihat sisi lain yang tidak
dia kenali, wajah dengan make up kuat yang memperlihatkan kesan
tangguh dengan ekspresi badas
yang sangat berdamage. Ditambah mata angkuh yang menatap Kendra tanpa
ragu seraya melangkah anggun, menjelaskan bahwa Reca sangat sadar
Kendra mengenalinya tapi itu bukanlah sebuah masalah trus ga perlu
juga disapa seolah emang bukan siapa-siapa. Dan lihatlah bagaimana
dia memalingkan
mukanya dari Kendra tanpa berkata apapun, detik itu juga Evan
menyadari vibes yang terjadi antara Kendra dan Reca. Putra tunggal
Jen Kusniar itu tersenyum, manis banget.
“ Re.”
Dengan sengaja Evan menahan Reca agar bersandar ke dinding agar
Kendra ngelat mereka, padahal
pintu apartment milik Evan sudah disamping Reca saat ini.
“ Aku
kangen banget Re, boleh kan?” Evan menngecup bibir Reca setelah
mengucapkan kalimat provokatif yang bakalan ngebuat siapa aja yang
dengernya bakalan salah paham. Sesuai harapan mata Kendra membesar
saat ngeliat Reca ngebiarin Evan menciumnya, malah
masih tetap diem aja meski Evan berusaha melepaskan long Coat yang
sedikit aja cukup untuk ngebuat gaun sexy Reca terlihat sepenuhnya.
Reca sadar klo Evan sengaja melakukan ini agar Kendra melihatnya, Reca
mendorong Evan sambil tersenyum sinis agar menyudahi ciumannya bukan
karena Kendra tapi emang lagi ga mood kan dari awal juga.
“ Masuk
yuk.” Ucap Re kemudian menekan tuas pintu dan masuk.
“ Gue
Evan.” Evan menghampiri Kendra yang masih syok hebat, mengulurkan
tangannya untuk mewakili ajakan perkenalan.
“ Ken..dra.”
“ Tanya
aja apa ke gue, gue bakal jawab.” Evan tersenyum tulus karena emang
tulus.
“ Lo
dan Re...”
“ Gue
bukan pacarnya. Tapi gue sayang dia, dan kalau dia mau detik ini juga
gue bersedia jadi pacarnya.” Sekali lagi Evan tersenyum.
“ Apa?”
“ Lo
suka dia juga? Hmmm… keliatan kok.”
“ Lo
bukan pacar tapi kenapa lo..?”
“ Nyium
dia?” Sumpah ne orang kagak ngotak banget batin Kendra, muka
polosya bilang klo apa yang dia buat barusan ga salah sama sekali
trus mengucapkannya juga ga pake beban.
“ Gue
bakalan nyium dia berulang kali kapan pun itu klo aja dia ngizinin.
Tapi sayangnya itu ga pernah, so thanks karena ada lo dia ngizinin
gue nyium bibirnya.”
“ What?”
Parah banget.
__ADS_1
“ Serius,
gue ga boong.”
“ Sakit
lo.”
“ Hahaha…
ga jauh beda sama lo.” Muka Evan seolah bilang, gue bener kan? Coba
lo pikir-pikir. Dan Kendra terdiam, iyah Evan bener karena Kendra
juga punya perasaan yang sama untuk Reca meski setelah menyaksikan
apa yang terjadi hari ini. Kendra ngerasa aneh kenapa dia ga ngerasa
marah, tapi justru semakin ingin memilikinya.
“ Sama
kaya lo yang ga bisa ngebenci Re ga peduli gimana dia perlakukan lo,
karena itulah pesona Reca yang ga dimiliki cewe lain. Dia cantik,
menarik, ga murahan karena dia ga akan biarin lo bertindak apapun
terhadap dirinya jika dia ga mengizinkan. Dan saat dia mengizinkan
itu, tidak akan lebih dari batas yang dia tetapkan dan pedihnya lo
tau apa… izin itu juga bukan
karena lo. Tapi ada lasan lain yang ga pernah bisa lo ngerti kenapa
itu, apa, kapan dan gimana. Pedihnya
lagi dia melakuakn itu tanpa perasaan, tanpa emosi dan setelahnya lo
akan jadi semakin cinta tapi dianya malah ngilang dari lo tanpa
jejak.” Lagi-lagi Evan benar tentang analisanya.
“ Ini
kartu nama gue, gue bisa jadi tempat curhat lo saat lo depresi sama
kerinduan lo ke Re. Karena gue paham banget gimana rasanya, jadi gue
bisa temenin lo minum.” Kendra
menyambut kartu nama itu meskipun sebenarnya dia ngerasa akan aneh
jika beneran ngelakuin hal itu. Gila aja dia galau bareng sama ne
orang yang keliatannya aja udah ga waras.
“ Tapi
sory bro gue akan habisin lo klo ngambil dia dari gue.
Ga akan gue biarin siapapun milikin dia selain gue. OK? Gue cabut
dulu ya.” Evan berlalu seraya menepuk pundak Kendra yang masih
bingung kenapa Evan secara ga langsung biang klo ga akan ada yang
terjadi meski mereka berada dalam satu kamar, tapi
tetap aja Kendra cemburu dan ga rela untuk kenyataan klo Reca sama
Evan sedekat itu dan..
“ Huuuuhhh…
ada apa dengan kamu sebenarnya Re?”
Didalam,
Evan membenahi selimut Reca dengan tatapan penuh kasih. Rasa citanya
ngebuat Evan ga ingin merusak Reca seperti wanita-wanita lain yang
dikencaninya padahalnya jujur dia rindu banget, yang tersisa hanya
rasa ingin menjaga dan melindungi. Sebenarnya tanpa obat tidur
sekalipun Reca ga perlu hawatir karena Evan ga akan menyentuhnya,
sekarang pun Evan hanya berbaring di sebelahnya sambil melanjutkan
pekerkaannya sebagai CEO melalui tablet miliknya. Tangan kirinya
memegang tablet sementara tangan kirinya sesekali mengusap kepal Reca
penuh sayang sambil tersenyum.
“ Kok
bangun? Aku ngeganggu yah?” Reca berbalik lalu duduk tanpa
menyingkap selimut yang dia kenakan, dia bisa ngeliat wajah sendu
Evan penuh cinta yang sedang tersenyum dan entah kenapa hati Reca
berdesir saat itu. Evan terlihat tampan hari ini.
“ Ngapain
sih?” Ga beneran niat nanya, basa nasi aja. Evan membimbing Reca
agar memeluknya,
Reca pun menyandarkan
kepalanya kedada Evan selayaknya kekasih yang sedang bermanja dengan
pasanganya. Dan lo tau itu nyaman banget rasa, untuk seorang Reca
sekalipun.
“ Kamu
ga nanyain dia (Kendra)?” Tanya evan seraya mengecup pelan kepala
Reca yang
kembali terpejam.
“ Ga
peduli gue.” Evan seneng banget dengernya,
sekali lagi mengecup kening Re lalu mengacak gemes rambutnya.
__ADS_1
*****